Kamis, 17 Oktober 2013

Review Kamera Prosummer Murah (Fujifilm Finepix S2950)

Baru sempat menuliskan review kamera saya, ketika barangnya sudah laku terjual. Walaupun demikian, semoga apa yang saya tuliskan disini bermanfaat atau sekedar memberikan gambaran tentang salah satu kamera produksi Fujifilm ini.

Alasan pertama membeli produk ini adalah, prosummer (kamera semi-pro) adalah sebagai jembatan dari kaera pocket sebelum menuju ke DSLR. 

Kalau langsung ke DSLR pun tak masalah jika ada dana, dan saya termasuk dalam kategori yang belum punya dana saat itu.


Secara umum, unuk dokumentasi pribadi sudah cukup mumpuni dengan pengaturan manual yang segitu banyaknya. Namun bagi yang berhasrat untuk mendapatkan sesuatu yang lebih, tentu tetap bercita-cita bisa mendapatkan DSLR. Untuk data teknis bisa di cari di google, saya akan mengulas dari sisi pribadi saya sebagai pengguna. Tentu saja akan saya lampirkan hasil foto dari kamera ini.


Kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:
+ Harga terjangkau (saya beli 2nd dengan harga 1jt pas)
+ Pengaturan manual lengkap
Dari shutter speed sangat rendah (8") yang bisa untuk membuat efek garis cahaya kalau memotret kendaraan di malam hari sampai shutter speed tinggi (1/2000) bisa untuk memotret dengan jelas walaupun dalam kondisi berkendara dengan kencang.
+ Rentang ISO, bukaan lensa, dsb yang bisa kita setting sesuai kebutuhan kita ketika memotret.
+ Zoom jauh, 18x optical zoom. Mantab buat foto candid ataupun foto bulan juga bisa
+ Ringan, jelas. Lebih ringan dan mungil dari DSLR pada umumnya.
+ Video HD, hasilnya halus, mantab. Mau bikin film pendek, profil, dsb siapp
ketika dipasang filter cpl

Kekurangan:
- Sensor
Jelas kalah jauh jika di adu dengan DSLR. Ini juga yang menjadikan susah ketika foto indoor dengan objek yang bergerak. Mau menaikkan shutter speed jadi gelap fotonya, diatasi dengan menaikkan ISO jatuhnya foto banyak noise, dibantu dengan blitz agar optimal bisa tapi dengan syarat objek di foto dalam jarak dekat, sebatas jangkauan blitz kondisi medium karena kalau dibuat maksimal hasilnya over. Padahal tidak semua moment bisa kita abadikan dalam jarak dekat.
- Seri S adalah yang paling murah.
Dengan fitur terbatas, ingin pasang filter saja gak ada tempatnya dan harus dengan adapter, itupun tidak ada adapter yang sesuai (langsung plug n play). Ataupun ada harganya mahal, dan akhirnya harus custom sendiri.
- Susah bokeh.
Fotografi memang tidak selalu harus mendapatkan efek bokeh, namun ketika ini tidak ada atau susah untuk di dapatkan, sangat dirasakan kekurangannya. Untuk mendapatkan bokeh yang agak cakep harus dengan tambahan lensa makro (lagi-lagi ini harus custom sendiri) namun tetap saja ini berlaku untuk objek kecil, kalo besar ya sama saja...belum bokeh.

hasil jepretan indoor

Banyak hal lagi sebenarnya kelebihan dan kekurangannya, namun sebagian saya lupa.hehe dan sebagian hanya curhatan pribadi saja yang subyektif. Namun dari gambaran yang sedikit diatas semoga bisa memberikan gambaran tentang salah satu kamera prosumer murah besutan Fujifilm ini.


jepretan iseng

Kamis, 11 Juli 2013

Aplikasi Android Google My Track untuk mendaki

Kali ini saya ingin sedikit mereview tentang salah satu aplikasi andorid yang bisa kita gunakan untuk membantu pendakian, trekking, petualangan atau apalah itu. Aplikasi ini dari Google, yang dikasih nama Google My Track dan tentu saja bisa kita download secara gratis di Play Store.

Review ini berdasarkan pengalaman saya mendaki ke Puncak Lawu kemaren. Karena itu pendakian saya yang pertama maka saya berusaha melakukan prepare dengan sebaik-baiknya, termasuk juga untuk urusan navigasi. 

Ah, mungkin terlalu berlebihan jika disebut prepare navigasi dengan baik, karena yang saya lakukan hanyalah cukup ngajak orang yang sering naik ke Lawu untuk jadi guide dan pasang aplikasi Google My Track ini di ponsel android saya, Samsung Galaxy Young.

Kenapa saya memilih ini? Bukan kenapa-kenapa, tapi karena saya kurang begitu interest mengoprek android dan pasti bisa disimpulkan bahwa Samsung Gayung ini masih dalam kondisi standart, belum pernah root, belum pernah di custom macam-macam karena kabel datanya pun hilang entah kemana. 

