Minggu, 11 Januari 2015

Migrasi Polinesia Ke Benua Amerika Dibuktikan Dari Tulang Ayam

Migrasi Polinesia Ke Benua Amerika Dibuktikan Dari Tulang Ayam



Bagaimana kisah migrasi Polinesia ke benua Amerika, apakah mereka lebih dahulu menginjakkan kaki di Amerika Selatan sebelum penjelajahan Colombus? Berdasarkan analisa DNA tulang ayam purba yang ditemukan, kisah migrasi orang-orang Polinesia juga menyebarkan dan mengembang biakkan ayam yang mereka bawa. Dalam sejarah, Polinesia merupakan kelompok yang mendiami daratan Asia Tenggara termasuk didalamnya Filipina, Indonesia, Malaysia, dan kepulauan Pasifik.

Penelitian University of Australian Centre Adelaide - Ancient DNA menerbitkan makalah dalam Proceedings of The National Academi of Science (PNAS), mereka mengungkap klaim keberadaan migrasi Polinesia awal di Amerika Selatan berdasarkan dari hasil terkontaminasi, studi ini mengidentifikasi penanda genetik unik pada ayam Polinesia asli yang hanya terdapat di Pasifik dan Pulau Asia Tenggara.

STUDI MIGRASI POLINESIA BERDASARKAN DNA TULANG AYAM

Polinesia adalah sub regional dari Ocenia yang terdiri lebih dari 1000 pulau tersebar di Samudera Pasifik. Masyarakat asli mendiami pulau-pulau Polinesia, berbagi sifat, budaya, keyakinan dan bahasa. Dalam sejarah disebutkan, nenek moyang Polinesia adalah pelautyang menggunakan bintang sebagai navigasi dalam penjelajahan mereka.

Orang-orang Polinesia merupakan keturunan genetik subset Austronesia, asal usul bahasa menjelaskan keturunan Taiwan. Penduduk asli tiba melalui Cina Selatan sekitar 8000 tahun lalu, mereka orang-orang yang berbeda dan bahasa yang tidak terkait dengan Cina Han, yang pada saat ini membentuk mayoritas Cina dan Taiwan. Sekitar tahun 2000 SM, bahasa Austronesiamulai menyebar dari Taiwan ke Pulau Asia Tenggara.

Ada beberapa teori yang menjelaskan penyebaran manusia melintasi Pasifik ke Polinesia, diantaranya diutarakan Kayser. Antara tahun 3000 hingga 1000 SM, perluasan dari Taiwan melalui Filipina, Indonesia Timur dan Barat Laut, dari New Guinea ke Pulau Melanesia, terjadi sekitar tahun 1400 SM. Diperkirakan penyebaran manusia mencapai Polinesia Barat sekitar tahun 900 SM.

Bukti yang ditemukan pada genetik ayam asli Polinesia mengungkap pergerakan awal dan pola perdagangan di Pasifik. Menurut Dr Vicki Thomson, ilmuwan mampu melacak asal usul garis keturunan yang berasal dari Filipina dan memberi petunjuk tentang sumber populasi ayam Polinesia.

Sebenarnya banyak teori yang mengungkap koloni manusia purba di Pasifik, rute mereka terlihat jelas melakukan kontak dengan daratan Amerika Selatan. Seperti yang terlihat pada hewan domestik, dalam hal ini ayam, pada awal penjelajahan telah meninggalkan catatan genetik dan bisa ditelusuri untuk memecahkan misteri migrasi Polinesia ke benua Amerika. Tim ilmuwan dibawah proyek Profesor Alan Cooper telah memeriksa kembali tulang ayam yang digunakan dalam studi sebelumnya, dikaitkan dengan migrasi Pasifik kuno dan ayam Amerika Selatan. 
Dalam analisis kontak migrasi Polinesia awal telah ditemukan beberapa hasil terkontaminasi dengan DNA ayam Modern, dan tidak ada bukti yang menjelaskan adanya kontak DNA ayam domestik pra-Colombus.
Garis keturunan ayam Polinesia asli sampai saat ini bertahan di beberapa pulau Pasifik yang terisolasi, meskipun pengenalan ayam domestik Eropa pernah menyebar di Pasifik selama beberapa ratus tahun terakhir. Garis keturunan asli Polinesia sangat mengkhawatirkan, khususnya bagi industri unggas mungkin akan berkurang keragaman genetik dan bisa menjadi nilai komersial dimasa mendatang.

REFERENSI

Chicken bones tell true story of Pacific migration, 18 March 2014, by University of Adelaide. Journal Ref: Using ancient DNA to study the origins and dispersal of ancestral Polynesian chickens across the Pacific. PNAS, March 2014 DOI: 10.1073/pnas.1320412111. Map of expansion of Austronesian languages, image courtesy of wikimedia commons.


http://perjuanganislami.blogspot.com/2014/05/migrasi-polinesia-ke-benua-amerika.html

    Seikat Rambut Ungkap Migrasi Manusia

    Seikat Rambut Ungkap Migrasi Manusia


    Menggunakan cetak biru genetik yang terkandung dalam seikat rambut berusia hampir seabad milik seorang pria Aborigin Australia, para ilmuwan telah menemukan bukti jika suku Aborigin adalah keturunan dari gelombang awal orang-orang yang meninggalkan Afrika dan membentuk cabang sendiri pada 75.000 tahun silam sebelum Asia dan Eropa menjadi kelompok yang berbeda. Hal ini berarti bahwa Aborigin kemungkinan merupakan salah satu populasi lanjutan tertua di luar Afrika.

