Sabtu, 03 Januari 2015

Toba Bukan Lagi Milik Indonesia


Toba Bukan Lagi Milik Indonesia

Kamis, 20 Oktober 2011 | 14:28 WIB

KOMPAS.com — Adalah Van Bemmelen, geolog Belanda, yang mungkin bisa ditunjuk sebagai bapaknya teori Toba sebagai kaldera gunung api. Tahun 1939 ia ditugaskan Pemerintah Belanda untuk meneliti Danau Toba dan akhirnya menemukan bukti bahwa danau indah itu merupakan kaldera gunung raksasa.

Temuan itu sempat menimbulkan kontroversi. Namun, di beberapa negara, seperti Malaysia dan India, kemudian ditemukan abu vulkanik yang diidentifikasi berasal dari letusan Toba. Teori Bemmelen lambat tapi pasti mulai diterima masyarakat hingga kini.

Van Bemmelen adalah pencetus teori bahwa kaldera Toba berasal dari satu letusan dahsyat. Teori ini didukung oleh Aldiss dan Ghazali. Namun, melalui penanggalan dengan metode radiometri, para peneliti setelahnya berhasil mengungkap bahwa letusan Toba berasal dari empat letusan besar. Beberapa peneliti itu, di antaranya, Vestappen (1961), Yokoyama dan Hehanusa (1981), Nishimura (1984), Knight (1986), dan Chesner dan Rose (1991).

Craig A Chesner, profesor geologi dari Eastern Illinois University, masih aktif meneliti Toba hingga saat ini. Thesis Chesner tentang Toba semakin memperjelas posisi Toba sebagai supervolcanoyang letusannya berdampak global.

Chesner-lah orang yang memberi jalan bagi lahirnya embrio teori Toba Catastrophe ketika ia mengirimkan sampel abu vulkanik Toba ke peneliti John Westgate (University of Toronto) tahun 1994. Westgate saat itu sedang berusaha mencari tahu asal abu vulkanik yang berusia 74.000 tahun lalu yang tersebar di berbagai belahan bumi.

Kiriman abu vulkanik Toba dari Chesner menjadi akhir dari pencarian Westgate. Tahun 1998, Stanley H Ambrose dari University of Illinois at Urbana-Champaign membangun teori baru Toba Catastrophe yang menawarkan analisis bahwa letusan dahsyat Toba telah membuat dunia mengalami penurunan suhu drastis dan membuat populasi manusia hampir punah.

Michael L Rampino (New York University), Stephen Self (University of Hawaii at Manoa), kemudian Greg Zielinski (University of Massachusetts) merupakan peneliti berpengaruh yang secara mendalam mempelajari material abu vulkanik Toba. Merekalah yang menyediakan data bagi lahirnya teori Toba Catastrophe yang diyakini membuat kemacetan populasi manusia.

Teori Toba Catastrophe semakin dipertajam oleh peneliti genetika asal Inggris yang ahli sintesis DNA, Stephen Oppenheimer. Terkait Toba, Oppenheimer yang didukung Bradshaw Foundation telah merilis migrasi manusia dengan judul Journey of Mankind. Tulisan yang disertai simulasi migrasi manusia itu memberi posisi penting letusan Toba yang dianggap melahirkan perubahan drastis genetika pada ras-ras Homo sapiens.

Meski demikian, Toba dan teori migrasi itu hanya berkumandang di debat-debat internasional di luar Indonesia. Hingga kini, Indonesia masih sepi dari minat terhadap Toba. (Ahmad Arif, Indira Permanasari, Amir Sodikin, M Hilmi Faiq)

Ikuti perkembangan Ekpedisi Cincin Api di: www.cincinapi.com atau melalui facebook: ekspedisikompas atau twitter @ekspedisikompas
Lihat Ekspedisi Cincin Api Kompas - Toba di peta yang lebih besar


Editor: Fikria Hidayat


Sumber:http://sains.kompas.com/read/2011/10/20/14284020/Toba.Bukan.Lagi.Milik.Indonesia

Nenek Moyang Bangsa Asia dari Asia Tenggara

Nenek Moyang Bangsa Asia dari Asia Tenggara

 | 5.742 Views

Jakarta (ANTARA News) - Hasil riset terbaru DNA (deoxyribonucleic acid) tentang asal-usul manusia Asia menyimpulkan bahwa Asia Tenggara merupakan sumber geografis utama dari populasi di Asia yang kemudian menyebar ke utara.


