Sabtu, 11 Oktober 2014

Begini Cara Peneliti Tentukan Umur Lukisan Gua di Maros

Begini Cara Peneliti Tentukan Umur Lukisan Gua di Maros

Friday, 10 October 2014, 09:18 WIB
BBC
Para ilmuwan menemukan sejumlah lukisan kuno di beberapa gua di kawasan pedesaan Maros, Sulawesi Selatan.
Para ilmuwan menemukan sejumlah lukisan kuno di beberapa gua di kawasan pedesaan Maros, Sulawesi Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagaimana para arkeolog bisa menentukan umur lukisan gua di Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan? Prosedur ilmiahnya ternyata cukup rumit. Melibatkan uji laboratorium uranium yang dilakukan di Australia.

Namun secara awam, langkah-langkah mereka bisa dijelaskan sebagai
berikut: Arkeolog menemukan bahwa endapan dari air dan mineral (coralloid spelleothems) yang melapisi lukisan gua ternyata bisa diukur umurnya. Ini memanfaatkan uranium yang terjebak di dalam endapan tersebut.

Seperti dijelaskan dalam majalah sains bergengsi Nature, lukisan gua dilukis oeh manusia Sulawesi puluhan ribu tahun lalu. Karena dilukis di dalam gua, maka di permukaan lukisan itu muncul endapan yang mengeras seperti karang. Endapan ini berasal dari air gua yang menetes melewati permukaan lukisan.

Inilah bahan utama yang diambil peneliti Indonesia-Australia untuk menganalisis umur lukisan di Maros. Peneliti lalu mencongkel endapan di beberapa lukisan sebagai sampel. Tercatat ada 19 endapan coralloid spelleothems yang diambil dari sejumlah lukisan yaitu: 12 sampel endapan dari lukisan bergambar cap tangan dan dua endapan dari lukisan bergambar figuratif hewan. Seluruh sampel diambil dari tujuh gua di kawasan karst Maros. Enam dari tujuh situs gua itu terletak dalam radius satu kilometer di kawasan Bantimurung, Sulsel.

Endapan air dan mineral itu mengandung kalsium karbonat. Di dalan kalsium karbonat itu ternyata ada uranium yang terjebak. Uranium inilah kunci dari penentuan umur lukisan gua. Peneliti ternyata bisa menghitung proses ketidakseimbangan pembusukan/pelepasan uranium tersebut.

Peneliti membawa seluruh sampel endapan ke laboratorium Wollongong Isotope Geochronology di Universitas Wollongong Australia. Dari dalam laboratorium inilah angka-angka umur lukisan itu akhirnya diketahui.
Lukisan tertua di Maros yaitu lukisan cap tangan berumur 39,900 ribu tahun yang lalu. Sementara lukisan figuratif babirusa berumur 35 ribu tyl.

Sumber:
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/10/10/nd7ifd-begini-cara-peneliti-tentukan-umur-lukisan-gua-di-maros

Jelajah Pangkep (5): Merasakan Eksotisme Kuliner Pangkep

Jelajah Pangkep (5): Merasakan Eksotisme Kuliner Pangkep

Rabu, 23 Oktober 2013, 17:34 WIB

Republika/Aditya Pradana Putra
Dange
Dange

REPUBLIKA.CO.ID, Bagi saya pecinta kuliner, penelusuran saya di kawasan Karst Maros Pangkep, khususnya yang terletak di Kabupaten Pangkajene Dan Kepulauan (Pangkep), tak lengkap jika tidak mencicipi kuliner-kuliner yang ada di daerah itu.

Wilayah  yang mayoritas bagiannya  merupakan laut menjadikan Kabupaten Pangkep sebagai daerah penghasil ikan. Wisatawan maupun tamu-tamu yang datang ke Pangkep dengan mudah menemukan warung-warung maupun restoran yang menjual masakan-masakan laut (sea food).
     
Jalan Kemakmuran atau disebut Jalan Poros Pangkep menjadi salah satu jujukan favorit para pemburu kuliner. Selain berada di jalur utama Makassar-Pangkep, lokasi tersebut juga berada di pusat kota sehingga sangat terjangkau dan mudah ditemukan.
     
Dari beragam masakan, ikan bolu bakar (sejenis ikan bandeng)  menjadi salah satu andalan di sentra kuliner tersebut. Sambel yang segar dengan paduan cabai merah dan tomat menjadi pelengkap yang istimewa bagi ikan bolu bakar dengan nasi.
     
Tak hanya masakan laut, sentra kuliner Jalan Kemakmuran juga menyediakan jenis masakan lainnya sop saudara dan konro (keduanya merupakan masakan berbahan daging dan iga sapi).
     
Untuk sop saudara sendiri bagi saya termasuk spesial karena belum pernah saya temui selain di Pangkep. Kalau konro termasuk menu yang mudah saya temui di Jakarta, tempat tinggal saya. Sop saudara disajikan berkuah dengan bahan dasar daging sapi yang biasanya disajikan bersama bahan pelengkap seperti bihun, perkedel kentang, jeroan, dan telur rebus.
     
Selain itu, masakan tersebut juga biasa dikonsumsi bersama dengan nasi putih dan ikan bolu bakar yang juga dijual di lokasi tersebut. Wisatawan minat khusus yang bersama saya mencicipi kuliner setempat, Djuhariono mengatakan, Jalan Kemakmuran tak ubahnya sebagai tempat wisata dengan "one stop culinary".
     
"Satu tujuan lokasi, kita bisa mencoba bermacam-macam pilihan masakan khas setempat," kata Djuhariono yang berasal dari Surabaya.