    Menurut Morten Rasmussen, seorang peneliti postdoctoral di University of Copenhagensekaligus salah satu tim peneliti internasional, pada tahun 1921, seikat rambut itu diberikan kepada antropolog Inggris, Alfred Cort Haddon, ketika ia bepergian melewati Golden Ridge, dekat Kalgoorlie di Australia Barat. Para peneliti menggunakan sampel ini―yang menjadi genom pertama dalam urutan Aborigin Australia―untuk melihat kembali sejarah manusia dan menjelaskan bagaimana nenek moyang kita menyebar ke seluruh dunia dari Afrika, tempat di mana mereka diyakini muncul.

    Seikat rambut itu cocok untuk dijadikan studi semacam ini karena pemiliknya masih berdarah Aborigin murni, belum tercampur dengan imigran Eropa yang menetap di Australia di zaman yang relatif modern. Sebuah analisis genetik dari sampel rambut menegaskan hal ini. Para peneliti mengurutkan genom manusia Aborigin itu―lengkap dengan cetak biru genetiknya―dan membandingkannya dengan mereka yang berasal dari Cina, Eropa dan Afrika. Dengan melihat perbedaan-perbedaan yang disebabkan oleh mutasi pada kode DNA, para peneliti dapat menyimpulkan hubungan populasi-populasi ini satu sama lain.

    Mereka menemukan mutasi unik dalam DNA pria Aborigin itu yang mengindikasikan bahwa nenek moyangnya bercabang dari Eropa dan Asia sebelum terbagi menjadi dua kelompok. “Jadi, ketika Eropa dan Asia sudah menjadi populasi tunggal, nenek moyang Aborigin sudah dalam perjalanan menuju ke Australia,” kata Rasmussen. Namun demikian, ketiga kelompok tersebut menunjukkan jarak genetik yang sama dari Afrika di mana hal ini menunjukkan jika mereka telah sejak lama memisahkan diri dari Afrika lama.

    Untuk memeriksa ketepatan hasil, para ilmuwan menggunakan tiga genom orang Cina Han yang mereka urutkan serta melakukan pra-urutan pada genom dua orang Eropa dan dua orang Afrika yang tergolong dalam kelompok orang-orang Yoruba. Mereka menemukan bahwa pertukaran individu-individu yang digunakan dalam perbandingan menghasilkan sedikit perbedaan. “Kami memilih beberapa orang untuk mewakili seluruh populasi. Genom bisa kita tambahkan, kepastian bisa kita tambahkan dan detail bisa kita tambahkan,” kata Rasmussen.

    Perubahan kecil dalam kode DNA kita terjadi pada tingkat yang konstan sehingga para ilmuwan mampu menghitung perkiraan waktu ketika nenek moyang Aborigin memisahkan diri dari leluhur penduduk Eurasia kira-kira antara 62.000 dan 75.000 tahun yang lalu. Perhitungan ini cocok dengan bukti arkeologis Manusia Mungo [nama yang diberikan pada fosil manusia berpenanggalan 45.000 tahun silam yang ditemukan di dekat Danau Mungo, Australia] karena perpecahan terjadi sebelum kedatangan leluhur Aborigin di Australia. Berdasarkan data genetik, memang mustahil untuk mengatakan di mana―secara geografis―perpecahan terjadi.

    Mereka juga menemukan bukti bahwa nenek moyang suku Aborigin telah bercampur dengan manusia kuno yang disebut Denisovan yang fosilnya ditemukan di sebuah gua di Pegunungan Altai, Siberia. Analisis genom menunjukkan bahwa Aborigin tidak diturunkan dari leluhur populasi Asia, melainkan melibatkan beberapa gelombang migrasi. Tepatnya gelombang awal yang menurunkan Aborigin Australia. Eropa dan Asia tampaknya muncul kemudian, sebagai hasil dari gelombang berikutnya. Ribuan tahun setelah itu, nenek moyang dari Indian berpisah dari populasi Asia ketika mereka menyeberangi Selat Bering.


    Sumber : http://gombhalmukiyo.blogdetik.com/seikat-rambut-ungkap-migrasi-manusia/

    Nenek Moyang Orang Asia Asalnya dari Nusantara/Asia Tenggara

    Nenek Moyang Orang Cina Adalah Indonesia

    Nenek Moyang Orang Asia Asalnya dari Nusantara/Asia Tenggara

    Jakarta, Ilmuwan se-Asia berhasil berhasil melakukan pemetaan keragaman genetik di Asia. Dugaan selama ini nenek moyang orang Asia dari China ternyata terbalik. Yang benar nenek moyang orang China yang berasal dari Asia Tenggara.Studi ini juga semakin memperkuat penemuan sebelumnya bahwa nenek moyang semua manusia berasal dari Afrika, artinya Adam sebagai manusia pertama di dunia berasal dari Afrika.

