Jumat, 14 Maret 2014

Jelajah Gunung Api Purba Nglanggeran


Lokasi ini saya dengar dari hasil obrolan dengan salah satu pelanggan Panorama Adventure, "lokasinya asik buat liat sunset dan sunrise mas dan buka siang malam". 


Mmm, jadi penasaran dengan lokasi yang disebutkan tadi. Selanjutnya biar google yang bekerja untuk mencarikan review lokasi beserta koordinatnya, dan aku tinggal menyiapkan rute dan rencana keberangkatan. 


Kali ini memang bukan asal berangkat seperti kebanyakan perjalanan yang aku lakukan, dalam perjalanan kali sengaja kupersiapkan dari mulai cek list perkap yang dibutuhkan, estimasi waktu, jika keadaan darurat harus bagaimana dan masih banyak lagi saya simpan dalam note di hape samsung gayung punyaku. Belum tau kapan berangkat, tapi dengan adanya cek list dan rencana perjalanan, ketika ada waktu yang memungkinkan tinggal obrak-abrik barang di kamar sambil nyentang cek list lalu tinggal berangkat, selesai. Ini lebih menyenangkan daripada asal berangkat ternyata.


Tips ke-1Cek list itu penting untuk mempersiapkan travelling, termasuk untuk urusan yang lain juga sebenarnya

di halaman parkiran
Kembali ke perjalanan menuju lokasi. Koordinat belum sempat saya tracking via gps, karena perkiraan lokasi yang mudah untuk didatangi langsung. 

Berdasarkan informasi yang didapat, lokasi dekat dengan "bukit bintang" yah itu sudah cukup. Berangkat Selasa pagi pukul 09.30 saat matahari sudah panas, melewati jalur Solo-Prambanan (bikin pusing juga). Sampai di perempatan kecil setelah bukit bintang, tepatnya di Koramil Patuk, mampir di salah satu toko yang punya cool box beli satu botol minuman dingin sambil bertanya kemana arah Gunung Api Purba. 


Ternyata sudah dekat, kurang 7km lagi mas ke sana (ambil jalan kecil). Iseng dengan statement "7km lagi mas", saya coba cek bener gak 7km, soalnya kadang di desa perhitungan jarak jadi sangat subyektif. Dengan odometer yang ada pada motor, saya hitung sampai lokasi memang benar 7km, tidak meleset jauh. Tiba di lokasi pukul 11.30 (perjalanan motor 2 jam dari rumah)

Peta rute pendakian
Berdasarkan beberapa blog yang saya baca, ketika di lokasi masuk petugas akan menawari untuk bertukar nomor handphone agar ketika ada masalah diatas gunung bisa berkomunikasi. 

Ternyata tidak, saya datang kesini sendirian pun juga tidak ada yang menawari tukeran nomer. Kemungkinan pertama, karena saya datang siang kemungkinan tersesat dsb kecil, kemungkinan kedua saya datang dengan pake celana dan baju kargo, sepatu gunung, satu ransel, satu tas pinggang, satu tas kamera kecil, dan tripod (keliatan udah paham lokasi mungkin). 

Tiket masuk 5.000 parkir 2.000, lalu perjalanan naik dimulai, tripod dikeluarkan, kamera disetting lalu naiklah ke gunung yang saya impikan sejak kemarin.

perbandingan ukuran orang dengan batu

Ada banyak sekali titik lokasi dan nama-namanya, sehingga gak terlalu hapal dan saya gak ambil pusing dengan itu. Datang pertama ini tujuan utama saya adalah puncak tertinggi, itu saja. Untuk datang berikutnya bolehlah jelajah ke sudut yang lain, mungkin hunting sunrise, sunset, atau camping. Batuan raksasa banyak sekali disini, salah satu yang sempat untuk ajang narsis (sebenarnya bukan itu) hanya untuk membandingkan ukuran batu dengan tubuh manusia saja di "Song Gudel" ini. Tidak perlu ke Belitong untuk batu raksasa, tapi sayangnya ini bukan pantai sih.

Tips ke-2Untuk memotret sesuatu yang ukurannya tidak normal, carilah benda pembanding, karena jika tidak maka akan kelihatan biasa saja

Point menarik selanjutnya adalah adanya lorong yang diatasnya terdapat batu tersangkut diantara dua dinding tebing. Ada yang pernah ingat film "127 Hours"? lewat lorong ini kita bisa merasakan dan membayangkan bagaimana view dan perasaan terjebak seperti dalam film tersebut. 

