Ada kolam karbondioksida di dasar laut Santorini (Wikipedia)
Liputan6.com, Santorini -Sekitar 3.600 tahun lalu, erupsi dahsyat gunung berapi terjadi di Kepulauan Santorini yang terletak di Laut Aegea, Yunani. Letusan tersebut melenyapkan peradaban Minoa yang ada di Pulau Kreta yang ada di dekatnya. Sebuah peristiwa kolosal yang mungkin menginspirasi mitos yang menyandera imaji manusia: misteri peradabanAtlantisyang hilang.
Letusan gunung di Santorini melepaskan 60 km kubik magma, 6 kali lipat yang dimuntahkan Krakatau pada 1883. Hanya erupsi Tambora, yang juga ada di Indonesia, pada 1815, yang mengalahkan kedahsyatannya.
Dari udara, kaldera bekas erupsi terlihat seperti gugusan yang dikelilingi pulau-pulau yang luasnya lebih besar di Laut Aegea. Selama lebih dari 4 ribu tahun pascaletusan, kaldera yang sebagian besar berada di bawah air mengalami serangkaian letusan kecil. Santorini pernah menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya pada Januari 2011 sebelum akhirnya kembali "tidur".
Baru-baru ini, menggunakan kendaraan otonom bawah air, para ilmuwan menguak keberadaan sejumlah kolam dengan air berwarna putih berkilauan di dasar laut Santorini. Di kedalaman mencapai 250 meter.
Kolam karbondioksida di dasar laut Santorini ( Rich Camilli, Woods Hole Oceanographic Institution)
Air tersebut keluar dari kaldera gunung berapi. "Kolam susu" yang sebelumnya tak pernah dilihat mata manusia itu dijulukiKallisti Limnes-- yang berarti 'danau paling indah' dalam Bahasa Yunani Kuno.
Penampakannya terekam dalam video yang diambil kendaraan bawah laut pada Juli 2012. Kolam-kolam berdiameter 1-5 meter itu mengandung kadar karbondioksida yang tinggi, yang dapat membuat air padat dan cenderung membentuk genangan tersendiri di kedalaman laut.
"Seperti 'black and tan', campuran Guinness (bir hitam) dan Bass (ale), dua cairan tersebut nyatanya selalu terpisah," ujar Rich Camilli, ilmuwan Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), sekaligus pemimpin penulis studi yang dipublikasikan pada 16 Juli 2015 di jurnal Scientific Reports, seperti dikutip dari situs sains LiveScience, Rabu (22/7/2015).
"Erupsi gunung berapi Santorini pada 1600 sebelum Masehi melenyapkan peradaban Minoa yang tinggal di pesisir Laut Aegea," kata Camilli dalam pernyataannya. "Dan kini, kolam yang tak pernah terlihat di kawah gunung itu mungkin membantu peradaban kita menjawab pertanyaan penting tentang bagaimana perilaku karbondioksida di dalam laut."
Pulau yang indah itu, Santorini atau Thira, sebenarnya adalah tepi sebuah kaldera besar yang tersisa setelah letusan. Bagian dalam kaldera adalah titik aktivitas hidrotermal. Titik itu juga yang diinvestigasi Camilli dan para koleganya pada 2012 -- setahun setelah tanda-tanda peningkatan aktivitas terdeteksi.
Ada kolam karbondioksida di dasar laut Santorini (Wikipedia)
Menggunakan 2 kendaraan bawah air otonom, para peneliti mengeksplorasi kandungan kimia dalam air di kawah. Mereka menemukan kolam berisi cairan putih mirip susu di cekungan sepanjang dinding kaldera.
Memang, perbedaan massa pada air laut bukan kali pertama ditemukan. Faktanya, para peneliti sebelumnya meneliti kolam air garam yang memisahkan diri dari air laut di sekelilingnya -- karena kandungan garamnya yang ekstra tinggi.
"Namun, dalam kasus di Santorini peningkatan kepadatan kolam bukan dikarenakan kadar garam," kata Camilli. "Kami percaya mungkin CO2 lah yang membuat air padat dan memicu terbentuknya kolam terpisah."
Pengamatan para ilmuwan menarik. Sebab, karbon dioksida selama ini dianggap menyebar melalui laut setelah dilepaskan dari aktivitas geologi. Karbondioksida bawah tanah bisa berasal dari magma, batu kapur, atau batuan sedimen lain yang mengalami tekanan luar biasa.
