Tampilkan postingan dengan label Perkap Jelajah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkap Jelajah. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 April 2014

Sepatu Gunung Murah


Bagi sebagian orang yang hobi naik gunung mungkin uang bukan masalah. Namun bagi sebagian yang lain masih harus berhitung beberapa kali untuk membelanjakan uang demi perlengkapan naik. Saya memang bukan pecinta alam yang ikut organisasi resmi, namun saya lebih ke traveller yang memang sekali waktu naik gunung. Berbicara kenyamanan naik gunung, sepatu memang layak untuk dibahas karena manfaatnya dan banyaknya varian yang bisa di pilih sesuai yang kita inginkan. 

penampakan sepatu

Sebagian orang memang lebih senang mengenakan sandal, namun saya pribadi lebih memilih bersepatu karena jelas lebih aman dan nyaman untuk kaki. Sepatu gunung yang ada di toko outdoor memang banyak pilihan dan mantap. Namun bagi saya pribadi masuk toko outdoor dan memilah-milah sepatu sedikit membuat "sesak nafas" karena harganya. 

Bagaimana tidak, sepatu seharga kisaran 500rb memang lumayan oke, namun jauh dari kesan ramah di kantong. Mungkin ada yang akan bilang, "hobi itu emang butuh biaya men..." | iya sih, tapi kalo bisa kurang dari itulah..bukan tidak mampu beli, namun masih tinggi nomonal itu untuk sekedar sepatu yang tidak saya pakai tiap harinya untuk mendukung pekerjaan. Kalo itu saya pakai bekerja tiap hari dan memang sesuai yang saya butuhkan, pasti saya tebus. 

Cukup curhatnya, dari latar belakang tersebut saya cari opsi lain yang lebih ramah kantong. Di salah satu forum online ada 2 sepatu gunung yang ekonomis namun dengan spek yang lumayan, tidak sama memang dengan yang harga wow tadi. Namun jelas saya butuh yang dibawah itu. Dua merek tersebut adalah "Garsel" dan "Trekking". Semuanya adalah produk lokal Jawa Barat. Secara bahan dan kekuatan serta model sudah "masuk". 

Cocok dengan kategori travel atau adventure, namun harga berada di kisaran 200-300rb, angka yang masih bersahabat. Setelah menimbang-nimbang saya putuskan untuk memilih Trekking, kali ini yang saya ambil seri Tampomas 02. Dari beberapa lapak online dapetlah harga 220rb untuk sepatunya dan total sama ongkirnya jadi 250rb. 


cerukannya kurang dalam
Akhirnya, jadi juga punya sepatu gunung yang sejak lama jadi impian, Alhamdulillah. Dari segi model dan kekuatan lumayanlah sodah terjahit dengan kuat solnya. Pertama kali test drive, test hiking adalah perjalanan naik ke gunung api purba Nglanggeran di Patuk, Gunung Kidul. Apakah nyaman? Tentu saja, sepatu masih baru dan saya memang mengambil ukuran 1 tingkat diatas ukuran sepatu yang biasa saya pakai. 

Karena untuk medan gunung, sepatu harus menyisakan sedikit space untuk pergerakan ujung jari kalau tak mau kukunya luka atau kesakitan ketika turun gunung. 


Bagaimana ketahanan dalam waktu lama? itu nanti akan terjawab ketika sudah cukup berumur.

Bagaimana jika untuk basah-basahan? Kebetulan pulang dari naik ke Gunung Api Purba kemaren pulangnya motoran dan kehujanan sampai Solo, walhasil sepatu basah kuyup dan sampai menampung air dalamnya. Bahan kulit ketika basah dan dijemur maka bisa dipastikan bakal jadi keras dan gampang pecah-pecah. 

Solusinya adalah mengeringkannya tanpa dijemur, memang akan memakan waktu cukup lama namun lebih baik begitu daripada menyesal karena kulit akan menjadi kaku dan rusak. Sepatu basah dicuci sekalian (tanpa sabun) dan dibilas dengan air bersih serta diperas di beberapa bagian yang mengandung spons agar mudah kering, lalu masukkan kain bahan kaos yang menyerap air lalu tekan-tekan merata ke semua bagian yang potensial mengandung banyak air, ganti kain lagi jika sudah basah, setelah itu angin-anginkan.

Istirahat sejenak ketika naik "Nglanggeran"

Apakah dengan ini sepatu akan tahan lama? kita lihat sama-sama

Sabtu, 14 Desember 2013

Ban trail dipakai di aspal


Pernah sempat terbesit pertanyaan tersebut sebelum akhirnya saya benar-benar memakainya dan merasakannya secara langsung. Dan sekarang saya merasakan sendiri efeknya bahwa memang ini hal yang tidak biasa, tidak wajar. 


Dan tiap sesuatu yang tidak wajar itu ada konsekuensi yang harus kita hadapi. Postingan kali ini berkaitan dengan otomotif dan safety riding. Dan yang saya tulis adalah pengalaman saya selama lebih dari setahun menggunakan ban trail atau sering disebut ban tahu untuk jalan di daerah perkotaan dan hampir semuanya di aspal. 

Langsung ke plus minus terlebih dahulu sebelum saya mengupasnya lebih jauh. 