    Untuk pertama kalinya, lebih dari 90 ilmuwan dari konsorsium Pan-Asian SNP dinaungi oleh Human Genome Organisation (HUGO) melakukan studi terhadap 73 populasi Asia Tenggara dan Asia Timur untuk mempelajari pola migrasi dalam sejarah manusia dan hubungan antara genetik dan penyakit.Studi yang dipublikasikan dalam majalah Science 10 Desember 2009 ini menunjukkan bahwa akar genetik manusia berhubungan sangat erat dengan kelompok etnik dan kelompok bahasa.


    Studi ini juga menjelaskan bahwa di masa lalu terdapat satu jalur utama migrasi manusia ke Asia, yaitu melalui Asia Tenggara, bukan jalur migrasi majemuk melalui jalur utara dan selatan, sebagaimana banyak dikemukakan sebelumnya.

    “Hal ini berarti nenek moyangnya orang China adalah orang Asia Tenggara, bukan sebaliknya,” kata Prof Sangkot Marzuki, direktur lembaga Eijkman yang juga penggagas studi ini, dalam acara seminar ‘Mapping Human Genetic Diversity in Asia’ di gedung Lembaga Biologi Molekul Eijkman, Jakarta, Jumat (11/12/2009).

    Selain itu fakta terbaru menunjukkan bahwa semua gen yang ada pada manusia sekarang ternyata berasal dari Afrika. “Semua yang hidup sekarang setelah dites DNA-nya ternyata merujuk pada persamaan DNA orang Afrika,” jelas Prof Sangkot.

    Peneliti dari 10 negara di Asia berkumpul untuk memahami bagaimana manusia terhubung satu sama lain dan hasilnya bisa dijadikan acuan untuk menangani berbagai masalah yang berhubungan dengan penyebaran genetik manusia.

    “Untuk Indonesia, sebuah kepulauan dengan lebih dari 500 populasi etnik, data semacam ini sangat penting dalam pendekatan kesehatan masyarakat dan distribusi penyakit,” ujar Prof Sangkot.
    Aplikasi untuk kesehatan antara lain memudahkan untuk mengambil sampel data sebuah penyakit karena distribusi penyakit ternyata berkembang seiring dengan migrasi penduduk, jadi penyakit lebih mirip-mirip di suatu daerah.
    “Jadi ngambil sampel nggak perlu banyak-banyak karena rata-rata gennya sama,” kata Prof Sangkot.

    Selain itu, data yang dihasilkan ini juga diperlukan untuk pencarian gen yang terkait dengan penyakit. “Misalnya mencari gen orang yang terkena avian influenza karena pada dasarnya manusia itu tahan flu burung. Justru kalau kena berarti ada kelainan genetik,” tutur Prof Sangkot.
    Studi ini juga berguna untuk menentukan jenis obat berdasarkan genetiknya, karena tidak semua obat cocok untuk gen yang berbeda.

    Nenek Moyang Bangsa Indonesia


    Siapakah Nenek Moyang Bangsa Indonesia
    PERTANYAAN tersebut dapat dikaji dari ilmu arkeologi, ilmu linguistik, ilmu antropologi budaya, ilmu paleoantropologi, dan ilmu genetika. Para ahli purbakala telah menelusurinya dan meneliti endapan tanah purba 1,5 juta tahun yang lalu. Endapan purba tersebut dikenal dengan nama plestosen bawah dan ditemukan di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dari fosil-fosil yang terdapat di endapan purba tersebut para ahli dapat meneliti perikehidupan manusia purba.

    Dari peta distribusi geografis, ada jenis makhluk yang bernama homo erectus. Makhluk ini menunjukkan bahwa nusantara kita adalah daerah migrasi makhluk ini. Mereka tersebar dari Afrika sampai ke nusantara kita. Homo erectus diperkirakan lahir di Afrika, 1,7 juta tahun yang lalu. Wujud makhluk ini seperti monyet besar.


    Apakah nenek moyang manusia Indonesia adalah makhluk homo erectus ini? Bukan! Makhluk yang berwujud mendekati kera tersebut sudah punah. Tidak punya keturunan lagi. Dan itu sudah terjadi berabad-abad yang lalu.
    Nenek moyang manusia konon, dari makhluk yang bernama homo sapiens, yang lahir ratusan ribu tahun silam. Fosil-fosil homo sapiens ditemukan di gua-gua purba, zaman pra sejarah. Mereka hidup di gua-gua, pada era helosen. Jadi makhluk homo erectus dan homo sapiens tidak punya hubungan “darah”. Homo sapiens bukan keturunan homo erectus. Lebih tegas lagi – dari kajian ilmu kepurbakalaan – dapat diketahui bahwa manusia bukan keturunan kera! Tentunya termasuk manusia yang berdiam di nusantara ini. Demikian menurut kajian ilmu, bukan dari kajian yang lain.