Saya sebenarnya gak terlalu faham fisika, jadi tidak bisa menghitung kira-kira berapa berat batu yang nyangkut itu, dan berapa kekuatan relief dinding tebing yang menjadi penyangganya. Jika suatu saat salah satu relief penyangga ada yang mulai terkikis apakah batu itu akan menimpa yang ada dibawahnya? Ah sudahlah semoga tidak terjadi demikian...Amiin

Lanjut lagi, jalan berliku naik turun bebatuan terjal, ngos-ngosan, keringetan, sendirian..hadehh merasa sedikit sengsara. 

Pelajaran penting, datang kesini tengah hari bukan opsi yang nyaman, siap-siap saja gosong terpanggang matahari ataupun dehidrasi. Satu lagi, tidak ada warung diatas jadi siap-siap bawa bekal. 


Yang tak bawa juga tak tanggung-tanggung, ransel isinya 3 botol minuman (1 botol 1,5 liter tambah 2 botol tanggung) ditambah jas hujan ponco (jika terjadi hujan lewat bisa dipake berteduh atau bikin bivak juga bisa) senter, pisau survival card, dan tripod. 


Kebayang berapa beratnya itu ransel. Tapi dalam kondisi darurat orang masih bisa bertahan hidup lebih lama dengan air tanpa makan daripada makan tanpa air. Bukannya mau lebay sih, secara saya datang sendirian, sama sekali gak paham medan, jadi apapun saya harus bertanggung jawab atas diri sendiri.

Tips ke-3*hanya pendapat: saya akan merasa sangat menyesal jika mengalami kesusahan yang sebenarnya bisa saya antisipasi sebelumnya namun tidak saya lakukan

sejenak mengumpulkan nafas yang cukup
Yang menarik disini, pengelola banyak membangun pos atau gardu pandang yang viewnya bagus dan bisa digunakan untuk istirahat.

Lagi-lagi balada solo traveller, istirahat sendiri, buka bekal sendiri, senyum sendiri, pasang tripod sendiri, foto sendiri...tak apa-apa, alhamdulillah kali ini bawa air banyak karena ternyata belum sampe puncak 2 botol tanggung sudah habis ku minum selama perjalanan dan naik kesini. Tinggal 1 botol besar, jika mau minum repot kan. 


Jadi botol tanggung saya isi dengan air dari botol besar lalu diselipkan di samping ransel, untuk mengambilnya mudah sehingga kapanpun butuh minum ya minum aja jangan sampai dehidrasi hanya gara-gara masalah teknis yang bisa di siasati sebenarnya.

Satu lagi tips untuk solo traveller, banyak lokasi menarik disini yang akan menggoda kita untuk berfoto. Jika ada yang bernasib sama dengan saya, naik sendirian maka jangan lupa bawa tripod, mini tripod, atau gorilla pod. Sayang lokasi istimewa tapi kita lewatkan untuk berfoto hanya gara-gara gak ada yang memfotokan. 

Hampir sampai puncak, ada beberapa camping ground yang nyaman. Saya katakan nyaman karena berada di tanah yang datar namun terhalangi oleh batuan besar jadi jika ada angin besar masih bisa tertahan oleh batuan dan tidak serta merta menerbangkan tenda, mau masak juga lebih terlindungi dari angin. Saya pikir tempat ini untuk camping okelah, hanya air bawa saja dari bawah.

camping ground
Tiba di atas, subhanalloh...Inilah yang selalu jadi faforitku, ketinggian. Setelah Puncak Lawu, Bukit Joglo / landasan paralayang Wonogiri, landasan paralayang Kemuning, sekarang puncak Gunung Api Purba Wonosari. Alhamdulillah..

Saya memang datang sendirian, naik sendirian, tapi di puncak ketemu orang ya kenalan. Kenalan dan foto bareng dengan kawan-kawan dari Swalayan Superindo Jogja. Saya datang sendirian, naiknya sendirian, di puncak dapet kenalan, turunnya barengan.haha..bukan dengan seseorang, tapi serombongan..



Pulangnya turun dengan cepat, hanya sedikit tersendat saat harus melewati lorong lagi. 

