Tampilkan postingan dengan label 7.6. Piramida Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 7.6. Piramida Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Agustus 2015

Banyak Situs Belum Terungkap di Gunung Padang

Banyak Situs Belum Terungkap di Gunung Padang

 0
Cianjur, bogorpos.com – Banyak situs belum terungkap di sekitar kawasan Gunung Padang Dusun Karyamukti, Kelurahan Campaka Cianjur Jawa Barat, terutama di sekitar bukit dan lembah yang mengelilingi situs megalitikum itu.
“Banyak situs-situs di sekitar Gunung Padang belum terungkap dan semuanya diperkirakan masih saling berhubungan,” kata Juru Pelihara Gunung Padang Nanang.
Menurutnya dia menemukan sejumlah batu yang jenis dan bentuknya mirip dengan batuan andesit yang berada di Gunung Padang. Beberapa di antaranya berada di perbukitan yang mengelilingi Gunung Padang salah satunya yakni di Gunung Karuhun.
“Saya sudah ke sana ada beberapa batu yang bentuknya seperti batu-batu tertata yang bentuk dan jenisnya mirip dengan yang ada di Gunung Padang,” katanya.
Meskipun tidak banyak, penemuan serupa juga dijumpai di bukit di sebelah timur Gunung Padang yakni Pasir Buluh. Nanang menambahkan, di Bukit Ciwangun ditemukan makam-makam dengan batuan yang sangat mirip dengan yang ada di situs megalit Gunung Padang.
“Kemungkinan batu tersebut dari sini. Selain itu di Gunung Batu ada dua batu seperti menhir berdiri,” ujarnya.
Nanang juga menemukan empat batu serupa di dekat aliran Sungai Cipanggulaan dan batu-batu datar di Lembah Cihandeleum.
“Sepertinya ini adalah sebuah kawasan tapi belum diteliti secara ilmiah. Saya percaya ada lebih dari satu,” jelas Nanang.
Sayangnya zona-zona yang seharusnya menjadi zona penyangga situs Gunung Padang masih dihuni oleh penduduk.
“Ada tiga dusun yang berada di sekitar Gunung Padang yakni Kampung Cipamulaan, Kampung Cipangaulaan, dan Kampung Cipanggulaan,” pungkasnya.
Ia berharap pemerintah mulai mengembangkan Gunung Padang melalui zonasi yang baik agar tetap terjaga kelestarian namun tetap memberikan manfaat secara ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Sumber:
http://bogorpos.com/2015/07/29/banyak-situs-belum-terungkap-di-gunung-padang/



Hasil Penelitian Gunung Padang Dipublikasikan

Hasil Penelitian Gunung Padang Dipublikasikan

Para arkeolog melintas di Teras IV Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2013). Sejumlah arkeolog dan geolog dari beberapa universitas melakukan kunjungan ke situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara tersebut. (JIBI/SOLOPOS/Antara)