Dange, Kue Hitam nan Lezat

     
Tak hanya masakan saja, Pangkep juga masih menyimpan pesona kulinernya. Kali ini sebuah kue tradisional yang bernama dange. Dari Sentra Kuliner Jalan Kemakmuran, saya membutuhkan waktu hampir setengah jam dengan menggunakan mobil untuk menuju Kecamatan Mandalle, sentra penjualan kue dange.
     
Di Jalan Makassar-Pare-pare kita akan menemukan deretan panjang warung-warung penjual kue dange. Berbahan ketan hitam, kelapa, dan gula merah, kue dange dijual oleh pedagang-pedagang setempat seharga Rp 10.000 untuk ukuran isi satu kotak kecil.
     
Selain bisa merasakan manisnya kue berwarna hitam tersebut, kita juga bisa menyaksikan proses pembuatannya. Pedagang-pedagang setempat membuat kue dange di bagian depan warung-warung mereka.
     
Wangi asap pembakarannya juga semerbak tercium di sepanjang jalan yang melintasi sentra penjualan kue dange itu. Memiliki tekstur yang kasar, kue dange memili rasa manis dengan bercampur sedikit pahit akibat proses pembakaran saat membuatnya.
     
Akan tetapi,  jika sudah terbiasa memakannya rasa pahitnya hilang dan cuma rasa manis saja yang ada dalam kelezatan kue dange.
    
Dange sendiri terbuat dari beras ketan hitam atau putih, parutan kelapa muda, dan gula merah. Pembuatannya sangat sederhana dengan mencampurkan ketiga bahan secukupnya kemudian dimasukkan ke dalam loyang atau cetakan dange yang sudah dipanaskan sebelumnya di atas tungku alat masak yang terbuat dari tanah liat.
      
Tunggu sekitar 10-15 menit kemudian lalu letakkan dange di atas piring atau daun pisang dan  dange pun siap dinikmati. Selain nikmat, kata warga Pangkep, Jafar mengatakan, kue dange juga dipercaya dapat mengobati penyakit diabetes.
     
Seorang pedagang, Mina (70) mengaku setiap hari rata-rata dia menjual sebanyak 20 kotak kecil kue dange. Jumlah tersebut akan meningkat drastis menjadi rata-rata 50 kotak pada akhir pekan ataupun hari libur.
     
"Saya berharap semakin ramainya kunjungan wisatawan di kawasan Karst Maros Pangkep berdampak positif bagi kami," kata Mina sambil membungkus kue dange yang saya pesan sebagai oleh-oleh ke Jakarta.

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv4aos-jelajah-pangkep-5-merasakan-eksotisme-kuliner-pangkep

Jelajah Pangkep (4): Badik, Simbol Harga Diri Masyarakat Bugis Makassar

Jelajah Pangkep (4): Badik, Simbol Harga Diri Masyarakat Bugis Makassar

Wednesday, 23 October 2013, 17:10 WIB
Republika/Aditya Pradana Putra
Badik
Badik
REPUBLIKA.CO.ID, Di balik deretan bukit-bukit karst yang menjulang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) masih menyimpan tenaga-tenaga terampil pembuat senjata khas Suku Bugis Makassar, badik.
     
"Badik bagi kami bukan sekadar senjata, tetapi juga simbol harga diri. Badik hanya akan kami gunakan sebagai senjata ketika ada yang melecehkan saya dan keluarga saya," kata salah seorang warga pemilik badik, Muhammad Jafar (40).
     
Pada masa kolonial, kata Jafar, badik banyak digunakan pejuang Sulawesi Selatan dalam melawan penjajah, termasuk pada masa kejayaan Sultan Hasanuddin. 
     
Pada masa lalu, para prajurit kerajaan Bugis atau Makassar memakaian badik tergantung situasi saat itu, misalnya, badik  ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai dan ditempatkan di depan pada masa perang, dan disamping pada masa siaga.
     
Saat ini senjata badik tidak bisa digunakan secara bebas karena aturan hukum secara ketat melarangnya.
     
"Namun, hal tersebut tidak berlaku di kawasan pinggiran kota dan pedesaan. Badik digunakan menjadi senjata setiap ada salah satu pihak merasa ndilecehkan," kata Jafar.
     
Karena menjadi simbol hara diri, senjata badik tidak mudah berpindah tangan, kecuali sebagai warisan bagi keturunan sang pemilik. 
     
Badik menjadi lebih spesial lagi karena menurut kepercayaan setempat, pembuatannya juga dilakukan berdasarkan hari lahir ataupun hari-hari penting calon pemilik badik.    
     
Sementara itu, keberadaan pembuat badik sendiri saat ini semakin berkurang seiring surutnya minat generasi muda dalam melanjutkan warisan keahlian membuat badik.
     
Selain itu, aturan hukum yang semakin ketat melarang penggunaan senjata tajam itu secara bebas juga menyurutkan minat masyaakat untuk memilikinya.
     
Desa Ujung Loe di Kecamatan Minase'tene, menjadi daerah yang masih menyimpan banyak pandai besi yang ahli membuat senjata.
     
Pembuat badik setempat, Haji Safarudin (67) mengatakan, jumlah pembuat badai di Minasa'tene mencapai ratusan. Akan tetapi, lanjutnya, kini jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
     
"Saya sendiri hanya membuatnya jika ada pesanan yang jumlahnya belum tentu ada satu pun dalam sepekan," kata dia.
     
Bulan Ramadhan merupakan waktu ramainya pesanan badik. safarudin mengatakan, masyarakat setempat mempercayai pembuatan badik di bulan Ramadhan akan memberikan pengaruh tersendiri pada kuatnya badik.
     