"Nenek-moyang bangsa-bangsa Asia yang keluar dari Afrika sekitar 100 ribu tahun lalu itu menyusuri sepanjang pesisir selatan ke arah timur dan lebih dulu berpusat di Asia Tenggara sekitar 60 ribu tahun lalu, baru kemudian menyebar ke berbagai kawasan di utaranya di Asia," kata Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Dr Sangkot Marzuki kepada pers di Jakarta, Jumat.



Kesimpulan terbaru ini, disebutkan Sangkot, membantah teori sebelumnya yang menyebut bahwa ada jalur majemuk migrasi nenek moyang bangsa Asia, yakni melalui jalur utara dan jalur selatan, dan membantah bahwa bangsa Asia Tenggara (yang berbahasa Austronesia) berasal dari Taiwan.



Hal itu terlihat pula dari keanekaragaman genetik yang makin ke selatan semakin tinggi, sedangkan etnik-etnik di kawasan Asia lebih utara lebih homogen, ujar Sangkot yang merupakan salah satu pemrakarsa riset tersebut.



Riset ini dilakukan oleh lebih dari 90 ilmuwan dari konsorsium Pan-Asian SNP (single-nucleotide polymorphisms) dinaungi Human Genome Organisation (HUGO) yang meneliti 73 populasi etnik Asia di 10 negara (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, India, China, Korea, Jepang dan Taiwan) dengan total sekitar 2.000 sample.



Menurut Sangkot, kesimpulan dari riset yang memakan waktu tiga tahun dan telah dirilis di jurnal Science pada 10 Desember 2009 berjudul "Mapping Human Genetic Diversity in Asia" itu jauh lebih akurat dibanding riset-riset sebelumnya yang hanya menggunakan DNA mitokondria atau kromosom Y, karena menganalisis seluruh kromosom.



Ia menolak menyimpulkan secara spesifik bahwa pusat peradaban bangsa Asia pada sekitar 60 ribu tahun lalu itu ada di Indochina atau di semenanjung Malaya, karena masih memerlukan riset yang lebih detil lagi.



"Bisa saja pusatnya sebenarnya ada di Sundaland (di laut China Selatan -red) yang sudah tenggelam pada sekitar 12.000 hingga 8.000 tahun lalu," katanya.



Dikatakan dia, penjelasan menyeluruh dari sejarah genetik populasi Asia memerlukan suatu studi lanjutan mengenai genom dengan lebih banyak sample dan marka yang densitasnya lebih tinggi lagi. Saat ini dari setiap individu sample dianalisis 50 ribu marka.



"Fase berikutnya kami akan lebih banyak memasukkan berbagai etnik, sehingga percabangannya akan menjadi lebih detil terlihat," katannya. 



Pemetaan keanekaragaman genetik ini, tambah dia, juga sangat penting bagi penelusuran dan penanganan berbagai penyakit genetik seperti hepatitis, thalasemia, dan lain-lain.
(*)
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2009

Sumber:
http://www.antaranews.com/berita/165540/nenek-moyang-bangsa-asia-dari-asia-tenggara

