Selasa, 01 Juli 2014

Travelling Gratis Bali Lombok (Part 1)


Siapa yang tidak suka dengan piknik, jalan-jalan, liburan dan sejenisnya? Apalagi kao gratisan, wuihh ibarat lagi mimpi trus tiba-tiba bangun dari tidur dan mimpi itu terwujud. Seneng bukan main. 

Seperti itulah yang saya rasakan beberapa waktu lalu, pagi-pagi dapat tawaran tiket gratis travelling bali lombok. Ya gratis tis, makan, transportasi, penginapan, tiket masuk lokasi dan sejenisnya udah ada yang nanggung (include dalam tiket tersebut) dan jumlahnya 3 tiket, artinya saya masih bisa mengajak 2 orang kawan. Semua karena korban atau dampak peraturan Mentri Pendidikan yang mewajibkan penataran kurikulum baru bagi guru SD harus rampung sebelum puasa. Sehingga orang tua saya yang kena peraturan, jauh hari sudah mempersiapkan piknik bersama koperasi guru-guru ahirnya merelakan tiketnya untuk saya. Alhamdulillah, semoga lain waktu dapat ganti buat bapak ibu saya. 


Kita mulai cerita travelllingnya. Saya mengajak seorang teman waktu kuliah dan satu orang lagi keponakan yang keduanya sama-sama pecinta jalan-jalan dan naik gunung. Bagi orang yang jarang travelling ataupun jelajah pasti akan sangat detil mempersiapkan bekal. Sejak beberapa hari sebelum berangkat sudah ditata tasnya dan disiapkan semuanya. Namun kami tidak, cukup di list saja apa yang perlu dibawa di secarik kertas. Padi hari H sebelum berangkat masukkan semua barang yang ada di lisg ke dalam ransel lalu angkat. Selesai. Dan satu jam sebelum keberangkatan saya baru menyiapkannya, mandi lalu berangkat ke titik kumpul di Alun-alun utara surakarta. 

Kalau ditanya, apa sih enaknya piknik bareng bapak ibu guru yang rata-rata anaknya sudah besar dan beberapa sudah bercucu? Tidak ada, pasti seleranya akan berbeda dan siapa partner dijalan itu sangat menentukan kenyamanan kita ketika travelling. Lalu kenapa mau? Jawabannya adalah, tidak ada yang salah dengan kata "gratisan".hahaha Demi Bali dan Lombok yang gratisan, peduli amat tentang nyaman gak nyaman. Makan dengan apa tidur dimana kami sudah biasa "hidup susah", gak ada orang yang dikenalpun gak masalah. Bagi saya sekalipun saya berangkat sendirian pun akan saya ambil pilihan itu. 

Menikmati macet di malam hari
Siang tanggal 21 Juni kita berangkat 6 bus pariwisata. Tujuannya dari Jawa langsung menyeberang ke Bali lalu menyeberang langsung ke Lombok NTB. Sebuah perjalanan yang panjang untuk sebuah piknik. Karena perjalanan panjang inilah saya akan lebih banyak mengupas beberapa tips selama perjalanan daripada detil info tempat wisata yang dituju. Saya sangat yakin bahwa perjalanan ini akan benar-benar makan waktu. Dari Solo berangkat pukul 13.30 sampai di pelabuhan Ketapang jam 05.00 esok paginya. Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk masih jam 8. Akhirnya kita harus menunggu cukup lama di Pelabuhan. 

Apa yang bisa dilakukan selama itu? Apakah mau mandi dulu? Kalo mau sih gak apa-tapo kita tidak karena daripada bayar untuk mandi mending buat beli segelas kopi. Di pelabuhan segelas kopi ada yang harga 3.000 dan 5.000. Saya memilih susu panas saja 3.000, kalo mau beli makan semisal popmie pasti harganya diatas harga standart. Artinya, standartnya tempat ini memang segitu, lebih daripada minimarket. Lagipula kalo udah ikut rombongan piknik pasti makan sudah dijamin, tinggal nunggu waktu saja pasti sarapan juga. Berhemat mennn.. 

Susu di pelabuhan
Perjalanan kali ini memang saya niatkan untuk ajang hunting foto. Tripod, kamera, batre ekstra sudah saya siapkan demi hunting foto yang pastinya baru. Namun pagi itu di pelabuhan ketapang cuaca kurang bersahabat, berharap ada sunset dari atas laut ternyata mendung. Ya sudah tak ada sunset bukan berarti kamera off, masih banyak obyek lain untuk di foto. Bersambung...