Astaghfirullah, melewati lorong sempit ini mengingatkan tentang kisah Ashabul Kahfi, juga tentang 3 orang yang berwasilah dengan amalannya agar dibukakan pintu gua. Jika saat melewati lorong ini tiba-tiba ada gempa atau tanah bergeser dan tebing menutup, maka semua tewas penyet. 


Tapi alhamdulillah perjalanan lancar, namun melewati tempat seperti ini mengingatkan kita akan kebesaran Allah SWT, mengingatkan kita tentang sesungguhnya kematian itu amatlah dekat dengan kita. 


Siapa yang bisa menjamin kita masih bisa keluar dari lorong ini setelah masuk ke dalamnya? atau batu besar yang nyangkut di awal perjalanan tadi, jika tiba-tiba ketika kita lewat di bawahnya pas batunya turun?...Astaghfirullah, sesungguhnya dengan melihat tanda-tanda kebesaran Allah di alam ini kita bukannya menjadi bangga atau sombong, tapi bersyukur bahwa kita diberikan kesempatan melihat ciptaan-Nya yang luar biasa dan masih diberikan kesempatan hidup setelah melewati tempat-tempat yang bisa dikatakan cukup mengerikan.

Penutup,
Jelajah, touring, travelling, hiking, dan dilakukan sendirian mengajarkan banyak hal. Apapun yang terjadi, saya bertanggung jawab atas diri saya sendiri, perlengkapan, perbekalan, jika ada troubel di jalan, hingga jika ada kejadian yang tidak diinginkan maka saya sendirian. Karena sendirian saya akan persiapkan segalanya sebaik mungkin, saya akan selalu berhati-hati dalam bertindak, berucap dan berperilaku. Saya tidak akan meremehkan sesuatu sekalipun hal-hal kecil. 

Sampai ketemu di lokasi yang lain lagi...
Taufik

dapet kenalan dari Superindo Jogja

Rabu, 26 Februari 2014

Canon 400D DSLR Pertamaku

Saya menuliskan tentang sesuatu barang, biasanya ketika barang tersebut sudah tidak lagi berada di tangan. 

Entah karena kebiasaan atau memang saya lebih bisa menuliskan dengan detil ketika sudah cukup lama memegang barang tersebut. 


Sama seperti kamera saya sebelumnya, saya membuat tulisan review ketika kamera tersebut sudah laku terjual dan di gantikan dengan kamera yang lain.

Kali ini adalah tentang sebuah kamera DSLR besutan Canon, yakni EOS 400D. Kamera ini di daulat sebagai penerus dari seri sebelumnya 350D. Alasan klasik kenapa saya memilih kamera ini adalah "kantong", karena memang anggarannya cukup sampai pada kamera ini.hahaha... 

Tapi walaupun demikian, ini sudah menjadi impian saya sejak lama bahkan sampai masuk dalam list 50 target yang ingin saya capai dalam hidup ini. Dan setelah mencapainya saya menemukan bahwa tidak semua yang saya kejar dan perjuangkan itu memang hal yang paling penting dalam hidup. Ah, terlalu ngelantur kemana mana. Mari fokus ke kamera. 

Ulasan saya sebagai pengguna, terkhusus pengguna dalam kondisi bekas dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Sebelumnya saya pernah memakai kamera jenis prosummer yakni Fujifilm Finepix S2950 sebagai batu loncatan untuk belajar pengaturan manual sebelum akhirnya meminang DSLR. Banyak poin plus yang saya dapatkan dari DSLR di level ini. 


Yang paling utama adalah ketajaman gambar, bokeh yang mantap, noise yang terkontrol dan kemampuan frezze yang oke. Untuk kebutuhan dokumentasi acara indoor ataupun outdoor oke tak masalah. Di ruang minim cahaya noise masih terkontrol, biasa saya pake maksimal berada di ISO 800. Masih cukup terkendali dan dengan gambar yang lumayan. Untuk mendapatkan efek bokeh yang mantap tak masalah, walaupun tanpa lensa fix 50mm lumayan lah. Dengan kemampuan ini untuk mendapatkan DOF yang maksimal bisa di dapatkan, lagi-lagi sebatas kekuatan lensa kit. 
Keuntungan lain yang saya dapatkan adalah untuk mendokumentasikan semisal acara demo di jalan raya, orasi, dan kegiatan lainnya kemampuan frezze dengan shutter speed yang tinggi dapat didapatkan dengan mudah. 

