Tampilkan postingan dengan label 2. Gunung Toba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Gunung Toba. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2015

ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula (BUKU)




























































































Sekarang sudah dapat membeli langsung di Medan:
Sekretariat P3BP (Pusat Penelitian dan Pengembangan Budaya Pakpak)
Jl. Bunga Kenanga No. 4, Padang Bulan, 
MEDAN, Telp/Faks: 061-821756


Pembelian langsung di Sidikalang:
TANJUNG AGENCY (Agen Koran) (seberang Toko SEMANGAT)
Jl. Singamangaraja No. 26
SIDIKALANG


Kontak Pemesanan:
PIN 20F729E7, atau lewat email: edwardsimanungkalit14@yahoo.com
Rekening:  Tabungan BRI No. 762201003565535 a/n. Edward Simanungkalit



Sabtu, 29 Agustus 2015

ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula





SEGERA TERBIT!

Buku berjudul: "ORANG TOBA: Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula"  ini akan segera terbit dalam dua - tiga minggu mendatang. Buku tersebut memaparkan dengan lebih jelas lagi mengenal asal-usul dan jatidiri dari yang disebut Orang Toba. Kemudian, dalam mitos Sianjur Mulamula diungkapkan hubungan penghuni awal Sianjur Mulamula dengan etnik Pakpak, Karo, Simalungun, dan Mandailing, serta berbagai etnik lainnya di Sumatera bagian Utara. Buku yang akan terbit ini disusun sedemikian singkat dengan ukuran tidak begitu lebar, sehingga memudahkan berbagai kalangan luas untuk membacanya tanpa penguraian yang bertele-tele, tetapi jelas dan singkat. Pemesanan dapat dilakukan melalui blog ini atau melalui PIN 20F729E7. Horas ... :)




_________________________________________________________________________________

Cover Depan:

ORANG  TOBA

Asal-usul, Jatidiri, dan Mitos Sianjur Mulamula





Oleh:
Edward Simanungkalit




SIDIKALANG 2015


_____________________________________________________


Cover Belakang:









_________________________________________________________________________________








Senin, 23 Februari 2015

ORANG TOBA: DNA, Negeri, Budaya, dan Asal-usulnya

O R A N G    T O B A
Asal-usul, Budaya, Negeri, dan DNA-nya
Oleh:  Edward Simanungkalit *


Gunung Toba meletus 74.000 tahun lalu dan dari kalderanya terjadilah Danau Toba. Letusan terbesar di sepanjang sejarah ini telah memusnahkan banyak kehidupan.  Para ahli biologi molekuler menemukan bahwa telah terjadi penyusutan genetik  akibat letusan tersebut dan manusia sekarang adalah keturunan dari sedikit manusia itu. Letusan berikutnya masih terjadi lagi dalam skala lebih kecil 30.000 tahun lalu di bagian selatan. Pada masa itu Sumatera, Jawa, Kalimantan, Malaka dan pulau-pulau kecil di sekitarnya masih menyatu dengan benua Asia, yang dikenal dengan nama Sundaland.
Sekitar 20.000 tahun terakhir  terjadi kenaikan air laut setinggi 120-130 meter, kata  geolog Dr. Danny Hilman (20/05-2013), dalam seminar peluncuran bukunya: “PLATO TIDAK BOHONG: Atlantis Ada Di Indonesia” (www.youtube.com). Di sekitar 11.600 tahun lalu banyak sekali terjadi letusan gunung berapi, gempa bumi, dan banyak juga bencana banjir,  sehingga pada akhirnya menenggelamkan Sundaland menjadi seperti sekarang. Ada juga peristiwa air laut naik tiba-tiba hingga 20 meter yang terkenal dengan nama younger dryes setelah suhu udara demikian panas hingga mencairkan es pada zaman es akhir.
Bencana alam dan banjir mengakibatkan migrasi manusia dari Sundaland ke Asia. Penelitian DNA manusia, yang dilakukan Stephen Oppenheimer, memperlihatkan migrasi itu hingga tiba pada kesimpulan bahwa Sundaland merupakan induk peradaban dunia, dalam bukunya “Eden in The East: The Drowned Continent of Southeast Asia” (1998). Nenek moyang semua manusia berasal dan keluar dari Afrika (Out of Africa) dan hanya memiliki satu jalur utama migrasi ke Asia yaitu melalui Sundaland sekitar 70.000 tahun lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di Asia. Jalur migrasi manusia ini dipetakan oleh 90 orang lebih ilmuwan Asia dari konsorsium Pan-Asian SNP di bawah naungan Human Genome Organisation (HUGO) yang melakukan studi terhadap 73 populasi di Asia Tenggara dan Asia Timur. Dan, akar genetik manusia berhubungan sangat erat dengan kelompok etnik dan kelompok bahasa (Detik, 11/12-2009; Kompas,14/12-2009 & 12/12-2011). Awalnya terjadi migrasi dari Sundaland ke Asia  (Out of Sundaland) dan setelah Sundaland tenggelam barulah migrasi terjadi dari Asia ke kawasan bekas Sundaland (Out of Taiwan).



