Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendakian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendakian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Maret 2010

REINHOLD MESSNER, GURU BESAR PARA PENDAKI

Namanya memang tidak tampak Italiano, sehingga banyak orang mengira dirinya berasal dari Austria atau Jerman, tetapi Reinhold Messner ternyata adalah seorang Italiano sejati, dia lahir pada tanggal 17 September 1944, di sebuah desa yang dikelilingi pegunungan Dolomite, Tyrol, Italia Utara. Ayahnya Joseph Messner adalah seorang kepala sekolah di desa Vilnes yang terletak pada sebuah lembah di kawasan Tyrol, Italia Selatan. Mereka merupakan keluarga sederhana, sebagaimana penduduk lain di daerah mereka yang kebanyakan hidup sebagai petani dengan berbagai aneka khas kesederhanaan masyarakat desa. Tetapi ayah Reinhold Messner adalah seorang idealis, menurutnya kesederhanaan bukan berarti penghalang untuk menikmati hidup, dan mendaki gunung merupakan sarana bagi keluarga Messner untuk menikmati hidup, dimana setiap ada waktu, terutama pada saat libur sekolah, keluarga Messner menyempatkan diri untuk mendaki gunung.
Sejak kecil Reinhold Messner memang telah dididik dan diperkenalkan secara mendalam dengan jalanan terjal dan tebing-tebing tinggi pegunungan. Pada usia lima tahun, bersama adiknya yang bernama Gunther, Messner telah diajak mendaki oleh ayahnya di daerah Saas Rigais, sebuah daerah pegunungan di Alpen. Sebagaimana karakterisitik pegunugan Alpen yang harus didaki dengan banyak menggunakan teknik rock climbing, maka dapat dibayangkan jari-jari mungil Messner kecil sejak dini telah memegang batu-batu cadas pegunungan dan badannya telah merasakan bergelantungan di atas tebing yang tingginya ratusan meter. Di usia dininya itu Reinhold memang telah diasah untuk mengendalikan adrenalin dan mengelola rasa takutnya.
Semua pendaki mengetahui bahwa Reinhold Messner merupakan pendaki yang anti teori, “kegilaannya” ini telah dimulai sejak usia 14 tahun, saat dirinya menjajal Castiglioni Route yang dikenal sulit, tanpa menggunakan peralatan panjat, bahkan tidak menggunakan tali pengaman, artinya dirinya melakukan free soloing dalam mendaki rute yang terletak di Kleine-Ferda ini dan “kegilaannya” membuahkan hasil manis, saat dirinya berhasil mencapai puncak di rute ini. Keberhasilan Messner melewati rute sulit ini telah membuktikan pada dirinya bahwa dia bisa mengatasi rasa takutnya dan menumbuhkan kepercayaan diri yang semakin tinggi.
Ketika masa usia sekolah telah dilaluinya dan Reinhold terdaftar sebagai mahasiswa jurusan arsitektur di Universitas Padua, hobinya untuk mendaki gunung tetap menggelora di dadanya, meskipun beban kuliah yang berat dengan tugas-tugas gambarnya dan ketiadaan gunung di kota kecil tempat tinggalnya. Kerinduan akan pendakian diaktualisasikannya dengan rajin memanjat bukit kapur di luar kota yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya.
Sekitar tahun 1970an, Reinhold meninggalkan profesinya sebagai seorang guru, bersama adiknya ia mulai mengukir sejarah dengan memulai ekspedisi menziarahi puncak-puncak 14 tertinggi di dunia. Dimulai dengan pendakian Nanga-Parbat (8.125 m) melalui sisi Rupal Pakistan yang merupakan rute tersulit di puncak itu. Keduanya berhasil mencapai atap Nanga Parbat, tetapi malang, dalam menuruni puncak ini, Gunther Messner, sang adik, tersapu longsoran salju saat badai salju menyerang mereka. Kejadian ini sangat memukul Reinhold, sehingga membuatnya cukup trauma setelah kejadian itu. Tetapi keinginannya mencetak sejarah dengan menggapai puncak-puncak 14 membuat dirinya terpanggil untuk kembali melakukan pendakian.
Tahun 1972, Reinhold mendaki puncak Manaslu (8.163 m) lewat jalur Nepal dan di tahun ini pula dia tertantang untuk mendaki Cho Oyu (8.201 m), kemudian pada tahun 1974, puncak Makalu (8.462 m) berhasil digapainya. Pada akhirnya mekkah-nya para pendaki yang merupakan impian para petualang sejati, puncak Everest (8.848 m), berhasil diziarahinya pada tanggal 8 Mei 1978 dengan jalur south-east ridge, sebuah jalur yang paling banyak diserbu para pendaki Everest, bersama tim Australia dibawah pimpinan Wolfgang Nairz, yang mengundangnya sebagai salah satu staf ahli ekspedisi. Tetapi berbeda dengan para pendaki tim ini yang menggunakan tabung oksigen sebagai salah satu safety equipment, Reinhold Messner menciptakan sensasi bersama rekannya Peter Habeler dengan menolak menggunakannya dan bersikeras mereka akan tetap berhasil mencapai puncak Everest tanpa bantuan oksigen, dan memang terbukti.
Puncak tertinggi kedua di dunia, K2, atau sering pula disebut sebagai puncak Godwin-Austen (8.611 m) berhasil diziarahinya pada tahun 1979. Puncak Shisapangma (8.047 m) di Tibet berhasil digapainya pada tahun 1981 dan tahun 1982, dia mendaki Broad Peak (8.047 m), diteruskan dengan mendaki Gasherbaum II (8.035 m) dan Kanchengjunga (8.586 m). Gasherbaum I (8.068 m ) juga dapat didakinya pada tahun 1984, menyusul kemudian Annapurna (8.091 m) dan Dhaulagiri (8.167 m) di Nepal. Dan akhirnya seluruh puncak 14 berhasil didakinya saat Reinhold Messner menjejakkan kakinya di puncak Lhotse (8.586 m) pada tanggal 16 Oktober 1986, hanya 20 hari setelah dia kembali dari puncak Makalu yang kedua kalinya dan menjadikannya sebagai satu-satunya pendaki yang berhasil mendaki seluruh puncak-puncak tertinggi di dunia (puncak 14).