Secara Genetik, Manusia Indonesia Berbeda-beda

MULTIKULTURAL

Secara Genetik, Manusia Indonesia Berbeda-beda

Kamis, 19 Juli 2012 | 03:26 WIB

Jakarta, Kompas - Manusia Indonesia tidak hanya berbeda-beda budaya, tetapi secara genetik beragam pula. Untuk membangun Indonesia yang multikultural, keragaman tersebut menjadi titik tolak.
Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang juga Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Sangkot Marzuki dalam seminar ”Transformasi Mozaik Etnisitas Menjadi Manusia Indonesia Multikultural”, Rabu (18/7), menyatakan, penelitian genom manusia membuka era baru biologi molekuler, termasuk pemanfaatan dalam mencari asal-usul suatu bangsa.
Di Asia, misalnya, asal-usul bangsa dan migrasi manusia diungkap penelitian yang dilakukan Pan-Asian Single Nucleotide Polymorphisms Consortium yang dinaungi Human Genome Organisation. Sebanyak 90 peneliti, termasuk dari Indonesia, terlibat dalam studi lebih luas, mencakup 73 populasi di Asia Tenggara dan Timur.
Sangkot mencontohkan, dengan melihat kemiripan gen, manusia Indonesia secara sederhana dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok populasi (pohon filogenetik). Kelompok pertama merupakan manusia Batak, Jawa, Tengger, Bali, Dayak, Minang, dan Melayu (Riau). Kelompok kedua, Sasak, Makassar, Bugis, Sumba Timur, Kaili, Minahasa, dan Sumbawa. Kelompok ketiga, manusia Alor dan Papua. Dari ketiga kelompok, manusia Alor dan Papua sangat berbeda secara genetik dibandingkan dengan dua kelompok lain.
Hal ini sejalan dengan penelitian antropologi sebelumnya. Manusia modern dengan ciri Austroloid, nenek moyang Aborigin Australia dan Papua, lebih dulu menempati kepulauan Indonesia, yakni 50.000-60.000 tahun lalu, disusul kedatangan para migran penutur Austronesia, 5.000-2.000 tahun lalu.
Perbedaan makin nyata dalam unsur budaya sekitar 500 etnis di Indonesia. Dalam seminar, pembicara yang terdiri atas sejumlah pakar membahas deskripsi dan nilai-nilai dari 11 etnis sebagai upaya mendalami keragaman.
Yang tak kalah penting, tak ada identitas murni. Suatu populasi bisa memiliki perpaduan kode genetik. ”Populasi penutur Austronesia, misalnya, ada yang memiliki perpaduan gen penutur Austronesia dan non-Austronesia,” ujarnya. Persinggungan dengan pedagang China, India, dan Arab menambah keragaman gen.
Ketua Komisi Kebudayaan AIPI Toeti Heraty Noerhadi mengatakan, mewujudkan Indonesia multikultural harus bertolak dari Indonesia dengan berbagai suku bangsa. (INE)

Sumber:
http://health.kompas.com/read/2012/07/19/03264156/Secara.Genetik.Manusia.Indonesia.Berbeda-beda

"Out of Africa" Terjadi 62.000 Tahun yang Lalu

Hasil Terbaru Analisis DNA

 "Out of Africa" Terjadi 62.000 Tahun yang Lalu

BBC/"PRLM"
BBC/"PRLM"
AWAL migrasi nenek moyang kita dari Afrika yang dikenal sebagai "Out of Africa" kini masih menjadi perdebatan.*



TUBINGEN, (PRLM).- Nenek moyang kita bermigrasi keluar dari Afrika lebih baru daripada yang dipikirkan, meninggalkan tempat kelahiran manusia 62.000 tahun yang lalu, menurut penelitian terbaru. Temuan terbaru dari analisis genetik kerangka fosil ini bertentangan dengan studi gen sebelumnya yang  mencatat jejak pertama manusia kuno keluar dari Afrika terjadi 90.000 hingga 120.000 tahun yang lalu. Itu adalah penanggalan yang cukup bermasalah bagi para peneliti karena tampaknya bertentangan dengan bukti-bukti yang diberikan oleh catatan arkeologi. Meskipun migrasi massal adalah salah satu  peristiwa yang paling penting dalam evolusi manusia, tepatnya ketika dimulai telah menjadi subyek  perdebatan ilmiah yang sengit.
Satu tim merevisi tanggal migrasi keluar dari Afrika kurang dari 80.000 tahun yang lalu (berdasarkan bukti arkeologis) hingga setidaknya 90.000 - 130.000 tahun yang lalu. Studi lain menempatkan tanggal sejauh  200.000 tahun yang lalu. Namun, pakar evolusi genetika Johannes Krause dari Universitas Tübingen, Jerman, meragukan bahwa tingkat mutasi dikalibrasi dari manusia hidup dapat diterapkan kembali dalam sejarah spesies kita. Untuk menguji gagasan tersebut, ia dan rekan-rekannya merangkai DNA mitokondria yang ditemukan pada 10 kerangka fosil manusia yang usianya sudah dikenal andal dari metode penanggalan radiokarbon.
Ketika para peneliti menerapkan tingkat mutasi DNA kuno pada migrasi "Out of Africa", mereka mendapat perkiraan baru yaitu 62.000 sampai 95.000 tahun yang lalu saat dimulainya migrasi, hampir setengah umur yang diberikan oleh metode lain. "Yang menyenangkan tentang ini adalah itu mirip dengan bukti arkeologi," kata Dr Krause kepada ScienceNOW. Tentu saja, variasi yang lebar yang ditemukan dari penelitian ini masih menyisakan banyak pertanyaan yang harus dijawab. Ahli genetika kuantitatif Peter Visscher, dari Universitas Queensland, yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada LiveScience bahwa itu belum jelas metode mana yang paling dapat diandalkan. "Perdebatan ini akan terus sedikit lebih lama, tapi tak lama kemudian ada  kemungkinan untuk menjadi konsensus, karena ada begitu banyak sekuensing yang dilakukan di seluruh dunia," katanya. (Aya/A-147)***


Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/node/228203

Bagaimana Kode Genetika Membuka Evolusi & Migrasi Manusia

Bagaimana Kode Genetika 

Membuka Evolusi & Migrasi Manusia




Pedebatan tentang Indonesia Atlantis menyerempet genetika. Nanti juga di Toba, Geotrek Indonesia akan membahas apakah benar erupsi Toba menimbulkan penciutan populasi manusia (genetic bottlenecking). Sebenarnya bagaimana genetika terlibat dalam masalah evolusi dan migrasi manusia itu. Demikian uraiannya, sebelum kita diskusikan lebih jauh masalah Indonesia Atlantis dan Toba Genetic Bottlenecking.

Semua makhluk hidup tersusun atas sel. Manusia, sebagai makhluk hidup yang secara biologi sangat kompleks, disusun oleh milyaran sel. Meskipun setiap sel mempunyai fungsi yang berbeda sesuai organ yang disusunnya, rancangan dasar sel adalah sama, yaitu antara lain mempunyai intisel atau nukleus. Di dalam nuklues ada kromosom, serupa benang yang sebenarnya merupakan kumpulan gen. Gen adalah pembawa sifat keturunan makhluk hidup. Harus seperti apa sel dan organ dibangun, akan ditentukan oleh gen. Lebih renik lagi, gen disusun oleh DNA (deoxyribo-nucleic-acid), inilah yang sebenarnya merupakan materi genetik. DNA adalah molekul yang mengandung kode-kode sangat rumit. Kode-kode genetika itu ada dalam kombinasi basa-basa penyusun DNA yaitu timin (T), adenin (A), Guanin (G) dan sitosin (S). Kombinasi huruf2 basa dalam DNA sangat rumit sebab DNA satu sel saja mengandung kira-kira 3000 juta huruf (Brokes, 1999).

Kini, ilmu genetika sudah sangat maju, para ahlinya dapat mengurutkan (sequencing) kode-kode genetika DNA. Ilmu ini dapat digunakan untuk keperluan rekayasa genetika seperti: menghasilkan bibit unggul, mengenal identitas seseorang dan keluarganya (DNA fingerprinting), atau untuk mengetahui sejarah evolusi makhluk hidup, termasuk riwayat migrasinya (molecular anthropology). Yang terakhir inilah yang akan kita bahas lebih lanjut.

Perubahan-perubahan evolusi merupakan hasil akumulasi mutasi-mutasi (perubahan) baru dalam DNA. Dengan membandingkan sekuens DNA dari spesies-spesies yang berbeda, sejarah evolusi mereka dapat ditelusuri. Sequencing DNA memberikan informasi mengenai sejarah biologi manusia.
Sejarah dan pergerakan populasi berpengaruh pada distribusi gen pada masa kini. Artefak budaya dan fosil manusia mengandung informasi mengenai masa lalu manusia dan distribusi geografinya.