Pesisir Timur Sumatera Bagian Utara
Penelitian arkeologi yang dilakukan oleh H.M.E. Schurmann di dekat Binjai (1927), Van Stein Callenfels di dekat Medan, Deli Serdang, Kupper di Langsa, Aceh Timur (1930), MacKinnon di DAS Wampu, Prof. Truman Simanjuntak dan Budisampurno di Sukajadi, Langkat (1983), di Lhok Seumawe dan oleh Tim Balai Arkeologi Medan (Balarmed) di Aceh Tamiang (2011) menemukan bahwa para pendukung budaya Hoabinh sudah datang pada masa Mesolitik di sekitar 10.000-6.000 tahun lalu (Wiradnyana, 2011:19-21).
Belakangan ditambah dengan hasil penelitian Balarmed di Bener Meriah di Aceh (2012). Migrasi di pesisir timur Pulau Sumatera ini berlangsung pada periode Mesolitik berkisar 7.000-5.000 tahun lalu (Boedhisampurno, 1983; McKinnon, 1990; Belwood, 2000:253). Salah satu indikasinya yaitu dengan ditemukannya budaya Hoabinh berupa peralatan batu, yang disebut Sumatralith (Wiradnyana, 2011:127). Kemudian Ketut Wiradnyana mengemukakan bahwa temuan fosil dari Loyang Mandale, Aceh Tengah berusia 8.430 tahun (Lintas Gayo, 11/07-2014).
Para pendukung budaya Hoabinh juga sudah ditemukan kedatangannya di Pulau Nias. Meskipun demikian, di Nias dan Kuantan Singingi, Riau telah ditemukan kehidupan lebih awal dari masa Paleolitik 10.000 tahun lalu dan selebihnya (Wiradnyana, 2011:9-17, 25-290). Baru-baru ini juga telah ditemukan fosil manusia  lebih tua di Gua Harimau, desa Padang Bindu, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan berusia 16.000 tahun (Tribunnews,19/05-2014). Penggalian masih akan dilanjutkan, karena diperkirakan memiliki fosil berusia mencapai 60.000 tahun bahkan lebih. Demikian gambaran tentang Sumatera bagian Utara.

Kebudayaan Hoabinh di Toba
Dalam bukunya “Prasejarah Kepuluan Indo-Malaysia”, Peter Bellwood (2000:339) menulis: “Sebagai contoh, sebuah inti polen dari rawa Pea Sim-sim dekat Danau Toba di Sumatera bagian Utara (1.450 m di atas permukaan laut) menunjukkan bahwa pembukaan hutan kecil-kecilan mungkin sudah dimulai pada 4.500 Sebelum Masehi.”. Di sini Bellwood merujuk hasil penelitian Bernard K. Maloney  di daerah Humbang, Sumatera Utara. Penelitian paleoekologi atas pembukaan hutan dilakukan dengan menganalisis serbuk sari (polen) di Pea Sim-sim, Pea Bullock, Pea Sijajap, dan Tao Sipinggan. Penelitian ini membuktikan, bahwa  telah ada aktivitas manusia sekitar 6.500 tahun lalu di Humbang  (www.anu.edu.au; www.manoa.hawaii.edu;  www.lib.washington.edu). Bila dihubungkan dengan  temuan fosil berusia 8.430 tahun di Loyang Mandale, Aceh Tengah, maka paling besar kemungkinannya bahwa mereka adalah para pendukung kebudayaan Hoabinh.
Mereka merupakan bangsa setengah menetap, pemburu, bercocok-tanam sederhana, dan bertempat tinggal di gua. Mereka menggunakan kapak genggam dari batu, kapak dari tulang dan tanduk, gerabah berbentuk sederhana dari serpihan batu, batu giling, dan mayat yang dikubur dengan kaki terlipat/jongkok dengan ditaburi zat warna merah, mata panah, dan flakes. Makanannya berupa tumbuhan, buah-buahan, binatang buruan atau kerang-kerangan. Kebudayaan Hoabinh berasal dari zaman batu tengah di masa Mesolitik sekitar 10.000 - 6.000 tahun lalu. Para pendukung kebudayaan Hoabinh ini merupakan ras Australomelanesoid. Mereka datang dari dataran rendah Hoabinh di dekat Teluk Tonkin, Vietnam (bnd. Edward Simanungkalit, 2012).

Kebudayaan Austronesia di Toba
Robert von Heine Geldern mengemukakan bahwa kelompok pendukung kebudayaan Dong Son bermigrasi dari Selat Tonkin, Vietnam ke Sumatera bagian Utara pada masa Neolitik sekitar 6.000-2.000 tahun lalu (Pasaribu, 2009:ii). Sedang Ketut Wiradnyana dari Balai Arkeologi Medan mengatakan: “Sementara di Tanah Batak didominasi oleh budaya Dong Son  (salah satu budaya yang berasal dari Vietnam Utara) yang perkembangannya sekitar 2.500 tahun yang lalu. Budaya Dong Son  ini ditandai dengan adanya logam dan pola hias yang ditemukan di rumah Batak Toba, yang menggambarkan binatang atau manusia dengan hiasan bulu-bulu panjang.” (Waspada,  11/01-2012).
Pada Juli 2013, Balai Arkeologi Medan melakukan penelitian "Jejak Peninggalan Tradisi Megalitik di Kabupaten Samosir" dengan melakukan kegiatan ekskavasi dan survei arkeologi. Disimpulkan bahwa kelompok migran pendukung budaya Dong Son telah datang dari China bagian Selatan  melalui jalur timur menuju ke Taiwan, terus ke Filipina dan  diteruskan lagi ke Sulawesi dan seterusnya ke Sumatera hingga mencapai Samosir (Wiradnyana & Setiawan, 2013:7). Berdasarkan tradisi megalitik di Samosir tadi, Ketut Wiradnyana memperkirakan bahwa migrasi ke Samosir terjadi pada sekitar penghujung millenium pertama masehi hingga awal millenium kedua atau sekitar 800 tahun lalu.
Kelompok pendukung kebudayaan Dong Son telah mengenal teknologi pengolahan logam, pertanian, berternak, menangkap ikan, penggunaan moda transportasi, bertenun, membuat rumah, dll. Kebudayaan yang berkembang di Vietnam ini merupakan kebudayaan zaman perunggu. Masyarakat Dong Son adalah masyarakat
petani dan peternak yang handal dan terampil menanam padi, memelihara kerbau dan babi, serta memancing. Mereka  juga dikenal sebagai masyarakat pelaut, bukan hanya nelayan, tetapi juga pelaut yang melayari seluruh Laut Cina dan sebagian laut-laut selatan dengan perahu yang panjang (wikipedia).Masyarakat Dong Son berasal dari ras Mongoloid. Kebudayaan Dong Son secara keseluruhan dapat dinyatakan sebagai hasil karya kelompok bangsa Austronesia. Beberapa pakar menggolong rumpun bahasa Austro-Asiatik dengan rumpun bahasa Austronesia dan menamakannya rumpun bahasa besar atau superfamili Austrik.