Dengan shutter speed yang tinggi meminimalkan gambar blur karena objek bergerak. Satu lagi, sesuai dengan mindset orang awam fotografi atau masyarakat kebanyakan DLSR adalah rajanya kamera, entah dia seri berapapun selalu mendapatkan anggapan dan apresiasi yang luar biasa - yang menurut saya cenderung berlebihan. Dengan memegang DSLR pasti dia sangat terampil memotret, sangat bagus hasilnya, dsb. Padahal tidak selalu demikian. Orang awam sampai saat ini masih dominan berpikir seperti itu, kamera DSLR adalah se keren-keren kamera, apalagi dipasangi lensa tele.


Kembali fokus ke 400D ini, kali ini akan saya kupas kelemahannya (kamera yang saya pegang). Sebelum 400D saya adalah pengguna Finepix S2950 yang sudah video HD (HD sekelas kamera poket), dengan beralih ke 400D yang belum bisa untuk video adalah satu kehilangan yang amat sangat sebenarnya. 

Yang saya lakukan untuk menghibur diri adalah, belajar fotografi kan untuk foto yang bagus kalau pingin video yang beli camcorder saja. Itu cukup bisa menghibur, namun tidak terlalu lama. Saya butuh yang bisa untuk video.

Minus selanjutnya adalah, ketiadaan live view di LCD. Satu point yang cukup mengganggu, walaupun sudah ada optical view finder namun tetap saja dalam kondisi pemotretan tertentu kita butuh live view. Contohnya untuk pengambilan gambar dengan angle rendah menempel tanah, sangat tidak enak jika harus mengintip. 

Jaman sudah berubah, lcd sudah bisa ditekuk kesana kemari kalo ngambil gambar dengan angle rendah kok ngintip bisa jadi orang norak. Tambah lagi kemampuan AF lensa yang sudah tidak terlalu cepat mengunci fokus menjadikan harus sering beralih ke MF. Dan itu artinya "tidak praktis" itu saja.

Minus selanjutnya, semoga yang terakhir di ruangan yang amat minim cahaya maka lensa akan susah menangkap autofokus dengan cepat, butuh bantuan blitz yang kedipnya kayak serentetan tembakan. Hal seperti ini sangat mengganggu objek jika itu manusia atau makhluk hidup. Apalagi di dukung dengan AF lensa yang sudah lemah, dijamin bakal lebih sering di kecewakan daripada dipuaskan saat mentransfer hasil foto ke komputer. 

Dengan segala pertimbangan yang ada ditambah ukuran yang terbilang tidak praktis untuk travelling maka saya putuskan untuk dijual saja. Saat itu yang terpikir pingin ganti kamera mirrorless kecil seperti Fuji seri X. Namun karena masih jauh dari anggaran maka turun kelas saja ke prosummer canon yang bentuknya mendekati poket, biar asik dibawa travelling.

Narasi singkat ini mungkin terlalu personal dan sangat subyektif, tapi tak apalah saya ingin menuliskan tentang yang saya alami. Mungkin ada pembaca yang mampir di blog ini pernah memimpikan DSLR namun dengan harga yang terjangkau akhirnya memilih kamera dengan kondisi yang sudah agak udzur, mari berpikir realistis, semoga tulisan ini bisa sedikit memberikan gambaran.

Rabu, 15 Januari 2014

Hunting foto Kemuning Karanganyar


Suatu malam iseng-iseng saya mampir ke web Landscape Indonesia, yang memang meracuni dengan hasil jepretan foto-foto yang luar biasa cantik dengan tema landscape. 

Ternyata jargon "meracuni" itu memang benar, saya teracuni. Malam itu juga saya langsung menyiapkan kamera, tas dan tripod dalam kondisi ready dan mudah dijangkau. Menyiapkan jaket, dompet, uang, ponsel, kontak sepeda motor. Besok pagi meluncur ke arah Kemuning. 

Pagi hari ketika Masjid di sekitar saya mulai ada yang adzan saya bergegas mengenakan perkap membawa peralatan dan berangkat. Sholat subuh di SPBU daerah Karanganyar. Selepas sholat cek bensin masih cukup, langsung meluncur ke arah Ngargoyoso. Ah, ternyata aku masih sama dengan style ku beberapa waktu dulu ketika sedang skripsian. Mbolang seru itu sendirian, kalo barengan banyakan ribetnya. Jadilah pagi ini saya juga meluncur sendirian. 


salah satu sudut faforit
Tiba di area kebun teh masih dalam zona peralihan antara gelap ke terang. Berusaha mengejar ke ketinggian agar bisa mendapatkan view lampu kelap-kelip di kota gagal. 