Berkat kandungan karbondioksida, genangan tersebut memiliki kadar keasaman yang tinggi yang tak cocok dihuni makhluk bernyawa.
Namun, kolam itu masih mungkin menjadi rumah bagi organisme berkomposisi silika. Tubuh makhluk mikroskopis yang mirip kaca itu mungkin bisa menjelaskan warna opal dari kolam tersebut.
Temuan itu dapat membantu para peneliti memahami cara penyimpanan karbon bawah laut, salah satu cara yang potensial untuk memperbaiki kondisi akibat perubahan iklim.
Sekaligus juga menyediakan alat untuk memonitor potensi erupsi gunung di Santorini, pada masa yang akan datang.
Ditemukan Sungai Purba Sebagai Jejak Benua Atlantis
Temuan sungai purba Sundaland sebagai pintu masuk untuk membuktikan dugaan kalau Benua Atlantis yang hilang berada di Indonesia (Tim Katastropik Purba)
Jejak sungai purba ditemukan. Inilah jalan menemukan dugaan Benua Atlantis yang hilang berada di Indonesia.
DR Wahyu Triyoso adalah salah satu periset yang tergabung dalam Tim Katastropik Purba berhasil menemukan jejak sungai purba di beberapa segmen dataran Sundaland. Selama ini perdebatan tentang apakah ada dataran Sundaland dan peradabannya menjadi perdebatan serius di kalangan masyarakat akademik dan masyarakat dunia.
Pengajar di jurusan Geofisika ITB ini menjelaskan sungai purba ini berada dalam kisaran di saat ketinggian air laut berada di bawa 132 meter dari saat ini (dalam 20 ribu tahun terakhir).
"Jejak Sungai purba bukan sikap latah sekedar pembuktian hipotesa Sundaland. Jika kita tarik dan kita refleksikan ke hazard purba, kita musti mulai merenungi gagasan punctuated unifomitarianism secara lebih serius. Target dan fokus utamanya adalah mapping dan mengkuantifikasi paleo hazard atau hazard purba," kata Wahyu di Jakarta hari ini (18/2).
Temuan Sundaland ini cocok dengan temuan Profesor Openheimer, guru besar genetik dariOxford University yang banyak mempelajari sejarah peradaban. Openheimer berpendapat bahwa paparan Sunda (Sundaland) adalah merupakan cikal bakal peradaban kuno atau dalam bahasa agama sebagai Taman Eden. Istilah ini diserap dari kata dalam bahasa Ibrani Gan Eden. Dalam bahasa Indonesia disebut taman firdaus.
Prof Aryso Santos asal Brazil, penulis buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found yang bikin heboh karena menyebut benua Atlantis yang hilang sebagaimana disinyalir oleh Plato (427-347 SM) sebagai sumber peradaban manusia saat ini adalah ada di Sundaland.
Sundaland adalah hamparan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Langka, dan Indonesia bagian Barat meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa dan terus ke arah timur. Atlantis berpusat di Indonesia bagian barat sekarang. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung berapi aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.
Santos meyakini bahwa benua Atlantis adalah sebuah pulau besar bernama Sundaland, suatu wilayah yang kini ditempati Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Sekitar 11.600 tahun silam, benua itu tenggelam diterjang banjir besar seiring berakhirnya zaman es.
Dalam temuan Wahyu, jejak sungai purba menjadi jalan menemukan sebab musabab runtuhnya budaya yang tiba tiba atau hilang dari sejarah. "Ini bisa jadi gambaran efek dari satu bencana. Dengan prinsip reverse extrapolation, kita bisa menjejak sumbernya," ujarnya.
Para peneliti menggunakan 'jam molekuler', yang didasarkan pada jumlah mutasi DNA yang muncul untuk setiap generasi, untuk memperkirakan usia Adam.
Dream - Para ilmuwan dalam sebuah penelitian terbaru menyimpulkan, manusia ternyata berkembang lebih cepat dari dugaan sebelumnya. Itu mereka dapatkan setelah menemukan cara untuk menunjukkan jika semua manusia yang hidup bisa melacak nenek moyangnya.
Sebelumnya, para peneliti mengatakan bahwa nenek moyang manusia adalah seorang laki-laki yang hidup 250.000 tahun lalu. Penemuan tersebut disebut 'Genetic Adam'.