Orang Toba Dari Negeri Toba
          Pendukung budaya Hoabinh yang sudah datang ke Humbang 6.500 tahun lalu mengalami perjumpaan dengan pendukung budaya Dong Son. Perjumpaan ini akhirnya didominasi oleh kebudayaan Dong Son, karena lebih maju daripada kebudayaan Hoabinh. Kebudayaan Dong Son merupakan kelompok kebudayaan Austronesia dan orang Toba merupakan penutur bahasa Austronesia. Istilah “Toba” dipergunakan sesuai dengan cap Raja Singamangaraja XII yang menyebut “Raja dari Negeri Toba”, sedang Sitor Situmorang memakainya di dalam bukunya “Toba Na Sae”. Wilayah Toba yang dimaksud yaitu: Toba Samosir, Toba Humbang, Toba Holbung, dan Toba Silindung.
Perjumpaan dua ras, yaitu ras Australomelanesoid dan ras Austronesia-mongoloid, telah melahirkan orang Toba. Sehubungan dengan DNA Toba, maka baru-baru ini Mark Limpson meneliti penutur Austronesia dengan menggunakan data-data dari HUGO Pan-Asian SNP Consortium dan CEPH-Human Genome Diversity Panel (HGDP). Statistik yang dibuat Mark Limpson (2014:87) tentang orang Toba memiliki unsur dan perbandingan seperti berikut: Austronesia (55%), Austro-Asiatic (25%), dan Negrito (20%). Ras Austronesia yang dimaksud di sini khususnya dari ras Mongoloid dengan DNA Haplogroup O. Sementara ras Austro-Asiatic hampir dua pertiga memiliki DNA dengan Haplogroup O. Sedang ras Negrito  banyak memiliki DNA dengan Haplogroup M dan selain itu memang berasal dari Afrika sebagai asal migrasi awal, sehingga tidak mengherankan kalau orang Toba memiliki DNA yang berasal dari Afrika. Akan tetapi, pengaruh budaya Dongson lebih dominan di dalam budaya Toba dan Ras Austronesia-mongoloid dominan di dalam diri orang Toba dan DNA Toba ditemukan memiliki Haplogroup O (Lihat:O-M122, O-M95, O-MSY2.2).


***
        Akhirnya, orang Toba merupakan percampuran ras Australomelanesoid dengan ras Mongoloid dari kelompok kebudayaan Austronesia.  Dari penelitian biologi molekuler bahwa DNA orang Toba ialah Haplogroup O yang terdiri dari Austronesia (55%), Austro-asiatic (25%), dan Negrito (20%). Sebelum Sianjur Mula-mula dihuni sekitar 800-1.000 tahun lalu, maka telah lebih dulu manusia ada di Humbang sekitar 6.500 tahun lalu. Orang Toba itu dari Negeri Toba: Toba Humbang, Toba Samosir, Toba Holbung, dan Toba Silindung (Jakarta, 03012015).



*Pemerhati Sejarah Alternatif Peradaban


Tulisan ini telah dimuat di:

Harian SINAR INDONESIA BARU (cetak)
Edisi Maret 2015

Harian PALAPA POS TAPANULI (cetak)
Edisi Sabtu, 20-23 Pebruari 2015

LINTAS GAYO.com, 8 Maret 2015
http://www.lintasgayo.com/53595/orang-toba-dna-negeri-budaya-dan-asal-usulnya.html

APA KABAR SIDIMPUAN ONLINE, 11 Maret 2015
http://apakabarsidimpuan.com/2015/03/orang-toba-dna-negeri-budaya-dan-asal-usulnya/

Generasi Muda Batak, 10 Maret 2015
http://www.mahasiswabatak.com/2015/03/orang-toba-dna-negeri-budaya-dan-asal.html

Berita Simalungun, 14 April 2015
http://www.beritasimalungun.com/2015/04/orang-toba-dna-negeri-berita-dan-asal.html






\

Minggu, 08 Februari 2015

Teori Kaldera Toba dan Migrasi Mulai Diyakini

Teori Kaldera Toba dan Migrasi Mulai Diyakini



Teori Kaldera Toba dan Migrasi Mulai Diyakini
Ima Lolaita/FK

Van Bemmelen, geolog Belanda, akhirnya menemukan bukti bahwa danau indah itu merupakan kaldera gunung raksasa di tahun 1939. Temuan itu sempat menimbulkan kontroversi tetapi di beberapa negara, seperti Malaysia dan India, kemudian ditemukan abu vulkanik yang diidentifikasi berasal dari letusan Toba. Teori Bemmelen lambat tapi pasti mulai diterima masyarakat hingga kini.

Van Bemmelen adalah pencetus teori bahwa kaldera Toba berasal dari satu letusan dahsyat. Teori ini didukung oleh Aldiss dan Ghazali. Para peneliti setelahnya berhasil mengungkap bahwa letusan Toba berasal dari empat letusan besar. Beberapa peneliti itu, di antaranya, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), Nishimura (1984), Knight (1986), dan Chesner dan Rose (1991).