Selasa, 10 Juni 2014

Jelajah Pantai Siung


Jalanan berkelok-kelok seolah tidak ada habisnya, setelah tikungan tanjakan, ketemu tikungan lagi tanjakan dan turunan. Deretan Pantai di Gunung Kidul memang mempesona, namun butuh waktu lebih lama jika berangkat dari rumah di Solo untuk menjelajahi kesana. Dan hal itulah yang menjadikanku agak malas jika harus kesana, lebih dekat pantai daerah Wonogiri dan Pacitan. Entah memang seperti itu atau hanya perasaan saja, yang jelas untuk menuju arah Jogja sudah kebayang lalu lintas yang padat, berbeda dengan ke arah Wonogiri yang lebih banyak opsi jalur santai jauh dari hiruk pikuk. Namun ini memang sebuah subyektifitas.

Entah perasaan malas itu benar entah tidak, faktanya siang ini pukul 14.30 saya kembali berada di pantai. Dan kali ini berada di daerah Gunung Kidul yang pada mulanya ogak-ogahan untuk kesini. Pantai Siung, kata orang sih ini "surganya para pemanjat tebing", bahkan sampai tiket masuknya bergambar latar orang panjat tebing. Karena keterbatasan waktu kali ini sengaja tidak cari-cari lebih jauh. Hanya ingin sampai di salah satu pantainya saja cukup (diluar pantai BKK).


Diantara Sundak, Wedi Ombo dan yang lainnya sengaja saya memilih Siung karena perasaan saya mengatakan ini yang lumayan dekat. Seperti sebelumnya, pergi ke pantai pada hari aktif memang menyenangkan, damai karena lumayan sepi. Seperti inilah wisata, bukan seperti hari libur lebaran yang semua tempat wisata full manusia. Motor saya parkirkan di salah satu titik parkiran yang juga sekaligus warung di tepi pantai, menyiapkan kamera lalu siap untuk jalan-jalan sejenak.
Sebuah kompilasi

Kali ini sengaja saya tidak ingin bermain air, hanya ingin duduk santai menghirup udara pantai dengan pemandangan luas ke arah laut lepas. Saya sadar, waktuku tidak banyak dan nanti pukul 15.15 mau tidak mau harus keluar dari lokasi karena malam sudah ada pekerjaan lain yang menanti. Kanan maupun kiri pantai terdapat tebing yang bisa di panjat (dipanjat langsung, tidak harus dengan alat), saya memilih tebih yang ada di sebelah kiri, ternyata boleh juga. Dari atas tebing hamparan pasir pantai yang luas dan di sebalik kita ada jurang dengan batuan karang yang luar biasa kejam mengancam di bawah, artinya jangan sampai terpeleset atau lompat ke bawah. Tidak ada pagar pembatas tidak ada tali yang digunakan untuk berpegangan, kehati-hatian kita lah yang akan menjadikan kita baik-baik saja. 

Bersyukur dengan apa yang ada

Di ujung tebing saya duduk sejenak dan menengok ke bawah, ternyata di bawah ada pemancing yang luar biasa santai duduk di batu karang sambil merokok, sementara di sebelahnya air berwarna putih tertutup buih karena dahsyatnya benturan dengan karang di sekitar tempat ia duduk. Kalo saya ampun deh, mending di sini saja bengong menikmati hawa laut.

Waktu sudah habis, saatnya kembali ke parkiran, ambil motor lalu pulang. Iya, gitu doank, karena perjalanan pulang masih sangat melelahkan. Berusaha survive diantara padatnya lalu lintas sore arah Jogja, belum lagi jalan raya Jogja-Solo di jam padat seperti ini. Ah, ternyata ingin mendapatkan pantai di arah sini harus membayar mahal untuk perjuangannya. Apakah saya akan kembali? Mungkin, suatu saat nanti.


Sang penantang ombak

Jumat, 09 Mei 2014

Pendakian Lawu ke. 2

Kalo sampe turun ke basecamp nanti lalu pulang, dan kalian gak tukeran nomer, aku gak tanggung jawab kalo nanti nyesel ya..

ucap masku yang ikut pendakian kali ini kepada 2 orang cowok dan cewek yang berjalan beriringan sambil tersipu malu. Dan akhirnya merekapun tukeran nomer handphone juga.



Pendakian kali ini cukup berwarna menurutku, karena melibatkan banyak energi fisik dan perasaan juga. Sehingga rasa itu masih begitu kuat bahkan hingga beberapa hari setelah turun gunung.



Prepare di depan Masjid
Awalnya ketika ada yang mengajak naik lagi, dalam hati aku langsung sepakat. Namun untuk kondisi pekerjaan aku harus memastikan dulu apakah kerjaanku besok pas naik bisa ditinggal apa gak. Dalam hati 100% aku mengiyakan untuk ikut naik lagi, karena sebenarnya beberapa hari ini aku masih galau dan gelisah. Di satu sisi aku sudah punya keinginan yang kuat untuk segera menikah namun kendala kerjaanku yang bisa dikatakan serabutan tentu akan berat untuk mendapatkan acc orang tua. Di sisi lain untuk meninggalkan kerjaan yang sekarang untuk mencoba beralih mencari yang lebih baik saat ini belum juga memungkinkan, urusannya dengan seseorang yang tak ingin aku menyakitinya, urusan hati itu lebih berat dari urusan fisik. Jadi apa solusinya, mungkin saat ini harus lari. Siapapun akan mengatakan, lari itu tidak akan menyelesaikan masalah, memang benar. Namun ketika semua masih terlihat buntuk aku ingin meletakkan beban berat itu. Dan memaksakan fisik untuk kembali jalan terseok-seok di gunung itu sedikit menghapus gelisah, sekali lagi saya tahu itu tidak menyelesaikan masalah. Ah, sudahlah