Prestasi Reinhold Messner lainnya
Sebagaimana dikenal dunia, Reinhold Messner merupakan pendaki yang anti-teori, dia melakukan pendakian di pegunungan yang tingginya di atas 6.000 m dengan menerapkan Alpine Tactic dan menganggap bahwa aklimatisasi tidak perlu dilakukan lama, cukup melakukan sekali pendakian dan apabila tiba di base terakhir langsung melakukan summit attack. Dia juga mengesampingkan VO2 Max seseorang dalam mempengaruhi pendakian. Semua ini dibuktikan dengan digapainya puncak Everest seorang diri tanpa sherpa dan dengan mempergunakan teknik pendakian Alpine Tactic serta tanpa bantuan tabung oksigen di zona kematian (death zone) pada tanggal 20 Agusus 1980, yang merupakan pendakian keduanya tanpa oksigen di Everest. Satu hal yang lebih mengagumkan lagi sekaligus mengharumkan namanya, dalam pendakian kedua kalinya ke Everest ini, Reihold menciptakan jalur baru yang merupakan jalur kedelapan dalam upayanya menziarahi Everest, yaitu dari jalur utama North Col melalui North Face dan akhirnya summit attack melewati Norton Couloir.


Penutup
Jika Alexander III dari Macedonia digelari Alexander Agung karena keberhasilannya mengalahkan begitu banyak bangsa, dan terkadang dilakukan dengan melakukan ekspedisi besar yang tak masuk akal dan dapat dinilai sebagai ekspedisi gagal, seperti yang dilakukannya pada sekitar 327 SM, dimana dia memilih puncak Hindu Kush yang mempunyai ketinggian 5.500 m sebagai jalan untuk menyerbu India, atau melewati puncak-puncak pegunungan Alpen yang ganas dalam upayanya menaklukan Eropa, merupakan sebuah alternatif ekspedisi yang tidak memungkinkan dan tidak masuk akal, karena kedua daerah ini adalah daerah yang berbahaya dengan perbukitan terjal serta bersalju, ditambah udara dingin yang menyengat tulang, maka Reinhold Messner merupakan Syeikh-nya pendaki gunung dengan keberhasilannya sebagai satu-satunya orang yang telah 18 kali menggapai 14 puncak tertinggi di dunia, dengan cara-cara sulit dan tak masuk akal, yang sering disebut oleh para ahli sebagai ekspedisi bunuh diri.
Tetapi pada dasarnya, kegemarannya mendaki gunung dilakukan karena Reinhold Messner memang mencintainya, sehingga berbagai puncak lain yang ada di dunia juga disambanginya, seperti : Cartensz Pyramid, Papua, yang didatanginya dua kali pada tahun 1971 atau gunung-gunung lain di belahan dunia lain yang ketinggiannya jauh berada di bawahnya (the Seven Summits). Hal ini merupakan satu learning point yang dapat dipetik bahwa kunci keberhasilan seorang penampil kekuatan terletak pada kecintaannya terhadap apa yang benar-benar ingin mereka kerjakan. Reinhold Messner yang dapat dikategorikan sebagai seorang penampil kekuatan, telah memilih takdirnya sebagai seorang pendaki, dia belajar untuk mencintai kegiatannya dan dia suka cita melakukannya, karena dengan sadar dia telah menetapkan pilihannya, sehingga dia tidak membiarkan orang lain memanipulasi atau merendahkan dirinya untuk menghentikan langkahnya dalam mewujudkan impiannya.