Para arkeolog melintas di Teras IV Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (11/5/2013). Sejumlah arkeolog dan geolog dari beberapa universitas melakukan kunjungan ke situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara tersebut. (JIBI/SOLOPOS/Antara)
Situs Gunung Padang yang kontroversial telah diteliti dan hasilnya akan dipublikasikan.
Solopos.com, JAKARTA – Seluruh hasil penelitian di situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akan dipublikasikan baik di tingkat nasional maupun internasional.
“Iya saat ini [masing-masing peneliti dan ahli] memang sedang menyiapkan untuk publikasi [ilmiah],” kata Ketua Tim Terpadu Mandiri Riset (TTMR) Gunung Padang Ali Akbar di Jakarta, Sabtu (30/5/2015).
Sebelumnya, ia mengatakan sudah melakukan publikasi nasional dalam bentuk buku Situs Gunung Padang: Misteri dan Arkeologi. Namun untuk publikasi internasional masih dalam tahap pengeditan.
“Tahun lalu saya jadi pembicara seminar internasional di Korea Selatan tentang Megalitik di Asia dan Pasifik. Beberapa makalah yang terpilih dari seminar tersebut rencananya diterbitkan dalam bentuk buku di Inggris,” ujar Ali.
Sebelumnya, ahli geologi LIPI Danny Hilman mengatakan penelitian di situs Gunung Padang tetap akan dilanjutkan. Namun untuk saat ini tim memiliki tugas utama untuk membuat publikasi ilmiah.
“Penelitian sih masih jalan, tapi ya itu, kok orang-orang ini pada tidak serius ya sudah capek dibuka disuruh ditutup lagi. Tapi tugas utama kita sekarang memang untuk publikasi dulu, kalau belum ada publikasi resmi orang masih bisa ngomong macam-macam,” kata Danny.
Dari segi geologi, ia mengatakan masih banyak yang bisa dilakukan untuk mengungkap misteri situs Gunung Padang. “Kita sudah mencitrakan permukaan struktur bangunan cukup baik. Tapi kami belum sampai pada ruang utama di dalam situs,” kata dia.
Namun secara keseluruhan, menurut dia, tahap selanjutnya yang memang harus dilakukan adalah pemugaran agar seluruh bangunan tampak dan tidak ada lagi perdebatan.
“Karena sebelumnya waktu kita gali di lima atau enam lokasi itu [struktur] sudah tampak. Maunya kita memang galian jangan ditutup lagi, kan bisa diawetkan jadi orang bisa lihat. Kalau yang tidak bisa setuju juga jadi bisa lihat dan berdebat di situ, kira-kira apa yang tidak disetujui,” ujar Danny.
Ia pun merasa aneh dengan peraturan dari kementerian terkait yang mengharuskan galian di situs tersebut ditimbun lagi.
“Tapi ya itu bukan sesuatu yang prinsipil untuk diperdebatkan. Yang disayangkan orang-orang tidak serius mengungkap misteri situs Gunung Padang, padahal ini bermanfaat besar bagi ilmu dan pariwisata Indonesia,” imbuh dia.

Sumber:
http://www.solopos.com/2015/05/30/situs-gunung-padang-hasil-penelitian-gunung-padang-dipublikasikan-609550


Aneh! Di Gunung Padang Ada Batu yang Dapat Membungkus Dirinya Sendiri


Aneh! Di Gunung Padang Ada Batu yang Dapat Membungkus Dirinya Sendiri
Kamis, 09 Juli 2015 , 00:50:00 WIB

Laporan: Dar Edi Yoga

FOTO:TTRM/RMOL
  


RMOL. Punden berundak situs megalitikum Gunung Padang yang berusia belasan ribu tahun sebelum Masehi dan terletak di desa Karyamukti, Campaka, Cianjur, Jawa Barat menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap hingga kini.

Salah satu yang menghebohkan tahun lalu, adalah penemuan batu bulat berwarna hitam yang diduga buatan tangan manusia. Tim peneliti menyebutnya sebagai Rolling Stones karena bisa berputar ke berbagai arah dengan dikelilingi batu berbentuk cincin (batu di dalam batu).

Menurut salah satu peneliti Tim Riset Mandiri Gunung Padang, Wisnu Ariastika, keberadaan batu hitam sangat aneh, karena ketika pertama kali ditemukan di kedalaman 9 meter batu hitam itu dalam kondisi terbuka sebagian sehingga batu bulat di dalamnya dapat diputar seperti mouse komputer.

"Namun ketika batu itu diangkat ke permukaan dan diletakan di teras lima, batu yang semula terbuka itu menutup kembali sehingga batu bulat di dalamnya tidak terlihat lagi," jelas Wisnu di hadapan Pembina TTRM Laksamana TNI Ade Supandi dalam acara buka puasa bersama, di rumah dinas Kasal, di Jalan Diponegoro 38 Jakarta Pusat, Rabu, (8/7). 

Diungkapkannya pula, batu hitam itu bukan membesar, tapi kulit batu menutup menyeluruh, sehingga membuat prajurit TNI dan anggota TTRM terkesima karena melihat fenomena yang sangat aneh itu.

"Ketika batu hitam tersebut dicoba digergaji, tiba-tiba salah satu juru pelihara Gunung Padang, Nanang berteriak kesakitan dan berkata bila batu itu terus digergaji maka kepala Nanang serasa akan pecah. Dan akhirnya batu hitam pun tidak jadi digergaji," ujar Wisnu.

Batu hitam aneh tersebut sudah dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Di tempat batu hitam ditemukan terdapat pula beberapa batu hitam sejenis lainnya dengan ukuran sekitar 70 cm dan 80 cm, namun tidak dibawa ke atas oleh para peneliti dan TNI yang membantu penggalian.