Dengan data ini, pola evolusi dan migrasi manusia dapat diketahui. Tetapi berapa banyak artefak dan fosil ditemukan? Kebanyakan data ini ditemukan tidak sengaja, sehingga populasi datanya jarang dan tidak merata. Kesimpulan yang ditarik atas populasi data yang kurang mempunyai keterbatasan sendiri. Namun berbeda dengan data genetik, gen. Gen mengandung lebih banyak petunjuk yang dapat diandalkan sebab sebaran datanya banyak dan merata ke seluruh Bumi, dan teknologi maju DNA sangat membantu studi sejarah manusia ini. Sampelnya adalah darah manusia masa kini, sebab setiap tetas darah kita mengandung catatan sejarah genetika kita.

Beberapa studi genetika yang melibatkan populasi data DNA seluruh dunia telah menemukan bahwa perbedaan DNA antara populasi Afrika modern jauh lebih besar daripada populasi manapun di seluruh dunia. Variasi gen seluruh bangsa di dunia ada di Afrika, tetapi variasi gen yang ada di Afrika tidak seluruhnya ada di bangsa-bangsa lain. Ini mengindikasi bahwa populasi manusia di Afrika lebih tua dari bangsa-bangsa lain dan Afrikalah sumber manusia modern yang kini tersebar di seluruh dunia. Mereka berasal dari Afrika, atau keluar dari Afrika dan bermigrasi ke tempat lain, inilah yang terkenal sebagai Out of Africa.

Para ahli biologi dan antropologi molekuler kemudian dapat menggali informasi lebih dalam, mereka dapat menentukan kapan Out of Africa terjadi. Perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa mutasi sel terakumulasi di DNA dengan laju stabil, seperti detak jam. Dengan menghitung jumlah perbedaan yang terakumulasi dan mengetahui laju terjadinya mutasi, mereka dapat memperhitungkan data ke belakang untuk menemukan tanggal pertama kali semua terjadi. Dengan cara itu, kini telah diketahui bahwa manusia modern (Homo sapiens) muncul pertama kali di Afrika Timur sekitar 160.000 tahun yang lalu (Oppenheimer, 2003). Keluar dari Afrika untuk pertama kalinya 135.000 tahun yang lalu, tetapi ini bukan golongan yang menurunkan manusia modern di seluruh dunia sebab mereka punah oleh iklim ekstrem di pengembaraan. Golongan migran yang keluar dari Afrika dan menurunkan semua manusia modern sekarang adalah kelompok yang keluar Afrika pada 90.000-85.000 tahun yang lalu (Oppenheimer, 2003).

Demikian migrasi manusia diketahui melalui DNA yang dibawanya. Teknik sequencing DNA ampuh, tetapi tidak menjamin tidak ada perdebatan di antara para ahli mengenai evolusi dan pola migrasi manusia terjadi. Pendapat Oppenheimer (2003) di atas banyak juga mendapatkan tantangan dari para ahli genetika lainnya, dalam hal umur dan arah migrasi, tetapi teknik sequencing DNA adalah terbukti.

Di bawah adalah peta migrasi manusia modern (National Geographic Indonesia, Maret 2006) menurut studi DNA manusia dari berbagai bangsa berdasarkan projek genome manusia selama 5 tahun dari akhir 1990-an, sebuah projek raksasa melibatkan ratusan ilmuwan sedunia, termasuk dari Indonesia (Lembaga Eijkman, Jakarta).
Genetika


Sumber:
http://tektonesiana.org/notes/awangs-memoirs/011-bagaimana-kode-genetika-membuka-evolusi-migrasi-manusia/

Manusia Modern Hijrah dari Afrika Lewat Arab

Manusia Modern Hijrah dari Afrika Lewat Arab

 

Manusia Modern Hijrah dari Afrika Lewat Arabnationalgeographic.com
Melalui metode analisis baru, IBM dan Genographic Project menemukan bukti baru yang mendukung jalur selatan migrasi manusia, yaitu dari Afrika lewat Selat Bab al Mandab sebelum bergerak menuju utara. Demikian hasil penelitian yang diumumkan pada sebuah konferensi di National Geographic Society awal bulan ini.