Craig A Chesner, profesor geologi dari Eastern Illinois University, masih aktif meneliti Toba hingga saat ini. Thesis Chesner tentang Toba semakin memperjelas posisi Toba sebagai supervolcano yang letusannya berdampak global.
Chesner juga peneliti yang memberi jalan bagi lahirnya embrio teori Toba Catastrophe ketika ia mengirimkan sampel abu vulkanik Toba ke peneliti John Westgate (University of Toronto) tahun 1994. Westgate saat itu sedang berusaha mencari tahu asal abu vulkanik yang berusia 74.000 tahun lalu yang tersebar di berbagai belahan bumi.

Kiriman abu vulkanik Toba dari Chesner menjadi akhir dari pencarian Westgate. Tahun 1998, Stanley H Ambrose dari University of Illinois at Urbana-Champaign membangun teori baru Toba Catastrophe yang menawarkan analisis bahwa letusan dahsyat Toba telah membuat dunia mengalami penurunan suhu drastis dan membuat populasi manusia hampir punah.

Michael Rampino (New York University), Stephen Self (University of Hawaii at Manoa), kemudian Greg Zielinski (University of Massachusetts) merupakan peneliti berpengaruh yang secara mendalam mempelajari material abu vulkanik Toba. Merekalah yang menyediakan data bagi lahirnya teori Toba Catastrophe yang diyakini membuat kemacetan populasi manusia.

Teori Toba Catastrophe juga dipertajam oleh peneliti genetika asal Inggris yang ahli sintesis DNA, Stephen Oppenheimer. Terkait Toba, Oppenheimer yang didukung Bradshaw Foundation telah merilis migrasi manusia dengan judul Journey of Mankind. Tulisan yang disertai simulasi migrasi manusia itu memberi posisi penting letusan Toba yang dianggap melahirkan perubahan drastis genetika pada ras-ras Homo sapiens.

Meski demikian, Toba dan teori migrasi itu hanya berkumandang di debat-debat internasional di luar Indonesia. Sebab hingga kini, Indonesia masih sepi dari minat terhadap Toba. (Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, M. Hilmi Faiq)

Sumber:
http://www.ilmu.tehninih.com/2006/06/teori-kaldera-toba-dan-migrasi-mulai.html

KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKING

KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKING

KATASTROFI TOBA 74.000 TYL: VOLCANIC WINTER & GENETIC BOTTLENECKING
Komentar singkat ini untuk menjawab pertanyaan Pak Andi Arief tentang kepunahan Homo sapiens setelah erupsi Toba. Saya jadikan posting baru untuk kemungkinan membuka diskusi2 baru. Geotrek Indonesia akan mendiskusikan hal ini lebih serius sekaligus saat mengunjungi Toba. Buku kecil 54 halaman dengan banyak data dan gambar baru kemarin saya selesaikan untuk dibagikan kepada para peserta geotrek ke Toba. Buku tersebut bercerita tentang Katastrofi Toba. Kita, orang Indonesia, harus tahu dengan baik “siapa” dan mengapa Toba itu sebab ia ada di Indonesia dan dari sinilah Prahara Besar Bumi pernah menyebar. Dari puluhan referensi yang saya pelajari, tak sampai 2 publikasi karya ahli2 kita tentang Toba. Karena itulah, di dalam buku tersebut, saya menceritakannya cukup lengkap dan semoga mudah diikuti.

Keberatan utama saya atas tesis Santos adalah bahwa gunung2api di India, Toba, Krakatau, Semeru meletus hebat bersamaan pada 11.600 tahun yl dan menyebabkan es mencair lalu membanjiri Sundaland atau Atlantis menurut Santos. Mungkin Santos membayangkan panas gunungapi itu mencairkan es ya. Secara awam orang bisa berpikir begitu, dan saya bisa memakluminya sebab Santos bukan geologist.

Bahwa gunung2 itu meletus bersamaan juga saya tak bisa menerimanya sejauh data yang kita punya. Di India tak ada gunungapi setelah 50 juta tahun yang lalu, Toba meletus terakhir 74.000 tahun yang lalu, Krakatau meletus pertama tahun 460 M, dan Semeru juga meletus di zaman Masehi, kita tak punya data jauh ke belakang selain Toba yang sangat intensif dipelajari.

Letusan gunungapi besar akan menyebabkan musim dingin volkanik, Bumi bahkan membeku, bukan mencairkan es2nya. Tambora meletus 1815, menurunkan temperatur permukaan bumi 0,7 C (Rampino dan Self, 1992). Gunung Agung meletus 1963 menurunkan temperatur 0,3 C (Jones et al, 1982). Toba meletus 74.000 tahun yl menurunkan temperatur 5 C (Chesner et al., 1991). Letusan Toba yang melemparkan 800 km3 abu ke langit dan aerosol tersusun atas gas2 belerang telah membuat Bumi membeku 6-10 tahun, lalu Bumi menggigil selama 1000 tahun berikutnya (Rampino dan Self, 1992, 1993). Ada 10 milyar ton aerosol H2SO4 yang dilempar ke atmosfer saat Toba meletus mega-kolosal 74.000 tahun yang lalu itu. Ini telah membuat transmisi sinar Matahari hanya tinggal 0,001-10 % yang sampai permukaan Bumi. Maka Bumi membeku, banyak volume air laut ditarik ke kutub menjadi tumpukan es. Hanya dalam 7000 tahun, muka laut di seluruh dunia susut 40 meter, cepat sekali.