Sementara itu inisiator TTRM Andi arief mengatakan bahwa semua material hasil penggalian telah dikembalikan ke tempat semula. Hingga kini fenomena batu hitam itu masih tetap menjadi misteri. Dan Andi Arief berharap agar semua pihak bisa menerima apa yang telah dilakukan TTRM.

"Mbahnya arkeolog Asia beberapa waktu yang lalu sudah menyatakan bahwa ada sesuatu di Gunung Padang. Dan TTRM mendapat apresiasi dari masyarakat arkeolog dunia dalam hal metode penelitian," jelas Andi Arief.

Semua temuan, tegas Andi Arief, telah dibawa ke laboratorium. Minimal ada enam artefak yang telah dibawa ke laboratorium di Batan dan Miami yang mana semua itu adalah buatan manusia, seperti semen purba, Kujang, Carbon Dating dan Coin.

"Banyak pihak dari luar negeri yang menawarkan kerjasama penelitian dan juga publikasi," ujar Andi Arief. [rus]



Sumber:
http://www.rmol.co/read/2015/07/09/209399/Aneh!-Di-Gunung-Padang-Ada-Batu-yang-Dapat-Membungkus-Dirinya-Sendiri-




Minggu, 19 Juli 2015

Situs Gunung Padang: Hasil Penelitian Dikaji Ulang

Situs Gunung Padang: Hasil Penelitian Dikaji Ulang

Pemerintah sedang menyiapkan desain penelitian jangka panjang terhadap Situs Gunung Padang di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sebagai langkah awal, hasil-hasil penelitian yang selama ini sudah berjalan akan dikaji ulang terlebih dulu.
Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kacung Marijan mengatakan, desain penelitian jangka panjang ini dilakukan untuk membuktikan mana pemahaman yang benar dan yang tidak antara peneliti yang satu dan peneliti yang lain. Langkah itu juga untuk mengembalikan penelitian Gunung Padang pada ranah penelitian akademik.
“Kita ingin mengembalikannya pada penelitian akademik murni. Tidak ada lagi tekanan dari kanan atau kiri,” katanya, di Jakarta, Senin (27/4).
Akhir tahun lalu pemerintah telah membentuk Tim Nasional Penelitian dan Pengelolaan Situs Gunung Padang yang diketuai Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Harry Widianto. Namun, penelitian belum bisa dimulai karena Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan meminta tim untuk memperbarui proposal.
Menurut Kacung, tim nasional melibatkan banyak ahli dan bukan sekadar kelompok eksklusif tertentu. Penelitiannya nanti dilakukan secara transparan dan bisa dipantau publik sehingga perdebatan akademik bisa dilakukan secara terbuka.
Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang tahun 2014 telah melakukan pengeboran dan ekskavasi di Situs Gunung Padang. Tim yakin menemukan hal-hal baru, tetapi banyak arkeolog dan geolog membantahnya dengan berbagai alasan.

Tunggu pembuktian baru

Secara terpisah, dosen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sekaligus mantan Ketua Arkeologi TTRM Gunung Padang, Ali Akbar, mengatakan, pihaknya siap menerima masukan dan pembuktian baru dari arkeolog lain tentang situs tersebut. Dalam penelitian di Gunung Padang, TTRM melibatkan para ahli dari berbagai disiplin ilmu.
“Kami menggunakan data pengeboran, georadar, dan geolistrik dalam penelitian. Hal seperti ini tidak pernah dilakukan para arkeolog di Indonesia yang masih setia dengan teknik-teknik penggalian konvensional,” kata Ali Akbar.
Dari hasil pengeboran dan ekskavasi, TTRM mengklaim beberapa temuan baru, seperti koin logam, lapisan semacam “semen purba”, hingga batuan berbentuk “kujang” dengan tekstur pangkasan pada tiga sisinya. Berdasarkan penanggalan karbon di kedalaman 11 meter, usia Gunung Padang diperkirakan 5.200 Sebelum Masehi.
“Konstruksi Gunung Padang mirip seperti Machu Picchu di Peru. Di setiap meter, ada jeda lapisan tanah dan setelah digali ada struktur batu lagi di bawahnya,” katanya.(ABK)
(Sumber: Kompas, Selasa, 28 April 2015)

Kamis, 30 April 2015

Adakah Kaitan Bukit Batu Heksagonal di Bima dan Gunung Padang di Cianjur?