bintang bertaburan menjelang puncak


Seperti biasa, kali ini jalan malam juga sama seperti pendakian tahun lalu. Bedanya kali ini berangkat 6 orang, yang 2 orang naik sore sedangkan aku dan 3 orang yang lain naik malam. Rencana pendakian kali ini naik dari Cemoro Sewu dan turun Cemoro Kandang, turun Cemoro Kandang harapannya bisa mendapatkan view baru, menginjak tanah agar tidak sakit seperti turun lewat jalur Sewu. Dan katanya sih bisa lebih cepat.



Karena sudah pernah lewat sini, tidak ada yang istimewa ketika berangkat. Kecuali sepatu lebih mumpuni, ngetest headlight baru, tenda yang cukup untuk semua rekan, bekal air lebih banyak, bawa carrier, dan sudah pasti lebih berat muatannya. 


Abadikan moment apapun kameramu
Jalan dari loket sampe puncak sekitar 7 jam, alhamdulillah lancar jalan terus dan bisa sampe puncak sebelum sunrise. Alhamdulillah kesampaian juga menyaksikan sunrise dari puncak Hargo Dumilah di ketinggian 3265 dpl.


Mendirikan tenda, sarapan, lalu tidur.


Sunrise, moment yang selalu dicari para pendaki


Bangun tidur, foto-foto dikit ternyata masku (yang berangkat sore) dapet kenalan 4 orang dari Madiun. 2 orang cowok 2 cewek. Yang sepasang emang pacarnya, yang sepasang lagi katanya cuma temen aja. Mereka mau ikut turun bareng kita lewat Cemoro Kandang. Hal yang seru dimulai dari sini.

1 orang cewek yang gak ada pacarnya ini namanya Eka, untuk kelasnya pendaki gunung cakep juga. Orangnya heboh, dikerjain seru, bahasanya "medok" keluar kabeh. Ada "jembe' " , "gondo'" yang lainnya ampe lupa dan masku semangat kalo ada orang yang digojeki bisa nyambung. 

Siap turun via Cemoro Kandang
Selama jalan turun (yang ternyata butuh waktu hingga 7 jam) banyak hal terjadi, namanya juga banyak orang, ngobrol sana-sini dan lama-lama keliatan. Amin (salah satu kawanku yang ikut berangkat malem) mulai ada sinyal, dan Eka (yang gak ada pacarnya) juga mulai ada sinyal, lama-lama frekuensinya mulai sama dan klop.hahahaha. Mulai dari saling saut ketika debat ngomongin sesuatu, si Eka minta minyak angin pas pusing, lalu sampe minjem carriernya Amin dan amin suruh bawa ranselnya Eka (padahal aku dan Uki juga bawa carrier loh) dan yang lainnya. 

Jalan turun kadang ada yang duluan, ada yang minta istirahat lebih lama, akhirnya rombongan terpecah. Dan yang paling akhir ada 4 orang (aku, masku, Amin dan Eka). Dasarnya masku emang orangnya heboh, pinter ngerjain orang liat sinyal Amin dan Eka akhirnya mereka ditodong terus. Sampe akhirnya buka-bukaan deh, kalo emang ada kecocokan ya gak usah diumpetin, tukeran nomer sana ntar dilanjutkan di lain waktu. Sambil malu-malu tukeran nomer juga.hahaha

Urusan mau dilanjutkan atau gak terserah mereka, kalo aku gak terlalu semangat ngerjain mereka berdua sih. Cuman memastikan aja mereka dah tukeran nomer, kalo sampe pulang gak tukeran nomer kan sayang tuh, ntar nyesel mau nyari kemana coba. Kalo masku hanya seneng gojeki aja, lagian udah ada 1 istri dan 2 anak dirumah, Uki sudah ada yayangnya yang nunggu di basecamp bawah, aku (ya adalah yang nunggu), Kholid dan Memed kurang begitu tau.

Musti hati-hati, licin
Rute Cemoro Kandang adalah jalan air, jadi sedikit saja keguyur hujan licinnya minta ampun. Rekor terpeleset dan glundung paling banyak dipegang masku 7x glundung, aku 4x dan yang lain cuma sekali paling. Baru kerasa kalo tongkat itu penting di tempat kayak gini, dan yang lebih mengerikan lagi jalanan di tepi jurang makin sempit. Di sebelah ada jurang puluhan meter tanpa pembatas, upss..direvisi, ada pembatas namun tanahnya sudah amblas dan pembatasnya masuk jurang. Mengerikan kalo jalan malem lewat sini, satu hal lagi senter harus terang dan satu orang pegang satu, pastikan juga ada cadangannya jika mati.