Namun dalam penemuan terbaru diketahui bahwa Adam hidup sekitar 100.000 tahun, lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Ini berarti kita telah berevolusi lebih cepat dari yang kita duga. Selain itu, studi ini menunjukkan bahwa nenek moyang laki-laki kita itu hidup bersamaan dengan perempuan yang disebut 'ikata Kari Stefaansson dari perusahaan penelitian kode genetikk deCODE Genetics dikutipDream.co.id dari laman The Guardian, Sabtu 28 Maret 2015.
Stefansson menambahkan bahwa seluruh perempuan di Bumi saat ini memiliki DNA dari Mitochondrial Eve.
Genetik Adam dan Hawa tersebut dipercaya bukan satu-satunya manusia yang hidup saat itu. Meskipun mereka tidak pernah bertemu, perkiraan terbaru tentang keberadaan keduanya yang ditemukan ilmuwan dianggap lebih masuk akal.
Jika populasi manusia saat itu secara keseluruhan stabil, satu pria punya satu putra dan satu wanita punya satu putri, maka ada kemungkinan besar setiap manusia berjenis kelamin laki-laki akan kehilangan garis paternalnya.
Namun sebaliknya setiap keturunan laki-laki, misalnya anak laki-laki dari putrinya, akan memiliki kromosom Y yang diwariskan dari laki-laki lain.
Jika Anda melakukan perjalanan kembali ke masa lalu, menurut teori itu, maka hanya akan ada satu orang yang garis paternalnya tak akan terputus sampai sekarang: orang ini adalah kromosom Y Adam.
Para peneliti menentukan keberadaan Adam dengan membandingkan kromosom Y dari 753 orang Islandia, yang juga dikelompokkan menjadi 274 garis paternal.
Para peneliti menggunakan 'jam molekuler', yang didasarkan pada jumlah mutasi DNA yang muncul untuk setiap generasi, untuk memperkirakan usia Adam.
Penelitian, yang diterbitkan di jurnal Nature Genetics, menemukan fakta lain bahwa usia genetik Adam berlangsung antara 174.000 dan 321.000 tahun yang lalu.
Sementara, genetik Hawa diperkirakan telah berjalan di atas Bumi sekitar 200.000 tahun yang lalu.
Sebelumnya, para peneliti memperkirakan usia Adam sekitar 50.000 tahun sampai 500.000 tahun lalu, yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian dengan kemunculan moyang Hawa.
Beberapa peneliti berkesimpulan, ketidaksesuaian tersebut bisa jadi karena Adam melakukan poligami.
"Kedua jenis kelamin tidak bisa dipisahkan," kata Stefánsson. "Tidak peduli berapa banyak wanita memiliki anak, setengahnya pasti laki-laki dan setengahnya lagi perempuan"
Rekan Stefánsson, Agnar Helgason, mengatakan temuan terbaru ini dapat memperbaiki penanggalan evolusi manusia, seperti ketika manusia pertama bermigrasi keluar dari Afrika dan tiba di Eropa.
"Kami ingin tahu dari mana kita berasal dan kapan," katanya. "Ini memberi kita sedikit informasi lebih solid tentang kapan."
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa manusia berkembang lebih cepat sebelumnya. Penelitian yang dilakukan oleh University of Wisconsin itu menemukan bahwa setidaknya 7% dari gen manusia telah mengalami evolusi terbaru.
Beberapa evolusi yang terjadi seperti warna kulit putih dan mata biru di Eropa bagian utara, tahan malaria di beberapa populasi di Afrika dan munculnya gen yang memungkinkan laktosa dicerna. (Ism)
Peneliti: Atlantis Tidak Tenggelam dan Hanya Tersapu Tsunami
Kota Atlantis telah lama dipandang sebagai kota mitos yang adidaya, hilang selama lebih dari 2.000 tahun di bawah laut. Banyak penjelajah telah melakukan perjalanan ke Kreta, Malta, Sisilia dan Santorini untuk mencari metropolis misterius Atlantis - yang dijelaskan dalam detail oleh filsuf Yunani Plato.
Tapi seorang ahli komputer yang satu ini telah menantang teori-teori tentang letak kota ini setelah ia mengklaim bahwa kota Atlantis yang hilang secara misterius tidak tenggelam ke dasar laut sama sekali, dan mengatakan bahwa ia telah melacaknya ke suatu daerah dimana sekarang masuk dalam wilayah Maroko.