Kamis, 30/04/2015 08:55 WIB

Adakah Kaitan Bukit Batu Heksagonal di Bima dan Gunung Padang di Cianjur?

Elza Astari Retaduari - detikNews

Adakah Kaitan Bukit Batu Heksagonal di Bima dan Gunung Padang di Cianjur?
Jakarta - Tim Geologi Ekspedisi NKRI 2015 Koridor Kepulauan Nusa Tenggara menemukan bukit berisi tumpukan batu heksagonal di Tanjung Meriam, Kecamatan Lambu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Susunan batu yang tersusun rapi itu mirip dengan susunan batu di Gunung Padang, Cianjur. Adakah kaitan antara keduanya?

"Jenis batunya sama," kata Ketua Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) Ali Akbar, Kamis (30/4/2015).

Menurut Ali, batuannya sama yaitu columnar joint. Batuan seperti ini secara geologi terbentuk secara alami di alam.

"Di Gunung Padang secara alami tidak ditemukan columnar joint. Hasil ekskvasi di lokasi yang diduga sebagai sumber batu hanya memperoleh tanah. Artinya sumber batuan columnar joint tidak ada di situs Gunung Padang itu sendiri," urai dia.

Jadi di Gunung Padang sendiri tidak ada sumber batu columnar joint, jadi ada campur tangan manusia sehingga batu itu bisa sampai ke Gunung Padang.

Sedang untuk di Bima, menurut dosen Arkeologi UI ini, perlu dilakukan penelusuran lebih mendalam apakah batuan alam, atau sudah ada campur tangan manusia.

"Kemungkinan itu alami, tapi perlu diteliti adakah bagian tertentu yang kemudian dipindahkan lalu disusun menjadi suatu struktur. Secara arkeologi, manusia akan bermukim di suatu lokasi yang menyediakan sumber daya alam sehingga dapat mempermudah kehidupannya," urai Ali
Ali mengungkapkan, kemungkinan besar bebatuan di pulau itu alami tapi masyarakat zaman dulu mengambil bahan material tersebut lalu membangun suatu struktur atau bangunan batu tidak jauh dari situ.

"Sebagai gambaran, di Situs Gunung Padang tidak ditemukan sumber batuan, tetapi satu kilometer di selatan Gunung Padang banyak ditemukan formasi batuan colmunar joint yang masih alami tertancap di tanah," tutur dia.

Di Bima, hampir seluruh bukit dipenuhi batu dengan bentuk dan ukuran yang mirip. Anggota Tim Geologi Subkorwil 4/Bima, Masykur mengatakan, batu berwarna hitam tersebut merupakan jenis batuan beku dengan struktur columnar joint. Columnar joint merupakan struktur batuan yang berupa pilar-pilar/kolom-kolom yang tersusun rapi.

"Itu proses pembekuan magma dari perut bumi. Tapi begitu mendekati permukaan langsung membeku. Proses pembekuannya cepat sekali," kata Masykur saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (24/4). Bukit batu heksagonal itu juga dikeramatkan para penduduk. Ada yang percaya bekas peninggalan kerajaan Bima kuno.

(ndr/mad)

Sumber:
http://news.detik.com/read/2015/04/30/085502/2902095/10/adakah-kaitan-bukit-batu-heksagonal-di-bima-dan-gunung-padang-di-cianjur



Arkeolog Temukan Kaitan Jejak Situs Gunung Padang dengan Pantai Selatan


Kamis, 30/04/2015 08:21 WIB

Arkeolog Temukan Kaitan Jejak Situs Gunung Padang dengan Pantai Selatan

Elza Astari Retaduari - detikNews
Arkeolog Temukan Kaitan Jejak Situs Gunung Padang dengan Pantai Selatan
Jakarta - Situs purbakala Gunung Padang masih menyimpan banyak kisah. Tim Arkeolog dari Masyarakat Arkeologi Indonesia (MARI) yang melakukan lacak artefak menemukan sejumlah bukti kawasan di sekitar Gunung Padang terdapat peninggalan prasejarah.

"Situs-situs yang mengelilingi Situs Gunung Padang umumnya berupa gunung atau bukit yang di dalam bahasa Sunda disebut Pasir. Peninggalan yang diperoleh di bukit-bukit tersebut antara lain berupa struktur batu seperti kursi batu, batu tegak atau menhir, dan juga bangunan berundak-undak atau lazim disebut punden berundak," jelas Ketua MARI Ali Akbar, Kamis (30/4/2015).