Sampe basecamp bawah alhamdulillah sehat, lengkap tak kurang suatu apapun. Badan yang sakit semua dan kaki njarem udah biasa, ya rasa inilah yang dicari kalo naik gunung kalo belom kerasa bakalan langsung naik satu gunung lagi.hehe

Alhamdulillah, pendakian yang kedua berahasil. Lain kesempatan Insha Alloh naik lagi, di lain gunung, lain waktu.


Senin, 21 April 2014

Sepatu Gunung Murah


Bagi sebagian orang yang hobi naik gunung mungkin uang bukan masalah. Namun bagi sebagian yang lain masih harus berhitung beberapa kali untuk membelanjakan uang demi perlengkapan naik. Saya memang bukan pecinta alam yang ikut organisasi resmi, namun saya lebih ke traveller yang memang sekali waktu naik gunung. Berbicara kenyamanan naik gunung, sepatu memang layak untuk dibahas karena manfaatnya dan banyaknya varian yang bisa di pilih sesuai yang kita inginkan. 

penampakan sepatu

Sebagian orang memang lebih senang mengenakan sandal, namun saya pribadi lebih memilih bersepatu karena jelas lebih aman dan nyaman untuk kaki. Sepatu gunung yang ada di toko outdoor memang banyak pilihan dan mantap. Namun bagi saya pribadi masuk toko outdoor dan memilah-milah sepatu sedikit membuat "sesak nafas" karena harganya. 

Bagaimana tidak, sepatu seharga kisaran 500rb memang lumayan oke, namun jauh dari kesan ramah di kantong. Mungkin ada yang akan bilang, "hobi itu emang butuh biaya men..." | iya sih, tapi kalo bisa kurang dari itulah..bukan tidak mampu beli, namun masih tinggi nomonal itu untuk sekedar sepatu yang tidak saya pakai tiap harinya untuk mendukung pekerjaan. Kalo itu saya pakai bekerja tiap hari dan memang sesuai yang saya butuhkan, pasti saya tebus. 

Cukup curhatnya, dari latar belakang tersebut saya cari opsi lain yang lebih ramah kantong. Di salah satu forum online ada 2 sepatu gunung yang ekonomis namun dengan spek yang lumayan, tidak sama memang dengan yang harga wow tadi. Namun jelas saya butuh yang dibawah itu. Dua merek tersebut adalah "Garsel" dan "Trekking". Semuanya adalah produk lokal Jawa Barat. Secara bahan dan kekuatan serta model sudah "masuk". 

Cocok dengan kategori travel atau adventure, namun harga berada di kisaran 200-300rb, angka yang masih bersahabat. Setelah menimbang-nimbang saya putuskan untuk memilih Trekking, kali ini yang saya ambil seri Tampomas 02. Dari beberapa lapak online dapetlah harga 220rb untuk sepatunya dan total sama ongkirnya jadi 250rb. 


cerukannya kurang dalam
Akhirnya, jadi juga punya sepatu gunung yang sejak lama jadi impian, Alhamdulillah. Dari segi model dan kekuatan lumayanlah sodah terjahit dengan kuat solnya. Pertama kali test drive, test hiking adalah perjalanan naik ke gunung api purba Nglanggeran di Patuk, Gunung Kidul. Apakah nyaman? Tentu saja, sepatu masih baru dan saya memang mengambil ukuran 1 tingkat diatas ukuran sepatu yang biasa saya pakai. 

Karena untuk medan gunung, sepatu harus menyisakan sedikit space untuk pergerakan ujung jari kalau tak mau kukunya luka atau kesakitan ketika turun gunung. 


Bagaimana ketahanan dalam waktu lama? itu nanti akan terjawab ketika sudah cukup berumur.

Bagaimana jika untuk basah-basahan? Kebetulan pulang dari naik ke Gunung Api Purba kemaren pulangnya motoran dan kehujanan sampai Solo, walhasil sepatu basah kuyup dan sampai menampung air dalamnya. Bahan kulit ketika basah dan dijemur maka bisa dipastikan bakal jadi keras dan gampang pecah-pecah. 

Solusinya adalah mengeringkannya tanpa dijemur, memang akan memakan waktu cukup lama namun lebih baik begitu daripada menyesal karena kulit akan menjadi kaku dan rusak. Sepatu basah dicuci sekalian (tanpa sabun) dan dibilas dengan air bersih serta diperas di beberapa bagian yang mengandung spons agar mudah kering, lalu masukkan kain bahan kaos yang menyerap air lalu tekan-tekan merata ke semua bagian yang potensial mengandung banyak air, ganti kain lagi jika sudah basah, setelah itu angin-anginkan.

