Rabu, 18 Agustus 2010

MODEL DESA KONSERVASI SEBAGAI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DESA PENYANGGA TNGC*)

Model Desa Konservasi (MDK) merupakan program Kementerian Kehutanan yang telag berlangsung sejak tahun 2006. Pembangunan MDK merupakan upaya konkrit pemberdayaan masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan konservasi yang dilakukan secara terintegrasi dengan pengelolaan kawasan konservasi. Pembangunan MDK meliputi tiga kegiatan pokok yaitu pemberdayaan masyarakat, penataan ruang/wilayah pedesaan berbasis konservasi dan pengembangan ekonomi pedesaan berbasis konservasi.
Tujuan pembangunan MDK untuk masyarakat di desa penyangga sekitar kawasan konservasi yaitu dari aspek ekologi/lingkungan, yang dapat meminimalisir gangguan, memperluas habitat flora dan fauna yang ada di kawasan konservasi, menambah areal serapan air jika terletak dibagian hulu sungai, menangkal bencana alam berupa banjir, erosi, angin serta bencana lainnya. Dari aspek ekonomi, melalui kegiatan MDK diharapkan pendapatan masyarakat dapat meningkat, tercipta berbagai aktivitas masyarakat untuk menambah pendapatan, potensi SDA yang ada dapat bernilai ekonomi melalui pengelolaan dengan teknologi yang sesuai, dan diharapkan roda perekonomian pedesaan dapat berputar. Dari aspek sosial, dengan pemberdayaan masyarakat melalui MDK pengetahuan dan keterampilan masyarakat dapat meningkat, masyarakat diharapkan dapat bersikap positif dan mendukung pengelolaan kawasan konservasi, kesehatan masyarakat dapat meningkat karena kondisi lingkungan pedesaan yang sehat dan diharapkan ketergantungan masyarakat terhadap kawasan berkurang.
Saat ini, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) telah memiliki 3 (tiga) desa yang dijadikan MDK yaitu Desa Pajambon Kab Kuningan, Desa Bantaragung dan Desa Sangiang Kab Majalengka yang pelaksanaan kegiatannya difasilitasi oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat dengan adanya kebun bibit desa. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sebelumnya diusulkan oleh masyarakat setelah adanya penggalian potensi desa.
Potensi yang dimiliki kawasan TNGC dan daerah penyangga cukup beragam diantaranya jasa lingkungan air dan wisata alam, keanekaragaman hayati, dan kerajinan tangan dan pangan. Dari semua potensi tersebut dapat dipadukan menjadi satu produk “Desa Konservasi”. Desa konservasi adalah desa dimana masyarakatnya menjalankan keseluruhan aktivitas atau kegiatan kesehariannya dengan kegiatan yang bersifat konservasi. Hal yang paling mudah dilakukan adalah mengumpulkan dan mengolah sampah rumah tangga, menanam apotek hidup di pekarangan rumah dan menanam pepohonan baik di sepanjang jalan desa maupun di pekarangan rumah agar suasana rumah menjadi rindang. Pengolahan sampah rumah tangga dapat dipilah dari sampah organik dan non organik, dimana sampah organik dapat diolah menjadi pupuk yang kemudian dapat dijual kepada masyarakat yang membutuhkan dan sampah anorganik dapat dijual ke usaha daur ulang.
Bagi desa penyangga yang berbatasan dengan kawasan TNGC yang memiliki obyek wisata alam, masyarakat dapat mengambil peluang dengan menjual jasa kepada para pengunjung dengan menjadi guide/pemandu wisata. Peran pemandu wisata atau biasa lebih dikenal interpreter menjadi sangat penting khususnya dalam pengembangan obyek wisata alam. Interpreter bertugas memberikan informasi kepada pengunjung mengenai potensi obyek wisata alam, sejarah lokasi obyek wisata alam dan lain sebagainya. Dengan adanya interpreter, pengunjung akan mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan lebih, selain mendapatkan keindahan alam yang menjadi obyek utama wisata alam. Harapan ke depan agar semua desa penyangga di kawasan TNGC dapat menjadi desa konservasi yang dapat mengembangkan potensi yang ada.