Plus: 

  • Dual mode, di aspal masih jalan, di lumpur handal 
  • Kontrol rem bagus, selama masih punya gigi bannya 
  • Lebih garang, sudah pasti. Kesan adventure langsung terasa tanpa harus ditulisi atau di kasih stiker bergaya adventure. 
  • Jadi pusat perhatian, sudah pasti. Di lampu merah, parkiran dan tempat umum lainnya pasti jadi pusat perhatian karena lain dari yang lain 


Minus: 

  • Angkatan berat. Sudah pasti menguras lebih banyak bbm dan mengurangi kecepatan dengan cukup signifikan. Wajar, karena gigitan ke aspal lebih banyak. 
  • Jalan tidak mulus, walaupun berapa persen tapi tetap terasa bahwa jalan mulus menjadi sedikit kasar karena faktor gigi ban. Kenyamanan akan terkurangi 
  • Boros juga. Karena gigitan ke aspal lebih kuat menjadikan grip akan mudah habis. Berbeda dengan grip rata khas ban aspal, cenderung lebih awet karena kekuatan gigitannya juga lebih rendah. Rata-rata kurang dari setahun sudah harus ganti. 

Penilaian saya secara keseluruhan: Memakai ban trail di aspal itu aman dan nyaman dalam batas tertentu. Saya lebih memilih ban trail karena dengan konsekuensi minus diatas, ada yang saya dapatkan. 

Yakni kemudahan melibas segala medan, handling yang bagus dalam arti gigitan ke aspal lebih kuat dan pengereman lebih optimal sehingga resiko ban ngesot karena ngerem mendadak dapat diinimalkan. Selebihnya, kembali ke pribadi masing-masing. Bagaimana denganmu?

Rabu, 06 November 2013

Musim gugur di UNS

Sesuatu yang berbeda biasanya akan mendapati apresiasi yang istimewa. Entah itu positif maupun negatif. Sama halnya dengan "musim gugur", lazimnya di alami oleh negara yang mempunyai 4 musim. Sedangkan di Indonesia hanya 2 musim..namun di UNS kita bisa merasakan musim gugur tersebut. 



Memang bukanlah bunga sakura yang berguguran layaknya di Jepang, namun bunga Angsana yang banyak tumbuh di area kampus UNS pada.musim tertentu menggugurkan bunga-bunga indahnya. 

Dan ini menjadi sebuah fenomena atau moment yang sangat ditunggu oleh mahasiswa, dosen, karyawan dsb. Karena memang khas, memberikan nuansa dan aroma yang berbeda dari biasanya. 



Seperti berada di luar negeri. Moment ini biasanya terjadi ketika awal musim penghujan. Dan hanya terjadi sekitar 3-4 hari saja. Selebihnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waktu yang singkat ini dimanfaatkan dengan baik oleh pecinta fotografi, jalan-jalan atau yang sekedar merindukan nuansa berbeda. 

Selebihnya, biar foto yang melanjutkan cerita ini. Dan musim yang akan datang akan selalu dinatikan oleh banyak orang... 

Autumn at UNS


Kamis, 17 Oktober 2013

Review Kamera Prosummer Murah (Fujifilm Finepix S2950)

Baru sempat menuliskan review kamera saya, ketika barangnya sudah laku terjual. Walaupun demikian, semoga apa yang saya tuliskan disini bermanfaat atau sekedar memberikan gambaran tentang salah satu kamera produksi Fujifilm ini.

Alasan pertama membeli produk ini adalah, prosummer (kamera semi-pro) adalah sebagai jembatan dari kaera pocket sebelum menuju ke DSLR. 

Kalau langsung ke DSLR pun tak masalah jika ada dana, dan saya termasuk dalam kategori yang belum punya dana saat itu.


Secara umum, unuk dokumentasi pribadi sudah cukup mumpuni dengan pengaturan manual yang segitu banyaknya. Namun bagi yang berhasrat untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, tentu tetap bercita-cita bisa mendapatkan DSLR. Untuk data teknis bisa di cari di google, saya akan mengulas dari sisi pribadi saya sebagai pengguna. Tentu saja akan saya lampirkan hasil foto dari kamera ini.


Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:
+ Harga terjangkau (saya beli 2nd dengan harga 1jt pas)
+ Pengaturan manual lengkap
Dari shutter speed sangat rendah (8") yang bisa untuk membuat efek garis cahaya kalau memotret kendaraan di malam hari sampai shutter speed tinggi (1/2000) bisa untuk memotret dengan jelas walaupun dalam kondisi berkendara dengan kencang.
+ Rentang ISO, bukaan lensa, dsb yang bisa kita setting sesuai kebutuhan kita ketika memotret.
+ Zoom jauh, 18x optical zoom. Mantab buat foto candid ataupun foto bulan juga bisa
+ Ringan, jelas. Lebih ringan dan mungil dari DSLR pada umumnya.
+ Video HD, hasilnya halus, mantab. Mau bikin film pendek, profil, dsb siapp
ketika dipasang filter cpl

Kekurangan:
- Sensor
Jelas kalah jauh jika di adu dengan DSLR. Ini juga yang menjadikan susah ketika foto indoor dengan objek yang bergerak. Mau menaikkan shutter speed jadi gelap fotonya, diatasi dengan menaikkan ISO jatuhnya foto banyak noise, dibantu dengan blitz agar optimal bisa tapi dengan syarat objek di foto dalam jarak dekat, sebatas jangkauan blitz kondisi medium karena kalau dibuat maksimal hasilnya over. Padahal tidak semua moment bisa kita abadikan dalam jarak dekat.
- Seri S adalah yang paling murah.
Dengan fitur terbatas, ingin pasang filter saja gak ada tempatnya dan harus dengan adapter, itupun tidak ada adapter yang sesuai (langsung plug n play). Ataupun ada harganya mahal, dan akhirnya harus custom sendiri.
- Susah bokeh.
Fotografi memang tidak selalu harus mendapatkan efek bokeh, namun ketika ini tidak ada atau susah untuk di dapatkan, sangat dirasakan kekurangannya. Untuk mendapatkan bokeh yang agak cakep harus dengan tambahan lensa makro (lagi-lagi ini harus custom sendiri) namun tetap saja ini berlaku untuk objek kecil, kalo besar ya sama saja...belum bokeh.

hasil jepretan indoor

Banyak hal lagi sebenarnya kelebihan dan kekurangannya, namun sebagian saya lupa.hehe dan sebagian hanya curhatan pribadi saja yang subyektif. Namun dari gambaran yang sedikit diatas semoga bisa memberikan gambaran tentang salah satu kamera prosumer murah besutan Fujifilm ini.


jepretan iseng

Kamis, 11 Juli 2013

Aplikasi Android Google My Track untuk mendaki

Kali ini saya ingin sedikit mereview tentang salah satu aplikasi andorid yang bisa kita gunakan untuk membantu pendakian, trekking, petualangan atau apalah itu. Aplikasi ini dari Google, yang dikasih nama Google My Track dan tentu saja bisa kita download secara gratis di Play Store.