    Dari Ilmu Linguistik


    Dari kajian ilmu linguistik atau ilmu bahasa, bangsa Indonesia adalah penutur bahasa Austronesia. Sekitar 5.000 tahun lalu, bahasa ini sudah digunakan oleh manusia di nusantara. Bahasa ini konon akar dari bahasa Melayu. Bahasa Austronesia memiliki penyebaran paling luas di dunia, khususnya sebelum zaman penjajahan oleh bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Asia-Afrika.

    Bahasa Austronesia berkembang menjadi 1.200 bahasa lokal, dari Madagaskar, Afrika, di barat sampai di Pulau Paskah di timur, dari Taiwan di utara sampai Selandia Baru di selatan . Penyebaran bahasa Austronesia lebih luas dibanding penyebaran bahasa Indo Eropa, Aria Barat, dan Aria Timur atau Semit.

    Keturunan Bahasa Austronesia tumbuh dan berkembang ratusan tahun dan digunakan oleh 300 juta manusia di Asia Timur dan Asia Pasifik. Para penutur bahasa Austronesia, beragam, misalnya mulai dari para nelayan, pelaut, pedagang, bangsawan, pengeliling dunia, sampai kaum petani di pedalaman. Sekitar 80 juta manusia penutur bahasa Austronesia hidup di kepulauan nusantara dan kepulauan Pasifik.

    Jadi siapa nenek moyang manusia yang bertutur dengan menggunakan bahasa Austronesia yang tinggal di nusantara itu? Masih menjadi kontroversi di kalangan para ahli. Pendapat mereka bermacam ragam, ada yang mengatakan dari Formusa (Taiwan),  Hainan (Hongkong), Yunan (China Selatan), Filipina, atau Jepang.

    Dari Bahasa Austrik


    Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Harry Truman Simanjuntak pernah berpendapat, rumpun bahasa Austronesia merupakan bagian dari bahasa Austrik. Bahasa ini berawal dari daratan Asia, kemudian terbagi dua, yaitu Austro Asiatik dan Austronesia.

    Austro Asiatik menyebar ke daratan Asia, misalnya di Indo-China, Thailand, dan Munda di India Selatan. Sedang bahasa Austronesia menyebar ke selatan dan di tenggara seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, sampai ke kepulauan Pasifik.

    Menurut teori Model Out of Taiwan, bahasa Austronesia mulai mengkristal di Formusa atau Taiwan. Penutur bahasa ini bermigrasi dari daratan China Selatan 6.000 tahun yang lalu. Diperkirakan mereka berasal dari Fujian atau Guangdong, dua daerah di China Selatan.

    Proses kristalisasi bahasa Austronesia di Taiwan kemudian melahirkan budaya Da-pen-keng. Budaya tersebut berkembang dan bercabang-cabang menjadi sejumlah dialek lokal. Itu terjadi sekitar 4.700 tahun lalu. Pada masa Austronesia awal tersebut manusia sudah mengerti memelihara babi dan anjing, sudah mengenal budidaya padi meski masih sederhana, menanam ubi dan tebu, membuat kain dari kulit kayu, dan membuat gerabah..
    Ratusan tahun kemudian budaya mereka meningkat lagi. Misalnya mulai menggunakan peralatan dari batu dan tulang dan mulai membuat kano, perahu kecil dan sempit.

    Sejumlah kelompok penutur bahasa Austronesia ini kemudian mulai berkelana ke selatan, lewat lautan, dengan menggunakan perahu yang sederhana, yang lebih banyak digerakkan oleh arus ombak lautan. Mereka terus bergerak ke arah selatan. Di antara mereka ada yang bergerak kearah Asia Tenggara, sampai ke Filipina dan Kalimantan Utara. Itu terjadi 4.500 tahun yang lalu.

    Kelompok pemukim awal di Filipina atau di Kalimantan Utara ini akhirnya menciptakan bahasa Proto Malayo Polynesia (PMP), yang merupakan cabang dari induknya, Proto Austronesia.
    Di kawasan baru tersebut perbendaharaan budaya mereka bertambah. Budidaya tanaman yang berasal dari biji-bijian, mulai bertambah, misalnya mulai menanam kelapa, sagu, sukun, dan pisang. Pada saat itu, perhubungan laut juga mulai meningkat. Teknologi pelayaran mereka mulai canggih. Maka di antara mereka mulai ada yang bermigrasi ke pulau-pulau di nusantara, misalnya ke Sulawesi dan Maluku. Bahkan ada yang sampai ke pulau Mikronesia, Lautan Pasifik.