Quote:
Seorang ahli komputer Jerman Michael Hubner mengatakan bahwa puing-puing kota Atlantis mungkin tidak terletak di bawah laut, melainkan di pesisir Maroko. Kota metropolis kuno tersebut dia katakan dihantam gelombang tsunami besar 2.000 tahun yang lalu, yang kemudian surut dan meninggalkan puing-puing kota.
"Atlantis sebenarnya dihantam oleh tsunami, yang kemudian surut dan meninggalkan puing-puing yang belum ditemukan, di dekat pantai Marrakesh." ujar Hubner.
Ahli komputer Jerman membentuk teorinya dengan menggunakan matematika untuk menghitung koordinat GPS yang tepat dari kota yang hilang tersebut.
Secara cermat Hubner mengumpulkan setiap detail yang dia dapat dari 'Timaeus' dan 'Critias' nya Plato yang menggambarkan Atlantis secara rinci dan memberikan total 51 petunjuk tentang kota misterius tersebut.
"Petunjuk-Petunjuk" itu termasuk bahwa Atlantis berada di dekat laut dan memiliki struktur seperti cincin sekitar pusatnya. Juga dikatakan bahwa kota itu terletak 3.100 mil dari Athena. Daerah ini meliputi Eropa, Afrika dan Timur Tengah.
Petunjuk lainnya adalah bahwa Atlantis tidak di Eropa kuno atau Asia dan memiliki gunung-gunung yang sangat tinggi dan besar, sesuai dengan Maroko yang memiliki Pegunungan Atlas. Dikatakan juga bahwa atlantis berada disebelah barat Mesir dan Tyrrhenia.
Menggunakan data rincian ini Hubner menempatkan pengukuran ke dalam program komputer dan menggunakan peta yang membagi wilayah tersebut menjadi 400 kotak. Hubner kemudian menemukan bahwa wilayah yang sesuai dengan petunjuk-petunjuk itu adalah dataran Souss Massa di Maroko, sekitar 100 km sebelah selatan dari Marrakesh. Dia kemudian mengambil koordinat GPS dan pergi kesna untuk melihatnya sendiri.
Quote:
Luar biasanya di wilayah terebut Hubner menemukan situs yang memiliki banyak keserupaan dengan Atlantis yang digambarkan 2.600 tahun yang lalu oleh Plato, yang dianggap sebagai salah satu pemikir Barat terbesar.
Situs yang ditemukan Hubner memiliki 51 kesamaan dengan petunjuk-petunjuk Plato termasuk dikelilingi oleh lingkaran-lingkaran konsentris
Situs ini berada di cekungan sebuah gurun hanya tujuh mil dari laut dan di tengahnya ada gundukan kecil, mirip dengan daerah yang tinggi di jantung kota kuno yang dijelaskan oleh Plato. Sekitarnya adalah dasar sungai kering yang melingkar, cocok dengan deskripsi Plato tentang kota yang dikelilingi oleh lingkaran konsentris, yang berganti-ganti antara darat dan laut.
Hubner menyimpulkan bahwa sangatlah tidak mungkin bahwa semua karakteristik Atlantis hadir di salah satu daerah di Maroko ini murni secara kebetulan.
Teori ini digambarkan sebagai 'yang paling meyakinkan di atas kertas' oleh Mark Adams dalam bukunya, "Meet me in Atlantis"
Adams menulis: "Pengukuran untuk diameter cincin terluar dan jarak ibukotanya dari Samudera Atlantik bervariasi hanya sekitar 10 persen dari angka Plato."
Penulis juga menemukan dukungan untuk ide Hubner yang mengatakan atlantis bukan tenggelam ke laut, tetapi dibanjiri oleh gelombang besar. Daerah di sekitar Souss Massa rentan terhadap gempa bumi, yang dapat menyebabkan tsunami dengan ukuran yang dibutuhkan untuk meratakan kota.
Hubner telah mengklaim bahwa ide Atlantis berada di bawah laut itu hanyalah contoh dari unsur-unsur nyata dari cerita yang telah hilang selama bertahun-tahun saat diceritakan kembali.
Juga Maroko secara historis belum diperiksa oleh arkeolog, menunjukkan banyak puing-puing yang belum ditemukan yang mungkin memegang kunci untuk kota yang hilang, bisa ada.