Di samping itu, bentuk-bentuk badik juga berbeda-beda tergantung asal daerah badik itu berasal. Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam serta cappa’ (ujung) yang runcing, sementara Badik Bugis Kawali Bone memiliki bessi atau bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung, sedangkan kawali Luwu memiliki bessi pipih dan berbentuk lurus. 
     
Harga dari sebuah badik yang dibuat Safarudin mencapai antara Rp 500.000 hingga ratusan juta rupiah tergantung keistimewaan masing-masing badik.
     "Ada orang-orang tertentu yang memiliki keahlian menilai keistimewaan sebuah badik, semacam juru taksir," kata Safarudin yang telah 50 tahun menggeluti pembuatan badik.
     
Seorang pedagang badik, Andriani Dolo (38) mengatakan, keistimewaan sebuah badik tidak hanya pada bahan dan kualitas pembuatan bagian utamanya, tetapi juga pada pegangan.
     
"Sisi keindahan dan sejarah dari tiap badik berpengaruh pada tingginya harga. Akan tetapi, harganya yang selangit tidak menyurutkan minat kolektor untuk membeli badik di tempat saya," pamer Andriani.
     
Karena ketatanya pengawasan, Andriani mengatakan, pengiriman badik keluar Sulawesi tidak bisa dilakukan melalui pesawat udara. Banyak dari pembeli dari luar Sulawesi membawa badik yang dia dapat melalui kapal laut yang pengawasannya tidak seketat melalui jalur udara.
     
Meskipun semakin sedikit pembuat dan peminat badik, Andriani berharap badik tetap bertahan sebagai simbol harga diri serta identitas bagi masyarakat Bugis Makassar.


Reporter : Aditya Pradana Putra
Redaktur : Fernan Rahadi

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv49lf-jelajah-pangkep-4-badik-simbol-harga-diri-masyarakat-bugis-makassar

Jelajah Pangkep (3): Memasyarakatkan Wisata Ramah Karst

Jelajah Pangkep (3): Memasyarakatkan Wisata Ramah Karst

Wednesday, 23 October 2013, 16:48 WIB
Republika/Aditya Pradana Putra
Gua Kallibong
Gua Kallibong


REPUBLIKA.CO.ID, Melihat keindahan gua-gua penuh ornamen unik dan peninggalan-peninggalan pra sejarah yang ada di Karst Maros Pangkep berarti melihat potensi magnet wisata yang akan mendatangkan keuntungan ekonomi bagi pemerintah maupun masyarakat setempat.
    
Pakar konservasi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Arzyana Sunkar mengatakan, kawasan Karst Maros Pangkep memiliki potensi wisata yang setara dengan kawasan karst serupa di Guilin, Cina bagian selatan  dan Ha Long Bay, Vietnam.
    
"Namun, belum adanya kesadaran pemanfaatan potensi tersebut oleh pemerintah dan masyarakat Indonesia menjadikan Karst Maros Pangkep kalah pamor dengan dua kawasan tower karst lainnya di Cina dan Vietnam," kata Arzyana.
    
Dua kawasan tower karst di Cina dan Vietnam tersebut telah menjadi wisata unggulan. Bahkan, Karst Guilin mulai mengalahkan destinasi yang selama ini menjadi ujung tombak wisata andalan Cina, Tembok Besar Cina (Great Wall).
    
Pemerintah dan masyarakat kedua negara tersebut memanfaatkan kawasan karst mereka hanya untuk wisata tanpa merusak dengan eksploitasi material-material yang ada di kawasan karst tersebut.
    
Alih-alih dijadikan kawasan wisata ramah lingkungan, Karst Maros Pangkep saat ini menghadapi ancaman kelestarian dengan masih banyaknya titik tambang, beberapa di antaranya untuk kebutuhan pabrik semen dan batu marmer.
    
"Pemanfaatan yang ramah lingkungan dapat menyelamatkan kawasan karst dari kehancuran. Karst Maros Pangkep, seperti halnya kawasan karst lainnya yang menjadi kawasan penampung air dan habitat dari berbagai macam makhluk hidup, khususnya makhluk-makhluk endemik kawasan itu," kata Arzyana.
    
Menurut Arzyana, wisata dengan konsep pelestarian merupakan solusi efektif dalam pemanfaatan kawasan Karst Maros Pangkep yang bijak.

Kearifan Lokal
    
Senada dengan Arzyana, pakar geologi asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Brahmantyo mengatakan, dua destinasi wisata di Vietnam dan Cina bagian selatan telah memberikan bukti bahwa kawasan karst dapat memberikan manfaat secara ekonomis selain ditambang materialnya.
    
"Dengan mengadaptasi apa yang telah dilakukan di dua negara tersebut, kita bisa memanfaatkan potensi Karst Maros Pangkep tanpa harus merusaknya," kata dia.
    
Tidak harus dengan melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran, akses jalan dan sarana sanitasi yang baik, menurut Budi, menjadi syarat sebuah destinasi wisata minat khusus. Selanjutnya, untuk penginapan dapat memberdayakan rumah-rumah penduduk setempat sebagai lokasi "home stay" bagi wisatawan.
    
"Kearifan lokal saat ini menjadi tren daya tarik sebuah destinasi wisata, khususnya bagi kalangan wisatawan minat khusus. Bahkan bagi wisatawan-wisatawan dari negara maju, mereka rela membayar mahal untuk mendapatkan sensasi bersama kearifan lokal yang ada di daerah tujuan mereka," kata Budi.
    