Daftar Pustaka :
• DR. Nasir Tamara Dkk, Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan, Jakarta : 1998
• Lorus J. Milne dan Margery Milne, Gunung, Tiara Pustaka : 1983
• Roger Dawson, The 13 Secret of Power Performance, Prenhallindo : 1997
• Hai, Edisi XIV Oktober 1990 dan XV April 1991


Penulis : Khumaidi Tohar
Organisasi : KMPA Eka Citra UNJ
Alamat : Jl. Mabes Hankam Gg. Sawo No. 50
Rt. 001 / Rw. 005, Kel. Setu
Jakarta Timur 13880


Minggu, 31 Januari 2010

Gunung tertinggi didunia (yang sebenarnya)?

Dari Angkasa, Everest Bukan Titik Tertinggi di Dunia

Bila dilihat dari angkasa, atau dari bulan. Ternyata Gunung Everest bukan menjadi titik tertinggi di dunia. Chimborazo di Ecuador jawabannya.
Seperti kita tahu, Gunung Everest di Himalaya dengan ketinggian 8.818 meter di atas permukaan laut (mdpl) merupakan puncak tertinggi yang ada di bumi. Namun, bila kita melihatnya dari angkasa, predikat gunung tertinggi tersebut jadi berubah arah.

Masalahnya begini, bumi ternyata tak sepenuhnya bulat. Kaum matematikawan menyebut fenomena ini oblate spheroid, yang kira-kira berarti gelembung di seputar khatulistiwa. Karena pepatan berat di kutub, bumi menjadi mirip bola yang ditekan dua sisi. Jadi orang-orang yang tinggal di garis khatulistiwa, sebenarnya sudah berdiri lebih “tinggi”, daripada pulau lain. Ini berarti pula, lebih dekat ke angkasa, daripada orang-orang yang tidak tinggal di dekat gelembung khatulistiwa.
Negara-negara seperti Ekuador, Kenya, dan Indonesia terbilang paling mendekati bulan dengan teori ini. Kalau dihitung, orang-orang di khatulistiwa berada lebih dekat 13 mil ke angkasa, daripada orang-orang yang tinggal di kutub utara atau selatan.
Lalu kalau begitu, puncak tertinggi di mana yang paling dekat dengan angkasa di garis khatulistiwa tersebut. Paling tidak ada tiga gunung tinggi di wilayah ini. Gunung Kenya di Kenya, gunung Kilimanjaro di Tanzania dan deretan gunung salju di Andes. Dus, kalau kita mendaki salah satu gunung itu saja, berarti kita berada lebih dekat ke angkasa dan bulan, ketimbang mendaki Everest.
Joseph Senne, seorang insinyur yang juga surveyor, pernah mengkalkulasi berapa jauh sisa jarak dari deretan gunung khatulistiwa tersebut ke angkasa, khususnya bulan. Joseph dalam melakukan analisa tersebut, kemudian juga dibantu Neil deGresse Tyson, pengarang buku ilmu pengetahuan. Beberapa karyanya banyak mengupas mengenai sains dan kosmos. Buku-bukunya yang terkenal adalah Death by Black Hole, dan Other Cosmic Quandaries.
Sebetulnya hal ini sudah menjadi pengetahuan umum pada masa abad 18. Ketika Everest masih belum diketahui surveyor Britania, Chimborazo dianggap gunung tertinggi. Dan ketika telah ditemukan pun kenyataan cembungnya bagian katulistiwa telah dikemukan oleh geograf terkemuka Jerman abad 18, von Humboldt.
“Ketika kami selesai menghitung,” lanjut Joseph, “Kami pikir kami telah menemukan sebuah titik baru di dunia yang terdekat ke bulan dan angkasa luar,” tuturnya, kepada Robert Krulwich, reporter radio nasional publik (NPR)-AS, akhir minggu lalu.
Jawabannya adalah gunung Chimborazo di Ecuador. Gunung Chimborazo merupakan gunung di dataran tinggi Andes. Yang menurut ukuran Joseph, ternyata memiliki tinggi 1,5 mil lebih dekat ke angkasa dibandingkan Everest.
Namun tetap saja, kalau melihat titik tertinggi dari patokan garis laut, Everest tetap menjadi rajanya. Namun bila kita berdiri di bulan, dan mencari titik terdekat yang ada dibumi. Puncak Chimborazo, jawabannya.
(sulung prasetyo)


sumber : sinarharapan.co.id

Selasa, 08 Desember 2009

Catper Kiriman : Pendakian Gunung Raung

Gunung Raung, gunung berketinggian 3332mdpl terletak di kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Gunung ini berada dalam kawasan komplek pegunungan ijen bersama Gn.Suket (2.950mdpl), Gn.Pendil (2.338), Gn.Rante (2.664), Gn.Merapi (2.800), Gn.Remuk (2.092), dan Kawah Ijen. Salah satu yang menarik dari gunung raung adalah puncak sejatinya, meski belum banyak yang pendaki yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak sejati ini. Salah seorang kawan kita, Dipurnama, yang beberapa waktu lalu berkesempatan melakukan pendakian ke gunung Raung melalui jalur normal, sumber wringin, berbaik hati mengisahkan catatan perjalanannya untuk berbagi bersama kita, selamat menikmati..