Ternyata sampai diatas sudah terang. Ya sudah tak apa.. Lanjut berkeliling mencari tempat yang bagus untuk spot foto. Berusaha eksplorasi beberapa jepretan namun belum menemukan settingan yang pas untuk kameraku. 


Aku ingin mendapatkan file RAW namun dengan hasil mentahnya mendekati JPG Landacape mode sehingga nanti ketika diolah agar mendekati nyata tidak terlalu sulit. Belun juga menarik. Kasat mata saya bisa merasakan birunya langit namun dalam foto hanya warna putih. Setelah beberapa saat otak-ik dan pindah tempat. 


pucuk pucuk teh

Akhirnya ketemu juga settingan yang pas. Tepat saat itu juga matahari mulai muncul menyinari hamparan perkebunan teh dengan cantiknya. Untuk beberapa saat saya takjub dan hanya bengong. 

Ternyata tempat ini sangat WOW ketika golden hour, ketika matahari mulai menyinari hamparan perkebunan teh ini. Jika belum terkena sinar matahari memang sudah cukup bagus, biru langit, hijau dedaunan teh, udara yang segar. Namun ketika matahari bersinar, waoww.. 


Apa yang dikatakan orang tentang golden hour dalam fotografi memang benar, inilah golden moment untuk foto lansekap alam. Langit bersih dan biru, matahari yang belum panas dan pebukitan berselimut pohon teh yang hijau segar.hmmm... 

Setelah mendapatkan beberapa foto menarik masih ada waktu sebentar sebelum hari makin siang dan panas serta harus pulang ke rumah untuk kerjaan yang lain tak ada salahnya "trabas sejenak" mengoptimalkan ban tahu yang masih bertaring. Arrrr...blusuk sana sini dengan mudahnya, mesin boleh kecil tapi nyali besar dan ban bergigi.

Selesai itu pulang, alhamdulillah untuk hari ini. Refresh yang sangat fresh mampu memberikan semangat selama beberapa hari ke depan. Mungkin 2 pekan lagi cari spot menarik lainnya..

Sunrise Waduk Mulur

waduk mulur pagi itu

Tidak semua "wisata" itu mewah dan harus merogoh kocek dalam-dalam. 

Menurut saya "wisata" itu yang penting kita bisa refresh menikmati nuansa yang berbeda, pemandangan yang berbeda itu sudah cukup. Waduk mulur ini merupakan salah satu alternatif yang bisa kita kunjungi dan tentu saja biaya murah. 


Masuk harus bayar? tentu tidak. Saya kesini hanya butuh modal motor dan bensin sekitar 1 liter lebih dikit. Waduk ini merupakan salah satu waduk kecil yang fungsi utamanya bukan pariwisata sebenarnya, namun tak ada salahnya tempat ini jadi lokasi wisata.


keramba milik masyarakat

Berangkat kesini pagi-pagi menyenangkan, perjalanan tidak panas, sampai disini masih sepi, baru ada beberapa masyarakat yang beraktifitas mengolah tambak ikannya dan ada beberapa yang memancing. 

Sukur-sukur dapet moment sunrise, namun kebetulan sunrise pagi ini terhalang mendung dan hanya dapet sedikit cahaya yang menyala cukup bagus. Sebentar saja, tidak lebih dari 2 menit lalu langit menjadi biasa lagi. Ah, memang moment sunrise atau sunset itu sesuatu yang langka untuk bisa diabadikan dengan baik.


salah satu sudut yang lain

Setelah hari menjelang siang saatnya pulang, sebelum matahari bersinar panas ataupun mendung berubah menjadi hujan. Refresh sudah, saatnya kembali ke pekerjaan dan kesibukan seperti biasa.

Bukit Joglo (Landasan Gantolle Wonogiri)

Cukup sering mendengar nama tempat ini, namun rasa penasaran yang saya coba puaskan dengan googling belum menemukan jawaban yang pas di hati. Saat itu belum banyak yang menuliskan tentang lokasi ini, karena sebenarnya ini bukan lokasi wisata seperti waduk, pantai, taman bermain, dsb. Tujuan dibangunnya tempat ini adalah untuk latihan terbang Gantolle.