    Dalam tahap selanjutrnya, puluhan tahun kemudian, mereka ada yang bermigrasi ke Jawa, Sumatra, dan Semenanjung Malaka. Ke arah timur, mereka menuju ke Nusa Tenggara, Maluku, Papua Barat, sampai ke kepulauan Bismarck. Di kawasan timur ini, budaya tanaman biji-bijian mereka tinggalkan dan beralih ke budidaya berbagai tanaman umbi-umbian. Bumi dan alam di nusantara bagian timur ternyata tidak cocok untuk tanaman biji-bijian.
    Menurut pakar arkeologi yang lain, Daud Ario Tanudirjo, persebaran para penutur Proto Malayo Polynesiatersebut terjadi sekitar 4.000 hingga 3.300 tahun yang lalu. Hal itu ditandai luasnya distribusi gerabah berpoles merah..

    KEMAMPUAN mereka mengarungi lautan jarak jauh, mendorongnya untuk terus mencari daerah baru yang kemungkinan lebih baik, atau lebih nyaman untuk hidup. Mereka telah mengenal strategi lompat katak. Dari pulau yang satu melompat ke pulau yang lain yang lebih dekat. Demikian seterusnya, sampai mereka tiba di pulau yang paling jauh.

    Bahasa Proto Malayo Polynesia tersebut berkembang di kawasan barat nusantara sedangkan di kawasan Halmahera, Maluku, berkembang dan menjadi pusat bahasa-bahasa Proto Central Malayo Polynesi. Bahasa-bahasa Proto Eastern Malayo Polynesia berkembang di daerah Kepala Burung, Papua Barat dan bahasa-bahasa Proto Oceanic berkembang di Kepulauan Bismarck, Pasifik Barat dan sekitarnya.

    Bentuk rumpun bahasa Austronesia ini tumbuh lebih menyerupai bentuk garu ketimbang bentuk pohon.Mengapa? Karena semua proto-bahasa dalam bentuk ini, dari Proto Malayo Polynesia hingga ke Proto Oceania menunjukkan kesamaan kognat yang tinggi, yakni lebih dari 84 persen dari 200 pasangan kata. Demikian menurut pakar arkeologi Daud Aris Tanudirjo.

    Sementara itu menurut pakar bahasa Austronesia, Peter Bellwood, berbagai proto-bahasa yang pernah tersebar dari Filipina sampai Kepulauan Bismarck, boleh dikatakan satu bahasa, namun dengan sedikit perbedaan variasi dialek.

    Austromelanesoid – Mongoloid


    Mungkin Anda bertanya, nama makhluk apa lagi ini? Apakah ini nenek moyang kita? Jawabnya bukan! Sabar.
    Dari hasil penemuan dan penelitian di pegunungan Sewu, bagian tengah Jawa Tengah-Jawa Timur, para ahli menemukan kohabitasi, bercampurnya dua suku bangsa di suatu wilayah, yaitu ras Australo-melanesiddengan ras Mongoloid dalam waktu yang hampir bersamaan. Kohabitasi dua ras tersebut jauh sebelum datangnya para penutur Austronesia yang berciri ras Mongoloid.

    (1) Dalam situs purbakala di kawasan Jateng-Jatim tersebut ditemukan kerangka Austromelanesoid yang dikubur dalam posisi terlipat. Di tempat yang sama juga ditemukan kerangka Mongoloid dikubur dalam posisi terbujur.
    (2) Penemuan kerangka manusia purba di daerah Wajak, dekat Tulungagung, Jawa Timur, menunjukkan ciri-ciri ras Mongoloid pada bagian wajahnya, sekaligus menunjukkan ciri-ciri ras Austromelanesid pada bentuk umum tengkoraknya. Dari bukti tersebut dapat disimpulkan, bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah

    1. percampuran antara dua ras Austromelanesid dan Mongoloid yang mendiami bumi nusantara ini, gelombang demi gelombang, dalam waktu berabad-abad, kemudian bercampur dengan
    2. rumpun Asia dari India,
    3. bercampur lagi dengan rumpun Aria dari India, dan
    4. bercampur lagi dengan bangsa Semit dari Eropa, di masa-masa modern sesudahnya.Dari bukti-bukti arkeologis tersebut di atas maka orang akan sulit jika menetapkan mana sebenarnya yang disebut bangsa Indonesia yang asli. Apalagi sekarang! Zaman globalisasi. Kini dunia rasanya sudah menjadi satu. Kita sekarang sudah menjadi satu warga negara, warga negara  dunia. Kemanusiaan yang adil dan beradab – seperti yang diamanatkan oleh Sila ke-dua Pancasila — seharusnya sudah menjadi way of life semua bangsa di dunia. Apapun ideologinya, apapun filosofinya, apapun agamanya. Mankind is one!.

    sumber : http://khatulistiwa.info

    Suku Aborijin merupakan pelopor migrasi

    Jumat, 23/09/2011 15:51 WIB

    Suku Aborijin merupakan pelopor migrasi

    BBCIndonesia.com - detikNews

    Orang Aborigin diduga sudah mendiami Australia sejak 70.000 tahun lalu.
    Setumpuk rambut berhasil membantu para ilmuwan menyusun kembali genome suku Aborijin Australia dan menelusuri penyebaran manusia di dunia.