Aplikasi gps yang mumpuni dan cukup terkenal di kalangan pengoprek android tentu bisa memberikan layanan yang lebih lagi dibandingkan dengan apa yang saya dapatkan karena pemalas ini. Namun yang ingin saya lakukan dengan aplikasi ini adalah yang paling utama adalah, bisa merekam jejak jalur yang sudah saya lewati, dan nantinya jika dalam keadaan darurat tersesat dan sebagainya bisa menelusuri jejak yang sudah terekam dalam ponsel saya ini.

Sebelum membawanya ke gunung sudah saya uji coba dulu di daratan, saya masukkan kantong celana lalu saya bawa motoran dari Solo- Karanganyar- Sukoharjo- Wonogiri- Solo lagi. Sempurna. Aplikasi ini merekam semua jejak jalur yang sudah saya lewati dengan detail tanpa putus, tanpa koneksi paket data. Hanya mengandalkan gps.


Langkah selanjutnya adalah menyaksikannya dalam google map. File yang dihasilkan dari aplikasi ini berbentuk .kml dan bisa kita sinkronisasi melalui akun google drive kita lalu buka deh hasilnya. Oke sipp berhasil, saatnya dicoba di gunung.

Saya masuk jalur pendakian lawu melalui pintu Cemoro Sewu, Magetan. Sudah jalan beberapa saat baru ingat, ternyata gps belum saya nyalakan. 

Akhirnya dalam perjalanan mulai menyalakan gps. Belum nyampe setengah jalan dari puncak koneksi gps putus, waduhh...tak tau lah ini karena penerimanya lemah atau memang jika tertutup pohon lebat dan tebing langsung hilang. Ya sudahlah, mari di hidupkan lagi. 

Untuk kali kedua ini cukup lama, tapi akhirnya putus lagi. Dan karena tidak selalu saya pantengin layarnya jadi sampe gak tau kalo udah putus. Saat itu saya masukkan saku baju agar lebih terbuka dan berada diatas dibanding dengan saku celana – dalam pikiran saya.

Setelah putus yang kedua kalinya ini akhirnya malas untuk saya lanjutkan lagi, karena saya pikir masih aman ada 2 orang yang sudah paham jalur Lawu dalam barisan saya.

Dari segi baterai, posisi merekam ini juga lumayan menyedot daya walaupun tidak sebanyak jika kita gunakan untuk internetan atau game. Ditambah lagi pendakian kali ini banyak istirahatnya karena ada salah satu teman yang kakinya sakit, sehingga jika diteruskan pun baterai tidak akan cukup untuk merekam sampai puncak dan track back sampai bawah. 

Next perlu dibekali lagi dengan Power Bank agar lebih joss.


Next Insya Alloh setelah lebaran akan saya uji cobakan di Merapi, semoga kesampaian. Amiin..

Selasa, 02 Juli 2013

Pendakian Lawu (Puncak Pertamaku)

salah seorang teman naik
Lawu banyak dikenal para pecinta alam sebagai gunung yang mudah untuk di daki. Disamping ketinggian yang tidak terlalu ekstrim, jalur pendakian sudah ada, tinggal mengikuti jalur yang ada maka akan sampai di puncaknya. 

Ketinggian puncak Lawu berada di 3265 DPL, dan bisa di daki dari 2 pintu pendakian yakni dari Cemoro Kandang, Jawa Tengah atau lewat Cemoro Sewu Jawa Timur.


Kali ini adalah pendakian gunung pertamaku, dari dulu kalo maen ke gunung paling hanya motoran atau pol cuma kamping, jadi baru pertama kalinya ini merasakan naik gunung. 

Alasan kenapa memilih Lawu adalah:
  • Paling dekat dan familier denganku
  • Gunung yang ringan di daki, cocok untuk pemula seperti saya
  • Kesepakatan beberapa teman yang ikut dalam perjalanan ini



Apa saja sih yang perlu disiapkan. Sebenarnya sederrhana saja, logistik, medis, perlengkapan dan peralatan. Dan yang pasti semua di checklist agar kita tidak lupa. Berangkat 5 orang dengan 3 motor menuju loket Cemoro Sewu. 

Setibanya disini tidak langsung jalan, tapi istirahat sejenak agar badan mulai adaptasi dengan cuaca sekitar. Sambil menyesuaikan kondisi badan, disini ada kios penjual peralatan gunung dan suvenir khas Lawu seperti syal, tutup kepala, gantungan kunci, sarung tangan, kompas, jerigen dll.

Tips 1: Untuk suvenir silahkan beli disini, karena memang khas disini. Tapi untuk perlengkapan sejenis sarung tangan dan sejenisnya lebih baik beli dari bawah di toko peralatan gunung. Disamping pilihannya lebih banyak, kita bisa mendapatkan harga yang sesuai dengan kualitas


Setelah dirasa cukup maka perjalanan pun dimulai, dengan masuk pintu Cemoro Sewu dan doa bersama.

Start pukul 22.00 
Perjalanan masih lancar2 saja. Langit sangat cerah malam ini, karena kurang 1 hari lagi bakal ada fenomena Supermoon. Rembulan sangat terang dan langit bersih dari awan maupun mendung. Target di awal bisa sampai puncak menjelang subuh sehingga kebagian mengabadikan sunrise dari puncak gunung.