Langsung ke inti cerita, dari info yang saya dapat lokasinya dekat dengan Waduk Gajah Mungkur. Ya, hanya itu informasi yang saya dapat dan kemudian saya putuskan untuk berangkat mencari lokasi ini.

Tanggal 10 September 2013, siang hari saya menyiapkan kamera prosummer yang sekarang sudah laku terjual, slayer, kacamata hitam, sarung tangan, jaket, minuman, dsb. Sama seperti kebiasaan saya sebelumnya, pergi tanpa planning kecuali 5-10 menit menjelang keberangkatan. Ternyata memang tepat seperti apa yang telah di beritakan dalam beberapa artikel hasil googling saya. Gapura tepat berada di kanan jalan sekitar 2 km sebelum pintu lokasi Waduk Gajah Mungkur. Tidak sesulit yang saya bayangkan di awal, karena memang lokasi ini tepat di tepi jalan dan di gapura sudah ada tulisannya. 

Rute selanjutnya adalah perjalanan menanjak, di kanan kiri jalan isinya ladang dan perkampungan. Kondisi jalan cukup rusak, tanjakan secara umum mudah namun tetap saja ada beberapa titik yang berat untuk motor bebek 100cc ini. Ada 1 hal yang terlintas dalam pikiran saya waktu itu, kenapa jalanan rusak seperti ini tidak diperbaiki? 

Mungkin, karena jalan ini adalah jalur utama menuju landasan Gantolle, yang notabene bukan tempat wisata umum yang mampu menyedot banyak pengunjung, turis dan rombongan dengan bus seperti di Waduk Gajah Mungkur. Sedangkan para pegiat gantolle jika melintasi jalan ini dengan mengendarai mobil, apalagi jika mobil adventure 4x4 dan sejenisnya untuk rute seperti ini bukan masalah. Masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur ini, sama sekali tidak masalah karena memang sudah terbiasa sehingga praktis prediksi saya mengatakan belum akan ada perbaikan jalan ini dalam waktu dekat.


Tiba di lokasi, sepi. Maklum karena hari sudah sore dan bukan merupakan hari libur atau akhir pekan. Hanya ada 1 warung kecil yang penjualnya sekaligus merangkap sebagai tukang parkir. 

Di lokasi parkir sudah ada beberapa motor, satu motor terdapat 2 helm. Ini artinya pengunjung rata-rata adalah orang pacaran. Ya memang harus diakui, orang pacaran lebih detil dalam menemukan lokasi-lokasi wisata yang pemandangannya bagus, sepi, kalo perlu yang masukknya gratis,dsb.


gerbang masuk dari jalan raya

Motor di parkir, kamera saya keluarkan lalu mulai merekam keindahan lokasi ini. Tukang parkir mendatangi saya, lalu mulai mengajak ngobrol tentang lokasi ini. Dengan sangat bersemangat ia menceritakan semua yang ia ketahui dengan gaya penjelasan yang sangat menarik, mudah difahami. Dari hasil ngobrol tersebut saya mendapatkan banyak info:

Landasan Gantolle di Solo dan sekitarnya hanya ada 2, yang pertama di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar dan kedua di tempat ini


  • Landasan Kemuning berada di ketinggian, sehingga penerbang dari sini tinggal meluncur saja dan bermanuver kemana-mana. Landasan Wonogiri ini lebih rendah, sehingga penerbang setelah meluncur harus bisa beradaptasi dengan angin agar bisa naik sebelum melakukan manuver atau atraksi lain
  • Tipikal cuacanya, Landasan Kemuning sering tertutup kabut sehingga ketika kabut tebal penerbang tidak berani meluncur. Berbeda dengan Wonogiri, disini tanpa kabut.

salah satu view ketika setengah nanjak

Puas mendengarkan cerita dari tukang parkir yang sudah sangat mirip Guide Wisata ini saya berpamitan untuk melihat lokasi di atas. Dengan gaya pemaparan yang sebegitu detail harusnya ia jadi seorang guide saja.. Tapi untuk lokasi simpel seperti ini mungkin tidak banyak orang yang berminat menyewa jasa guide.

Tiba di atas, subhanallah..ternyata sangat indah. Selepas mata memandang akan kita temukan view Waduk Gajah Mungkur yang sangat luas, jalan raya, jembatan, ladang sangat mendamaikan. 