    DNA dari rambut tersebut memperlihatkan bahwa orang Aborijin merupakan yang pertama kali berpisah dari manusia modern, sekitar 70.000 tahun lalu.



    Temuan yang menentang teori ini sebelumnya ditulis dalam majalah ilmu pengetahuan Science



    Pemikiran awal adalah manusia modern menyebar dalam satu tahapan ke luar dari Afrika dan Timur Tengah, dan karena ada faktor jarak maka manusia Eropa modern yang pertama kali berpisah dibanding orang Asia dan Austalia.



    Namun penelitian terbaru memperlihatkan warga Aborijin yang sebenarnya membuka jalan ke Asia dan Australia sementara manusia modern lainnya masih tetap tinggal di Afrika dan Timur Tengah sampai 24.000 tahun lalu.



    Barulah kemudian manusia dari Afrika dan Timur Tengah menyebar dan menduduki Eropa serta Asia sementara Aborijin sudah menetap mapan di Australia selama 25.000 tahun.



    Jadi warga Aborijin yang memiliki klaim yang paling lama atas tanah tempat mereka tinggal dibanding manusia modern lainnya.



    Laut dangkal


    Temuan ini didasarkan pada perbandingan antara fraksi yang amat kecil dari DNA suku Aborijin dengan manusia lainnya, yang memperlihatan orang Aborijin sudah hidup terisolasi 70.000 tahun lalu.



    Dr Francois Balloux, salah seorang ilmuwan dari Imperial College London, menyebutkan populasi yang berkembang di sepanjang pantai karena sumber daya alam yang kaya di kawasan itu.



    "Mereka bisa jalan ke mana saja karena kedalaman laut masih amat dangkal," tambahnya.



    Jadi hanya sedikit saja melintas laut sudah bisa mencapai Australia walau kemungkinan peninggalan arkeologis dari perjalanan lintas laut itu menjadi hilang karena semakin dalamnya laut.



    Sedangkan populasi di Timur Tengah pindah menduduki Eropa maupun Asia sekitar 24.000 tahun lalu dan pada masa itu tercatat bahwa genome Aborijin memperlihatkan terjadinya perkawinan antara nenek moyang Asia dan Aborijin.


    Teknologi genome


    Warga Aborijin

    Orang Aborijin lebih dulu berimigrasi dibanding orang Eropa dan Asia.


    Temuan dalam migrasi manusia yang didasarkan pada DNA sekarang dimungkinkan karena kemajuan teknologi dalam studi genome.



    Sebelumnya, pengkajian usia genetika didasarkan pada menyusuri sejumlah mutasi yang unik di DNA dengan asumsi tingkat dari mutasi tersebut.



    Namun kini tersedia model-model komputer yang bisa mensimulasi berbagai skenario untuk waktu migrasi dan juga arahnya sehingga peneliti bisa membandingan dan memilih situasi yang paling tepat dengan genome teryentu.



    Dalam penelitian ini, perbandingan genome Aborijin dengan DNA individu orang Afrika, Eropa, dan suku Han di Cina memperlihatkan perkawinan dari Afrika, Eropa, dan Han terjadi setelah masa kolonialisasi awal, ketika Aborijin sudah menetap lebih dulu.




    (bbc/bbc)

    Sumber:
    http://news.detik.com/read/2011/09/23/155147/1728729/934/suku-aborijin-merupakan-pelopor-migrasi

    Manusia Mungkin Sudah Menghuni Sulawesi sejak Lebih dari 40.000 Tahun Lalu

    Manusia Mungkin Sudah Menghuni Sulawesi sejak Lebih dari 40.000 Tahun Lalu

    Selasa, 14 Oktober 2014 | 14:59 WIB
    NatureStensil tangan di Sulawesi berusia 39.900 tahun menjadi yang tertua di dunia saat ini.

    KOMPAS.com — Lukisan stensil tangan tertua berusia 39.900 tahun ditemukan di Maros, Sulawesi Selatan. Temuan lukisan itu harus menjadi motivator untuk menemukan artefak dan kerangka manusia sehingga riset DNA bisa dilakukan.

    Wakil Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo, mengungkapkannya saat ditemui Kompas.com dalam acara penghargaan fellowship L'oreal for Women in Science di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Selasa (14/10/2014).

    "Kalau memang lukisan itu umurnya 40.000 tahun, manusia mungkin sudah ada sebelumnya. Kita harus cari. Teman-teman di Arkenas (Pusat Penelitian Arkeologi Nasional) haruslah sebenarnya mencari rangka-rangka yang ada. Dengan itu, kita bisa riset DNA," katanya.

    Herawati mengungkapkan, riset DNA pada kerangka akan membantu jejak migrasi manusia ke nusantara. Hasil penelitian pada akhirnya bisa membantu mengonfirmasi beragam teori migrasi manusia ke Asia Tenggara yang berkembang selama ini.

    Herawati mengatakan, ada beragam teori migrasi ke wilayah nusantara. Salah satunya, dari Afrika, manusia bermigrasi ke Asia Selatan baru turun ke paparan Sunda dan masuk wilayah nusantara.