*)Apo
Polisi Kehutanan TNGC

Selasa, 03 Agustus 2010

PENYULUHAN PENGENDALIAN KEBAKARAN HUTAN*)

Bulan Juli akan segera berakhir, Alhamdulillah gangguan terhadap kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang terjadi setiap tahun belum terjadi. Pada tahun 2009 lalu, kejadian kebakaran hutan terjadi mulai awal bulan Juli dimana telah memasuki musim kemarau. Pemanasan global yang terjadi memacu adanya pergeseran musim kemarau. Hal ini berdampak baik apabila kesiapsiagaan dimulai dari sekarang. Salah satu upaya yang kami awali adalah dengan adanya penyuluhan pengendalian kebakaran hutan. Kegiatan serupa sebelumnya sudah dilakukan dan difasilitasi oleh Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat di Hotel Tirta Sanita, Kuningan namun dalam kegiatan penyuluhan ini kami lebih mempertegas dan mengarahkan kepada hal yang lebih teknis sebagai upaya persiapan.
Kegiatan penyuluhan dilakukan di 2 (dua) kecamatan yaitu Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan dan Kecamatan Bantaragung Kabupaten Majalengka. Penyuluhan tersebut dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 2010 di Kecamatan Pasawahan dan 22 Juli 2010 di Kecamatan Bantaragung. Pada kegiatan penyuluhan pengendalian kebakaran hutan di Kecamatan Pasawahan diikuti sebanyak 30 (tiga puluh) orang masyarakat yang terdiri dari masyarakat Desa Pasawahan, Padabeunghar dan Kaduela. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Camat Pasawahan, Kapolsek Pasawahan dan Danramil Pasawahan. Pada kesempatan tersebut, Camat Pasawahan menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi mengatasi ancaman kebakaran hutan yang tentunya juga akan merugikan masyarakat setempat sekaligus menyampaikan kepada masyarakat lainnya. Sama halnya dengan apa yang disampaikan Kapolsek dan Danramil Pasawahan, sedikitnya menambahkan bahwa peran masyarakat sangat menentukan berhasil tidaknya penanganan pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan. Kegiatan penyuluhan di Kecamatan Bantaragung juga dihadiri oleh 30 (tiga puluh) orang masyarakat yang terdiri dari Desa Bantaragung, Padaherang dan Payung. Camat Bantaragung, Camat Bantaragung juga menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk ikut berpartisipasi mengatasi ancaman kebakaran hutan dan menyampaikan informasi dan materi yang diberikan TNGC kepada masyarakat lainnya.
Pada kegiatan penyuluhan tersebut, Balai TNGC menyampaikan secara teknis dalam rangka upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan di dalam kawasan TNGC diantaranya penyiapan regu/posko pencegahan kebakaran, pembentukan kelompok MPA, pengadaan sarana penunjang dan pembuatan sekat bakar. Untuk mengetahui faktor terjadinya kebakaran hutan pelu intelejensi lebih lanjut dengan adanya kegiatan patroli pada lokasi rawan kebakaran yang dilakukan regu/posko beserta dengan anggota MPA. Patroli dianggap cara yang paling efektif dengan menempatkan anggota pada titik rawan kebakaran sehingga ketika ada titik api yang terlihat dapat segera dikendalikan. Kami memberikan kesempatan kepada masyarakat yang berkeinginan bergabung di regu/posko pencegahan kebakaran dapat segera menghubungi Balai TNGC melalui resort wilayah setempat yang kemudian akan kami sesuaikan dengan kebutuhan yang diinginkan.