Review ini berdasarkan pengalaman saya mendaki ke Puncak Lawu kemaren. Karena itu pendakian saya yang pertama maka saya berusaha melakukan prepare dengan sebaik-baiknya, termasuk juga untuk urusan navigasi. 

Ah, mungkin terlalu berlebihan jika disebut prepare navigasi dengan baik, karena yang saya lakukan hanyalah cukup ngajak orang yang sering naik ke Lawu untuk jadi guide dan pasang aplikasi Google My Track ini di ponsel android saya, Samsung Galaxy Young.

Kenapa saya memilih ini? Bukan kenapa-kenapa, tapi karena saya kurang begitu interest mengoprek android dan pasti bisa disimpulkan bahwa Samsung Gayung ini masih dalam kondisi standart, belum pernah root, belum pernah di custom macam-macam karena kabel datanya pun hilang entah kemana. 

Aplikasi gps yang mumpuni dan cukup terkenal di kalangan pengoprek android tentu bisa memberikan layanan yang lebih lagi dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan karena pemalas ini. Namun yang ingin saya lakukan dengan aplikasi ini adalah yang paling utama adalah, bisa merekam jejak jalur yang sudah saya lewati, dan nantinya jika dalam keadaan darurat tersesat dan sebagainya bisa menelusuri jejak yang sudah terekam dalam ponsel saya ini.

Sebelum membawanya ke gunung sudah saya uji coba dulu di daratan, saya masukkan kantong celana lalu saya bawa motoran dari Solo- Karanganyar- Sukoharjo- Wonogiri- Solo lagi. Sempurna. Aplikasi ini merekam semua jejak jalur yang sudah saya lewati dengan detail tanpa putus, tanpa koneksi paket data. Hanya mengandalkan gps.


Langkah selanjutnya adalah menyaksikannya dalam google map. File yang dihasilkan dari aplikasi ini berbentuk .kml dan bisa kita sinkronisasi melalui akun google drive kita lalu buka deh hasilnya. Oke sipp berhasil, saatnya dicoba di gunung.

Saya masuk jalur pendakian lawu melalui pintu Cemoro Sewu, Magetan. Sudah jalan beberapa saat baru ingat, ternyata gps belum saya nyalakan. 

Akhirnya dalam perjalanan mulai menyalakan gps. Belum nyampe setengah jalan dari puncak koneksi gps putus, waduhh...tak tau lah ini karena penerimanya lemah atau memang jika tertutup pohon lebat dan tebing langsung hilang. Ya sudahlah, mari di hidupkan lagi. 

Untuk kali kedua ini cukup lama, tapi akhirnya putus lagi. Dan karena tidak selalu saya pantengin layarnya jadi sampe gak tau kalo udah putus. Saat itu saya masukkan saku baju agar lebih terbuka dan berada diatas dibanding dengan saku celana – dalam pikiran saya.

Setelah putus yang kedua kalinya ini akhirnya malas untuk saya lanjutkan lagi, karena saya pikir masih aman ada 2 orang yang sudah paham jalur Lawu dalam barisan saya.

Dari segi baterai, posisi merekam ini juga lumayan menyedot daya walaupun tidak sebanyak jika kita gunakan untuk internetan atau game. Ditambah lagi pendakian kali ini banyak istirahatnya karena ada salah satu teman yang kakinya sakit, sehingga jika diteruskan pun baterai tidak akan cukup untuk merekam sampai puncak dan track back sampai bawah. 

Next perlu dibekali lagi dengan Power Bank agar lebih joss.


Next Insya Alloh setelah lebaran akan saya uji cobakan di Merapi, semoga kesampaian. Amiin..

Minggu, 29 Juli 2012

Demi Nokia 5230 Navigator


pict: google
Ride Report kali ini, saya ingin menceritakan pengalaman beberapa hari yang lalu ketika COD dengan seorang penjual di tokobagus.com di daerah Magetan, tepatnya di daerah Maospati. Perjalanan ini tidak jauh menurut saya, karena Insya Alloh tidak butuh persiapan lama dan sudah sering dadakan bermotoran puluhan sampai diatas 100an km untuk suatu hal.

Tepatnya pada hari Kamis tanggal 19 Juli 2012, saya melihat iklan Nokia 5230 (Navigator) yang diiklankan di tokobagus.com dan harganya saya cocok, karena kebetulan saya sudah mem-bookmark semua kata kunci pencarian untuk beberapa seri Nokia Navigator yang saya incar di beberapa toko online. Sehingga tiap pagi dan sore tinggal klik beberapa bookmark untuk melihat apakah sudah ada barang yang cocok atau belum, sstt...ini metode yang biasa saya gunakan untuk mencari barang yang saya inginkan via portal jual beli online. Jadi hemat waktu dan biaya internet dengan memfokuskan pencarian melalui bookmark tadi. Pagi itu saya melihat iklan yang masih fresh dan harga yang "berani" dibandingkan iklan yang lain, karena iklan tersebut memasang harga paling murah untuk barang langka yang berhari-hari tidak saya dapatkan ketika browsing dimanapun. Di iklan terpasang HARGA PAS, gak masalah, langsung saya sms saya mau dan mau janjian buat COD hari ini juga. Akhirnya janjian jam 16.00 di Maospati, Magetan. Kalo dipikir-pikir jauh juga ya dari Solo, kalo dikategorikan trayek bus mungkin masuknya ke AKAP (Antar Kota Antar Provinsi).Wehehehe