    "Tapi, ada juga yang lain, di antaranya ada yang menyebut bahwa nusantara itu justru pusat peradaban. Manusia bermigrasi dari wilayah nusantara. Beragam temuan kok sepertinya justru menguatkan ini," kata Herawati. 

    Menurut Herawati, selama ini belum pernah ada temuan kerangka manusia di Sulawesi yang umurnya 40.000 tahun. Kerangka manusia modern tertua yang ditemukan di Indonesia memang berusia sekitar 40.000 tahun, tetapi dari Kalimantan yang berdekatan dengan Malaysia. 

    Arkeolog Arkenas, Harry Truman Simanjuntak, mengatakan bahwa artefak dan kerangka manusia tertua yang ditemukan di Sulawesi berusia 33.000 tahun. "Berupa alat-alat batu. Ditemukan di Maros juga," ungkap Harry.

    Riset DNA kerangka manusia modern yang hidup di goa-goa puluhan ribu tahun lalu kini juga tengah dilakukan dengan sampel kerangka manusia goa harimau. Riset itu merupakan kerja sama antara Lembaga Eijkman dan Arkenas.




      Editor: Yunanto Wiji Utomo


      Sumber:http://sains.kompas.com/read/2014/10/14/14590871/Manusia.Mungkin.Sudah.Menghuni.Sulawesi.sejak.Lebih.dari.40.000.Tahun.Lalu

      Kapan Manusia Modern Bermigrasi dari Afrika?

      Kapan Manusia Modern Bermigrasi dari Afrika?

      Kapan Manusia Modern Bermigrasi dari Afrika?
      Fisik dan otak manusia modern lebih kecil dari nenek moyangnya. (dailymail)

      TEMPO.CO, Jakarta - Teori tentang migrasi manusia modern keluar dari Afrika (Out of Africa) kembali diperbarui. Penelitian paling mutakhir dilakukan oleh kelompok pakar genetika evolusi internasional. Mereka menggunakan DNA mitokondria dari sisa-sisa fosil manusia modern untuk memperkirakan tingkat mutasi genetik.


      Analisis dilakukan terhadap tiga kerangka berumur 31.000 tahun yang berasal dari Republik Cek; dua kerangka berumur 14.000 tahun dari Oberkassel, Jerman; mumi alami Ötzi si Manusia Es yang diperkirakan hidup antara 3350 dan 3100 Sebelum Masehi; dan kerangka terbaru milik seorang pria yang tinggal di Prancis pada abad pertengahan sekitar 700 tahun lalu. Sampel kerangka tertua yang digunakan berumur 40.000 tahun dan berasal dari Tianyuan di Cina.



      Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan genetik antara manusia Afrika dan non-Afrika dimulai 62-95 ribu tahun lalu. Angka ini mirip dengan hasil penelitian arkeologi yang melakukan penghitungan umur terhadap perkakas batu yang ditemukan di Afrika.



      "Tapi mereka tidak setuju dengan hasil penelitian genetik yang memperkirakan migrasi dimulai jauh lebih awal, sekitar 130 ribu tahun yang lalu atau bahkan sebelumnya," ujar para peneliti, Jumat 22 Maret 2013.



      Penelitian ini dimuat secara detail dalam makalah yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 21 Maret lalu.



      Sebelumnya, pengurutan seluruh genom dilakukan terhadap manusia yang masih hidup. Tujuannya untuk menghitung jumlah mutasi genetik pada bayi yang baru lahir lalu dibandingkan dengan orang tua guna menentukan tingkat mutasi tiap generasi. Hasilnya, ada sekitar 50 mutasi genetik yang muncul per generasi.



      Temuan tersebut sangat penting karena menghasilkan "jam" molekuler yang dapat diekstrapolasi ke masa lampau untuk mengetahui peristiwa-peristiwa penting dalam evolusi manusia.



      Nah, penelitian terbaru berfokus pada pengurutan DNA mitokondria dari fosil manusia modern. Umur fosil terlebih dulu ditentukan dengan metode penanggalan radiokarbon. Sampel yang digunakan berasal dari manusia yang hidup sampai 40.000 tahun yang lalu.



      "Sampel itu menyediakan berbagai titik kalibrasi untuk menaksir kapan awal mereka bermigrasi keluar dari benua Afrika," ujar para peneliti.



      Perbedaan waktu migrasi antara penelitian terbaru dengan penelitian genetik sebelumnya bisa diakibatkan minimnya perkiraan jumlah mutasi baru pada generasi manusia yang hidup. Ini bisa terjadi karena sulitnya membedakan mutasi yang riil dengan mutasi yang palsu. Minimnya jumlah mutasi berdampak pada perkiraan waktu yang lebih tua terhadap kapan terjadinya migrasi dari Afrika dan peristiwa penting lainnya.



      Para peneliti mengatakan, tanggal baru, yang sesuai dengan bukti arkeologi, menunjukkan bahwa manusia modern sudah menghuni Eropa dan Asia sebelum dan sesudah periode glasiasi yang terbaru. "Mereka mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan iklim yang berubah dramatis," ucap mereka. Simak berita iptek lainnya di sini.