*)Oleh : Nisa Syachera F, S. Hut
Penyuluh Kehutanan TNGC

Senin, 26 Juli 2010

ARAH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN TNGC*)

Saat ini, program pemberdayaan masyarakat merupakan program yang gencar dilakukan berbagai pihak. Mulai dari instansi pemerintah, swasta, LSM bahkan sampai pemberian dana hibah dari pemerintah negara lain. Salah satu tujuan program pemberdayaan masyarakat adalah mengentaskan kemiskinan yang terus dialami masyarakat Indonesia sampai saat ini. Berdasarkan data NRM tahun 2005, jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai 49,5 juta dimana 21 % diantaranya merupakan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan. Hal tersebut disebabkan kurangnya akses yang dimiliki masyarakat sekitar hutan khususnya untuk mengenyam pendidikan. Selain itu, mayoritas masyarakat yang tinggal di sekitar hutan adalah masyarakat adat yang enggan beradaptasi dengan budaya yang baru (modern) sehingga makin memperjelas perbedaan masyarakat di sekitar hutan dan masyarakat kota.

Salah satu kawasan hutan adalah kawasan konservasi yang mempunyai tujuan utama perlindungan dan pengawetan plasma nutfah. Namun dengan berjalannya waktu maka paradigma konservasi mulai berkembang yaitu dengan adanya pemanfaatan jasa lingkungan dan wisata alam di kawasan konservasi. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai salah satu kawasan konservasi berusaha untuk mengoptimalkan fungsinya dalam perlindungan, pengawetan plasma nutfah dan pemanfaatan secara lestari. Hal ini bertujuan agar kelestarian ekologi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat seimbang. Jumlah desa yang berada di sekitar kawasan TNGC mencapai 45 desa yang terdiri dari 27 desa di Kabupaten Kuningan dan 18 desa di Kabupaten Majalengka. Tidak bisa dipungkiri bahwa mayoritas masyarakat memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap kawasan TNGC sehingga kondisi kawasan saat ini mengalami tekanan yang tinggi. Lahan kritis yang semakin meluas mengakibatkan hilangnya fungsi kawasan sebagai fungsi konservasi yang tanpa disadari hal tersebut dapat merugikan masyarakat sekitar kawasan.

Menyikapi hal tersebut, Balai TNGC telah melakukan upaya penanganan mulai dari cara preemtif sampai preventif. Salah satunya adalah dengan menyusun program pemberdayaan masyarakat. Namun perlu digaris bawahi, program pemberdayaan ini harus sinergis dengan kelestarian kawasan TNGC, jangan sampai program pemberdayaan diberikan namun penggarapan lahan di dalam kawasan terus dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, arah program pemberdayaan yang nanti akan dilakukan menggunakaan sistem reward. Sistem reward adalah pemberian penghargaan bagi desa yang berada sekitar kawasan TNGC yang berprestasi dan berperan dalam pelestarian kawasan. Penghargaan yang diberikan berupa program pemberdayaan masyarakat.

Untuk itu, kami sampaikan kepada masyarakat desa penyangga TNGC untuk berlomba-lomba memberikan peranan untuk mendukung kelestarian kawasan TNGC. Selain mendapatkan penghargaan dari pemerintah, masyarakat juga akan mendapatkan berkah dari Sang Khalik penguasa alam semesta.


*)Oleh : Jojo Suparjo
Polisi Kehutanan TNGC

Senin, 12 Juli 2010

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN TUMBUHAN OBAT TNGC *)