Fotosintesis sangat minimal dengan transmisi sinar Matahari di bawah 10 %. Fotosintesis tak terjadi, semua reaksi rantai makanan berikutnya akan berhenti, dan ujungnya adalah mass extinction, kepunahan massa. Adalah Ambrose (1998) dan Ambrose dan Rampino (2000) yang menghitung bahwa setelah letusan Toba itu, jumlah manusia menciut tinggal 5000-10.000 orang dari semula 100.000 orang penghuni Bumi. Inilah yang mereka sebut sebagai Population Bottlenecking, atau Genetic Bottlenecking. Dari kumpulan yang selamat inilah ras2 manusia masa kini diturunkan.

Pendapat2 ini juga diaminkan oleh ahli2 genetika yang lain seperti Oppenheimer (2003) dan Richard Dawkins (2004).

Toba pernah membuat prahara di Bumi: Katastrofi Geologi, 74.000 tahun yang lalu.

Sumber:
http://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/10/25/katastrofi-toba-74-000-tyl-volcanic-winter-genetic-bottlenecking/

Sabtu, 03 Januari 2015

Teori bencana Toba

Teori bencana Toba

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Teori bencana Toba
Tobaeruption.png
Ilustrasi letusan dilihat dari jarak 42 km (26 mil) di atas Pulau Simeulue.


Gunung apiGunung berapi super Toba
Tanggal69.000–77.000 tahun yang lalu
JenisUltra Plinian
LokasiSumatera Utara, Indonesia
2,6845°LU 98,8756°BT
VEI8.3
DampakLetusan super terkini; mengakibatkan musim dingin vulkanik di Bumi selama 6 tahun, mungkin menyebabkan penyusutanevolusi manusia dan perubahan besar terhadap topografi daerah.[1]Templat:Update after
Toba zoom.jpg
Danau Toba adalah danau kawah yang terbentuk pasca-letusan.
Letusan super (supereruption) Toba adalah letusan gunung berapi super yang terjadi antara 69.000 dan 77.000 tahun yang lalu di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, Indonesia. Letusan ini diakui sebagai salah satu letusan gunung terdahsyat di Bumi.Hipotesis bencana Toba berpendapat bahwa peristiwa alam ini mengakibatkan musim dingin vulkanik di seluruh dunia selama 6–10 tahun dan masa pendinginan selama 1.000 tahun.
Peristiwa Toba merupakan letusan super yang paling sering diteliti.[2][3][4] pada tahun 1993, jurnalis sains Ann Gibbons memaparkan adanya hubungan antara letusan Toba dan penyusutan populasi manusia. Michael R. Rampino dari New York University dan Stephen Self dari University of Hawaii at Manoa mendukung ide tersebut. Tahun 1998, teori penyusutan dikembangkan lebih jauh oleh Stanley H. Ambrose dari University of Illinois at Urbana-Champaign.

Letusan super[sunting | sunting sumber]

Letusan Toba atau peristiwa Toba terjadi di daerah yang saat ini merupakan Danau Toba sekitar 73.000±4.000 tahun Sebelum Masa Kini (Before Present; BP).[5][6] Letusan ini merupakan yang terakhir dan terbesar dari empat letusan Toba selama kala Kuarter. Letusan ini dikenal juga dengan sebutan Youngest Toba Tuff atau YTT.[7][8] Letusan ini memiliki Indeks Letusan Vulkanik sebesar 8 ("apokaliptik") atau magnitudo ≥ M8; efek letusan terhadap kompleks kaldera seluas 100X30 km sangat besar.[9] Perkiraan ekuivalen batuan padat (DRE) terhadap volume eruptif letusan ini berkisar antara 2.000 km³ dan 3.000 km³ – perkiraan DRE yang paling lazim adalah 2.800 km³ (sekitar 7×1015 kg) berwujud magma letusan dan 800 km³ di antaranya mengendap dalam bentuk debu vulkanik.[10] Massa letusannya 100 kali lebih besar daripada letusan gunung terbesar dalam sejarah modern, letusan Gunung Tambora di Indonesia tahun 1815 yang mengakibatkan "Tahun Tanpa Musim Panas" 1816 di belahan utara Bumi.[11]
Letusan Toba terjadi di Indonesia dan menghasilkan lapisan endapan debu setebal kira-kira 15 sentimeter di seluruh Asia Selatan. Debu vulkanik juga mengendap di Samudra Hindia, Laut Arab, dan Laut Cina Selatan.[12] Inti laut dalam yang diambil dari Laut Cina Selatan telah membuktikan besarnya jangkauan letusan, sehingga perhitungan massa letusan sebesar 2.800 km³ dianggap sebagai jumlah minimum atau bahkan terlalu kecil.[13]

Musim dingin vulkanik dan pendinginan[sunting | sunting sumber]