Berangkat dari Rumah pukul 13.20 mengambil rute arah Karanganyar - Tawangmangu - Cemoro Sewu - Plaosan - Maospati. Sebenarnya ini bukan rute baru, kali kedua saya melewati rute ini, dulu pertama kali ketika get-lost karena ingin menenangkan pikiran dengan menyepi kesini dan pulang melalui jalur Ngawi - Solo. Seperti biasa, perkap lengkap untuk perjalanan jauh sudah tiap hari ada di ransel dan bagasi motor, kecuali untuk sepatu boot.

Jalur Solo - Karanganyar
Jalan yang lumayan halus dengan trek panjang pas lagi jam pulang sekolah, bisa ditebak sendiri kalo jalan diatas 80 kpj mendahului anak sekolah mesti dikejar, dikiranya ngajak balapan. Emang banyak yang alay dijalan kalo pas kayak gini, gak bisa bedain antara orang yang stabil di kecepatan segitu karena ada kebutuhan ama orang yang gaya-gayanan ngajak balapan orang dijalan. Ya udah, duluan sono, yang tua yang ngalah. Eh, bukane jalan duluan malah nungguin, woo...orang gak beres. Ya udah tetep jalan di kecepatan semula  walaupun dijejerin anak sekolah, begitu mau lampu merah di Bejen tak kasih acungan jempol sambil ngerem, dia udah mepet lampu mau gak mau bablas sebelum merah. Satu masalah selesai..

Jalur Karangpandan - Tawangmangu
Motor lama gak naek gunung, kena sindrom "megap-megap". Disamping bertambahnya usia, trek harian ternyata juga pengaruh ke performa mesin. Naek tanjakan segini aja lumayan lamban, tapi tak apa, yang penting sehat wal afiat. Sebelum Pondok Isy Karima hujan turun, menepi sejenak pake jas hujan. Ternyata, cuaca gunung emang gak bisa ditebak. Dari Solo panasnya gak kira-kira nyampe sini udah ujan. Lanjut perjalanan sampe diatas Tawangmangu, sekitar Gondosuli hujan udah reda, tapi masih menyisakan hawa dingin basah dan aspal yang gak kering lagi. Lepas jas hujan dan jalan lagi seperti biasa, yang pasti disambut kabut turun lumayan tebal mengiringi perjalanan. Hay hay...lama tak jumpa kabut pekat macam ini. Hmmm..

Setelah melewati Cemoro Sewu, dihadapkan dua opsi, mau ngambil jalur baru atau jalur lama. Saat ini milih jalur baru dulu, soalnya ngeri dengan jarak pandang yang minim tambah lagi sepi banget gak ketemu kendaraan laen. Jarak pandang hanya sekitar 10m dan gak ada orang, hiahhh...ketemu setan gak ya ntar...(dan ternyata enggak)

Plaosan - Magetan Kota
Gunung Lawu sudah terlewati, cuaca sore yang segar menerpa wajah. Mau berhenti untuk foto masih ragu, targetnya magrib sudah dirumah lagi harus tercapai. Lanjut ke jalur yang satu arah dibeberapa lokasi, sampe sini mulai agak ragu arah, terpaksa beberapa kali tanya arah kepada penduduk biar gak tersesat jauh, lagi-lagi karena target magrib harus udah pulang. Sampe juga akhirnya di monumen pesawat, Maospati pukul 15.40. Lanjut cari Masjid, sholat Ashar lalu sms agan yang jual hape.

Janjian di pangkalan ojek samping monumen pesawat (pangkalan lagi sepi), lumayan dapet tempat yang nyaman. Si agan datang naek honda beat pake jaket rapi, gendong ransel ada pin berlogo salah satu cabang pencak silat yang lumayan terkenal di Jawa Timur, wuih si agan bisa silat ini...tenang gan, ane orang baik-baik. Setalah liat-liat barang n ngobrol banyak hal akhirnya deal, salaman, trus pamitan pulang.

Sempat kepikiran pulangnnya mau ngambil arah Ngawi mengingat waktu udah sore, jam 16.30 takut kemaleman dijalan. Lalu buka deh peta jadul edisi cetak yang dulu sering tak bawa kalo pas touring (hiyaaah...gunanya beli hape navigator buat apa? ntar deh, belon bisa make). Mengukur jarak antara Masopati - Solo via Gunung dengan via Ngawi ternyata dekat via gunung, tapi emang tanjakan sih, kalo lewat Ngawi jalurnya memutar tapi jalan datar. Ah, bukan petualang kalo gak berani mencoba hal baru, lewat Ngawi sama aja cari aman dan menghindari tantangan.

Bismillah, ambil jalur gunung
Kebut lagi ke arah Magetan. Satu hal baru yang saya temui disini, kalo sore hari banyak polisi pake rompi yang berdiri ditepi jalan ngatur lalu lintas. Pertama kali ngeliat udah paranoid duluan, langsung menepi trus pura-pura tanya ke orang di pinggir jalan. Sebenarnya sih tujuannya bukan untuk tanya, cuma memastikan aja saya nglewatin jalur searah bukan. Setelah beberapa orang ada yang lewat depan pak pol dan ternyata gak kenapa-kenapa baru saya lanjut lagi..