“Sejarah evolusi menunjukkan bahwa populasi manusia mungkin berasal di Afrika, dan Genographic Project, survei yang paling luas soal data genetik populasi manusia hingga kini, menunjukkan ke mana mereka pergi berikutnya... Manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika melalui rute selatan lewat Arab, daripada rute utara lewat Mesir,” menurut pernyataan yang dirilis oleh IBM.

National Geographic dan konsorsium ilmiah Genographic Project IBM mengembangkan metode analisis baru yang mencari jejak hubungan antara urutan genetik dari pola rekombinasi–proses dari molekul-molekul DNA yang rusak dan bergabung kembali untuk membentuk pasangan baru.

Sembilan puluh sembilan persen dari genom manusia berjalan melalui proses pengocokan DNA yang dikirim dari satu generasi ke generasi berikutnya. Berbagai daerah genomik dalam penelitian tersebut sebagian besar belum diselidiki untuk memahami sejarah migrasi manusia.


Dengan melihat kesamaan pola rekombinasi DNA yang telah diteruskan kepada populasi berbeda, para ilmuwan Genographic mengkonfirmasi bahwa Afrika merupakan populasi yang paling beragam di dunia, dan bahwa keragaman garis keturunan di luar Afrika adalah bagian dari benua ini.

Perbedaan sejarah genetik umum antarpopulasi menunjukkan bahwa kelompok Eurasia lebih mirip dengan populasi dari India selatan. Ini mendukung rute selatan migrasi dari Afrika melalui Selat Bab al Mandab di Arab sebelum bergerak menuju utara. Hal ini menunjukkan peran khusus Asia Selatan dalam ekspansi manusia modern yang “keluar dari Afrika.”

Ajay Royyuru, manajer senior di Pusat Biologi Komputasi IBM mengatakan, “Selama enam tahun terakhir, kami telah memiliki kesempatan untuk mengumpulkan dan menganalisis data genetika di seluruh dunia pada skala dan tingkat detail yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ketika kami memulai, tujuan kami adalah membawa ilmu pengetahuan ke dalam ekspedisi era modern untuk pemahaman yang lebih soal akar manusia dan keberagaman. Fakta menunjukkan bahwa keragaman genetik di India bagian selatan lebih dekat ke Afrika daripada Eropa. Ini menunjukkan bahwa bidang-bidang riset seperti arkeologi dan antropologi harus mencari bukti tambahan pada rute migrasi manusia purba untuk lebih mengeksplorasi teori ini.


”

Menurut IBM, metode analisis baru ini terlihat pada rekombinasi kromosom DNA dari waktu ke waktu, yang merupakan salah satu penentu dari bagaimana urutan gen baru diciptakan pada generasi berikutnya. “Bayangkan sebuah kromosom kombinasi bagai setumpuk kartu. Ketika sepasang kromosom dikocok bersama-sama, menciptakan kombinasi DNA. Proses rekombinasi terjadi melalui generasi,” ungkap IBM dalam pernyataannya.

Rekombinasi memberikan kontribusi terhadap keanekaragaman genom dalam 99% genom manusia. Namun, banyak orang percaya tidak mungkin untuk memetakan sejarah rekombinasi DNA karena begitu rumitnya, tumpang tindih pola dalam setiap generasi. Sekarang, dengan menerapkan metode komputasi rinci dan algoritma yang kuat, para ilmuwan dapat memberikan bukti baru pada ukuran populasi dan sejarah kuno.




Laxmi Parida, seorang peneliti IBM, mendefinisikan pendekatan komputasi baru dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Biologi Molekuler dan Evolusi mengatakan, "Hampir 99% dari susunan genetik individu adalah lapisan cetakan genetik dari garis keturunan banyak individu. Tantangan kita adalah apakah itu layak bagi suatu garis keturunan untuk memahami kesamaannya. Melalui pendekatan analisis dan model matematika, kita melakukan tugas rumit merekonstruksi sejarah genetik suatu populasi. Dengan demikian, kita sekarang memiliki alat untuk mengeksplorasi lebih banyak dari genome manusia. "

Proyek Genographic terus mengisi kekosongan pengetahuan tentang sejarah manusia dan membuka informasi dari akar genetik yang tidak hanya berdampak pada kisah-kisah pribadi kita, melainkan mengungkapkan pula dimensi baru dari peradaban, budaya dan masyarakat selama puluhan ribu tahun terakhir.