Istirahat sejenak ketika naik "Nglanggeran"

Apakah dengan ini sepatu akan tahan lama? kita lihat sama-sama

Edit Foto Bolehkah?


Pertanyaan ini kadang muncul di benak banyak orang. Apakah perlu di edit? karena jika di edit berarti sudah tidak asli lagi. Banyak yang beranggapan bahwa suatu foto jika sudah di edit adalah "penipuan" dengan mengatakan "ah, ini editan..aslinya gak kayak gini"

Semua tidak bisa dihakimi dengan mengatakan bahwa editan adalah tindak kejahatan penipuan. Semua kembali kepada tujuan memotret itu sendiri, apakah itu untuk dokumentasi berita yang harus bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, ataukah kepada seni yang orang tentu ingin mendapatkan "cita rasa" baik keindahan, kengerian, ataupun perasaan lain yang tidak biasa. 

Faktor kamera juga ikut berpengaruh, karena tidak semua kamera akan berkata jujur dengan menampilkan foto sesuai yang kita lihat. Kamera yang sangat bagus bisa menampilkan detil warna maupun ketajaman yang melebihi apa yang kita tangkap dengan mata kita, ada juga kamera sederhana bawaan ponsel yang hanya menangkap garis besar objek dengan detil yang sangat rendah. Kita tidak akan menuduh semuanya melakukan penipuan kan, masing-masing kamera punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 


Bagi saya pribadi terserah saja, toh membuat foto HDR juga melalui editing baik di kamera maupun perangkat lain, dan foto HDR itu bukanlah seperti apa yang kita lihat dengan mata kita. Orang memotret sunset dengan warna memukau dan ombak di lautan yang selembut rambut karena pengaruh filter juga tidak seperti apa yang kita lihat dengan mata langsung.

Foto diatas saya ambil dengan menggunakan kamera ponsel Sony Ericsson S302 (2MP, tidak ada autofokus dll) hasil aslinya over, terlalu silau dan memang tidak seperti keadaan yang saya lihat. Sedangkan sebelahnya saya edit dengan menggunakan PhotoScape, memang aslinya yang saya lihat tidak segelap itu namun akan lebih bercerita foto yang sudah di edit dibandingkan dengan foto asli dari kamera (yang sebenarnya tidak menampilkan kondisi asli seperti yang dilihat mata langsung)

Jadi, bagaimana hukumnya mengedit foto?

Review Canon SX 160 IS (prosummer) - Review Traveller

Canon mengeluarkan kamera dengan jenis prosummer salah satunya adalah seri ini. 

Kamera ini dikategorikan dalam kamera prosummer karena memang untuk pengaturan manual sudah sangat lengkap dibandingkan dengan kamera pocket, namun untuk sensor masih dibawah DSLR, ohya lensa juga patent tidak bisa di ganti-ganti.


Saya tidak akan mengupas detail secara spesifikasi dan hal-hal rumit lainnya, yang akan saya review adalah seberapa praktis dan seberapa bagus kualitas kamera ini untuk kita bawa travelling. Opening statementnya, bagi yang ingin cari kamera yang oke untuk diajak travelling namun harga terjangkau kamera ini bisa menjadi salah satu pilihan. Saya mengatakan pilihan, bukan rekomendasi. Kenapa demikian? mari kita kupas lebih lanjut.

Sebelum menggunakan kamera ini, sebelumnya saya adalah pengguna Canon pocket A580, kamera prosummer Fujifilm Finepix S2950, kamera DSLR Canon 400D, dan sekarang kembali lagi ke prosummer Canon yang satu ini. 

Menggunakan kamera DSLR lalu harus kembali ke prosummer itu rasanya seperti ada yang hilang. Yang paling saya rasakan adalah "noise". Menggunakan prosummer lalu naik kelas ke DSLR saya merasakan puas, bisa menghandel noise dengan cukup bagus. 


Artinya dalam kondisi pencahayaan yang minim masih bisa mendapatkan gambar yang bersih. Prosummer sebenarnya juga bisa melakukan demikian, dengan syarat objek cenderung statis, iso rendah dibantu bukaan besar dan shutter speed yang lama, kalo perlu di tripod, pasti bagus. Tapi dengan DSLR saya bisa mendapatkan hal itu dengan lebih mudah. Sekarang kembali ke prosummer lagi harus sedikit kerja keras dengan komposisi agar bisa mendapatkan hasil yang cukup bersih. But, this oke dan saya sekarang tidak mempermasalahkan itu lagi karena banyak hal.


posisi zoom full

Saya kembali ke kamera kecil karena mengejar satu hal, praktis. Travelling, touring, trabas, dan lain hal menuntut sebuah kepraktisan. Walaupun saya sangat percaya dengan pengorbanan kita ribet-ribet bawa DSLR ketika travelling akan terbayarkan dengan gambar yang memuaskan. 