Tanjakan makin berat, kabut makin tebal, dan cuaca makin gelap karena udah jam 17.05 ketika mendaki ke Cemoro Sewu. Jam segini, ternyata, dingiinya minta ampun, sempat kepikiran untuk berhenti sejenak sambil ngopi tapi lagi-lagi teringat, magrib nanti harus udah dirumah (kalo telat dikit gak masalah). Kembali lagi dihadapkan pada dua pilihan ketika berada diatas Sarangan, mau jalur lama atau jalur baru, semuanya gelap, bahkan lebih gelap ketimbang pas berangkat tadi. Akhirnya, saat ini saya membutuhkan waktu tersingkat untuk segera sampai dirumah, sehingga saya memilih jalur lama yang tanjakannya cukup ekstrim. Dan lagi-lagi saya sendirian (para hantu yang baik hati dan tidak sombong, jangan ganggu saya ya...). Oper gigi antara satu dan dua sambil berkendara dengan posisi berdiri agak merebah kedepan, baca tips dari blognya seseorang. Sampai akhirnya bertemu manusia lagi...hore...di sekitaran Cemoro Sewu, ternyata masih ada juga yang nongkrong disini padahal udah hampir jam setengah enem. Akhirnya, dengan masuk Jawa Tengah berarti saya telah mengakhiri sesi tanjakan dari perjalanan ini, Alhamdu...lillah (melebarkan tangan kayak Ust. Maulana)

Sesi turun gunung dimulai
Fokus kali ini pada rem, memilih pijakan ketika menikung dan waspada gelap. Melewati Tawangmangu ketemu banyak sekali motor maupun mobil dari bawah, ini malem-malem pada mau kemana yah? (sambil mengingat2 tanggalan, ternyata mau puasa, mungkin pada mau "padusan"). Sampai dibawah Pasar Tawangmangu dihadapkan 2 opsi lagi, mau lewat Matesih atau Karangpandan. Kali ini tetap Karangpandan, dengan pertimbangan jalur yang lebih besar lebih nyaman untuk memacu kecepatan, kalo di Matesih mau jalan 90 kpj takut masih ada bocah dipinggir jalan yang bisa kesamber. Tiba-tiba terdengar adzan maghrib dari Masjid di Isy Karima, waduh...harus segera dan segera. Naikkan speed jadi 100 kpj (kebetulan jalane turunan jadi motor kuat jalan segitu) tapi sambil tetap menyediakan space darurat, artinya jika motor atau mobil di depan berhenti mendadak masih ada tempat untuk menghindar dari tubrukan.

Tet..tet-tet...
Sampai rumah pukul 18.15 lalu ngitung bensin dan ngitung jarak.
Bensin habis sekitar Rp 25.000
Jarak tempuh sekitar 186 km

Sekian dan terimakasih,
Bagi yang udah mampir dan membaca cerita yang gak penting ini. Silahkan yang ingin berkomentar atau paling tidak ambil yang bermanfaat dari kisah ini (MURNI KISAH NYATA)
Terimakasih

Kamis, 05 Januari 2012

Speedo Bag (Tank Bag in motor bebek)


Ide ini murni berdasarkan pengalaman pribadi, yang semoga bisa bermanfaat untuk yang lainnya. Saya tulis Speedo Bag karena ini tas ditaroh diatas speedo meter motor, jadi gampangnya disebut speedo bag walaupun sebenarnya ini bukanlah barang yang unik atau istimewa karena barang dasar yang saya gunakan banyak dijual di tukang jual spion, mantol, stiker untuk ngeblok motor dan asesoris motor lainnya.
Awal mula pingin buat yang beginian karena ngeliat kalo motor2 yang gede2 itu (yang punya tangki didepanlah) bisa pasang Tank Bag dimotornya, bisa buat naroh peta n majang peta dengan jelas,nyimpen barang2 kebutuhan yang mengharuskan mudah untuk diakses ketika touring, dan sederet kenyamanan lainnya. Nah, lha gimana kalo motor bebek? kan kagak bisa dipasangi itu tas. Akhirnya dari hasil mengkhayal lalu dicoba untuk diutak-atik jadilah tas yang kayak beginian.


Peralatan:
  1. Tas Silinder yang dijual dipinggir jalan ato yang biasa untuk wadah jas mantol (kalo saya lebih seneng yang empuk)
  2. Tiga utas tali yang biasa digunakan untuk tas
  3. Pengait seperlunya


Cara Pasang:
  1. Dua utas tali digunakan untuk mengikat tabung dengan setang (dikanan dan kiri)
  2. Satu utas tali yang lain dipotong jadi 2 untuk menambah panjang tali yang melingkari tabung
  3. Selesai dirangkai tinggal diselipkan peta diantara tabung dengan 2 tali yang melingkar
  4. Di dalam tabung bisa untuk menyimpan pompa portable (sepeda), PPPK, Peta pelengkap, dll


Kelemahan:
  • Dari sela-sela resleting masih bisa ditembus air, jadi tidak water proof
  • Peta yang dipasang kalo hujan dijamin basah karena gak ada pelindung mika dan sejenisnya
  • Bisa dicuri orang


Cara antisipasi:
  • Pastikan barang yang didalamnya tahan air, atau jika tidak dibungkus plastik dulu
  • Saya biasanya melapisi peta dengan lakban bening diseluruh lapisannya depan dan belakang, jadi nak mau hujan kayak apa juga gak masalah, ntar dilap bentar udah beres
  • Kalo urusan dicuri orang, ya masih sangat mudah. Bermodalkan silet saja sudah bisa memotong dan membawa lari tas ini dalam 5 detik. Ya yang penting ketika kita tinggal barang yang sekiranya berharga bisa dipindah di jok atau dibawa.


Semoga ini bermanfaat untuk yang lain, atau menginspirasi untuk menciptakan "sesuatu" yang lebih match dan pas untuk diaplikasikan di motor.