Desa-desa di sekitar kawasan Karst Maros Pangkep memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang cukup menarik. Rumah-rumah panggung kayu dengan warna-warni mencolok memiliki magnet bagi pengunjung untuk mendekat dan berinteraksi dengan penghuni-penghuninya yang ramah.
    
Kehidupan desa yang tenang memberikan suasana menyenangkan tersendiri, khususnya bagi pengunjung yang berasal dari kota. Selain menikmati pemandangan dan suasana, pengunjung juga bisa ikut melakukan aktivitas keseharian warga, seperti bercocok tanam dan menggembalakan hewan ternak.
    
"Tak hanya memberikan wawasan tentang pentingnya kawasan karst, cara menyikapi pengunjung dari berbagai latar belakang budaya termasuk penting diberikan kepada penduduk setempat," kata dia.
    
Melalui pemberdayaan seperti itu, menurut Budi, juga akan memberikan keuntungan secara ekonomi bagi penduduk setempat dalam pemanfaatan potensi wisata kawasan tersebut.

Janji Pemerintah Setempat

Bupati Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Syamsuddin A Hamid mengakui pihaknya belum memanfaatkan secara maksimal potensi wisata kawasan Karst Maros Pangkep di wilayahnya.
    
Semakin banyaknya wisatawan minat khusus dan peneliti baik dalam negeri maupun asing mendorong pihaknya untuk segera membenahi pengelolaan kawasan karst tersebut, termasuk pengelolaan wisata.
    
"Tidak akan ada lagi izin tambang di kawasan karst tersebut yang kami keluarkan. Pemerintah akan fokuskan pemanfaatan kawasan karst yang lebih ramah lingkungan," janji Bupati.
    
Selain itu, lanjutnya, konsep desa wisata akan dikembangkan di sejumlah desa agar kawasan tersebut siap menerima wisatawan maupun peneliti yang mengunjungi Karst Maros Pangkep.
    
"Saat ini kami sudah mengembangkan Desa Wisata Tompobulu, selanjutnya sejumlah lokasi akan kami siapkan, salah satunya di Desa Belae, Minasatanae," kata Bupati.
    
Dengan menggerakkan pemerintah desa dan organisasi kepemudaan setempat, konsep wisata tersebut mulai dikembangkan.
   
Selain itu, dia mengatakan, acara-acara khusus seperti International Cave Festival yang mempertemukan pecinta gua dari berbagai daerah akan dilakukan secara rutin setiap tahun.
    
Dengan semakin banyaknya jumlah kunjungan, Bupati berharap, kontribusi wisata yang saat ini tidak lebih dari sepuluh persen terhadap pemasukan kas daerah dapat ditingkatkan.
   
Tak hanya sebagai pemasukan, lanjut Syamsuddin, pemanfaatan potensi wisata dengan memberdayakan masyarakat setempat juga diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga kelangsungan Karst Maros Pangkep sebagai daerah penampung air dan habitat bagi makhluk-makhluk di dalamnya.
    
Sementara itu, pengunjung yang juga penggiat telusur gua asal Surabaya, Djuhariono mengatakan, janji pemerintah untuk menjaga kelestarian dalam pemanfaatan potensi kawasan Karst Maros Pangkep menjadi sesuatu yang ditunggu masyarakat, khususnya penduduk setempat.
    
Dia berharap, pemerintah dapat segera merealisasikan janjinya dalam membuat kebijakan dan upaya perlindungan kawasan Karst Maros Pangkep sehingga pamornya menyamai atau mungkin melebihi dua destinasi karst yang sudah terkenal dulu di Vietnam dan Cina.


Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv48l9-jelajah-pangkep-3-memasyarakatkan-wisata-ramah-karst

Jelajah Pangkep (2): Menjaga Warisan Nenek Moyang di Gua Prasejarah

Jelajah Pangkep (2): Menjaga Warisan Nenek Moyang di Gua Prasejarah

Rabu, 23 Oktober 2013, 16:23 WIB
Republika/Aditya Pradana Putra
Leangleang
Leangleang

REPUBLIKA.CO.ID, Memiliki luas sekitar 40.000 hektare, kawasan Karst Maros Pangkep dikaruniai ratusan gua di dalamnya, 268 di antaranya telah terdata.
Ketergantungan manusia setempat terhadap kawasan karst tersebut sudah terjadi sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Hal tersebut dikuatkan dengan ditemukannya peninggalan purbakala di sejumlah gua yang ada di kawasan tersebut, seperti cap-cap tangan, gambar hewan buruan, sisa-sisa dapur, dan peralatan purbakala.

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), dulu Badan Pengelola Peninggalan Purbakala (BP3), mencatat kawasan Karst Maros Pangkep menyimpan 64 gua prasejarah di wilayah Maros dan 38 gua prasejarah di wilayah Pangkep.

Setelah puas menikmati Gua Kallibong Aloa dengan ornamen-ornamennya yang masih tumbuh, hari ketiga saya manfaatkan untuk menelusuri jejak manusia prasejarah di gua-gua yang ada di kawasan tersebut.

Sebagai penunjuk jalan dan untuk mendapatkan informasi terperinci, seorang juru pelihara gua dari Badan Pemelihara Cagar Budaya (BPCB), Rahim (53) menemani saya dalam penelusuran tersebut.

Dari sekitar 50 gua prasejarah yang ada, saya memilih Gua Kasapao sebagai tujuan pertama saya menyaksikan peninggalan nenek moyang masyarakat setempat. Menurut Rahim, Gua Kasapao termasuk gua dengan banyak lukisan-lukisan purbakala.