Namun sekali lagi, banyak keadaan yang saya temui tidak mengenakkan jika harus membawa DSLR selama travelling. Tidak semua tempat bisa menerima kehadiran orang yang menenteng DSLR di tengah-tengah mereka, masyarakat umum masih beranggapan bahwa kamera DSLR adalah kamera wartawan, entah siapapun dia ketika memegang DSLR akan menarik perhatian. 


Bisa dibayangkan ketika kita berada di tengah tengah lingkungan yang "daerah hitam" dalam arti tempat banyak kriminalitas, atau berada di daerah penambangan liar kita hendak memotret pemandangan pasti akan dapat masalah. 

Pernah ketika saya berada di daerah Kalimantan Barat sedang berjalan-jalan di tengah-tengah perkebunan sawit ada seperti ladang garam yang luas di tepian sungai, dan disana terdapat penambangan Puya. Turun dari mobil saya jalan-jalan di tepi sungai mbawa DSLR, langsung pekerja tambang minggir semua dan yang menemui saya adalah security proyek. 

Dari pengalaman ini saya lalu memutuskan beralih untuk membawa kamera kecil sajalah, memang tidak selalu kondisi seperti itu namun demi kenyamanan dan ke praktisan tetap kamera kecil lebih menyenangkan. Kamera mirrorless sangat menarik hati saat itu, namun anggaran tidak cukup akhirnya prosummer kembali menjadi pilihan.

Canon SX 160 IS menarik minat saya karena seukuran tidak jauh berbeda dengan pocket, namun zoomnya lumayan oke juga 16x optical zoom ditambah beberapa kalo digital zoom. Fitur digital zoom tidak pernah saya aktifkan, selain akan menurunkan kualitas gambar dengan drastis juga bisa diwakili dengan zoom ketika gambar sudah masuk komputer untuk diolah dengan lebih bagus. 

Prosummer kebanyakan berukuran agak besar dengan body mendekati bentuk-bentuk DSLR, dan memang sekarang saya sedang tidak ingin menggunakan bentuk yang seperti itu, cukup fujifilm dulu yang pernah saya pake. Kalo body besar ya mending DSLR sekalian, namun kalo prosummer, body canon sx 160 is ini nyaman untuk diajak jalan kemana-mana. Memang bukan kamera adventure yang tahan banting dan tahan air, namun dari segi ukuran cukup pocketable (gampang masuk kantong).

Pengaturan manual lengkap, sudah seperti DSLR tampilan tombol dan panelnya, tapi jangan ditanyakan apakah sama? ya jelas beda. 

Satu lagi yang seru untuk Solo Travelling, timer yang bisa disesuaikan hinggal 30 detik akan memberikan waktu yang lumayan cukup untuk kita narsis sambil beraksi diatas motor ataupun melakukan akrobatik lain di tempat kita berpetualang. Lensa dengan IS menjadikan sedikit lebih stabil dalam pengambilan gambar, namun semua kembali kepada kehati-hatian kita agar selalu stabil memegang kamera. Mode bawaan juga lumayan banyak, dari fish eye, toy cam, miniatur effect, dsb.

Dari segi baterai, layak untuk diajak travelling karena menggunakan daya dari baterai AA sebanyak 2 biji. Kalo habis tinggal ganti, tergantung kita bawa baterai cadangan berapa. Bayangkan ribetnya ketika di tengah hutan dengan baterai lithium dan drop, kecuali kita punya power bank atau baterai lithium cadangan. Pun demikian saya masih tetap memilih kamera dengan sumber daya baterai AA untuk travelling.

Namun ada 2 hal yang paling saya rasakan sebagai minus dari kamera ini, Videonya HD nya masih 25 fps dan untuk pengambilan gambar di tempat yang minim cahaya dan agak dingin gambar sedikit timbul efek krayon. Jadi ketika gambar kita zoom besar di komputer kelihatan noise dan agak terdapat efek lukisan krayon, hal yang sama juga terjadi pada fuji s2950 saya yang dulu.

Clossing, saya memberikan nilai 8 dari range 0-10 untuk kamera ini sesuai dengan harga, kemampuan dan enak tidaknya di bawa travelling...
Semoga bermanfaat

Jumat, 14 Maret 2014

Jelajah Gunung Api Purba Nglanggeran


Lokasi ini saya dengar dari hasil obrolan dengan salah satu pelanggan Panorama Adventure, "lokasinya asik buat liat sunset dan sunrise mas dan buka siang malam". 


Mmm, jadi penasaran dengan lokasi yang disebutkan tadi. Selanjutnya biar google yang bekerja untuk mencarikan review lokasi beserta koordinatnya, dan aku tinggal menyiapkan rute dan rencana keberangkatan. 