Pukul 00.00
Salah satu rombongan mulai merasakan kaki bermasalah, lututnya gak kuat dipake jalan menanjak. Akhirnya semua beban yang dibawanya diberikan kepada yang lain. 

Pun begitu, nampaknya memang tak bisa dipaksakan lagi dan harus jalan pelan dengan istirahat yang banyak. Tak apa, target berubah ditengah jalan, yang semula ingin mendapatkan sunrise menjadi jalan sak nyampenya dimana dan ketika subuh mendirikan tenda.

Tips 2: Pastikan sebelum berangkat mendaki fisik sudah dilatih dengan jalan jauh, joging dsb. Karena walaupun sudah berpengalaman naik gunung tapi kemudian vakum 2 tahun tanpa olah raga kaki sama sekali maka hasilnya akan seperti ini


Pukul 04.45
Waktu habis, akhirnya kita menyerah. Gagal mencapai sunrise karena salah satu anggota cedera lutut dan terpaksa sebentar2 berhenti. Tapi tidak ketemunya sunrise bukan berarti akhir dari segalanya. 

Pengalamanlah yang lebih berharga kali ini, pengalaman pendakian pertama kali dan esok kali yang kedua harus lebih baik lagi. Akhirnya kami mendirikan tenda dan sholat subuh bergantian. 


Tenda yang kami gunakan adalah bestway montana, berjenis tenda dome model keong dengan kapasitas 4 orang, namun kali ini dipaksan agar muat 5 orang. Setelah sholat kami masak mie instan lalu sarapan, setelah sarapan kami tidur hingga pukul 08.30


Pukul 08.00
Saya yang tidur paling pinggir sudah gak kuat dinginnya. Ternyata diam istirahat itu dingin menyiksa dibandingkan dengan terus berjalan seperti tadi malam. Ditambah lagi rasa tak nyaman karena kebelet ingin BAB. Oh tidak, kalau jam segini tak ada lagi tempat sembunyi..dimana mana terang. Akhirnya terpaksa ditahan dan di lupakan.


Tips 3: Pastikan jika ingin BAB pada malam hari ketika lebih gelap dan tidak gampang terlihat orang lain
 Tips 4: Posisi diam adalah posisi tubuh tidak menghasilkan kalor tambahan, jadi hangatnya badan hanya mengandalkan panas bawaan tubuh saja. Apalagi ketika tidur dalam tenda, pastikan tubuh hangat maksimal

Karena sudah gak tahan dengan dinginnya saya justru keluar tenda untuk bergerak. Sedikit peregangan dan naik turun bebatuan sekitar tenda menjadikan lebih stabil suhu badan.

Pukul 09.00
4 orang berangkat lagi ke puncak, sementara 1 orang yang kakinya bermasalah lebih memilih tidur di tenda. Ada sesuatu yang luar biasa bagi pendaki gunung pemula seperti saya, karena semakin dekat dengan puncak gunung langit yang kita lihat makin biru bersih. Tepatnya, karena ketinggian sudah diatas awan, maka mendung akan berhenti sebatas ketinggian awan tersebut. Selebihnya diatas itu cerah.

Pukul 10.30
Tiba di puncak Hargo Dumilah. Ternyata inilah yang dicari para pendaki gunung, sebuah kepuasan karena telah berhasil mencapai puncak. Dan memang tidak bisa dipungkiri pemandangan diatas sini sangat luar biasa. 

Seumur hidup baru pertama kali ini saya menemukan pengalaman yang luar biasa seperti yang saya temukan sekarang. Rasa lelah dan kedinginan terobati sudah, padahal saya tak pernah membayangkan bahwa nanti perjalanan turun adalah perjalanan yang lebih berat dan menyakitkan. 


Perjalanan turun stok air minum sudah habis. Sama sekali habis tak bersisa, 2 botol kosong lalu diisi.dengan air dari sendang. Sebuah gagasan survival yang baik, namun ternyata saya sendiri tidak kuat untuk minun air sendang yang agak keruh saat itu. Satu dua teguk untuk uji coba sudah berhasil membuat perut mulas dan pingin BAB, terpaksa diredam dulu dengan permen jahe dan keputusan untuk tidak melanjutkan minum air tersebut. Sudah cukup, jangan ditambah lagi.



Pukul 16.30
Tiba di pos 1, sholat dan beli minuman di warung yang semalam kami lewati dalam kondisi tutup. Selanjutnya jalan lagi menuju loket masuk dengan perkiraan perjalanan 30 menitan lagi. Saat itu jempol kaki sudah cenut-cenut karena sepatu yg kekecilan (ukurannya terlalu ngepres). 

Pelajaran untuk pendakian selanjutnya, jangan gunakan sepatu yg jari kaki mentok pada ujung sepatu. Sebisa mungkin masih ada space, karena ketika jalan turun jari kaki tidak akan di siksa.

Pukul 17.10


Tiba kembali di loket Cemoro Sewu, alhamdulillah tak ada kendala yang berarti dalam pendakian kali ini. Pendakian pertamaku menggapai puncak gunung. Semoga yang akan datang aku bisa menggapai yang lebih dari ini, tidak hanya dalam hal pendakian namun target hidup yang lain yang lebih penting.