      PHYS | MAHARDIKA SATRIA HADI


      Sumber:
      http://www.tempo.co/read/news/2013/03/22/061468786/Kapan-Manusia-Modern-Bermigrasi-dari-Afrika

      Proyek DNA menjejaki migrasi manusia

                            Proyek DNA menjejaki migrasi manusia
      13 April 2005


      Ilmuwan ingin menjejaki arus migrasi manusia dari Afrika
      Sebuah proyek meliputi lima benua ditujukan untuk memetakan sejarah migrasi manusia lewat DNA sedang dilakukan.
      Proyek Genografik itu, sebuah kerjasama antara majalah National Geographic dan perusahaan komputer IBM, a
      kan mengambil contoh DNA dari 100 ribu lebih orang di seluruh pelosok dunia.
      Analisa komputer dan laboratorium yang dikumpulkan dari penduduk pribumi dan awam, akan membantu memberikan gambaran mengenai bagaimana penduduk menyebar.
      Pemimpin proyek ini Dr Spencer Wells menyebut proyek ini layaknya program ke bulan dalam bidang anthropologi.
      Proyek lima tahun senilai 40 milyar dollar ini melibatkan ilmuwan genetik terkemuka maupun para ahli dari bidang DNA kuno, linguistik dan arkeologi.
      ''Kami melihat program ini sebagai sumber pengetahuan akan manusia untuk masa depan. Dengan mudah ini akan menjadi database gen terbesar di dunia yang pernah dibuat,'' katanya kepada situs internet BBC.
      Kalangan publik juga akan bisa menambahkan informasi genetik mereka ke database ini dengan membeli sebuah peralatan yang bisa mendeteksi DNA mereka.

      Pemisah genetik
      Bukti genetik dan penemuan arkeologis menunjukkan awal mula Homo Sapiens berada di Afrika sekitar 200 ribu tahun lalu. Manusia modern pertama yang meninggalkan Afrika terjadi sekitar 60 ribu tahun lalu.
      Dengan mempelajari kromosom laki-laki atau Y, dan DNA mitokondrial, yang pada dasarnya hanya diturunkan lewat garis ibu, para ilmuwan bisa menjejaki gambaran besar rute yang diambil nenek moyang kita ketika keluar dari Afrika.
      Yang kurang adalah, demikian kata Wells, rincian kecil-kecil yang bisa dipergunakan untuk mengisi kekurangan proyek-proyek skala besar.
      ''Kami tahu pemisahan kromosom Y yang mana yang harus kami telusuri; kami juga bisa menelusuri DNA mitokondrial tanpa banyak kesulitan. Tapi kami tak punya cukup contoh DNA untuk mengaplikasi teknologi yang kami punya ini secara benar,'' jelas Dr Wells.
      ''Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Apakah ada perkawinan dengan manusia Neanderthals ketika manusia modern ini berpindah ke Eropa? Apakah migrasi ke Amerika melewati Pasifik atau Atlantik?''

      Beberapa pertanyaan yang akan dicoba jawab oleh proyek ini antara lain:
      * Siapakah populasi tertua di Afrika, yang karenanya tertua di dunia?
      * Apakah pasukan Iskandar yang Agung meninggalkan jejak genetik?
      * Bagaimana manusia pertama kali datang ke India?
      * Bagaimana penjajahan mempengaruhi pola genetis di Afrika?
      * Adakah percampuran dengan homo erectus ketika manusia modern menyebar ke Asia Tenggara?
      * Apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan berbagai kelompok manusia?
      Dengan didirikannya pusat-pusat penelitian di setiap benua, proyek akan memusatkan penelitian pada informasi gen dari penduduk pribumi, yang secara alami melestarikan keragaman genetik kuno ummat manusia.

      Milik publik
      Partisipan publik dalam proyek ini harus mengirimkan contoh DNA mereka ke laboratorium pusat untuk dianalisa.
      Setelah empat hingga enam minggu, yang bersangkutan bisa menelusuri nenek moyang mereka dengan memasukkan kode tertentu di situs proyek itu.
      Dana proyek itu tergantung pada seberapa banyak alat tes DNA itu terjual kepada publik. Keuntungan penjualan itu akan langsung kembali ke proyek dan digunakan untuk mendukung apa yang disebut proyek pewarisan bagi kalangan penduduk pribumi.
      Mereka yang terlibat dalam proyek itu mengatakan informasi dari biobank akan bebas dibuka oleh publik. ''Kami melihatnya sebagai kepentingan bersama. Kami tidak akan mematenkan apapun juga, informasi akan tersedia bagi publik,'' kata Dr Wells.
      Proyek itu sendiri merupakan kerja sama antara majalah National Geographic, IBM dan yayasan sosial Waitt Family Foundation.

      Perkiraan sementara migrasi manusia berdasarkan kehidupan ''Nabi Adam''




      Sumber:
      http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2005/04/050413_dna.shtml