Tumbuhan obat merupakan spesies tumbuhan yang diketahui mempunyai khasiat obat yang dikelompokkan menjadi tumbuhan obat tradisional, tumbuhan obat modern dan tumbuhan obat potensial. Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan kawasan yang memiliki keanekaragaman ekosistem dan plasma nutfah didalamnya, yang merupakan salah satu alasan utama dalam pengusulan kawasan hutan Gunung Ciremai sebagai taman nasional. Keanekaragaman ekosistem berdasarkan ketinggian, menyebabkan tingginya keanekaragaman plasma nutfah yaitu flora dan fauna. Beraneka ragam penelitian yang telah dilakukan baik lembaga pendidikan maupun swasta mengenai potensi flora fauna beserta kegunaannya belum sampai pada tahap pengembangan pemanfaatan. Salah satu potensi yang belum dikembangkan adalah pemanfaatan jenis tumbuhan obat bernilai ekonomi tinggi. Potensi pengembangan tumbuhan obat dapat menjadi salah satu alternatif mata pencahariaan bagi masyarakat khususnya masyarakat penggarap.
Baru baru ini, Balai TNGC telah bekerjasama dengan Akademi Farmasi Muhammadiyah Kuningan dalam rangka pengembangan kebun koleksi tumbuhan obat TNGC. Langkah ini merupakan langkah tepat yang diberikan lembaga pendidikan untuk berkontribusi dalam ikut serta pengelolaan kawasan TNGC. Perjanjian tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Seminar Pada hari Sabtu tanggal 19 Juni 2010 dalam rangka peningkatan penggunaan obat herbal bagi masyarakat. Peserta yang menghadiri seminar tersebut berasal dari berbagai kalangan baik akademisi, perusahaan obat sampai pemerintah daerah maupun pusat. Pada seminar tersebut, dinarasumberi oleh profesor dari Universitas Padjajaran dan Universitas Ahmad Dahlan serta seorang dokter. Dalam seminar tersebut, narasumber menyampaikan bahwa peranan tumbuhan obat sebagai obat herbal yang merupakan warisan nenek moyang, memiliki khasiat yang sama dengan obat modern (obat kimia) berdasarkan pengalaman masing-masing narasumber yang juga merupakan produsen dalam pembuatan obat herbal.
Dengan pemanfaatan tumbuhan obat sebagai obat herbal dapat mendukung upaya pemberdayaan masyarakat yang bersinergis dengan pengelolaan jenis genetik kawasan. Saat ini, program pemberdayaan masyarakat yang digulirkan, pengaruhnya belum sampai kepada pengelolaan kawasan TNGC. Banyak sekali potensi tumbuhan obat yang dapat dikembangkan seperti yang dilakukan beberapa kawasan taman nasional lainnya. Banyak sekali potensi tumbuhan obat yang dapat dikembangkan, salah satu jenis tumbuhan yang sangat potensial untuk tumbuhan obat adalah Kemuning yang merupakan tumbuhan khas Lembah Cilengkrang. Namun budidaya dan pengembangan tumbuhan obat yang berasal dari kawasan TNGC perlu izin dari pihak Balai TNGC.

*) Oleh : Nisa Syachera Febriyanti, S. Hut
Penyuluh Kehutanan TNGC

Jumat, 02 Juli 2010

KERJA SAMA PENELITIAN TNGC DAN LEMBAGA PENDIDIKAN *)