Kamis, 01 September 2011

PETA MUDIK 2011 (GRATIS)

Untuk yang sudah terbiasa dengan jalur yang ditempuh ketika perjalanan mudik biasanya tidak terlalu khawatir dengan rute, misalkan karena sesuatu hal jalur yang ditempuh harus dialihkan maka tinggal cari jalur alternatif dan melanjutkan perjalanan dengan lancar. Namun bagi pemudik yang belum begitu hafal dengan jalur yang ditempuh beserta rute-rute alternatif maka peta mudik menjadi sangat penting untuk dimiliki.

Zaman sekarang jika mau memanfaatkan teknologi sebenarnya tidak perlu repot lagi karena bisa mengakses peta secara digital dengan HP ataupun perangkat lainnya yang sekarang bisa dibilang tidak begitu mahal. HP yang bisa mengakses internet dengan lancar untuk membuka google maps ataupun wikimapia harganya cukup terjangkau, bahkan ada merek tertentu yang sudah mengeluarkan edisi "navigator" untuk seri tertentu yang harganya juga rata-rata dibawah 1 jutaan. Namun karena satu atau yang lain hal peta konvensional masih juga diperlukan, entah karena HP yang dimiiki tidak bisa mengakses internet dengan lancar ataupun tidak terdapat fitur internet atau karena alasan yang lain.


Solusi yang paling sederhana sebenarnya sudah disiapkan pemerintah melalui Dinas Perhubungan yang mencetak Peta Mudik dari berbagai versi, rata-rata tiap tahun mengeluarkan. Ada juga yang bisa diakses secara online dalam resolusi yang cukup tinggi sehingga jalur-jalur yang ditampilkan cukup detil. 

Kali ini yang mau tak tulis adalah yang versi cetak seperti yang ada dibawah ini:
GRATIS

Peta Mudik 2011 versi cetak ini saya dapatkan dari Posko Mudik dan Rest Area yang disediakan oleh Dinas Perhubungan dan Posko Kepolisian di kota Solo. Sebenarnya yang saya cari adalah yang versi cetak edisi "Jawa-Bali" yang ukurannya lumayan panjang. Namun ternyata itu versi tahun lalu dan ketika saya tanyakan kepada Polisi dan Dinshub yang sedang bertugas di posko katanya tahun ini sepertinya tidak mencetak yang versi "Jawa-Bali" yang dicetak ya yang seperti diatas (versi Joglosemar;Jogja Solo Semarang) untuk area tersebut. Ada beberapa kemungkinan, bisa jadi dicetak juga namun tidak semua posko mendapatkan stok peta tersebut atau memang karena berbagi evaluasi dari tahun sebelumnya peta mudik edisi cetak dibuat sesuai dengan area, jika posko mudik di area Solo maka diberi stok peta mudik versi Joglosemar, mungkin di Surabaya versinya beda lagi sehingga biar lebih detil untuk wilayah setempat.
Halaman depan terdapat peta ringkas Solo dan Jogja























Bagian belakang ada peta Semarang + Jawa Tengah (+ Jabar n Jatim dikit)

Kalo menurut saya pribadi itu tidak menjadi masalah dicetak sesuai dengan area masing-masing, sehingga bisa lebih detil dan lengkap dengan informasi yang dibutuhkan para pemudik. Malah bisa memberikan dampak positif yang lain, dengan memberikan peta mudik (bagi yang membutuhkan) sesuai dengan area setempat maka bagi pemudik jarak jauh bisa singgah sejenak untuk beristirahat di Rest Area yang telah disediakan setelah badan kembali segar siap melanjutkan perjalanan dan bisa minta ke petugas peta mudiknya. Peta ini diberikan secara GRATIS alias TIDAK BAYAR SAMA SEKALI. 

Jika dilihat memang ini kerjasama juga antar Dinas Perhubungan dengan beberapa perusahaan, restoran, travel, persewaan mobil dan berbagai jenis usaha yang ikut beriklan di dalam peta ini. Sehingga dengan demikian menguntungkan semua pihak, pemilik usaha bisa ber iklan di dalam peta yang banyak diberikan kepada pemudik dan pemudik sendiri bisa mendapatkan peta dengan kualitas bagus, cukup bagus kalo boleh dikatakan seimbang dengan peta yang dijual di toko-toko buku. Memang tidak sedetil jika dibandingkan ketika kita membeli peta per kota atau kabupaten, namun justru yang simpel-simpel inilah yang mudah untuk dilipat dan dibawa untuk perjalanan mudik tanpa harus menambah beban barang bawaan namun sudah mencakup rute yang akurat disertai dengan info dan nomor-nomor penting yang bisa dihubungi seperti Rumah Sakit, Ambulance, dll.

So, bagi para pemudik sekalian yang sedang mudik atau sedang mempersiapkan untuk perjalanan balik jika membutuhkan Peta Mudik edisi cetak jangan sungkan untuk mampir di Posko mudik yang banyak terdapat di tempat-tempat strategis, karena peta ini diberikan secara cuma-cuma. Semoga tulisan sedikit ini bisa memberikan manfaat bagi yang memerlukan.

Selamat mudik, selamat balik, tetap safety riding dan berdoa sebelum melakukan perjalanan.