Letusan Toba tampaknya terjadi bersamaan dengan munculnya periode glasial terakhir. Michael L. Rampino dan Stephen Self berpendapat bahwa letusan tersebut mengakibatkan "pendinginan singkat yang dramatis atau 'musim dingin vulkanik'" yang menurunkan suhu permukaan rata-rata dunia sebesar 3–5 °C dan mempercepat transisi dari suhu panas ke dingin dalam siklus glasial terakhir.[14] Bukti dari inti es Greenland menunjukkan adanya periode minim Î´18O selama 1.000 tahun dan peningkatan endapan debu setelah letusan Toba. Letusan ini bisa jadi menghasilkan periode suhu dingin selama 1.000 tahun tersebut (stadial); dua abad di antaranya disebabkan oleh bertahannya muatan stratosfer Toba.[15] Rampino dan Self yakin bahwa pendinginan global sudah berlangsung saat letusan terjadi, namun prosesnya lambat; YTT "mungkin memberi 'tendangan' kuat sehingga sistem iklim beralih dari suhu panas ke dingin".[16] Walaupun Clive Oppenheimer menolak hipotesis bahwa letusan ini menyebabkan periode glasial terakhir,[17] ia setuju bahwa letusan Toba menyebabkan iklim dingin selama satu milenium sebelum peristiwa Dansgaard-Oeschger abad ke-19.[18]
Menurut Alan Robock,[19] yang pernah menerbitkan sejumlah makalah tentang musim dingin nuklir, letusan Toba tidak mendahului periode glasial terakhir. Namun dengan asumsi adanya emisi sulfur dioksida sebesar enam miliar ton, simulasi komputernya menunjukkan bahwa pendinginan global maksimum sebesar 15 °C terjadi selama tiga tahun setelah letusan, dan pendinginan tersebut bertahan selama beberapa dasawarsa dan bersifat mematikan. Karena tingkat selang adiabatik jenuh untuk suhu di atas titik beku adalah 4,9 °C/1.000 m,[20] garis pohon dan garis salju pada waktu itu lebih rendah 3.000 m (9.900 ft). Iklim kembali pulih setelah beberapa dasawarsa, dan Robock tidak menemukan bukti bahwa periode dingin 1.000 tahun yang tercatat di inti es Greenland diakibatkan oleh letusan Toba. Berbeda dengan Robock, Oppenheimer percaya bahwa perkiraan penurunan suhu permukaan sebesar 3–5 °C mungkin terlalu tinggi. Ia berpendapat bahwa suhu turun sebesar 1 °C saja.[21] Robock mengkritik Oppenheimer karena analisisnya didasarkan pada hubungan T-forcing yang sederhana.[22]
Meski ada berbagai macam perkiraan, para ilmuwan sepakat bahwa letusan super sebesar letusan Toba pasti menghasilkan lapisan debu yang sangat luas dan pelepasan gas beracun dalam jumlah besar ke atmosfer, sehingga memengaruhi iklim dan cuaca di seluruh dunia.[23] Selain itu, data inti es Greenland memperlihatkan perubahan iklim yang mendadak pada masa letusan Toba,[24] tetapi tidak ada konsensus bahwa letusan ini secara langsung menciptakan periode dingin 1.000 tahun yang tercatat di Greenland atau periode glasial terakhir.[25]
Para arkeolog yang menemukan lapisan debu vulkanik kaca mikroskopik di sedimen Danau Malawi pada tahun 2013, dan menghubungkan debu tersebut dengan letusan super Toba 75.000 tahun yang lalu, melihat tidak adanya perubahan jenis fosil yang dekat dengan lapisan debu yang terbentuk pasca musim dingin vulkanik. Bukti ini membuat arkeolog menyimpulkan bahwa letusan gunung berapi terbesar sepanjang sejarah umat manusia tidak mengubah iklim Afrika Timur.[26][27]

Teori penyusutan genetik[sunting | sunting sumber]

Letusan Toba telah dikaitkan dengan penyusutan genetik evolusi manusia sekitar 50.000 tahun yang lalu[28][29] yang terjadi akibat berkurangnya jumlah manusia karena efek letusan terhadap iklim global.[30]
Menurut teori penyusutan genetik, antara 50.000 dan 100.000 tahun yang lalu, populasi manusia berkurang tajam menjadi 3.000–10.000 orang.[31][32] Teori ini didukung oleh bukti genetik yang menunjukkan bahwa umat manusia masa kini adalah keturunan dari sedikit sekali manusia, antara 1.000 sampai 10.000 pasangan, sekitar 70.000 tahun yang lalu.[33]
Pendukung teori penyusutan genetik berpendapat bahwa letusan Toba mengakibatkan bencana ekologi global, termasuk kehancuran tanaman diiringi kekeringan parah di sabuk hutan hujan tropis dan kawasan monsun. Contohnya, musim dingin vulkanik selama 10 tahun yang diakibatkan letusan telah melenyapkan sebagian besar sumber makanan manusia dan menyebabkan berkurangnya populasi manusia.[22] Perubahan lingkungan seperti ini bisa jadi menghasilkan penyusutan populasi beberapa spesies, termasukhominid;[34] penyusutan ini mempercepat diferensiasi dari populasi manusia yang sedikit. Karena itu, perbedaan genetik di kalangan manusia modern merupakan cerminan perubahan yang terjadi pada 70.000 tahun terakhir, bukan diferensiasi bertahap selama jutaan tahun.[35]
Penelitian lain memunculkan keraguan terhadap teori penyusutan genetik. Misalnya, peralatan batu kuno di India selatan ditemukan di atas dan di bawah lapisan debu tebal dari letusan Toba dan bentuknya serupa, artinya awan debu dari letusan tersebut tidak memusnahkan populasi di daerah ini.[36][37][38] Bukti arkeologi lain dari India selatan dan utara juga menunjukkan sedikitnya bukti dampak letusan terhadap penduduk setempat, sehingga para peneliti berkesimpulan bahwa "banyak makhluk hidup yang selamat dari letusan super ini, bertentangan dengan penelitian lain yang menunjukkan kepunahan hewan dan penyusutan genetik dalam jumlah besar".[39] Akan tetapi, bukti dari analisis serbuk sari memperlihatkan adanya deforestasi panjang di Asia Selatan. Sejumlah peneliti berpendapat bahwa letusan Toba mungkin memaksa manusia menggunakan strategi adaptasi yang baru, sehingga mereka dapat menggantikan manusia Neanderthal dan "spesies manusia kuno lainnya".[40] Pendapat tersebut tidak sejalan dengan bukti keberadaan Neanderthal di Eropa dan Homo floresiensis di Asia Tenggara yang masing-masing selamat dari letusan ini selama 50.000 dan 60.000 tahun.[41]
Kekurangan lain dalam teori penyusutan pasca-Toba adalah sulitnya memperkirakan dampak iklim global dan regional letusan ini dan sedikitnya bukti pasti letusan ini sebelum penyusutan.[42] Selain itu, analisis genetik urutan Alu di seluruh genom manusia memperlihatkan bahwa ukuran populasi manusia yang efektif kurang dari 26.000 orang pada 1,2 juta tahun yang lalu. Penjelasan yang memungkinkan untuk rendahnya jumlah leluhur manusia meliputi penyusutan populasi yang terjadi berulang-ulang atau peristiwa penggantian periodik dari subspesies Homo lain.[43]