Pada tanggal 10 Juni 2010 yang lalu di kantor Balai Taman Nasional Gunung Ciremai telah disepakati perjanjian kerja sama penelitian antara Balai TNGC dan Universitas Kuningan (UNIKU) dalam hal rehabilitasi kawasan dan kajian sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan TNGC untuk mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kerja sama ini tentunya sangat mendukung tugas dan fungsi Balai TNGC dalam pengelolaan kawasan konservasi Gunung Ciremai yang saat ini sedang fokus dalam hal penghentian kegiatan perambahan dalam kawasan yang selanjutnya tentu perlu didukung oleh kegiatan pemberdayaan masyarakat. Adanya kajian sosial ekonomi masyarakat yang akan dilakukan oleh UNIKU tentunya akan dapat membantu dalam hal penyediaan data sosial ekonomi masyarakat sehingga kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat tepat sasaran sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan terutama kepada masyarakat bekas penggarap di dalam kawasan TNGC.
Prioritas kegiatan Balai TNGC dalam rehabilitasi kawasan diarahkan dalam upaya untuk mengurangi luasan lahan kritis yang saat ini luasannya sekitar 60% dari luasan kawasan TNGC yang totalnya seluas 15.500 ha. Luasan lahan kritis ini sebagian besar disebabkan oleh kegiatan perambahan yang membuka lahan hutan untuk kegiatan pertanian sayuran dan juga disebabkan oleh kejadian kebakaran hutan yang rutin terjadi di kawasan TNGC. Meskipun sejak tahun 2006, Balai TNGC telah melakukan kegiatan rehabilitasi kawasan melalui penanaman bibit tanaman lokal endemik tetapi hingga saat ini tingkat keberhasilannya masih belum dapat dirasakan. Adanya kerja sama penelitian dengan UNIKU ini diharapkan dapat diketahui metode dan teknik rehabilitasi yang baru yang dapat diterapkan sehingga tingkat keberhasilan RHL dapat lebih tinggi. Satu hal lainnya yang menarik dari kegiatan RHL ini adalah bahwa untuk mendukung kegiatan ini diperlukan peran serta masyarakat mulai dari pembibitan, penanaman hingga pemeliharaan. Bila dihubungkan dengan pemberdayaan masyarakat tentunya kegiatan RHL ini juga merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan TNGC.
Dilain pihak hubungan kerja sama antara BTNGC dengan Akademi Farmasi Muhamadiyah dilakukan dalam rangka pembuatan kebun koleksi tanaman obat. Untuk tahun-tahun pertama maka kegiatan kerja sama akan diarahkan pada upaya pembangunan kebun pembibitan tanaman obat yang berasal dari kawasan TNGC. Berdasarkan data yang dimiliki oleh BTNGC jumlah tanaman obat yang telah teridentifikasi berjumlah 50 jenis tanaman obat sedangkan berdasarkan data dari Akademi Farmasi Muhamadiyah jumlah tanaman obat adalah 70 jenis tanaman. Perbedaan data ini tentunya dapat lebih dikembangkan dalam kegiatan identifikasi tanaman sehingga jenis-jenis baru yang memiliki indikasi dapat berguna sebagai tanaman obat dapat diketahui dan dimanfaatkan untuk masyarakat. Apabila pembangunan kebun bibit ini dapat berjalan dengan baik maka ada peluang yang dapat dikembangkan kegiatan pembibitan tanaman obat secara komersial dengan menggandeng kerja sama dengan perusahaan obat ataupun pabrik-pabrik jamu yang membutuhkan bahan baku tanaman obat ini. Walaupun demikian terkait dengan pengelolaan kawasan konservasi, pembangunan kebun bibit tanaman obat tetap harus sesuai dengan aturan yang ada, misalnya bibit tanaman obat yang ditanam hanya diperbolehkan untuk jenis-jenis lokal Gunung Ciremai.
Harapannya dengan adanya kebun bibit tanaman obat ini tentunya dapat pula dikembangkan bersama dengan masyarakat, sehingga kebutuhan industri tanaman obat juga dapat disuplai oleh masyarakat sekitar kawasan TNGC. Bagi pihak BTNGC sendiri, adanya kerja sama ini sangat mendukung kegiatan pengelolaan TNGC sehingga bentuk-bentuk kerja sama dengan lembaga dan institusi lain juga sangat diharapkan terutama terkait dengan pengelolaan kawasan wisata dan juga pengelolaan jasa lingkungan yang ada di TNGC.