Rabu, 04 Mei 2011

TEST AP BOOT MOTO 2

AP BOOT MOTO banyak yang suka, banyak juga yang mentertawakannya. Tapi apapun alasan masing-masing mereka, disini saya hanya ingin sharing tentang bagaimana kualitas, kenyamanan dan kekuatan AP BOOT MOTO 2 yang baru saja saya beli dan saya uji coba untuk Adventouring jelajah pacitan selama 2 hari 1 malam. Kesan yang pertama saya dapatkan dari sepatu ini adalah "keren" jika dilihat dari samping maupun dari belakang, karena di AP BOOT MOTO 2 sudah terdapat variasi yang tidak terdapat di keluaran awal AP BOOT MOTO. Tapi jika dilihat dari depan kesan "sepatu proyek" masih terasa.hehehe (maaf ini jujur pendapat pribadi)

Tetapi yang menjadi pertimbangan saya ketika hendak membeli sepatu ini adalah 2 keuntungan yang didapat sekaligus:

Pertama
Habis dijajal jelajah
Sepatu ini Safety, karena menutup kaki dengan sempurna dari mata kaki hingga hampir ke lutut. Dan jika digunakan untuk touring cukup mantab tampilannya. Jika mau basah-basahan tidak masalah, apalagi sekarang cuaca bisa dipastikan lebih banyak hujannya dibanding keringnya. Jadi menjaga kaki tetap kering biarpun kehujanan sepanjang perjalanan jauh adalah opsi yang nyaman dan patut untuk dipertimbangkan dengan serius. Jika bepergian jarak dekat tidak masalah jika pake sendal jepit, tapi kalo ratusan km ya namanya gak safety. Kualitas ketahanan terhadap air ini sudah banyak yang membuktikan (kecuali saya;baru dibuktikan kemaren), termasuk lokasi wisata Lawang Sewu di Semarang yang menyediakan AP BOOT MOTO 1 maupun 2 untuk pengunjung yang hendak mengunjungi lokasi penjara bawah tanah yang lantainya tergenang air. Ini salah satu bukti bahwa memang sepatu ini 100% tahan air.

Kedua
Dari segi harga, sepatu ini memang sangat ekonomis jika dibandingkan dengan sepatu-sepatu touring maupun sepatu motocross yang dijual di internet maupun di toko-toko aksesoris motor. Rata-rata sepatu touring berada kisaran harga Rp 200.000 ke atas, sedangkan untuk sepatu cross bisa mulai dari harga Rp 400.000-500.000an. Sedangkan jika kita bandingkan dengan AP BOOT MOTO sangat jauh, karena sepatu ini di berbagai lokasi di Indonesia berada pada kisaran harga dari Rp 70.000-100.000 saja. Padahal beberapa merek sepatu touring yang seharga 200an ribu itu belum 100% tahan air, jika hujan gerimis masih bisa menahan tapi jika hujan deras atau tercelup air ya tetap saja basah.
Berdasarkan dua hal pokok diatas akhirnya saya mantab memilih AP BOOT dan ingin menjajalnya. Setelah menjajal produk ini untuk keliling pacitan selama 2 hari 1 malam saya cukup puas dengan sepatu ini. 

Berikut ini beberapa hal yang menjadikan saya puas dan bangga dengan sepatu ini:
Pertama
Label ketika beli AP BOOT MOTO 2
Benar-benar tahan air dan tidak tembus, karena selama menjelajah pacitan harus menceburkan kaki ke sungai, ke laut, kehujanan berjam jam tanpa henti dan dengan sepatu ini kaki saya benar-benar kering dan nyaman. Paling agak lembab karena keringat saja, tapi secara keseluruhan tahan air terbukti.
Kedua
Rumor bahwa memakai sepatu ini rasanya sangat panas tidak terbukti (bagi saya) karena saya sudah membuktikan berkendara maupun berjalan di siang terik yang panas sekali toh masih bisa berjalan dengan nyaman-nyaman saja. Memang sesekali waktu kaki perlu di angin-anginkan agar tetap nyaman ketika istirahat, namun ketika hendak riding lagi sepatu ini tetap nyaman dipakai.
Diantara sekian banyak kehebatan sepatu ini tetap saja ada kelemahannya, ibarat pepatah maka tak ada gading yang tak retak. AP BOOT ini juga punya kelemahan, berdasarkan pengalaman kemaren menjajal untuk keliling pacitan kelemahan sepatu ini adalah pada alasnya yang sangat elastis, lentur, dan nyaman menjadikan sepatu ini alasnya tidak terlalu kuat. Tidak terlalu kuat dalam artian jika kita menginjak karang yang tajam2 kaki kita masih bisa merasakan bahwa yang kita injak ini adalah benda batuan yang cukup tajam, sehingga berjalan di karang yang tajam harus pelan-pelan. Berbeda jika kita menggunakan sepatu tentara maka diatas karang yang tajam kita menginjak2 sambil berlari pun gak masalah.
Sebagai closing statement, saya tidak merekomendasikan untuk membeli ataupun menghalau agar 
tidak membeli bagi yang sudah berniat beli. Saya hanya ingin berbagi pengalaman yang semoga bisa menjadi pertimbangan dan bermanfaat bagi yang lainnya.

Selasa, 08 Maret 2011

BRAKET BERKUALITAS

Tiap orang yang mempunyai box motor tentu sudah tak asing lagi dengan barang yang satu ini. Karena memang alat inilah yang menjadi tumpuan utama atau landasan satu-satunya untuk box yang dipasang. Untuk mendapatkannya pun juga tidak sulit, di toko aksesoris motor yang menjual box hampir bisa dipastikan mereka menyediakan braket juga sesuai dengan jenis motor yang akan kita pasangi box tersebut, tukang las yang biasa mengerjakan teralis, pintu geser, pagar besi dan sejenisnya pun juga bisa membuatkan braket asalkan kita bisa memberikan gambaran yang gamblang dan desain yang akurat untuk orang yang mengerjakan. Untuk masalah harga juga sangat variatif, berdasarkan pengalaman penulis untuk tipe monorack harga mulai dari 50 ribuan hingga ratusan ribu, semua itu tergantung jenis motor yang kita gunakan, kualitas yang kita inginkan, dan ukuran box yang akan kita pasang di motor kita.