Kamis, 16 Mei 2013

Sunset Mempesona Waduk Lalung

Kali ini saya semangat lagi untuk menuliskan banyak hal yang semoga bisa memberikan inspirasi banyak rekan-rekan yang sudah mampir di blog ini, tulisan kali ini adalah tentang salah satu tempat yang nyaman untuk menghabiskan sore hari sampai matahari tenggelam. Lokasi ini masih menjadi lokasi faforitku untuk refreshing jarak dekat. Ya karena memang "refreshing" menurut saya tidak selalu harus berada di tempat wisata ataupun di tempat yang sudah terkenal, refresh menurut saya adalah dimana kita bisa menemukan kembali kesegaran setelah jenuh dengan rutinitas.
Oke langsung saja, Waduk Lalung memang faforit bagi saya karena setidaknya memiliki hal berikut ini:
  1. Jarak yang dekat dengan rumah
  2. Lokasi yang sepi
  3. Akses yang gampang-gampang susah
  4. Ada spot untuk menikmati matahari sampai tenggelam (sunset spot)
  5. Gratisss
Mari kita kupas satu per satu kelebihan lokasi ini:




Jarak yang dekat dengan rumah


Waduk Lalung berada sekitar 15km dari rumah, tepatnya berada di daerah Karanganyar Jawa Tengah. Untuk menuju lokasi ini dari Solo ke arah timur, jurusan Tawangmangu, sampai di Taman Pancasila Karanganyar ambil arah ke selatan, sudah. Nanti waduk kelihatan dari tepi jalan. Memang tak masalah sih kita refreshing dengan jarak yang agak jauh, tapi kalau di jarak menengah ada lokasi menarik ya saya seneng-seneng aja maen kesini agak sering. Biaya mungkin tidak sampai satu liter bensin dan sudah bisa menemukan tempat menarik, asik kan..
Lokasi yang sepi
Bagi saya view alam bagus tapi ramai itu tidak terlalu seru, lebih asik jika dengan view yang menarik dan lokasi sepi, kita bisa menikmati suasana dengan nyaman. Dan di Lalung ini saya bisa merasakan sepi itu, mungkin di jalur lingkarnya tidak terlalu sepi memang, banyak yang jalan-jalan atau joging, namun yang berada tepat di tepian air hanya satu dua orang saja, mereka adalah para pemancing ikan. Selebihnya saya sendirian menikmati suasana. Memang yang saya impikan adalah menimati sunset sendirian di tepi pantai yang terpencil, namun apa daya lokasi pantai jauh dari sini dan beberapa hal waduk Lalung ini sedikit mengobati kerinduan itu.

Akses yang gampang-gampang susah
Akses menuju lokasi memang bisa dikatakan cukup mudah, namun juga butuh sedikit perjuangan untuk mencapai lokasi spot yang bagus untuk kali yang pertama. Yang mengganjal pikiran saya pertama kali adalah bagaimana bisa membawa motor naik tanggul dan mendekat ke air, karena memutari jalan di sekitarnya tidak terdapat jalur naik yang bisa diakses motor. Namun setelah mencoba beberapa gang di perkampungan dan sekitar sekolahan, ternyata ada jalannya. Namun itu berada di jalanan berpaving diatas tanggul waduk, harus memutar waduk satu kali baru saya temukan jalur untuk mendekat air. Pass, akhirnya lega setelah menemukan jalur ini, dan kebetulan lokasi ini tepat sekali dengan view paling bagus. Tidak sia-sia melewati jalan yang agak terjal jika hasilnya luar biasa.
Sunset Spot
Inilah yang saya cari dari view alam disini, view cantik matahari tenggelam yang sangat mendamaikan menurut saya. Dan itu bisa didapatkan di spot yang saya temukan setelah mengitari waduk ini satu kali. Menikmati golden sunset ditempat yang sepi, ah ini memang terlalu menarik untuk sekedar diceritakan lewat tulisan. Lebih baik biar foto dan pengalaman langsung yang menceritakan keindahannya, intinya saya belum bosan untuk kembali kesini lagi next time.
Gratisss
Yang ini memang super, selain menawarkan lokasi eksotis dan agak private (karena lumayan sepi) tempat ini memang gratis. Jadi tak masalah mau kesini berapa kali selama belum ada rencana dari pemerintah kabupaten untuk mengelola tempat ini menjadi sebuah obyek wisata, maka akan tetap gratis.
Cukup itu dulu deskripsi singkat mengenai waduk Lalung yang istimewa, jangan lupa mampir jika ingin melihat lebih dekat.

*sedikit tips:
untuk mendapatkan view sunset maksimal perhatikan intensitas cahaya matahari ketika pukul 15.00, jika sinarnya sangat kuat dan menyilaukan mata hingga sakit, maka biasanya nanti sore sunset bagus. Namun jika cahayanya biasa saja, masih diragukan jadi sunset atau tidak

Jumat, 10 Mei 2013

Review Canon Power Shoot A580

Setelah lama dan lama sekali tak posting di blog ini, akhirnya pada malam hari ini berkesempatan untuk menulis lagi. Kemaren-kemaren masih berjuang untuk bisa lulus, alhamdulillah sekarang sudah bisa lulus dan tinggal menunggu waktu wisuda.