*) Oleh : Mufti Ginanjar, S.Pi, M.T, M. Sc
Pengendali Ekosistem Hutan TNGC

Selasa, 15 Juni 2010

CEGAH KEBAKARAN HUTAN DI KAWASAN TNGC *)


Kebakaran hutan merupakan salah satu gangguan terhadap kawasan TNGC yang terjadi setiap tahunnya, biasanya terjadi pada awal musim kemarau yaitu sekitar bulan Juli dan puncaknya adalah bulan Agustus. Penyebab terjadinya kebakaran hutan diantaranya karena beberapa faktor yaitu suhu meningkat, angin besar, dan karakteristik ekosistem. Lokasi rawan kebakaran berada di sebelah utara kawasan TNGC diantaranya blok Padabeunghar, Batu luhur, Lambosir, Sayana, Seda, Trijaya dan Telaga Remis di wilayah SPTN Wilayah I Kuningan, sedangkan di SPTN Wilayah II Majalengka berada di blok Padaherang dan Bantaragung yang kawasannya menyatu dengan blok Padabeunghar. Pada lokasi tersebut, karakteristik ekosistemnya yaitu tanah berbatu yang ditumbuhi oleh semak belukar dan ilalang yang pada musim kemarau akan mengalami kekeringan yang menjadi bahan bakar yang cukup besar.
Tahun 2009 lalu, kebakaran hutan dan lahan terjadi seluas 70 ha dengan frekuensi kejadian sebanyakn 8 kali. Indikasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan akibat kesengajaan manusia yang membuang puntung rokok atau ketidaksengajaan akibat pembukaan lahan pada lahan milik dengan cara dibakar yang kemudian terus merambat ke dalam kawasan akibat angin besar. Sampai saat ini penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan masih terus dipantau. Dengan adanya upaya pencegahan, pada tahun 2010 ini diharapkan luasan dan frekuensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir hingga hanya mencapai 1 ha. Tahapan upaya pencegahan diantaranya inventarisasi lokasi rawan kebakaran hutan, inventarisasi faktor penyebab kebakaran, penyiapan regu pemadam kebakaran, pembuatan prosedur tetap, pengadaan sarana dan prasarana dan pembuatan sekat bakar. Untuk mengetahui faktor terjadinya kebakaran hutan pelu intelejensi lebih lanjut dengan adanya upaya patroli pada lokasi rawan kebakaran. Patroli kebakaran hutan dan lahan tidak hanya dilakukan oleh Polisi Kehutanan Balai TNGC saja, namun juga melibatkan masyarakat yang telah tergabung dalam kelompok masyarakat peduli api (MPA) dan Pamswakarsa.
Patroli dianggap cara yang paling efektif dengan menempatkan anggota pada titik rawan kebakaran sehingga ketika ada titik api yang terlihat dengan sistem komando yang sudah disepakati, pergerakan api tidak akan meluas seperti pada kejadian sebelumnya dan lebih mudah dikendalikan. Agar kejadian dan luasan kebakaran hutan dan lahan dapat diminimalisir hingga 1 ha, kita harus bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan ikut serta memberikan pemahaman kepada masyarakat ataupun pengunjung yang sedang melakukan wisata agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan kebakaran. Selain itu, informasi awal dapat diberikan kepada petugas yang menjaga posko terdekat sehingga dapat diambil tindakan cepat.

*) Cita Asmara
Polisi Kehutanan BTNGC

Minggu, 06 Juni 2010

PEDULI KEBERSIHAN GUNUNG CIREMAI *)


Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merupakan penyangga utama bagi kehidupan masyarakat sekitar kawasan pada khususnya dan umumnya masyarakat luas dalam memenuhi kebutuhan air sehingga sepatutnya perlu dijaga kelestarian dan kebersihannya. Selain sumber airnya yang sangat potensial, daya tarik kawasan TNGC lainnya adalah gunungnya yang merupakan gunung tertinggi di Jawa barat dengan ketinggian 3.078 mdpl sehingga banyak pengunjung dari berbagai daerah berduyun-duyun datang untuk mendaki dan mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah. Namun disamping itu, tidak jarang para pengunjung/pendaki yang melakukan perbuatan yang tidak bertanggung jawab diantaranya meninggalkan sampah, berbuat vandalisme dengan mencorat-coret batu dan batang pohon, dan mengambil flora fauna dari dalam kawasan TNGC.