Kali ini memang bukan asal berangkat seperti kebanyakan perjalanan yang aku lakukan, dalam perjalanan kali sengaja kupersiapkan dari mulai cek list perkap yang dibutuhkan, estimasi waktu, jika keadaan darurat harus bagaimana dan masih banyak lagi saya simpan dalam note di hape samsung gayung punyaku. Belum tau kapan berangkat, tapi dengan adanya cek list dan rencana perjalanan, ketika ada waktu yang memungkinkan tinggal obrak-abrik barang di kamar sambil nyentang cek list lalu tinggal berangkat, selesai. Ini lebih menyenangkan daripada asal berangkat ternyata.


Tips ke-1Cek list itu penting untuk mempersiapkan travelling, termasuk untuk urusan yang lain juga sebenarnya

di halaman parkiran
Kembali ke perjalanan menuju lokasi. Koordinat belum sempat saya tracking via gps, karena perkiraan lokasi yang mudah untuk didatangi langsung. 

Berdasarkan informasi yang didapat, lokasi dekat dengan "bukit bintang" yah itu sudah cukup. Berangkat Selasa pagi pukul 09.30 saat matahari sudah panas, melewati jalur Solo-Prambanan (bikin pusing juga). Sampai di perempatan kecil setelah bukit bintang, tepatnya di Koramil Patuk, mampir di salah satu toko yang punya cool box beli satu botol minuman dingin sambil bertanya kemana arah Gunung Api Purba. 


Ternyata sudah dekat, kurang 7km lagi mas ke sana (ambil jalan kecil). Iseng dengan statement "7km lagi mas", saya coba cek bener gak 7km, soalnya kadang di desa perhitungan jarak jadi sangat subyektif. Dengan odometer yang ada pada motor, saya hitung sampai lokasi memang benar 7km, tidak meleset jauh. Tiba di lokasi pukul 11.30 (perjalanan motor 2 jam dari rumah)

Peta rute pendakian
Berdasarkan beberapa blog yang saya baca, ketika di lokasi masuk petugas akan menawari untuk bertukar nomor handphone agar ketika ada masalah diatas gunung bisa berkomunikasi. 

Ternyata tidak, saya datang kesini sendirian pun juga tidak ada yang menawari tukeran nomer. Kemungkinan pertama, karena saya datang siang kemungkinan tersesat dsb kecil, kemungkinan kedua saya datang dengan pake celana dan baju kargo, sepatu gunung, satu ransel, satu tas pinggang, satu tas kamera kecil, dan tripod (keliatan udah paham lokasi mungkin). 

Tiket masuk 5.000 parkir 2.000, lalu perjalanan naik dimulai, tripod dikeluarkan, kamera disetting lalu naiklah ke gunung yang saya impikan sejak kemarin.

perbandingan ukuran orang dengan batu

Ada banyak sekali titik lokasi dan nama-namanya, sehingga gak terlalu hapal dan saya gak ambil pusing dengan itu. Datang pertama ini tujuan utama saya adalah puncak tertinggi, itu saja. Untuk datang berikutnya bolehlah jelajah ke sudut yang lain, mungkin hunting sunrise, sunset, atau camping. Batuan raksasa banyak sekali disini, salah satu yang sempat untuk ajang narsis (sebenarnya bukan itu) hanya untuk membandingkan ukuran batu dengan tubuh manusia saja di "Song Gudel" ini. Tidak perlu ke Belitong untuk batu raksasa, tapi sayangnya ini bukan pantai sih.

Tips ke-2Untuk memotret sesuatu yang ukurannya tidak normal, carilah benda pembanding, karena jika tidak maka akan kelihatan biasa saja

Point menarik selanjutnya adalah adanya lorong yang diatasnya terdapat batu tersangkut diantara dua dinding tebing. Ada yang pernah ingat film "127 Hours"? lewat lorong ini kita bisa merasakan dan membayangkan bagaimana view dan perasaan terjebak seperti dalam film tersebut. 

Saya sebenarnya gak terlalu faham fisika, jadi tidak bisa menghitung kira-kira berapa berat batu yang nyangkut itu, dan berapa kekuatan relief dinding tebing yang menjadi penyangganya. Jika suatu saat salah satu relief penyangga ada yang mulai terkikis apakah batu itu akan menimpa yang ada dibawahnya? Ah sudahlah semoga tidak terjadi demikian...Amiin

Lanjut lagi, jalan berliku naik turun bebatuan terjal, ngos-ngosan, keringetan, sendirian..hadehh merasa sedikit sengsara. 

Pelajaran penting, datang kesini tengah hari bukan opsi yang nyaman, siap-siap saja gosong terpanggang matahari ataupun dehidrasi. Satu lagi, tidak ada warung diatas jadi siap-siap bawa bekal. 


Yang tak bawa juga tak tanggung-tanggung, ransel isinya 3 botol minuman (1 botol 1,5 liter tambah 2 botol tanggung) ditambah jas hujan ponco (jika terjadi hujan lewat bisa dipake berteduh atau bikin bivak juga bisa) senter, pisau survival card, dan tripod. 