Untuk tulisan pertama setelah sekian lama vakum dari dunia bloging, saya ingin mereview sebuah kamera lawas yang pernah menemani beberapa petualangan yang pernah kualami. Langsung saja, ini adalah Canon PSA 580, kalau mau dikatakan review sudah amat sangat terlambat, ini bukan gadget baru. Namun jika hanya share penggunaan saja tak masalah.

Kamera ini saya dapatkan dengan harga murah saja, cukup 350 ribu dan saya bawa pulang. Sempat ragu dengan kondisinya yang memang sudah agak jadul, di bagian lensa agak sedikit berkabut, untuk melakukan zoom suara lensanya teramat berisik bahkan saya khawatir kalo tiba2 seret dan macet. Tapi overall selama ini baik-baik saja.
Langsung ke plus minus agar lebih singkat pembahasannya:







Plus:

  1. Harga terjangkau sudah pasti, karena beli seken dan ini kamera keluaran tahun 2009 kalau tak salah.
  2. Kualitas Canon, dan saya sudah bandingkan dengan Olympus FE 310 saya lebih pilih ini dari segi kemampuan zoom, kestabilan pengambilan gambar ketika zoom jauh maupun penggunaan modus makronya.
  3. Ada fitur Long Shutter, dimana dengan fitur ini kita bisa membuat foto track cahaya dari lampu motor atau mobil pada malam hari dengan indah.
  4. Pengaturan manual yang sangat leluasa, walaupun tidak bisa mengatur shutter speed dan aperture namun pengaturan iso, intensitas cahaya dan yang lainnya cukup untuk ukuran kamera lawas
Pengaturan Long Shutter
Minus:
  1. Kemampuan sensor menangkap warna kurang begitu istimewa
  2. Lubang dudukan tripod berada di tepi bukan ditengah, cukup mengganggu ketika menggunakan tripod mini kadang bisa miring dan jatuh
  3. Yang lainnya saya tidak bisa mengomentari karena bukan pengguna sejak dari baru
Kesimpulannya, kamera ini kamera lawas dan sudah pasti discontinue. Namun untuk urusan dokumentasi standart tak ada masalah, bahkan harga 350 itu sudah sangat istimewa menurut saya, karena setelah itu saya tidak lagi menemukan dijual di forum jual beli. Namun pada akhirnya tak ada yang statis, hidup harus berkembang jadi lebih baik lagi. Dan kamera ini sudah laku saya jual untuk menambahi beli kamera prosummer Fujifilm Finepix S2950. Untuk ulasan prosummer ini next time setelah saya menguasainya...
Berikut adalah beberapa jepretan dengan kamera si jadul A580, tanpa editing hanya resize saja, semoga berkenan
Sunset Waduk Lalung
Pantai Klayar
Makro dengan Miniatur Borobudur

Senin, 04 Maret 2013

Pengendalian Tumbuhan Invasif Kaliandra (Calliandra calothyrsus) di Blok Munjul Masigit Resort Cilimus Oleh : Iwan Sunandi, S.Hut