Apalagi saat itu lumayan sepi, tempat sempurna untuk melamun :-D dan pasti suatu hari saya akan kembali kesini lagi. Tepat hari itu ada event besar skala nasional, acaranya Satpol PP dari seluruh Indonesia berkumpul di Waduk Gajah Mungkur, tambah makin ramai di lapangan waduk..dan lagi-lagi bisa leluasa kita lihat dari tempat ini.


jajal zoom kamera

Cukup, bagi saya cukup niat, berangkat, menikmati perjalanan, menikmati lokasi yang indah, mendokumentasikan lalu pulang. Travelling tidak harus mahal..

Sabtu, 14 Desember 2013

Ban trail dipakai di aspal


Pernah sempat terbesit pertanyaan tersebut sebelum akhirnya saya benar-benar memakainya dan merasakannya secara langsung. Dan sekarang saya merasakan sendiri efeknya bahwa memang ini hal yang tidak biasa, tidak wajar. 


Dan tiap sesuatu yang tidak wajar itu ada konsekuensi yang harus kita hadapi. Postingan kali ini berkaitan dengan otomotif dan safety riding. Dan yang saya tulis adalah pengalaman saya selama lebih dari setahun menggunakan ban trail atau sering disebut ban tahu untuk jalan di daerah perkotaan dan hampir semuanya di aspal. 

Langsung ke plus minus terlebih dahulu sebelum saya mengupasnya lebih jauh. 

Plus: 

  • Dual mode, di aspal masih jalan, di lumpur handal 
  • Kontrol rem bagus, selama masih punya gigi bannya 
  • Lebih garang, sudah pasti. Kesan adventure langsung terasa tanpa harus ditulisi atau di kasih stiker bergaya adventure. 
  • Jadi pusat perhatian, sudah pasti. Di lampu merah, parkiran dan tempat umum lainnya pasti jadi pusat perhatian karena lain dari yang lain 


Minus: 

  • Angkatan berat. Sudah pasti menguras lebih banyak bbm dan mengurangi kecepatan dengan cukup signifikan. Wajar, karena gigitan ke aspal lebih banyak. 
  • Jalan tidak mulus, walaupun berapa persen tapi tetap terasa bahwa jalan mulus menjadi sedikit kasar karena faktor gigi ban. Kenyamanan akan terkurangi 
  • Boros juga. Karena gigitan ke aspal lebih kuat menjadikan grip akan mudah habis. Berbeda dengan grip rata khas ban aspal, cenderung lebih awet karena kekuatan gigitannya juga lebih rendah. Rata-rata kurang dari setahun sudah harus ganti. 

Penilaian saya secara keseluruhan: Memakai ban trail di aspal itu aman dan nyaman dalam batas tertentu. Saya lebih memilih ban trail karena dengan konsekuensi minus diatas, ada yang saya dapatkan. 

Yakni kemudahan melibas segala medan, handling yang bagus dalam arti gigitan ke aspal lebih kuat dan pengereman lebih optimal sehingga resiko ban ngesot karena ngerem mendadak dapat diinimalkan. Selebihnya, kembali ke pribadi masing-masing. Bagaimana denganmu?

Rabu, 06 November 2013

Musim gugur di UNS

Sesuatu yang berbeda biasanya akan mendapati apresiasi yang istimewa. Entah itu positif maupun negatif. Sama halnya dengan "musim gugur", lazimnya di alami oleh negara yang mempunyai 4 musim. Sedangkan di Indonesia hanya 2 musim..namun di UNS kita bisa merasakan musim gugur tersebut. 



Memang bukanlah bunga sakura yang berguguran layaknya di Jepang, namun bunga Angsana yang banyak tumbuh di area kampus UNS pada.musim tertentu menggugurkan bunga-bunga indahnya. 

Dan ini menjadi sebuah fenomena atau moment yang sangat ditunggu oleh mahasiswa, dosen, karyawan dsb. Karena memang khas, memberikan nuansa dan aroma yang berbeda dari biasanya. 



Seperti berada di luar negeri. Moment ini biasanya terjadi ketika awal musim penghujan. Dan hanya terjadi sekitar 3-4 hari saja. Selebihnya seolah tidak terjadi apa-apa. Waktu yang singkat ini dimanfaatkan dengan baik oleh pecinta fotografi, jalan-jalan atau yang sekedar merindukan nuansa berbeda. 

Selebihnya, biar foto yang melanjutkan cerita ini. Dan musim yang akan datang akan selalu dinatikan oleh banyak orang... 

Autumn at UNS