Penyusutan genetik manusia[sunting | sunting sumber]

Teori bencana Toba berpendapat bahwa penyusutan populasi manusia terjadi sekitar 70.000 tahun yang lalu. Jumlah manusia berkurang menjadi kurang lebih 15.000 orang ketika Toba meletus dan mengakibatkan perubahan lingkungan besar, termasuk musim dingin vulkanik.[44] Teori ini didasarkan pada bukti geologi perubahan iklim mendadak pada waktu itu dan penggabungan beberapa gen (termasuk DNA mitokondria, kromosom Y, dan sejumlah gen inti)[45] serta variasi genetik yang relatif rendah pada manusia modern.[44] Misalnya, menurut sebuah hipotesis, DNA mitokondria manusia (diwariskan dari garis ibu/maternal) dan DNA kromosom-Y (diwariskan dari garis bapak/paternal) masing-masing bergabung sekitar 140.000 dan 60.000 tahun yang lalu. Ini menunjukkan bahwa leluhur perempuan semua manusia modern berasal dari satu perempuan (Eva mitokondria) sekitar 140.000 tahun yang lalu, dan leluhur laki-lakinya berasal dari satu laki-laki (Adam kromosom-Y) sekitar 60.000 sampai 90.000 tahun yang lalu.[46]
Namun, gabungan seperti itu dapat diperkirakan secara genetik dan tidak benar-benar menentukan penyusutan populasi karena DNA mitokondria dan DNA kromosom Y hanya merupakan sebagian kecil dari genom manusia]]. Keduanya bersifat tidak biasa (atipikal) sehingga diwariskan secara eksklusif melalui ibu atau bapak. Kebanyakan gen diwariskan secara acak dari bapak atau ibu, jadi tidak bisa dilacak sampai ke leluhur matrilineal atau patrilineal.[47] Gen-gen lain memiliki jumlah gabungan sejak 2 juta sampai 60.000 tahun yang lalu, sehingga memunculkan keraguan terhadap peristiwa penyusutan manusia dalam jumlah besar.[44][48]
Penjelasan lain yang memungkinkan mengenai sedikitnya variasi genetik manusia modern adalah model transplantasi atau "penyusutan panjang", bukan perubahan lingkungan akibat bencana.[49] Ini konsisten dengan pendapat bahwa populasi manusia di Afrika sub-Sahara berkurang hingga 2.000 orang selama 100.000 tahun, kemudian bertambah pada Zaman Batu Terakhir.[50]

TMRCA lokus, kromosom Y, dan mitogenomdibandingkan dengan persebaran probabilitasnya dengan asumsi populasi manusia bertambah dari 11.000 orang pada 75.000 tahun yang lalu
Salah satu hambatan studi lokus tunggal adalah besarnya keacakan proses penentuan (fixation process), dan studi yang mempertimbangkan keacakan ini memperkirakan populasi manusia yang efektif sekitar 11.000–12.000 orang.[51][52]

Penyusutan genetik mamalia lain[sunting | sunting sumber]

Sejumlah bukti menunjukkan adanya penyusutan genetik pada hewan lain pasca letusan Toba. Simpanse Afrika Timur,[53]orangutan Kalimantan,[54] monyet India tengah,[55] cheetah, harimau,[56] dan pemisahan kelompok gen inti gorila daratan rendah timur dan barat[57] berhasil mengembalikan populasinya dari jumlah yang sangat sedikit sekitar 70.000–55.000 tahun yang lalu.

Migrasi pasca Toba[sunting | sunting sumber]