Namun seberapapun variatif braket yang bisa kita pilih yang menjadi pertimbangan pertama kali adalah kesesuaian dengan motor dan kekuatan braket yang kita gunakan. Berdasarkan pengalaman yang pernah dialami penulis sendiri, braket yang banyak tersedia ditoko aksesoris dan dengan plat besi yang tipis memang cukup ekonomis dan untuk menyangga beban box beserta isinya dijalan datar memang bisa dibilang "cukup". Tapi silahkan dicoba untuk melewati trek jalan yang berat, bergelombang dengan kubangan yang cukup dalam, jalanan berkerikil, aspal pecah, dan kerusakan jalan yang lain. Braket sangat berpotensi patah, melengkung, retak, dan sejenisnya.

Gambar dibawah ini merupakan braket dengan plat tipis yang terpasang pada Honda Revo 100 cc dan dengan diduduki box Givi E26 dengan berat muatan maksimum 3 kg. Padahal saat digunakan muatan dalam box tidak sampai 3 kg, namun karena jalan yang dilewati termasuk medan berat (Jalur tembus Purwodadi-Demak melalui Godong) sehingga otomatis braket yang kalah dan melengkung. Setelah itu body motor lah yang menjadi korbannya. Padahal saatitu acara Touring belum selesai, namun alhamdulillah rute berikutnya adalah medan jalan raya yang halus hingga sampai di rumah kembali sehingga tidak memperparah kerusakan.
Sebelum berangkat touring braket pernah melengkung karena melewati jalanan yang kurang bagus, namun setelah melengkung braket dibawa ke tukang las dan dilas lagi sesuai ukuran yang proporsional baru kemudian dicat dan siap untuk dibawa touring "Cross Country Muria". Walhasil, karena memang kualitas besi yang kurang baik ditambah lagi plat besi yang digunakan sebagai bahan dasar cukup tipis maka biarpun sudah di las tetep saja melengkung lagi.

Body motor lecet-lecet dihantam besi braket
Belajar dari pengalaman tersebut maka saya mulai hunting di google, kaskus, tokobagus.com, dan banyak lagi yang lainnya untuk bisa mendapatkan braket dengan kualitas yang mumpuni namun dengan harga yang masih terjangkau untuk kantong. Akhirnya berdasarkan dari berbagai referensi dan pertimbangan saya memutuskan pesan agar dibuatkan oleh Kucay Lampung. Setelah mendapatkan nomornya saya telpon dan memesan yang sesuai dengan motor yang akan dipasangi braket, setelah itu transfer ke rekening Kucay + sms alamat pengiriman, setelah itu tinggal menunggu braket datang di alamat yang saya pesankan.
Braket Kucay + Base plate Givi

Barang datang, saya pasangi base plate givi dan siap dipake jalan2...
Ternyata memang untuk braket yang satu ini memang jauh lebih kuat dibanding yang sebelumnya, kuat tanpa goyang2 ataupun manggut2. Bagi yang ingin menggunakan braket untuk box motornya silahkan dipilih dengan cermat dan teliti agar tidak mengganggu kenyamanan berkendara maupun perjalanan.


Keep The Best Performance and Safety Riding


Posisi yang Safe dan tidak menghantam body




Test Braket, dibawa jalan-jalan
Posisi samping yang mantab

Senin, 31 Januari 2011

POMPA MINI (PORTABLE)

Posisi siap dipake
Bagi orang-orang yang senang bepergian dengan motor ataupun sepeda, baik itu bekerja, kuliah, sekolah, ke pasar ataupun sekedar jalan-jalan tentu sudah sering jengkel karena ban bocor ataupun gembos. Jika bocor atau gembos di daerah perkotaan yang banyak terdapat tukang tambal ban dipinggir jalan tidak terlalu masalah, atau bahkan jika ban bocor di area kampus (seperti: UNS) ban bocor tinggal sms atau telpon ke nomor tukang tambal ban yang ditempel dimana-mana dan tersebar di area kampus dan sekitarnya maka tukang tambal ban akan datang menghampiri kita sehingga tak perlu repot dan capek-capek menuntun sepeda atau motor. Yang menjadi masalah adalah ketika bocor atau gembos ditempat yang tidak tepat, ketika kita di daerah terpencil, jauh dari penduduk, dan lebih tidak nyaman lagi jika itu terjadi di malam hari.
Ada salah satu solusi yang bisa ditempuh untuk mengurangi resiko ketidaknyamanan diatas, setidaknya bisa mengantisipasi ban gembos atau bocor halus. Yakni dengan membawa pompa mini yang bisa dibawa kemana saja. Dalam tulisan ini saya tidak bermaksud meng iklankan merek tertentu, karena produk sejenis ada banyak merek dan variasi harga yang bermacam-macam. Produk sejenis ini bisa didapatkan dengan mudah di toko-toko peralatan sepeda, hingga yang dijual online melalui blog, forum jual beli di KASKUS atau yang lainnya.



Pada gambar dibawah ini yang digunakan sebagai contoh adalah MINI PUMP (POMPA MINI) Keluaran dari UNITED.
Posisi Ringkas, siap dibawa-bawa

Posisi untuk memompa motor

Mungkin ada yang penasaran, memangnya pompa sekecil ini kuat untuk memompa ban motor??? Tapi kenyataannya bisa (hasil uji coba sendiri: ban digembos sampe abis, lalu dipompa sampe kenyang). Tulisan ini semata-mata untuk berbagi, agar ketika bepergian jauh yang mungkin hingga pelosok atau wilayah persawahan, hutan, padang pasir, hutan, ketika ban kita mengalami gembos atau bocor halus bisa kita pompa sendiri tanpa harus menuntun motor, sepeda, apalagi ditempat yang sepi dan rawan tindak kejahatan.



Keep Safety Riding, jangan lupa berdoa ketika bepergian dan Semoga selamat sampe tujuan...


by: http://topixsolo.blogspot.com/