Resort Cilimus terletak di 3 (tiga) Desa yaitu Setianegara, Linggarjati dan Desa Linggasana menurut wilayah administratif pemerintahan Desa. Batas wilayah pengelolaannya sebelah Selatan berbatasan dengan Resort Jalaksana, sebelah Timur berbatasan dengan PT. Geger Halang, sebelah Utara berbatasan dengan Resort Mandirancan dan sebelah Barat arah ke puncak Ciremai. Luas Resort Cilimus berdasarkan pengembangan resort dari 6 menjadi 11 resort ± 1.330 Ha, dengan ketinggian 700 – 3000 mdpl. Kawasan resort cilimus mempunyai topografi landai, berbukit dan bergunung ke arah puncak sampai ketinggian 3.078 mdpl. Jenis tanah yang ada merupakan tanah regosol, andosol dan latosol dengan kondisi tanah sebagian besar merupakan tanah berbatu yang didominasi oleh jenis alang-alang (Immperata cyllindrica) yang rentan terjadinya kebakaran hutan. Walaupun kondisi tanah didominasi oleh bebatuan, namun Resort Cilimus memiliki fungsi hidrologis yang sangat penting dimana terdapat 7 (tujuh) sumber mata air yaitu Cibulakan, Cikacu, Cinangka, Hulu Ciawi, Cikuwu dan Cikuda yang tidak pernah kering walaupun musim kemarau telah tiba. Gambar 1. Peta Situasi Resort Cilimus SPTN Wilayah I Kuningan Sebagian besar penutupan lahan di kawasan Resort Cilimus merupakan vegetasi hutan. Baik hutan alam maupun hutan produksi eks Perhutani atau bekas lahan garapan dan sebagian besar didominasi oleh hutan alam primer. Pada hutan alam primer banyak ditumbuhi keluarga huru (Litsea spp), mareme (Glochidion sp), mara (Macaranga tanarius) dan saninten (Castonopsis argentea). Sedangkan untuk hutan produksi eks perhutani dan eks lahan garapan banyak ditumbuhi oleh Pinus (Pinus mercusii), Kopi (Coffea robusta), Alpukat (Persea americana), Pisang (Musa paradisiaca), Suren (Toona sureni), Manii (Maesopsis eminii), Cengkeh (Szygium aromaticum) dll. Jenis satwa (fauna) yang dapat dijumpai dikawasan Resort Cilimus antara lain satwa langka seperti Macan kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbitys commata) dan Elang jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis lainnya adalah kera ekor panjang (Macaca fascicularis), Landak (Hystrix brachyura), kijang (Muntiacus muntjak), babi hutan (Sus scrofa), bajing (Calosciurus notatus), Lutung (Traciphytecus auratus) dan berbagai jenis burung berkicau. Gangguan Hutan Akibat Hadirnya Spesies Invasif Sebagai kawasan konservasi baru yang dibangun dari hutan produksi, tentunya kualitas potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya telah banyak mengalami perubahan berbeda dari ekosistem aslinya. Banyaknya lahan bekas tebangan dan garapan masyarakat yang belum sempat direhabilitasi merupakan PR tersendiri dalam membangun kawasan konservasi yang diimpikan. Pembangunan Taman Nasional sebagai areal penyangga kehidupan, perlindungan dan pengawetan kehati tidak mudah dilakukan mengingat besarnya tekanan dan gangguan dari kepentingan manusia disekitarnya seperti masih adanya pengambilan kayu bakar dan perburuan liar, masih ditemukan masyarakat penggarap di dalam kawasan, sering terjadinya kebakaran hutan yang diduga akibat ulah manusia. Selain adanya tekanan dan gangguan manusia tersebut, terdapat jenis gangguang lain yang dapat mengganggu keutuhan ekosistem kawasan konservasi. Salah satu gangguan tersebut adalah masuknya berbagai jenis tumbuhan yang tidak asli ke dalam kawasan konservasi. Tumbuhan yang tidak asli (introduksi) dapat mengganggu spesies lokal jika bersifat invasif. The National Invasive Species Counsil (2006) mendefinisikan spesies invasif sebagai spesies pendatang ataupun tidak yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi, lingkungan atau kerusakan pada manusia, hewan atau kesehatan tanaman. Sedangkan spesies introduksi adalah spesies yang diperkenalkan secara sengaja oleh manusia bukan untuk mempengaruhi suatu habitat melainkan untuk keuntungan hidup manusia dan sekelompok manusia. Spesies invasif dilaporkan telah merambah kawasan konservasi termasuk kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Jenis spesies invasif yang teridentifikasi di Taman Nasional Gunung Ciremai adalah jenis Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Penyebaran kaliandra ini terutama terjadi karena lahan garapan di dalam kawasan benar-benar telah menjadi lahan terbuka tidak sesuai dengan konsep Penanaman Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) sebelumnya. Program PHBM telah disalahgunakan oleh masyarakat setempat untuk menanami kawasan konservasi Gunung Ciremai dengan jenis yang tidak sesuai dengan keberadaan fungsi kawasan dan misi pemerintah daerah Kuningan sendiri sebagai Kabupaten Konservasi. Spesies invasif membahayakan spesies lainnya, hal ini karena kemampuan berkembang biak dan penyebarannya yang cepat sehingga mendominasi dalam penggunaan sumber makanan dan cahaya untuk pertumbuhan di lingkungannya. Tumbuhan invasif memiliki toleransi yang tinggi pada berbagai lingkungan. Setelah tumbuh, spesies ini akan mengeliminasi spesies asli dengan kemampuannya untuk berkembang biak secara cepat, penyebaran biji yang mudah, dan toleran terhadap berbagai kondisi lingkungan sehingga spesies asli tidak mampu berkompetisi memperebutkan sumber daya. Mengenal Lebih Jauh Spesies Invasif Kaliandra Bunga Merah (Calliandra calothyrsus) Tumbuhan Kaliandra termasuk dalam famili Leuguminoseae sub famili Mimosaceae (Palmer et al, 1994) dengan habitus berupa pohon atau semak dan memiliki beberapa spesies. Jenis kaliandra di Gunung Ciremai adalah kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus), dengan ciri-ciri: habitus berbentuk perdu (semak), batang berkayu, bertajuk lebat, tinggi mencapai 45 meter dan akar dapat mencapai kedalaman 1,5 – 2 m (Palmer et al 1994). (Gambar 2) Gambar 2. Kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus) diblok Munjul Masigit. Kaliandra tumbuh baik pada semua jenis tanah dan memiliki kemampuan cepat tumbuh, tahan pangkasan, sistem perakaran dalam dan mampu membentuk bintil akar sebagai hasil simbiosis dengan Rhizobium. Menurut Palmer et al (1994) Kaliandra tumbuh baik pada daerah dengan curah hujan lebih dari 1000 mm/tahun, dan mampu beradaptasi pada daerah dengan ketinggian tempat lebih 1.700 m dpl jika kebutuhan fosfat dan air untuk fiksasi Nitrogen terpenuhi. Akibat Penyebaran Kaliandra di TNGC Penyebaran tumbuhan invasif Kaliandra ini menyebabkan terhambatnya pertumbuhan benih/ tanaman asli baik yang ditanam maupun yang tumbuh secara alami. Sehingga dalam waktu lama, akan mengakibatkan hilangnya spesies lokal karena spesies lokal tidak dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Oleh karena itu, perlu dilakukan penanggulangan dan pencegahan penyebaran tumbuhan Kaliandra. Bagaimana Mengendalikan Pertumbuhan dan Penyebaran Kaliandra? Pengendalian hama tanaman dapat dilakukan secara hayati, mekanis dan kimiaswi. Pengendalian hayati dilakukan dengan cara memanfaatkan musuh alami, memanipulasi inang, lingkungan atau musuh alami itu sendiri. Pengendalian hayati memiliki banyak keuntungan diantaranya beresiko kecil, tidak menyebabkan kekebalan, tidak membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta tidak memerlukan banyak campur tangan dari luar. Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan menciptakan kondisi lingkungan dengan bahan kimia sehingga lingkungan tersebut tidak mendukung pertumbuhan dan memutus siklus hidup tumbuhan pengganggu (Untung, 2001). Sedangkan pengendalian mekanis dilakukan melalui pembabatan dan membuat sekat agar tanaman kaliandra tidak menyebar ke areal tumbuhan lokal. Pengendalian spesies invasif kaliandra yang ada di resort Cilimus pada saat ini masih diupayakan dengan cara mekanis (pembabatan). Hal ini karena musuh alami lokal spesies Kaliandra belum teridentifikasi. Sedangkan pengendalian secara kimiawi dikhawatirkan akan ikut menghambat pertumbuhan dan bahkan mematikan spesies lokal yang ada (Iwan Sunandi, Red.)