Persebaran geografis populasi manusia saat letusan terjadi tidak diketahui secara pasti. Manusia yang selamat mungkin tinggal di Afrika dan bermigrasi ke wilayah lain di dunia. Analisis DNA mitokondria memperkirakan bahwa migrasi besar dari Afrika terjadi 60.000–70.000 tahun yang lalu.[58] Jumlah tersebut konsisten dengan perkiraan waktu letusan Toba sekitar 66.000–76.000 tahun yang lalu.
Akan tetapi, temuan arkeologi terbaru menunjukkan bahwa populasi manusia di Jwalapuram, India Selatan, mungkin selamat dari efek letusan.[59] Selain itu, dipaparkan pula bahwa populasi hominid terdekat, seperti Homo floresiensis di Flores, selamat karena mereka tinggal di daerah yang membelakangi angin dari Toba.[60]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Kutipan dan catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ John Savino; Marie D. Jones (2007). Supervolcano: The Catastrophic Event That Changed the Course of Human History: Could Yellowstone Be Next. Career Press. hlm. 140. ISBN 978-1-56414-953-4.
  2. ^ Chesner & others 1991, p. 200; Jones 2007, p. 174; Oppenheimer 2002, pp. 1593–1594;Ninkovich & others 1978
  3. ^ "The Toba Supervolcano And Human Evolution". Toba.arch.ox.ac.uk. Diakses 2013-08-05.
  4. ^ http://www.geo.mtu.edu/~raman/VBigIdeas/Supereruptions_files/Super-eruptionsGeolSocLon.pdf
  5. ^ Ninkovich & others 1978.
  6. ^ Chesner & others 1991.
  7. ^ Chesner & others 1991, p. 200; Jones 2007, p. 174; Oppenheimer 2002, pp. 1593–1594;Ninkovich & others 1978
  8. ^ Rose & Chesner 1987, p. 913; Zielinski & Mayewski 1996.
  9. ^ Oppenheimer 2002, p. 1593.
  10. ^ Jones 2007, p. 174; Rose & Chesner 1987, p. 913.
  11. ^ Petraglia & others 2007, p. 114; Zielinski & others 1996, p. 837.
  12. ^ Jones 2007, p. 173
  13. ^ Jones 2007, p. 174; Oppenheimer 2002. pp. 1593–1596.
  14. ^ Rampino & Self 1993a, passim.
  15. ^ Zielinski & others 1996, pp. 837–840.
  16. ^ Rampino & Self 1992, p. 52; Rampino & Self 1993a, p. 277.
  17. ^ Robock & others (2009) tampaknya setuju dengan pendapat ini.
  18. ^ Oppenheimer 2002, p. 1606.
  19. ^ Robock & others 2009.
  20. ^ Adiabatic Lapse Rate, IUPAC Goldbook
  21. ^ Oppenheimer 2002, pp. 1593, 1601.
  22. ^ a b Robock & others 2009.
  23. ^ Self & Blake 2008, p. 41.
  24. ^ Zielinski & others 1996, p. 837.
  25. ^ Robock & others 2009 (page?).
  26. ^ "Doubt over 'volcanic winter' after Toba super-eruption. 2013". Phys.org. 2013-05-02. Diakses 2013-08-05.
  27. ^ http://www.pnas.org/content/early/2013/04/24/1301474110.full.pdf+html
  28. ^ Gibbons 1993, hlm. 27
  29. ^ Rampino & Self (1993)
  30. ^ Ambrose 1998, passim; Gibbons 1993, p. 27; McGuire 2007, pp. 127–128; Rampino & Ambrose 2000,Templat:Cnf pp. 78–80; Rampino & Self 1993b, pp. 1955.
  31. ^ Ambrose 1998; Rampino & Ambrose 2000,Templat:Cnf pp. 71, 80.
  32. ^ Supervolcanoes, BBC2, 3 February 2000
  33. ^ "When humans faced extinction". BBC. 2003-06-09. Diakses 2007-01-05.
  34. ^ Rampino & Ambrose 2000,Templat:Cnf p. 80.
  35. ^ Ambrose 1998,Templat:Cnf pp. 623–651.
  36. ^ "Mount Toba Eruption – Ancient Humans Unscathed, Study Claims". Diakses 2008-04-20.
  37. ^ Sanderson, Katherine (July 2007). "Super-eruption: no problem?" (– Scholar search).Nature. doi:10.1038/news070702-15. Diakses 2008-12-12.[pranala nonaktif]
  38. ^ John Hawks. "At last, the death of the Toba bottleneck".
  39. ^ Lihat pula "Newly Discovered Archaeological Sites in India Reveals Ancient Life before Toba". Anthropology.net. 25 February 2010. Diakses 28 February 2010.
  40. ^ "Supervolcano Eruption In Sumatra Deforested India 73,000 Years ago". Science Daily. 24 November 2009.; Williams & others 2009.
  41. ^ "Environmental Impact of the 73 ka Toba Super-eruption in South Asia – ScienceDirect". Anthropology.net. 24 November 2009. Diakses 3 March 2010.; "New Evidence Shows Populations Survived the Toba Super-eruption 74,000 Years ago".University of Oxford. 22 February 2009.
  42. ^ Oppenheimer 2002, pp. 1605, 1606.
  43. ^ Jika hasil ini akurat, maka sebelum kemunculan Homo sapiens di Afrika, jumlah Homo erectus sangat kecil ketika spesies ini menyebar ke seluruh dunia. Lihat Huff & others 2010, p.6; Gibbons 2010.
  44. ^ a b c Dawkins, Richard (2004), "The Grasshopper's Tale", The Ancestor's Tale, A Pilgrimage to the Dawn of Life, Boston: Houghton Mifflin Company, hlm. 416, ISBN 0-297-82503-8, ISBN
  45. ^ Ambrose, Stanley H. (February 1, 1998), "Late Pleistocene human population bottlenecks, volcanic winter, and differentiation of modern humans", Journal of Human Evolution (Academic Press) 34: 623–651, hu980219, diakses April 2, 2013
  46. ^ Dawkins, Richard (2004), The Ancestor's Tale, A Pilgrimage to the Dawn of Life, Boston: Houghton Mifflin Company, ISBN 0-297-82503-8, ISBN
  47. ^ See the chapter All Africa and her progenies in Dawkins, Richard (1995), River Out of Eden, New York: Basic Books, ISBN 0-465-01606-5, ISBN
  48. ^ "'Templeton tree' showing coalescence points of different genes". Diakses 2012-03-10.
  49. ^ ""Population Bottlenecks and Pleistocene Human Evolution", ''Molecular Biology and Evolution''". Mbe.oupjournals.org. Diakses 2012-03-10.
  50. ^ Rincon, Paul (2008-04-24). "Human line 'nearly split in two'". BBC News. Diakses 2012-03-10.
  51. ^ Takahata N (1993), "Allelic genealogy and human evolution", Mol Biol Evol 10 (1): 2–22, PMID 8450756.
  52. ^ Schaffner (2004)
  53. ^ Goldberg 1996.
  54. ^ Steiper 2006.
  55. ^ Hernandez & others 2007.
  56. ^ Luo & others 2004.
  57. ^ Thalman & others 2007.
  58. ^ "New 'Molecular Clock' Aids Dating Of Human Migration History". ScienceDaily. Diakses 2009-06-30.
  59. ^ Petraglia & others 2007, passim.
  60. ^ "Human species before and after the genetic bottleneck associated with Toba". Andaman.org. Diakses 2012-03-10.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]