Hubner merumuskan teorinya pada tahun 2008. Sebelum meninggal pada 2013 ia bertemu Adams dan membawanya ke tempat yang dia temukan dari perhitungan.
Banyak teori-teori (tepatnya hipotesis) menempatkan Atlantis sebagai kota yang tenggelam di dasar laut.
Awal tahun ini orichalcum, bentuk logam, ditemukan di bawah laut di lepas pantai Sisilia dan diyakini berasal dari metropolis hilang. Sebanyak 39 ingot ditemukan di bangkai 2.600 tahun kapal kargo tua dianggap dari Yunani.
Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu dan dari kalderanya terjadilah Danau Toba. Letusan terbesar di sepanjang sejarah ini telah memusnahkan banyak kehidupan. Para ahli biologi molekuler menemukan bahwa telah terjadi penyusutan genetik akibat letusan tersebut dan manusia sekarang adalah keturunan dari sedikit manusia itu. Letusan berikutnya masih terjadi lagi dalam skala lebih kecil 30.000 tahun lalu di bagian selatan. Pada masa itu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Malaka dan pulau-pulau kecil di sekitarnya masih menyatu dengan benua Asia, yang dikenal dengan nama Sundaland.
Sekitar 20.000 tahun terakhir terjadi kenaikan air laut setinggi 120-130 meter, kata geolog Dr. Danny Hilman (20/05-2013), dalam seminar peluncuran bukunya: “PLATO TIDAK BOHONG: Atlantis Ada Di Indonesia” (www.youtube.com). Di sekitar 11.600 tahun lalu banyak sekali terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, dan banyak juga bencana banjir, sehingga pada akhirnya menenggelamkan Sundaland menjadi seperti sekarang. Ada juga peristiwa air laut naik tiba-tiba hingga 20 meter yang terkenal dengan nama younger dryes setelah suhu udara demikian panas hingga mencairkan es pada zaman es akhir.
Bencana alam dan banjir mengakibatkan migrasi manusia dari Sundaland ke Asia. Penelitian DNA manusia, yang dilakukan Stephen Oppenheimer, memperlihatkan migrasi itu hingga tiba pada kesimpulan bahwa Sundaland merupakan induk peradaban dunia, dalam bukunya “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Nenek moyang semua manusia berasal dan keluar dari Afrika (Out of Africa) dan hanya memiliki satu jalur utama migrasi ke Asia yaitu melalui Sundaland sekitar 70.000 tahun lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Asia. Jalur migrasi manusia ini dipetakan oleh 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organisation (HUGO) yang melakukan studi terhadap 73 populasi di Asia Tenggara dan Asia Timur. Dan, akar genetik manusia berhubungan sangat erat dengan kelompok etnik dan kelompok bahasa (Detik, 11/12-2009; Kompas,14/12-2009 & 12/12-2011). Awalnya terjadi migrasi dari Sundaland ke Asia (Out of Sundaland) dan setelah Sundaland tenggelam barulah migrasi terjadi dari Asia ke kawasan bekas Sundaland (Out of Taiwan).
Pesisir Timur Sumatera Bagian Utara
Penelitian arkeologi yang dilakukan oleh H.M.E. Schurmann di dekat Binjai (1927), Van Stein Callenfels di dekat Medan, Deli Serdang, Kupper di Langsa, Aceh Timur (1930), MacKinnon di DAS Wampu, Prof. Truman Simanjuntak dan Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan (Balarmed) di Aceh Tamiang (2011) menemukan bahwa para pendukung budaya Hoabinh sudah datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000-6.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:19-21).
Belakangan ditambah dengan hasil penelitian Balarmed di Bener Meriah di Aceh (2012). Migrasi di pesisir timur Pulau Sumatera ini berlangsung pada periode Mesolitik berkisar 7.000-5.000 tahun lalu (Boedhisampurno, 1983; McKinnon, 1990; Belwood, 2000:253). Salah satu indikasinya yaitu dengan ditemukannya budaya Hoabinh berupa peralatan batu, yang disebut Sumatralith (Wiradnyana, 2011:127). Kemudian Ketut Wiradnyana mengemukakan bahwa temuan fosil dari Loyang Mandale, Aceh Tengah berusia 8.430 tahun (Lintas Gayo, 11/07-2014).