Menurut dosen arkeologi UI ini, lokasi penemuan tersebar di Gunung Karuhun, Pasir Empet, Gunung Melati, Pasir Keramat, Gunung Rosa, Pasir Mala, Pasir Malang, Pasir Legok Kadu, Cibeureum, dan Pasir Pogor. MARI memberi rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk segera melakukan perlindungan terhadap Kawasan Gunung Padang agar tetap lestari.

"Penemuan yang cukup banyak juga terdapat di selatan Situs Gunung Padang. Terdapat indikasi temuan-temuan tersebut mengarah ke selatan dan bercorak budaya maritim, mengingat jarak Situs Gunung Padang dengan laut hanya sekitar 66 kilometer. Oleh karena itu, ke depan akan dilaksanakan penelitian dari Situs Gunung Padang sampai Pantai Selatan," urai dia.

Ali menyampaikan, lacak artefak di kawasan Gunung Padang oleh MARI berhasil menemukan sedikitnya 10 situs arkeologi di sekitar situs Gunung Padang. Lacak Artefak dilaksanakan 3-5 April 2015 lalu dengan melibatkan komunitas pejalan kaki, motor trail, sepeda gunung, trail runner, dan pilot drone dengan dipandu oleh para arkeolog.

Hasil kegiatan dipresentasikan kepada Wakil Gubernur Jawa Barat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, akademisi, peneliti, dan budayawan di Gedung Sate, Bandung 28 April 2015.

Situs Gunung Padang yang mempunyai luas 29,1 hektar ternyata dikelilingi situs-situs arkeologi dalam radius 2 kilometer dari Situs Gunung Padang. Bahkan dalam radius 5 kilometer masih dijumpai situs-situs arkeologi sehingga lebih tepat disebut sebagai Kawasan Gunung Padang.

"Kawasan secara ilmu arkeologi adalah area yang terdiri atas dua situs atau lebih yang saling terkait dan membentuk kebudayaan yang khas. Kebudayaan yang dimaksud di sini adalah terdapat bangunan-bangunan purbakala yang dibuat dari batu besar (megalitik). Situs Gunung Padang itu sendiri berdasarkan uji pertanggalan absolut di dua laboratorium menunjukkan usia 5200 Sebelum Masehi," tutup dia.


(ear/ndr)

Sumber:
http://news.detik.com/read/2015/04/30/081838/2902067/10/arkeolog-temukan-kaitan-jejak-situs-gunung-padang-dengan-pantai-selatan




Senin, 27 April 2015

Situs Gunung Padang Peninggalan Zaman Es?

Situs Gunung Padang Peninggalan Zaman Es?

Tuesday, 24 March 2015, 19:40 WIB
ROL/Santi Sopia
Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat
Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Hasil survei Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) pada 2011 yang menunjukkan bahwa situs Gunung Padang berujung pada penemuan bahwa umur lapisan bangunan batu di sana diperkirakan dibangun sejak Zaman Es. 

Temuan ini cukup membuat kegemparan. Pasalnya manusia di Zaman Es dipercaya masih sangat primitif sehingga tidak dapat membuat bangunan dengan struktur baik.

"Oleh karena itu, dapat dipahami apabila temuan ini dianggap sebagai "ajaran sesat" oleh kalangan umum ahli arkeologi," terang Danny Hilman Natawidjaja di Gedung 10 Kampus LIPI Bandung, Selasa (24/3)

Penemuan tersebut tentunya bertentangan dengan pengetahuan selama ini bahwa masyarakat pada Zaman Es merupakan masyarakat yang sangat primitif. Oleh karena itu, temuan baru di Gunung Padang dapat menjadi sebuah terobosan dalam mengetahui sejarah manusia dan ilmu pengetahuan.

Hingga saat ini, penemuan bahwa kedua situs di Gunung Padang dan Gobekli Tepe berasal dari Zaman Es masih sukar dijelaskan oleh ilmu pengetahuan saat ini tentang sejarah peradaban manusia. 

Pada 2011, ahli geologi Danny Hilman Natawidjaja beserta tim yang tergabung dalam TTRM memiliki dugaan bahwa bukit Gunung Padang merupakan bukit buatan manusia. Karena itu, ia dan timnya melakukan eksplorasi dengan teknologi pemindai yang mutakhir dala, bidang geologi dan geofisika. 