Tidak seperti Gua Kallibong Aloa yang memiliki medan "perawan", jalan menuju Gua Kasapao terasa lebih mudah. Untuk menuju saya ke sana saya melewati pematang-pematang sawah dan menaik ratusan anak tangga. 

Jaraknya lumayan jauh, sekitar dua kilometer dari jalan raya. Sesekali monyet-monyet muncul dari balik pohon mencuri perhatian saya saat berjalan menuju mulut gua. "Gua Kasapao ini sudah mati dan tidak tumbuh lagi seperti Gua Kallibong Aloa," kata Rahim yang sehari-hari bertugas merawat dan membersihkan gua-gua prasejarah di lokasi tersebut.

Di gua ini kita tidak bisa menemui stalagtit dan stalagmit yang masih tumbuh dan berwarna putih, yang banyak terlihat adalah pilar-pilar besar yang sudah berwarna coklat tua dan sebagian berlumut. Sedikit memasuki ke dalam mulut gua, kita dengan mudah menemukan lukisan cap-cap tangan dan gambar babi rusa di langit-langit gua setinggi antara satu hingga 1,5 meter. 

Selain berwarna merah dan hitam, ukuran-ukuran telapak tangan pada lukisan-lukisan itu hampir sama dengan telapak tangan milik orang dewasa saat ini. "Lukisan-lukisan itu tidak bisa luntur meski terkena air. Manusia purba dulu membuatnya dengan ramuan khusus dari tanah dan getah," kata Rahim. 

Selain Gua Kasapao, penelusuran jejak manusia prasejarah juga saya lakukan ke Gua Bulo Ribba. Berbeda dengan Gua Kasapao, lukisan-lukisan purbakala yang ada di Gua Bulo Ribba berada di langit-langit gua yang cukup tinggi antara dua hingga tiga meter. Melihat letak lukisan di titik seperti itu, saya belum bisa membayangkan cara manusia purba melukisnya.

"Hingga saat ini belum diketahui bagaiamana cara manusia purba mencapai titik tersebut untuk membuat cap-cap tangan itu," kata Rahim.
     
Selain dua gua pra sejarah yang saya jelajahi tersebut, di Desa Belae sendiri masih terdapat gua-gua prasejarah lainnya, seperti Gua Kassi, Gua Camming Kana, Gua Bulu Sumi, Gua Sumpang Bita, Gua Patennung, Gua Kajuara, dan sejumlah gua lainnya.

Tanda Kekuasaan
Di kesempatan yang terpisah, saya mendapatkan penjelasan dari ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Budi Brahmantyo mengenai keberadaan lukisan-lukisan purbakala yang ada di gua-gua kawasan Karst Maros Pangkep.
     
"Bukan tanpa alasan manusia purba membuat lukisan-lukisan itu. Mereka membuatnya sebagai tanda kekuasaan terhadap gua-gua tersebut," kata Budi.
     
Selain lukisan, lanjutnya, sampah-sampah dapur juga menjadi penanda gua-gua yang ada pernah ditempati oleh manusia purba dulu. 
     
Meski tidak semudah ketika kita melihat lukisan-lukisan purbakala, di sejumlah titik kita bisa menemui cangkang-cangkang kerang sisa makanan manusia purba. Saking lamanya, cangkang-cangkang bekas makanan manusia purba dulu telah menempel kuat di tanah dan stalakmit.
     
Budi mengatakan, karst Maros Pangkep telah terbentuk sejak 50 juta tahun yang lalu atau berada saat kala Eosen. "Sementara, dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala manusia baru mulai memanfaatkan kawasan tersebut sekitar 5.000 tahun yang lalu," kata Budi.

Perlindungan Cagar Budaya
     
Dari sejumlah catatan mengatakan, jumlah jejak peradaban manusia prasejarah berupa lukisan-lukisan di dinding gua itu mencapai ratusan saat diteliti oleh ilmuwan asal Swedia, Van Stein Callenfels pada 1932. Namun, jumlah tersebut saat ini telah menyusut akibat aktivitas manusia sendiri.
     
Budi memperkirakan masih banyak gua-gua dengan peninggalan purbakala di luar jumlah yang terdata di kawasan lindung Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
     
"Kemungkinan gua-gua serupa masih ada di kawasan yang tidak terlindungi hukum konservasi. Aktifitas penambangan untuk kebutuhan produksi semen dan batu marmer menjadi ancaman nyata bagi peninggalan alam dan sejarah itu," kata Budi. 
     
Dia berharap pemerintah pusat dan daerah setempat dapat segera melakukan pendataan kembali untuk menyelamatkan gua-gua di kawasan tersebut dari tindakan eksploitasi manusia.
     
Perlindungan, lanjut Budi, juga diharapkan dapat dilakukan pemerintah bersama masyarakat terhadap gua-gua yang sudah terdata."Semakin banyaknya kunjungan orang, baik penggiat minat khusus maupun wisatawan awam termasuk menjadi ancaman bagi kelestarian gua-gua di kawasan tersebut," kata Budi Brahmantyo.
     
Bagi sebagain kalangan, termasuk Budi, sedikit berkurang kekhawatiran dengan masuknya kawasan Karst Maros Pangkep sebagai nominasi warisan dunia oleh organisasi PBB di bidang  pendidikan dan budaya, Unesco. Setidaknya, hal itu dapat memancing kepedulian yang lebih dari pemerintah dan masyarakat kita dalam melindungi kawasan yang tak terhingga nilainya tersebut.

Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv47f1-jelajah-pangkep-2-menjaga-warisan-nenek-moyang-di-gua-prasejarah

Jelajah Karst Maros Pangkep (1): Surga Tersembunyi di Karst Maros Pangkep

Jelajah Karst Maros Pangkep (1): Surga Tersembunyi di Karst Maros Pangkep

Rabu, 23 Oktober 2013, 15:58 WIB
Republika/Aditya Pradana Putra
Gua Kallibong Aloa
Gua Kallibong Aloa


REPUBLIKA.CO.ID, Perjalanan belum berlangsung lama, baru sekitar 20 menit dari awal mobil meninggalkan Bandara Internasional Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan, menuju arah utara.
Sebuah pemandangan langsung menarik mata saya. Deretan perbukitan kapur atau karst yang membentang panjang memancing rasa penasaran untuk membuktikan cerita seorang kawan tentang surga terpendam Karst Maros Pangkep.
Jalanan yang lurus sebagai penghubung Kota Makassar ke Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) mengarahkan saya ke lokasi yang dinilai oleh sebagian orang sebagai salah satu kawasan karst terindah di dunia tersebut.
Tidak sampai 60 menit perjalanan dari bandara, saya sudah sampai lokasi yang berjarak sekitar 32 kilometer dari ibukota Sulawesi Selatan, Makassar.
Bukit karst yang tadi terlihat membentang dari kejauhan kini terlihat menjulang tinggi menyambut kedatangan saya.
Desa Belae, Minasatene, Kabupaten Pangkep menjadi tempat pemberhentian sekaligus titik awal saya dalam penelusuran kawasan Karst Maros Pangkep. Desa tersebut merupakan salah satu kawasan permukiman penduduk terdekat dengan bukit-bukit karst dan banyak terdapat gua di dalamnya.
Turun dari mobil yang mengantar, kaki saya langsung melangkah ke tengah sawah sembari mengeluarkan kamera dari dalam tas. Kekaguman pada pandangan pertama membuat saya tidak sabar untuk segera memotret pemandangan bukit-bukit karst yang seperti pilar-pilar raksasa itu.
"Banyak yang bilang karst di sini terbesar kedua setelah yang ada di Cina," suara laki-laki dengan dialek setempat memecah konsentrasi saya yang asyik memotret.
Tak lama, saya ketahui suara itu berasal dari Sahrul Syaf (35), seorang penduduk setempat yang terkadang juga menjadi pemandu bagi pengunjung yang datang ke lokasi tersebut.
Dia mengatakan, saya bukan orang pertama yang ingin membuktikan keindahan kawasan karst yang juga berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
"Melalui Desa Belae ini, orang-orang bisa menuju sejumlah titik lokasi gua (dalam bahasa setempat disebut leang) yang memiliki beragam karakter keindahan masing-masing," pamer Sahrul yang membuat saya makin penasaran untuk membuktikannya.
Dari cerita kawan yang pernah singgah serta dari sejumlah referensi bacaan, kawasan karst Maros-Pangkep memiliki banyak gua dengan beragam ornamen yang masih terus tumbuh dan peninggalan-peninggalan purbakala.
Iming-iming keindahan tersebut yang mendorong saya untuk segera membuktikan kebenaran cerita-cerit itu. Namun, upaya pembuktian cerita indahnya kawasan karst tersebut tertunda oleh matahari yang tenggelam saat itu.
Sahrul Syaf mengantar saya ke salah satu rumah penduduk yang dijadikan "home stay" sebagai tempat menginap. Sejak dua tahun terakhir pemerintah desa setempat telah menyiapkan sekitar 20 rumah penduduk sebagai pilihan "home stay" bagi wisatawan maupun peneliti yang datang berkunjung di kawasan karst tersebut.
Ramahnya penduduk dan eksotisnya rumah panggung atau dalam bahasa lokal disebut "balla kayu" semakin memberikan kesan menyenangkan pada hari kedatangan saya di kawasan itu, khususnya Desa Belae.
Kesan tersebut semakin lengkap ketika sang tuan rumah mengajak saya makan malam dengan nasi ikan bolu khas Pangkep dengan sambel segarnya.
Sejenak saya nikmati dulu suasana yang ada untuk selanjutnya membuktikan cerita kawan tentang keindahan Karst Maros Pangkep esok harinya.