Para pendukung budaya Hoabinh juga sudah ditemukan kedatangannya di Pulau Nias. Meskipun demikian, di Nias dan Kuantan Singingi, Riau telah ditemukan kehidupan lebih awal dari masa Paleolitik 10.000 tahun lalu dan selebihnya (Wiradnyana, 2011:9-17, 25-290). Baru-baru ini juga telah ditemukan fosil manusia lebih tua di Gua Harimau, desa Padang Bindu, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan berusia 16.000 tahun (Tribunnews,19/05-2014). Penggalian masih akan dilanjutkan, karena diperkirakan memiliki fosil berusia mencapai 60.000 tahun bahkan lebih. Demikian gambaran tentang Sumatera bagian Utara.
Kebudayaan Hoabinh di Toba
Dalam bukunya “Prasejarah Kepuluan Indo-Malaysia”, Peter Bellwood (2000:339) menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Sim-sim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m di atas permukaan laut) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.”. Di sini Bellwood merujuk hasil penelitian Bernard K. Maloney di daerah Humbang, Sumatera Utara. Penelitian paleoekologi atas pembukaan hutan dilakukan dengan menganalisis serbuk sari (polen) di Pea Sim-sim, Pea Bullock, Pea Sijajap, dan Tao Sipinggan. Penelitian ini membuktikan, bahwa telah ada aktivitas manusia sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang (www.anu.edu.au;www.manoa.hawaii.edu;www.lib.washington.edu). Bila dihubungkan dengan temuan fosil berusia 8.430 tahun di Loyang Mandale, Aceh Tengah, maka paling besar kemungkinannya bahwa mereka adalah para pendukung kebudayaan Hoabinh.
Mereka merupakan bangsa setengah menetap, pemburu, bercocok-tanam sederhana, dan bertempat tinggal di gua. Mereka menggunakan kapak genggam dari batu, kapak dari tulang dan tanduk, gerabah berbentuk sederhana dari serpihan batu, batu giling, dan mayat yang dikubur dengan kaki terlipat/jongkok dengan ditaburi zat warna merah, mata panah, dan flakes. Makanannya berupa tumbuhan, buah-buahan, binatang buruan atau kerang-kerangan. Kebudayaan Hoabinh berasal dari zaman batu tengah di masa Mesolitik sekitar 10.000 - 6.000 tahun lalu. Para pendukung kebudayaan Hoabinh ini merupakan ras Australomelanesoid. Mereka datang dari dataran rendah Hoabinh di dekat Teluk Tonkin, Vietnam (bnd. Edward Simanungkalit, 2012).
Kebudayaan Austronesia di Toba
Robert von Heine Geldern mengemukakan bahwa kelompok pendukung kebudayaan Dong Son bermigrasi dari Selat Tonkin, Vietnam ke Sumatera bagian Utara pada masa Neolitik sekitar 6.000-2.000 tahun lalu (Pasaribu, 2009:ii). Sedang Ketut Wiradnyana dari Balai Arkeologi Medan mengatakan: “Sementara di Tanah Batak didominasi oleh budaya Dong Son (salah satu budaya yang berasal dari Vietnam Utara) yang perkembangannya sekitar 2.500 tahun yang lalu. Budaya Dong Sonini ditandai dengan adanya logam dan pola hias yang ditemukan di rumah Batak Toba, yang menggambarkan binatang atau manusia dengan hiasan bulu-bulu panjang.” (Waspada, 11/01-2012).
Pada Juli 2013, Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian "Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir" dengan melakukan kegiatan ekskavasi dan survei arkeologi. Disimpulkan bahwa kelompok migran pendukung budaya Dong Son telah datang dari China bagian Selatan melalui jalur timur menuju ke Taiwan, terus ke Filipina dan diteruskan lagi ke Sulawesi dan seterusnya ke Sumatera hingga mencapai Samosir (Wiradnyana & Setiawan, 2013:7). Berdasarkan tradisi megalitik di Samosir tadi, Ketut Wiradnyana memperkirakan bahwa migrasi ke Samosir terjadi pada sekitar penghujung millenium pertama masehi hingga awal millenium kedua atau sekitar 800 tahun lalu.