Salah satu aksi kepedulian yang diwujudkan aktivis pecinta lingkungan, LSM AKAR dalam rangka menyelamatkan Gunung Ciremai untuk kehidupan adalah melaksanakan Gerakan Sapu Gunung (GSG) tahun 2010. GSG adalah gerakan pembersihan sampah non organic sepanjang jalur pendakian Gunung Ciremai yang dilakukan oleh para pendaki yang tidak bertanggung jawab. Sampah non organic terdiri dari sampah plastik dan botol yang sulit terurai di alam dan menyebabkan menurunnya daya serap tanah, perubahan perilaku fauna khususnya primata yang kerap kali memakan makanan bekas pendaki yang ditinggalkan dan terurainya bahan kimia yang tercampur bersama unsur hara tanah. Tercampurnya bahan kimia bersama unsur hara tanah akan terbawa bersama air yang mengalir pada musim hujan dan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan tercampur pada sumber mata air atau mata air yang mengalir yang kemudian dikonsumsi oleh para pendaki. Agar akibat tersebut tidak terjadi lebih lanjut maka perlu adanya upaya pencegahan.

Kegiatan GSG disambut positif oleh pemerintah daerah Kab Kuningan dan para pecinta alam sebanyak 304 orang (berdasarkan data yang diberikan LSM AKAR kepada Balai TNGC) yang tersebar di wilayah Kuningan, Majalengka, Cirebon, Indramayu, Jakarta, bahkan sampai daerah di Jawa Tengah. Kegiatan dilakukan mulai pada tanggal 28 Mei 2010 yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kuningan, Drs. H. Momon di Pendapa Paramarta yang diikuti oleh seluruh peserta dan tamu undangan. Pada acara pelepasan tersebut juga dihadiri wakil dari DPRD, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, BPLHD dan Kepala Balai TNGC, Ir. Kurung, MM. Setelah acara pelepasan pada pukul 10.30 WIB, peserta yang sudah dibagi ke dalam 13 (tiga belas) pos yang terdiri 7 (tujuh) pos di Jalur Pendakian Palutungan dan 6 (enam) pos di Jalur Pendakian Linggarjati menuju jalur pendakian dan mulai menuju posnya masing-masing setelah sholat jum’at. Kegiatan GSG mulai dilakukan pada hari sabtu, tanggal 29 Mei 2010 pukul 08.00 s.d pukul 16.00 di pos masing-masing dengan mengumpulkan sampah non organik pada karung yang sudah dibagikan kepada setiap peserta. Petugas TNGC mendampingi peserta pada beberapa pos yaitu pada Jalur Pendakian Palutungan yaitu pos Gigowong, Tanjakan Asoy, Goa Walet dan Puncak. Sedangkan pada Jalur Pendakian Linggarjati yaitu pos Puncak, Pangasinan, Leuweung datar, dan Buper Cibunar dengan jumlah personil sebanyak 35 (tiga puluh lima) orang.

Kegiatan GSG berakhir pada hari Minggu pada tanggal 30 Mei 2010 pada sore hari, dengan hasil sampah yang terkumpul sebanyak 96 karung yang terdiri dari 54 karung di jalur palutungan dan 42 karung di jalur linggarjati (berdasarkan data posko jalur pendakian pada pukul 17.00 WIB). Kedepannya, Balai TNGC berharap kegiatan GSG dapat diarahkan kepada kegiatan pencegahan dan pembinaan kepada pendaki khususnya pada pendakian 17 agustus dan akhir tahun untuk mengecek perlengkapan sebelum dan sesudah berangkat serta membawa kembali sampah yang dihasilkan sehingga kelestarian kawasan TNGC dapat terwujud secara berkelanjutan. Apabila para pendaki tidak membawa kembali sampahnya, maka akan dikenai sanksi yang telah disepakati bersama sebelum keberangkatan.


*) Oman Dede Permana
Polisi Kehutanan TNGC