Kebayang berapa beratnya itu ransel. Tapi dalam kondisi darurat orang masih bisa bertahan hidup lebih lama dengan air tanpa makan daripada makan tanpa air. Bukannya mau lebay sih, secara saya datang sendirian, sama sekali gak paham medan, jadi apapun saya harus bertanggung jawab atas diri sendiri.

Tips ke-3*hanya pendapat: saya akan merasa sangat menyesal jika mengalami kesusahan yang sebenarnya bisa saya antisipasi sebelumnya namun tidak saya lakukan

sejenak mengumpulkan nafas yang cukup
Yang menarik disini, pengelola banyak membangun pos atau gardu pandang yang viewnya bagus dan bisa digunakan untuk istirahat.

Lagi-lagi balada solo traveller, istirahat sendiri, buka bekal sendiri, senyum sendiri, pasang tripod sendiri, foto sendiri...tak apa-apa, alhamdulillah kali ini bawa air banyak karena ternyata belum sampe puncak 2 botol tanggung sudah habis ku minum selama perjalanan dan naik kesini. Tinggal 1 botol besar, jika mau minum repot kan. 


Jadi botol tanggung saya isi dengan air dari botol besar lalu diselipkan di samping ransel, untuk mengambilnya mudah sehingga kapanpun butuh minum ya minum aja jangan sampai dehidrasi hanya gara-gara masalah teknis yang bisa di siasati sebenarnya.

Satu lagi tips untuk solo traveller, banyak lokasi menarik disini yang akan menggoda kita untuk berfoto. Jika ada yang bernasib sama dengan saya, naik sendirian maka jangan lupa bawa tripod, mini tripod, atau gorilla pod. Sayang lokasi istimewa tapi kita lewatkan untuk berfoto hanya gara-gara gak ada yang memfotokan. 

Hampir sampai puncak, ada beberapa camping ground yang nyaman. Saya katakan nyaman karena berada di tanah yang datar namun terhalangi oleh batuan besar jadi jika ada angin besar masih bisa tertahan oleh batuan dan tidak serta merta menerbangkan tenda, mau masak juga lebih terlindungi dari angin. Saya pikir tempat ini untuk camping okelah, hanya air bawa saja dari bawah.

camping ground
Tiba di atas, subhanalloh...Inilah yang selalu jadi faforitku, ketinggian. Setelah Puncak Lawu, Bukit Joglo / landasan paralayang Wonogiri, landasan paralayang Kemuning, sekarang puncak Gunung Api Purba Wonosari. Alhamdulillah..

Saya memang datang sendirian, naik sendirian, tapi di puncak ketemu orang ya kenalan. Kenalan dan foto bareng dengan kawan-kawan dari Swalayan Superindo Jogja. Saya datang sendirian, naiknya sendirian, di puncak dapet kenalan, turunnya barengan.haha..bukan dengan seseorang, tapi serombongan..



Pulangnya turun dengan cepat, hanya sedikit tersendat saat harus melewati lorong lagi. 

Astaghfirullah, melewati lorong sempit ini mengingatkan tentang kisah Ashabul Kahfi, juga tentang 3 orang yang berwasilah dengan amalannya agar dibukakan pintu gua. Jika saat melewati lorong ini tiba-tiba ada gempa atau tanah bergeser dan tebing menutup, maka semua tewas penyet. 


Tapi alhamdulillah perjalanan lancar, namun melewati tempat seperti ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT, mengingatkan kita tentang sesungguhnya kematian itu amatlah dekat dengan kita. 


Siapa yang bisa menjamin kita masih bisa keluar dari lorong ini setelah masuk ke dalamnya? atau batu besar yang nyangkut di awal perjalanan tadi, jika tiba-tiba ketika kita lewat di bawahnya pas batunya turun?...Astaghfirullah, sesungguhnya dengan melihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam ini kita bukannya menjadi bangga atau sombong, tapi bersyukur bahwa kita diberikan kesempatan melihat ciptaan-Nya yang luar biasa dan masih diberikan kesempatan hidup setelah melewati tempat-tempat yang bisa dikatakan cukup mengerikan.

Penutup,
Jelajah, touring, travelling, hiking, dan dilakukan sendirian mengajarkan banyak hal. Apapun yang terjadi, saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri, perlengkapan, perbekalan, jika ada troubel di jalan, hingga jika ada kejadian yang tidak diinginkan maka saya sendirian. Karena sendirian saya akan persiapkan segalanya sebaik mungkin, saya akan selalu berhati-hati dalam bertindak, berucap dan berperilaku. Saya tidak akan meremehkan sesuatu sekalipun hal-hal kecil. 

Sampai ketemu di lokasi yang lain lagi...
Taufik

dapet kenalan dari Superindo Jogja