Salah satunya menggunakan metoda Ground Penetrating Radar (GPR) yang dikenal dengan georadar. Selain itu TTRM juga menggunakan tomografi seismik, survey strukturn resistivitas. TTRM juga melakukan banyak penggalian langsung di lokasi serta mengambil sampel mata bor yang dalam.

"Survei yang intensif dan komprehensif memperlihatkan bahwa Gunung Padang adalah bangunan sangat besar," lanjutnya.

Bangunan besar ini, lanjut Danny, disertai dengan multi-lapisan artifisial dari blok-blok batu andesit. Blok-blok batu ini tidak hanya menempati bagian puncaknya, tetapi juga di seluruh badan bukit. Dari survei tersebut, ditemukan juga buikti-bukti kuat bahwa terdapat lorong-lorong di ruang bawah tanah, di dalam Gunung Padang. 

Situs Gunung Padang yang merupakan bangunan megalit ini juga ditemukan memiliki usia yang lebih tua dari yang diperkirakan. Struktur megalit termuda di bagian permukaannuandiperkirakan berumur sekitar 2.500-3.500 tahun. 

Kemudian, analisa karbon terhadap artifisial di lapisan kedua yang hanya tertimbun beberapa meter di dalam tanah menunjukkan bahwa usianya sekitar 6.700-7.000 tahun atau berasal dari tahun 4.700-5.000 SM.

Sedangkan sampel di lapisan ketiga pada kedalaman 5 m hingga 15 m memiliki hasil yang beragam. Ada yang menunjukkan berasal dari 9.500 tahun yang lalu, ada pula yang menunjukkan sudah berusia sekitar 10 ribu hingga 28 ribu tahun.

"Sudah dapat dikatakan bahwa Gunung Padang mulai dibangun sejak Zaman Es, di mana leluhur kita diyakini masih primitif," jelas Danny.

Zaman es

Puncak Zaman Es, atau Zaman Es terakhir dimulai sekitar 20 ribu tahun lalu. Bencana katastrofi global ini diindikasikan kuat terjadi pada masaYounger Dryas (YD) sekitar 12.900 hingga 11.600 tahun lalu.  YD ditandai dengan turunnya suhu bumi secara drastis yang membuat bumi kembali membeku selama 1.300 tahun. 

YD atau zaman es ini kemudian diakhiri dengan naiknya suhu bumi secara mendadak dan menandai dimulainya masa Holosen. Danny menjelaskan, "secara kebetulan" berdasarkan sejarah, peradaban manusia saat ini dimulai sejak awal Holosen atau sejak YD berakhir. 

Hal ini tentu menimbulkan misteri karena, jika peradaban manusia saat ini baru ada sejak awal Holosen, adanya temuan situs Gunung Padang akan menimbulkan teka-teki mengenai peradaban apa yang membangun situs tersebut.

"Jadi, misteri besarnya, apakah peradaban dunia yang kita kenal sekarang adalah satu-satunya peradaban sejak munculnya manusia modern?" ungkap Danny.
Reporter : C01
Redaktur : Yudha Manggala P Putra


Sumber:
http://www.republika.co.id/

Geolog Inggris sebut Gunung Padang piramida tertua di dunia

Geolog Inggris sebut Gunung Padang piramida tertua di dunia

Reporter : Marcheilla Ariesta Putri Hanggoro | Kamis, 2 April 2015 11:02
Geolog Inggris sebut Gunung Padang piramida tertua di dunia
Situs Gunung Padang. ©2012 Merdeka.com/arie basuki
Merdeka.com - Situs Megalitikum Gunung Padang merupakan situs piramida peninggalan tertua di dunia. Terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Indonesia, situs ini dibuat sekitar 9.000 hingga 20.000 tahun lalu, mengalahkan piramida Mesir yang dibuat hampir 5.000 tahun lalu.
Hal ini diungkapkan oleh ahli Geologi Dr. Danny Hilman. Menurutnya, situs yang ditemukan sekitar 1914 ini merupakan salah satu situs peninggalan sejarah terbesar di Indonesia.
Situs ini terletak di antara gunung berapi, pohon pisang, dan perkebunan teh diatas 885 meter di atas permukaan laut, dan memiliki jarak sekitar 120 kilometer dari selatan Ibu Kota Jakarta.
Situs yang terdiri dari puing-puing vulkanik yang dimulai dari lereng gunung ini dianggap sakral oleh masyarakat lokal Sunda. Hilman sendiri juga mengatakan situs itu sepertinya memang dibangun untuk ibadah.
"Jika memang itu untuk melakukan ritual ibadah, orang-orang pra sejarah pasti harus mendaki sambil menumpuk batu-batu itu untuk dibuat piramida. Cara menumpuk memang cukup kuno dalam pembangunan," katanya, seperti dilansir dari surat kabar Daily Mail, Kamis (2/4).
Hilman yang merupakan ahli geologi dari Pusat Geoteknik Indonesia mengatakan sebagian orang berpikir orang-orang prasejarah itu primitif, namun dari monumen yang mereka tinggalkan rupanya hal tersebut tidak benar.
Dia percaya, piramida seperti yang ada di Gunung Padang itu akan jadi bukti peradaban kuno maju di Jawa.
"Sebagian besar situs itu buatan manusia, mungkin dibangun oleh generasi beberapa abad sebelum kita," katanya.