Kelompok pendukung kebudayaan Dong Son telah mengenal teknologi pengolahan logam, pertanian, berternak, menangkap ikan, penggunaan moda transportasi, bertenun, membuat rumah, dll. Kebudayaan yang berkembang di Vietnam ini merupakan kebudayaan zaman perunggu. Masyarakat Dong Son adalah masyarakat
petani dan peternak yang handal dan terampil menanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka juga dikenal sebagai masyarakat pelaut, bukan hanya nelayan, tetapi juga pelaut yang melayari seluruh Laut Cina dan sebagian laut-laut selatan dengan perahu yang panjang (wikipedia).Masyarakat Dong Son berasal dari ras Mongoloid. Kebudayaan Dong Son secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya kelompok bangsaAustronesia. Beberapa pakar menggolong rumpun bahasa Austro-Asiatik dengan rumpun bahasa Austronesia dan menamakannya rumpun bahasa besar atau superfamili Austrik.
Orang Toba Dari Negeri Toba
Pendukung budaya Hoabinh yang sudah datang ke Humbang 6.500 tahun lalu mengalami perjumpaan dengan pendukung budaya Dong Son. Perjumpaan ini akhirnya didominasi oleh kebudayaan Dong Son, karena lebih maju daripada kebudayaan Hoabinh. Kebudayaan Dong Son merupakan kelompok kebudayaan Austronesia dan orang Toba merupakan penutur bahasa Austronesia. Istilah “Toba” dipergunakan sesuai dengan cap Raja Singamangaraja XII yang menyebut “Raja dari Negeri Toba”, sedang Sitor Situmorang memakainya di dalam bukunya “Toba Na Sae”. Wilayah Toba yang dimaksud yaitu: Toba Samosir, Toba Humbang, Toba Holbung, dan Toba Silindung.
Perjumpaan dua ras, yaitu ras Australomelanesoid dan ras Austronesia-mongoloid, telah melahirkan orang Toba. Sehubungan dengan DNA Toba, maka baru-baru ini Mark Limpson meneliti penutur Austronesia dengan menggunakan data-data dari HUGO Pan-Asian SNP Consortium dan CEPH-Human Genome Diversity Panel (HGDP). Statistik yang dibuat Mark Limpson (2014:87) tentang orang Toba memiliki unsur dan perbandingan seperti berikut: Austronesia (55%), Austro-Asiatic (25%), dan Negrito (20%). Ras Austronesia yang dimaksud di sini khususnya dari ras Mongoloid dengan DNA Haplogroup O. Sementara ras Austro-Asiatic hampir dua pertiga memiliki DNA dengan Haplogroup O. Sedang ras Negrito banyak memiliki DNA dengan Haplogroup M dan selain itu memang berasal dari Afrika sebagai asal migrasi awal, sehingga tidak mengherankan kalau orang Toba memiliki DNA yang berasal dari Afrika. Akan tetapi, pengaruh budaya Dongson lebih dominan di dalam budaya Toba dan Ras Austronesia-mongoloid dominan di dalam diri orang Toba dan DNA Toba ditemukan memiliki Haplogroup O (Lihat:O-M122, O-M95, O-MSY2.2).
***
Akhirnya, orang Toba merupakan percampuran ras Australomelanesoid dengan ras Mongoloid dari kelompok kebudayaan Austronesia. Dari penelitian biologi molekuler bahwa DNA orang Toba ialah Haplogroup O yang terdiri dari Austronesia (55%), Austro-asiatic (25%), dan Negrito (20%). Sebelum Sianjur Mula-mula dihuni sekitar 800-1.000 tahun lalu, maka telah lebih dulu manusia ada di Humbang sekitar 6.500 tahun lalu. Orang Toba itu dari Negeri Toba: Toba Humbang, Toba Samosir, Toba Holbung, dan Toba Silindung (Jakarta, 03012015).
*Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban
Tulisan ini telah dimuat di: Harian SINAR INDONESIA BARU (cetak)
Edisi Maret 2015 Harian PALAPA POS TAPANULI (cetak)
Edisi Sabtu, 20-23 Pebruari 2015 LINTAS GAYO.com, 8 Maret 2015 http://www.lintasgayo.com/53595/orang-toba-dna-negeri-budaya-dan-asal-usulnya.html APA KABAR SIDIMPUAN ONLINE, 11 Maret 2015 http://apakabarsidimpuan.com/2015/03/orang-toba-dna-negeri-budaya-dan-asal-usulnya/ Generasi Muda Batak, 10 Maret 2015 http://www.mahasiswabatak.com/2015/03/orang-toba-dna-negeri-budaya-dan-asal.html