Karst, Rumah Untuk Semua

Banyaknya tebing-tebing tinggi menjadikan kawasan karst Maros-Pangkep termasuk ke dalam kategori "tower karst" seperti halnya yang ada di Cina bagian selatan dan Vietnam.
Terletak di dua daerah pemerintahan, Kabupaten Maros serta Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), kawasan karst tersebut memiliki luas sekitar 40 ribu hektare.
"Dari 40 ribu hektare luas Karst Maros Pangkep, 20 ribu hektare di antaranya berada dalam kawasan lindung Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang memiliki luas 43.750 hektare," kata Kepala Bagian Tata Usaha Taman Nasional Babul, Dedy Asriady ketika memberi penjelasan sebelum saya menelusuri kawasan tersebut.
Sejak zaman purba dulu, lanjutnya, kawasan karst ini telah dihuni oleh manusia dengan banyak ditemukan peninggalan purbakala di gua-gua tua, seperti gambar-gambar purbakala, sisa dapur, serta alat-alat yang dulu pernah digunakan manusia purba.
"Saat ini Karst Maros Pangkep masih menjadi rumah bagi manusia, hampir semua menggantungkan hidupnya di kawasan ini dengan bercocok tanam dan sebagian masih memanfaatkan hasil hutan," kata Dedy.
Tak hanya manusia, banyak jenis hewan dan tumbuhan menggantungkan hidupnya di kawasan tersebut, salah satu di antaranya fauna yang kerap ditemui seperti jenis Kera Hitam atau Macaca Maura dan Tersius (Tarsius sp). Sementara, jenis flora yang mudah ditemui seperti pohon ara atau beringin (Fiscus sp) dan jenis kayu hitam (Diospyros celebica).
"Sejauh ini masyarakat setempat dapat hidup berdampingan secara baik dengan penghuni-penghuni lainnya di kawasan karst tersebut, termasuk dengan makhluk-makhluk hidup penghuni dalam gua," kata Dedy.
Sementara itu, ahli zoologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi keanekaragaman hayati di kawasan Karst Maros Pangkep juga termasuk yang berada di dalam gua.
"Biota-biota yang hidup di dalam gua dengan pencahayaan minim hingga tanpa cahaya memiliki keunikan yang sangat khas dan endemik atau tidak ada di lokasi lain," kata Cahyo.
Dia mengatakan, biota-biota yang hidup di dalam gua lebih sensitif terhadap unsur asing, termasuk manusia yang memasuki gua.
"Karena mereka terbiasa dengan kegelapan dan keheningan, makhluk-makhluk tersebut sangat sensitif. Bahkan, kehadiran manusia di dalam gua dapat menyebabkan suhu berubah lebih panas dan mempengaruhi kehidupan biota-biota asli penghuni gua," katanya.
Medan Berat
Berbekal informasi yang diberikan pihak Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saya memulai pembuktian keberadaan surga karst di kawasan tersebut. Gua Kallibong Aloa menjadi tujuan pertama.
Tak sekadar sebagai wisatawan, saya ditemani sejumlah kawan dari gabungan komunitas pecinta gua dengan membawa peralatan standar keamanan penelusuran gua sebagai antisipasi medan yang sulit.
Medan yang sulit itu bukan isapan jempol. Belum setengah jam berjalan menyusuri jalan setapak, kami sudah berhadapan dengan tebing vertikal yang wajib didaki dengan peralatan standar keamanan.
Bagi pemilik badan tambun seperti saya, medan yang nyaris semua vertikal tersebut begitu sulit didaki. Saya membutuhkan waktu lebih lama dan upaya lebih keras dibandingkan para kawan pecinta gua yang bertubuh ramping-ramping.
Untungnya para kawan pecinta gua membantu saya dalam memasang tali pengaman dan pegangan sehingga memudahkan saya untuk mencapai mulut ngua yang berada di atas bukit.
Tak hanya kawan-kawan dari komunitas pecinta gua, alam pun memberikan bantuan saya untuk menaiki tebing terjal. Tak jarang saya juga menemukan lubang batu karang dan akar-akar pohon.
Dengan sedikit bersusah payah, sekitar dua jam saya butuhkan untuk mencapai mulut gua yang berketinggian sekitar 300 meter dari titik awal mendaki.
Sebelum memasuki mulut gua, pemandangan tower-tower karst yang menakjubkan memanjakan mata dan membuat saya terlupa dengan kelelahan saat mendaki tebing. Dari ketinggian itu kita bisa melihat tower-tower karst raksasa berdampingan dengan hijaunya sawah dan rumah-rumah warga setempat.
Tak puas memanjakan mata saya, Kawasan Karst Maros Pangkep kembali menghadirkan visual indah yang dijanjikan oleh cerita kawan dari Jakarta. Kali ini saya melihatnya saat memasuki mulut Gua Kallibong Aloa.
Dengan bantuan lampu senter yang ada di atas helm, ornamen-ornamen indah khas gua di kawasan karst membuat kami takjub melihatnya.
Stalagtit (ornamen yang  mengarah turun) dan stalagmit (ornamen yang mengarah ke atas) masih tumbuh dengan tetesan airnya terlihat indah.
Di sejumlah sisi lain di dalam gua, terlihat ornamen-ornamen lain dan dinding gua yang dipenuhi dengan kilauan menyerupai kristal-kristal kecil.
Sebagian ada yang telah membentuk pilar, sebagian juga ada yang menjadi bentuk-bentuk yang unik, beberapa di antaranya stalagmit berbentuk ibu menggendong anaknya dan ornamen berbentuk seperti pelaminan pengantin.
Sesekali hewan-hewan penghuni gua juga terlihat, salah satunya kelabang dengan kaki-kaki yang lebih tinggi dibanding kelabang yang ada di luar gua sempat melintas di antara kami.
Antusiasme saya dalam menelusuri Gua Kallibong Aloa membuat waktu sekitar tiga jam tidak terasa telah dihabiskan di dalam gua. Karena waktu akan senja, pemandu mengajak kami untuk segera keluar dari gua agar kami tidak kesulitan menuruni tebing akibat kondisi gelap di malam hari.
Meski saya belum mengunjungi gua-gua tua dengan peninggalan purbakalanya, tetapi penelusuran saya di Gua Kallibong Aloa pada hari kedua ini sangat memuaskan dan membuktikan sebagian cerita kawan tentang indahnya kawasan tersebut.
Melihat keindahannya, tidaklah salah Gua Kallibong Aloa atau mungkin ratusan gua lainnya di kawasan itu disebut sebagai surga-surga tersembunyi Karst Maros Pangkep.


Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/13/10/23/mv469s-jelajah-karst-maros-pangkep-1-surga-tersembunyi-di-karst-maros-pangkep

Kisah Tengkorak-tengkorak Manusia di Kawasan Karst, Konawe Utara

Kisah Tengkorak-tengkorak Manusia di Kawasan Karst, Konawe Utara

Gua di Konawe Utara
Gua di Konawe Utara

KONAWE UTARA, Media Sultra.com-Bumi Konawe Utara, Sulawesi Tenggara tidak hanya menyimpan seabrak kisah dan jejak perjalanan Kahar Muzakkar. Namun di balik itu, banyak gua di sana yang menyimpan tengkorak dan tulang belulang manusia. Kini, jejak itu telah menjadi kekayaan Arkeologis yang abadi.