Senin, 20 Agustus 2012

Misteri Lenyapnya 4 Benua Dari Muka Bumi


Sebuah benua yang hilang adalah daratan hipotetis yang karena alasan apapun, hari ini tidak dapat kita labuhi lagi. Sebuah contoh utama adalah Atlantis , yang menurut mitos Yunani, tenggelam ke dasar laut. Berikut adalah daftar empat benua hilang sama.

 
1. Benua Mu

Ketika wisatawan dan penulis Augustus Le Plongeon dieksplorasi reruntuhan Maya di Yucatan, ia mengaku telah diterjemahkan salah satu dari empat naskah kuno Maya yang dikenal. Menurut terjemahan, peradaban Maya jauh lebih tua dari orang-orang Mesir dan Yunani, dan bahwa naskah kuno juga mengatakan kepada sebuah benua bahkan lebih tua: Mu. Menurut Le Plongeon, Mu terletak di suatu tempat di Samudra Atlantik dan, sebanding dengan Atlantis, telah tenggelam oleh gempa bumi yang mengerikan. Pengungsi dari Mu kemudian akan membentuk Mesir sementara yang lain akan menjadi bangsa Maya.

Lain, sedikit lebih "di luar sana" teori disajikan oleh James Churchward tahun 1926. Dia menyatakan bahwa setelah menerjemahkan lebih dari dua ribu tablet, ia telah belajar bahwa Mu benar-benar ada di Samudra Pasifik dan rumah bagi lebih dari enam puluh juta orang tetap menjaga koloni di bagian lain dunia. Peradaban itu maju, mungkin yang paling canggih pada masanya. Namun, sekitar tiga belas ribu tahun yang lalu itu hancur dalam satu malam oleh aktivitas gunung berapi bawah tanah. Dia berpendapat bahwa peradaban yang kita anggap kuno induk dari semua pengungsi Mu karena mereka semua simbol umum digunakan untuk komunikasi. Terlebih lagi, ia menunjuk seni monolitik dan kehadirannya di seluruh dunia kuno sebagai bukti untuk klaim.

Ilmu, tentu saja, harus menolaknya karena ilmu pengetahuan harus menjadi downer banyak waktu. Kita tahu bahwa daratan yang cukup besar (setidaknya yang yang cukup dapat rumah enam puluh juta orang) hanya tidak itu tidak menghentikan orang percaya, meskipun "tenggelam.". Orang percaya modern mengklaim bahwa bukti dari Mu dapat ditemukan dari pantai Yonaguni Island, Jepang, di mana beberapa struktur dapat ditemukan di bawah air.

 
2. Benua Lemuria
Lemuria memiliki dasar tidak dalam tablet tanah liat, melainkan dalam hipotesis. Setelah menyadari bahwa fosil lemur dan hewan terkait dapat ditemukan di India dan Madagaskar namun di tempat lain di Afrika Selatan dari Timur Tengah, zooligist Philip Scatler mengusulkan bahwa Madagaskar dan India pernah bergabung dengan daratan, dalam hal ini sebuah benua yang lebih besar atau tanah jembatan.