[ard]

Sumber:
http://www.merdeka.com/dunia/geolog-inggris-sebut-gunung-padang-piramida-tertua-di-dunia.html

Gunung Padang Sembunyikan Piramida Tertua di Dunia?

Gunung Padang Sembunyikan Piramida Tertua di Dunia?

Kamis,  2 April 2015  −  11:54 WIB
Gunung Padang Sembunyikan Piramida Tertua di Dunia
Gunung Padang diyakini menyembunyikan piramida terbesar di dunia. | (Fairfax Media/Getty)
JAKARTA - Sejumlah media asing mulai mengulas situs kuno di Gunung Padang, Jawa Barat. Media-media asing mencoba menganalisa klaim bahwa Gunung Pada menyembunyikan bangunan piramida tertua di dunia.
 
Klaim itu semula muncul dari pakar geologi, Dr Danny Hilman. Menurutnya, situs kuno di Gunung Padang itu berusia antara 9 ribu hingga 20 ribu tahun. Selain itu di situs tersebut terdapat bukit buatan manusia yang strukturnya mirip bangunan piramida.
 
Dua media asing yang mengulas misteri situs kuno di Gunung Padang itu adalah media Australia, Sydney Morning Herald dan media Inggris, Daily Mail. Dalam pemberitaan Kamis (2/4/2015), Daily Mail, menulis, piramida tua di Mesir berusia sekitar 5 ribu tahun. Namun, puing-puing bangunan di situs Gunung Padang usianya diperkirakan empat kali lebih tua dari piramida di Mesir.
 
Jika klaim dan analisa itu benar, maka peradaban kuno di sekitar Gunung Padang sudah maju dan kuat. Situs Megalitik di Gunung Padang sejatinya ditemukan pada tahun 1914 dan diklaim sebagai situs terbesar dari jenisnya yang pernah ada di Indonesia.
 
Pada tahun 1996, seorang arkeolog pernah menemukan piramida di pantai Atlantik, Brasil selatan yang dibangun sekitar 3 ribu sebelum Masehi (SM). Piramida di Brasil ini juga diklaim lebih tua dari piramida yang ada di Mesir.
 
Dr Hilman, seorang ahli geologi senior di Pusat Penelitian Geoteknik Indonesia, mengatakan bahwa bukti struktur situs kuno di Gunung Padang terletak di bawah tanah. “Orang-orang berpikir usia prasejarah itu primitif, tapi monumen ini membuktikan bahwa itu salah,” kata Hilman. Ia percaya piramida seperti itu akan menjadi bukti peradaban kuno yang maju di tanah Jawa.
 
Media Australia, dalam ulasannya menyatakan temuan situs Gunung Padang adalah sesuatu yang luar biasa. “Penggalian telah didukung oleh pemerintah Indonesia, yang baru-baru ini memutuskan bahwa bagian atas Gunung Padang adalah struktur megalitik terbesar di Asia Tenggara,” demikian ulasan Sydney Morning Herald.
 
Susilo Bambang Yudhoyono, yang menjabat sebagai Presiden Indonesia saat situs Gunung Padang mulai diteliti, pernah mengatakan, bahwa tugas meneliti situs itu merupakan tugas penting dan bersejarah untuk kemanusiaan.
 


(mas)
http://international.sindonews.com/read/984374/40/gunung-padang-sembunyikan-piramida-tertua-di-dunia-1427950447