“Penerapan metode analisis baru, seperti studi keragaman rekombinasi, menyoroti kekuatan pendekatan Proyek Genographic itu sendiri. Setelah sumber daya yang luar biasa itu dirakit dalam bentuk pengumpulan sampel global dan database standar, kita dapat mulai menerapkan metode baru analisis genetik untuk memberikan wawasan yang lebih besar ke dalam sejarah migrasi spesies kita,” kata Direktur Proyek Genographic Spencer Wells.




Penelitian rekombinasi menyoroti upaya enam tahun awal Genographic Project untuk membuat survei yang paling komprehensif dari variasi genetik manusia dengan menggunakan DNA sumbangan masyarakat adat dan anggota masyarakat umum, dalam rangka untuk memetakan bagaimana bumi dihuni. Hampir 500.000 orang telah berpartisipasi dalam proyek dengan penelitian lapangan yang dilakukan oleh sebelas tim ilmiah regional untuk memajukan ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang silsilah bermigrasi. Database ini adalah salah satu koleksi terbesar dari informasi genetik populasi manusia dan berfungsi sebagai sumber daya yang belum pernah ada sebelumnya untuk genetikawan, sejarawan dan antropolog.

Genographic Project berusaha untuk memetakan pengetahuan baru tentang sejarah migrasi spesies manusia dan menjawab kuno pertanyaan seputar keragaman genetik manusia. Proyek ini merupakan, nirlaba multi-tahun, penelitian kemitraan global dari National Geographic dan IBM dengan dukungan lapangan oleh Waitt Family Foundation. Inti proyek ini adalah konsorsium global dari sebelas tim ilmiah daerah berikut kerangka etika dan ilmiah dan yang bertanggung jawab atas pengumpulan sampel dan analisis di daerah masing-masing. 


Proyek ini terbuka untuk anggota masyarakat untuk berpartisipasi melalui pembelian kitpartisipasi publik dari situs, di mana mereka dapat memilih untuk menyumbangkan hasil genetik mereka ke database berkembang. Penjualan kit bantuan dana penelitian dan dukungan Dana Legacy bagi masyarakat-masyarakat adat yang dipimpin bahasa dan tradisional proyek-proyek revitalisasi dan budaya.
 

Sumber: National Geographic
Disarikan oleh Mahandis Y. Thamrin/NGI

(Editor)

Sumber:
http://nationalgeographic.co.id/berita/2011/11/manusia-modern-hijrah-dari-afrika-lewat-arab

Teka-teki Homo Sapiens Keluar Afrika

Teka-teki Homo Sapiens Keluar Afrika

Teka-teki Homo Sapiens Keluar Afrika
fann.sk

TEMPO Interaktif, Jakarta - Jurnal Science edisi 27 Januari 2011 mengulas panjang-lebar tentang "Out of Africa". Media bergengsi tersebut tidak bercerita tentang film Out of Africa produksi 1985 yang dibintangi Meryl Streep dan Robert Redford, melainkan migrasi Homo sapiens atau nenek moyang manusia modern keluar dari Afrika.

Sampai saat ini, para ahli sepakat bahwa Benua Hitam itu sebagai awal munculnya genus Homo, termasuk Homo sapiens, yang menjadi cikal bakal kita. Hal tersebut berdasarkan dukungan ilmu genetika melalui penelitian DNA mitokondria gen perempuan ("Eve" mitochondrial gen) dan Y kromosom gen laki-laki ("Adam" Y chromosome).

Berdasarkan biomolecular dating, kronologi migrasinya sebagai berikut 120k (ribu tahun lalu) ke Afrika Selatan, 100k mencapai Israel, 70-50k mencapai Arabia dan wilayah Timur Tengah, serta 50-30k mencapai Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Cabang lain ke Eropa dan Siberia; 20-15k mencapai Bering dan Alaska, Amerika Utara; 15-12k mencapai Amerika Selatan.

Migrasi Homo erectus (spesies jauh sebelum Homo sapiens) dan Homo sapiens sangat dibantu oleh "global cooling" yang terjadi sejak 5 atau 6 M (juta tahun lalu), pada awal Pliosen. Zaman glasiasi merendahkan air laut, melebarkan daratan, menyempitkan laut, dan membentuk banyak jembatan daratan.