Sebenarnya, Scatler bukan orang pertama yang mengusulkan ini. Banyak ahli zoologi (dan perlu diingat bahwa berbicara tentang tahun 1700-an dan 1800-sini, di mana membuat klaim omong kosong adalah credential hanya satu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ahli zoologi) mengusulkan hal yang sama persis. Mereka, bagaimanapun, tidak memikirkan nama imut untuk pergi dengan itu, tampaknya karena mereka tidak memiliki orang pemasaran yang solid. Tapi Scatler dipopulerkan gagasan dan segera ilmiah masyarakat memiliki kasus terminal Lemuriamania. Makalah mulai berteori bahwa benua itu sebenarnya membentang dari Samudra Pasifik untuk lebih menjelaskan distribusi spesies yang berbeda di seluruh dunia. Buku Kelangsungan Hidup Savage JH Moore pergi sejauh untuk mengklaim bahwa umat manusia mungkin telah berevolusi dari spesies yang hidup di Lemuria, meskipun bukti bahwa sekarang hilang ke laut.

Namun, inti dari Lumeria adalah bahwa ia pasti tenggelam ke dasar laut, yang ilmu adalah terlalu senang untuk memanggil susun. Namun, ada sesuatu untuk hubungan India-Madagaskar. Kedua negara pernah terhubung, tapi India memisahkan diri jutaan tahun yang lalu, terutama tanpa tenggelam.

 
3. Benua Thule

Yunani explorer Pytheas adalah orang pertama yang telah menulis tentang tanah Thule, sebuah utara pulau Britania. Menurut tulisan-tulisannya (yang hanya bertahan dalam bentuk fragmen direferensikan oleh sejarawan lain) itu berlayar enam hari dan merupakan utara terjauh dari pulau-pulau yang dikenal, menempatkannya di Lingkaran Arktik.

Pada saat yang paling orang tidak mengambil klaim Pytheas yang terlalu serius, karena ia memiliki reputasi untuk peregangan kebenaran hanya sedikit. Dokumen yang masih hidup paling referensi Thule langsung menolak gagasan ini dengan menegaskan bahwa Pytheas hanya membingungkan beberapa pulau kecil dan Inggris bahwa ia kemungkinan besar off dari meds nya.

Tidak seperti entri kami sebelumnya, tidak ada skenario kiamat awesome untuk Thule. Ini dianggap "hilang" karena jika Pytheas benar-benar menemukan sebuah pulau tak dikenal maka tentu tidak ada sekarang. Namun, diskusi yang paling modern pada subjek berpendapat bahwa ia mungkin telah merujuk ke Norwegia, Skandinavia atau bukan Islandia, jadi dia mungkin telah ke sesuatu jika ia memang tidak berbohong pantatnya off.

Tapi Nazi, pernah pemikir bebas, percaya bahwa Pytheas berbicara tentang sebuah negara yang tidak lagi ada. Terlebih lagi, itu adalah rumah asli dari ras Arya, orang-orang yang digambarkan sebagai raksasa-eqsue super dengan kekuatan gaib yang menempatkan teknologi modern untuk malu. Menurut legenda, seorang mesias akan datang dari Thule untuk menciptakan umat manusia. Kami yakin Anda tahu bagaimana cerita itu berakhir.

Harap dicatat kurangnya informasi utama yang berkaitan dengan Aryan super.

 
4. Benua Hyperborea
Entri lain dari Yunani kuno, referensi paling awal kita yang masih hidup ke tanah Hyperborea berasal dari 450 SM, meskipun referensi dibuat untuk setidaknya tiga karya hilang juga. Tanah itu diduga lebih jauh ke utara dari yang lain dan rumah bagi Hyperboreans, ras raksasa jelas dengan darah ilahi.

Dalam Hyperborea matahari bersinar dua puluh empat jam sehari dan menetapkan hanya sekali dalam setahun. Beberapa teks merujuk pada satu hari di benua yang berlangsung satu tahun dibandingkan dengan pengukuran standar kami waktu. Menambahkan lebih ke hal raksasa sihir aneh, Hyperboreans diduga hidup seribu tahun waktu mereka. Artinya, tiga ratus enam puluh lima hari mereka setara dengan satu tahun super. Ini umur konyol dikreditkan ke masyarakat yang sempurna mereka bebas dari kedua penyakit dan perang. Orang-orang hanya akan menggantung sepanjang hari membuat musik dan semacamnya.

Itulah yang masih ada dari apa yang kita ketahui dari mitos orang, di luar sebuah legenda saja. Satu menuduh bahwa tentara dari Atlantis telah merencanakan invasi besar-besaran dari Hyperborea tetapi mundur begitu mereka menyadari bahwa mereka ramah raksasa aneh. Lain klaim bahwa Perseus slayed Medusa di Hyperborea daripada Libya, yang semacam bertentangan benda masyarakat yang sempurna, tapi apa pun.

Keberadaan Hyperborea ditentang sepanjang jaman dahulu, meskipun ada beberapa bukti untuk mendukung bahwa itu didasarkan pada sebuah penemuan yang sebenarnya. Dua puluh empat jam sinar matahari dapat menempatkan pulau di suatu tempat di Lingkaran Arktik. Jadi Hyperborea dianggap Siberia atau mungkin jauh-utara jangkauan Cina. Sementara itu, Robert Charroux telah menyatakan bahwa Hyperboreans adalah astronot kuno yang memilih wilayah planet kita terdingin untuk menetap di karena lebih baik berkaitan dengan iklim planet mereka sendiri. Pikirkan ini apa yang akan Anda