Salah satu yang paling dikenal adalah situs gua prasejarah yang berada di kawasan Karst Wawontoaho, Kecamatan Wiwirano. Oleh masyarakat setempat, gua itu dikenal sebagai Gua Tengkorak. Lokasinya berada pada jarak 196 kilometer dari Kota Kendari. Lokasi itu dilintasi Jalan Trans-Sulawesi yang menghubungkan Sultra dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Bukit  itu juga dikepung perkebunan sawit warga dan PTPN XIV.

Di kawasan perbukitan Karst itu banyak ditemukan tengkorak-tengkorak manusia. Nenek moyang suku Culambacu, salah satu suku asli Sultra yang sejak ribuan tahun lalu mendiami wilayah tersebut, memiliki tradisi penguburan jenazah di gua-gua, termasuk di Wawontoaho.

Menurut La Ode Ali Ahmadi, Arkeolog di Sulawesi Tenggara, kompleks Situs Gua Prasejarah Konawe Utara memperlihatkan bukti-bukti arkeologis yang merupakan evidensi arkeologis dan faktor pemukiman maupun faktor lainnya.
Tengkorak
Tengkorak

Berdasarkan hasil penelitian Balai Arkeologi (Balar) Makassar tahun 2009, temuan-temuan arkeologis yang berhasil dikumpulkan baik variabilitas, ciri maupun fungsional maka dapat dipastikan bahwa gua-gua prasejarah Konawe Utara yang teridentifikasi berjumlah 7 (tujuh) situs, di manfaatkan oleh manusia pendukungnya sebagai tempat penguburan, mulai dari masa prasejarah hingga masa kemudian (sekurang-kurangnya hingga abad-15 M).

Selanjutnya dari beberapa jenis dan ciri benda arkeologis yang ditemukan, baik di permukaan gua maupun dari penggalian, seperti alat serpih, tatal batu, batu inti, beliung, gerabah, kerang dan arang, memberi keterangan bahwa sebelum menjadi lokasi penguburan situs-situs tersebut terlebih dahulu menjadi tempat bermukim.

“Masa hunian gua-gua prasejarah di Konawe Utara, tampaknya berlangsung secara bergelombang. Kemungkinan gua-gua tersebut pertama kali dihuni oleh kelompok manusia yang sudah mengenal tradisi lukis didinding gua, seperti lukisan-lukisan gua, yang terdapat di gua Asera,” ujarnya.
Tradisi melukis ini oleh para ahli di tempatkan pada masa Mesolitik (40.000-10.000 tahun yang lalu) yang didukung oleh kelompok manusia dari ras Austro-Melanid. Sementara temuan Beliung (kapak batu yang diasah) dan gerabah yang didapatkan di Gua Tengkorak, Wiwirano adalah tradisi yang berkembang pada masa bercocok tanam (sekitar 3.000 tahun yang lalu) yang didukung oleh kelompok manusia dari ras Austronesia (Mongoloid).

Pernyataan ini didukung oleh tradisi tutur masyarakat setempat (suku Tolaki) yang mengatakan bahwa sebelum leluhur mereka tiba di daratan Sulawesi Tenggara, terlebih dahulu wilayah ini didiami oleh sekelompok manusia yang bertubuh besar. Bisa jadi penduduk asli yang dimaksud dalam ceritera itu adalah migrasi awal manusia moderen dari ras Austo-Melanid yang bermukim di gua-gua dengan mengembangkan tradisi melukis dinding gua (seperti lukisan cap tangan di Gua Asera).
Benda-benda disekitar mulut gua
Benda-benda disekitar mulut gua

Gelombang selanjutnya adalah Manusia Mongoloid Selatan (Penutur Austronesia) yang menyebar sekitar 4.000 tahun yang lalu dari Taiwan melalui pulau-pulau di Asia Tenggara (Philipina, Kalimantan) hingga sampai di Daratan Sulawesi dengan mengembangkan tradisi pertanian padi-padian dan memelihara binatang dan teknologi alat batu (serpih dan beliung) serta tekhnologi gerabah.

“Keberadaan Situs Gua Prasejarah Konawe Utara ini sangat penting sebagai kekayaan budaya daerah. Perlu perhatian khusus sekaligus proteksi guna pengamanannya dari aktivitas (transformasi Budaya) yang berpotensi merusak situs,” imbuhnya.

Sebelumnya, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar Andi Muhammad Said, yang juga membawahi wilayah Sultra, mengatakan, situs goa prasejarah di Konawe Utara itu memiliki kaitan dengan goa-goa purbakala serupa yang berada di poros Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Goa-goa itu diduga menjadi peninggalan peradaban manusia pertama yang menetap di Sulawesi. Kehidupan di goa-goa mengindikasikan sejarah awal manusia pada fase ke-2 setelah fase nomaden.
Sayangnya, goa-goa itu saat ini minim pengawasan sehingga sangat rentan terhadap perusakan dan penjarahan. Salah satu goa bahkan sudah dicemari vandalisme berupa coret-coretan iseng. Goa Tengkorak juga belum mendapat status perlindungan dari pemerintah kabupaten, provinsi, maupun pusat. (MI)


Source: Iwan Le Fante
http://www.mediasultra.com/news/kisah-tengkorak-tengkorak-manusia-di-kawasan-karst-konawe-utara.html/