Bukti-bukti saat ini pada deep sea core menunjukkan turunnya temperatur dan luasnya glasiasi dalam tiga juta tahun terakhir. Siklus isotop oksigen yang diukur pada rangka fauna mikroskopik di dalam core menunjukkan fluktuasi muka laut ini yang mengikuti periode dingin dan hangat sejarah bumi.

Ternyata pada periode 70k bumi memasuki zaman es terakhir. Permukaan laut menjadi lebih rendah 100-200 meter ketika air tertahan di gletser. Pada bagian tersempit, muara Laut Merah di antara Tanduk Afrika dan Arabia akan berjarak beberapa kilometer saja. Dengan rakit atau perahu sederhana, Homo sapiens dapat menyeberanginya untuk bermigrasi ke luar Afrika.

Simon Armitage dari Royal Holloway University of London, dalam tulisannya di jurnal Science ini, menyebutkan, lewat celah sempit di Tanduk Afrika itulah manusia modern keluar Afrika. "Mereka tiba di Arabia timur jauh lebih awal, yakni 125 ribu tahun lalu, dan tidak melalui Lembah Sungai Nil atau Timur Dekat seperti hasil penelitian selama ini," katanya.

Armitage mendasari kesimpulannya setelah melakukan penggalian di situs arkeologi Jebel Faya di Uni Emirat Arab. Tim ahli internasional itu menemukan peralatan tangan yang relatif primitif yang dipakai untuk mencakar dan melubangi.

Peralatan yang menyiratkan adanya inovasi teknologi dari manusia purba itu terkubur dalam sedimen yang terdiri atas batu dan pasir. Dari pengukuran karbon, alat-alat itu berusia sekitar 125 ribu tahun.

Temuan serta analisis Armitage dan timnya membuka analisis baru teori Out of Africa selama ini. Apa itu? Bahwa keluarnya manusia modern dari Afrika pertama kali belum tentu melewati Terusan Suez.

Memang isu tentang kapan dan melalui jalur mana penyebaran manusia modern dari Afrika menjadi sumber perdebatan sejak dulu. Walaupun ada bukti yang menunjukkan eksodus di sepanjang pantai Laut Tengah atau pesisir Arab sekitar 60 ribu tahun lalu.

Selain Armitage dan koleganya, tim peneliti lain adalah Hans Peter Uerpmann dari University of Tubingen di Jerman. Gabungan tim peneliti ini menganalisis permukaan laut dan catatan perubahan iklim di wilayah Tanduk Afrika selama periode interglacial terakhir atau sekitar 130 ribu tahun lalu.

Mereka menemukan petunjuk bahwa Selat Bab al-Mandab, yang memisahkan Arab dari Tanduk Afrika, menyempit karena paras muka laut yang rendah. "Manusia modern mungkin bisa berjalan menggunakan rakit atau perahu yang tentu dapat dibuat pada waktu itu," kata Uerpmann.

Dari sini menjadi gerbang eksodus Homo sapiens ke Semenanjung Arab, kemudian ke Bulan Sabit Subur dan India. "Arkeologi tanpa waktu seperti sebuah teka-teki dengan ujung saling terhapus," kata Armitage.

Menurut Armitage, kita memiliki banyak potongan informasi individu, tapi tidak dapat memasukkan mereka bersama-sama untuk menghasilkan gambar yang besar. Pada Jebel Faya, katanya, waktu mengungkapkan gambaran menarik di mana manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Hal ini dibantu oleh fluktuasi iklim global dan permukaan laut di Jazirah Arab.

Peneliti lain antusias dengan penemuan di Jebel Faya. Namun mereka berhati-hati terhadap kesimpulannya. "Satu situs tidak dapat mengkonfirmasi hipotesis bahwa 'Out of Africa' melalui Saudi," kata arkeolog Mark Beech, dari Britain's University of York.

UNTUNG WIDYANTO | SCIENCEDAILY | GRAPHICNEWS


Sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2011/01/31/095310020/Teka-teki-Homo-Sapiens-Keluar-Afrika