Catper Pendakian Gunung Raung
Oleh : Dipurnama

Baru sehari datang dari Kalimantan, seorang teman mengajakku naik ke Gunung Raung. Yah meski rasa capek itu belum hilang sepenuhnya, saya ikuti saja ajakan dia. Siang itu sepulang kuliah saya persiapkan segala macam perlengkapan yang akan saya bawa ke raung. Karena di sepanjang jalur pendakian Gunung Raung tidak tersedia sumber air, maka disarankan masing-masing pendaki untuk membawa 5 liter air. Setelah semuanya fix, akhirnya kami berempat yaitu saya, candra, yoga dan mat lim akhirnya yang berangkat ke Gunung Raung.

Rencana awal yang berangkat jam 5 sore molor hingga selepas maghrib kami baru berangkat dari Jember. Sekitar jam 8 malam kami sampai di kecamatan Sumber Wringin, disana kami harus mengurus ijin pendakian di sebuah rumah peninggalan Belanda yang terlihat antik. Setelah itu perjalanan dilanjutkan ke desa terakhir. Setelah menitipkan sepeda motor, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Pondok Motor. Sepanjang perjalanan kami tidak dapat melihat apapun karena gelap. Sekitar jam ½ 11 malam kami tiba di pertigaan sebelum Pondok Motor. Dari pertigaan itu untuk ke pondok motor masih sekitar 45 menit lagi. Sekitar jam ½ 12 kami sampai di Pondok Motor (sekitar 1100 mdpl). Istirahat sejenak lalu perjalanan kami lanjutkan kembali. Karena malam sudah semakin larut, kami putuskan untuk mendirikan tenda (jarak dari pondok motor sekitar ½ jam).

Jum’at 20 maret 2009
Bangun pagi, packing perlengkapan, tenaga telah pulih kembali. Pagi yang cerah membuat puncak gunung raung terlihat dari kejauhan. Jam 5 kami mulai pendakian melewati semak belukar setinggi dada orang dewasa. Tak lama kemudian kami mulai memasuki kawasan hutan hujan lereng raung yang sangat lebat. Setelah berjalan beberapa saat, kami tiba di persimpangan, ke kiri untuk ke Gunung Suket dan ke kanan untuk ke Gunung Raung. Semakin masuk ke hutan jalur semakin lebat oleh semak belukar dan pohon-pohon tumbang, sehingga kami terkadang harus merangkak untuk melewatinya. Sempat istirahat beberapa kali untuk memulihkan tenaga dan nafas. Sampai di daerah agak terbuka, kami masak makanan untuk sarapan pagi. Nasi + sarden cukup mengembalikan stamina kami yang agak terkuras habis. Panjangnya jalur membuat kami sempat putus asa karena tidak kunjung menemukan pondok sumur.

Tapi sekitar jam 11.50 kami tiba di pondok sumur (sekitar 1800 mdpl). Huffh,….kabut sudah mulai turun, hujan gerimis serta stamina yang sudah hampir habis membuat saya tidak kuat untuk berjalan lagi. Karena hujan semakin lebat dan kabut sudah turun, kami memutuskan untuk mendirikan tenda di jalur antara pondok sumur dengan pondok tonyok. Tempatnya cukup datar meski tidak terlalu luas. Dirikan tenda, menyiapkan roti dan susu untuk mengganjal perut. Saya yang sudah terlalu capek karena belum sempat istirahat setelah tiba dari kalimantan tertidur hingga menjelang jam 7 malam. Setelah makan malam, kami briefing apakah perjalanan dilanjutkan malam ini atau besok pagi. Karena senter yang ada tidak cukup terang, maka diputuskan bahwa perjalanan dilanjutkan besok pagi.

sabtu 21 maret 2009
Jam 4 pagi kami mulai membereskan tenda dan segala perlengkapan ke dalam tas untuk melanjutkan perjalanan kembali. Setelah matahari agak menyingsing perjalanan kami lanjutkan. Jalur masih berupa hutan yang lebat dengan jalur yang semakin menanjak. Setelah berjalan sekitar 1 ½ jam, tibalah kami di pondok tonyok. Pondok tonyok adalah tanah agak lapang dengan pohon agak besar di pinggirnya. Istirahat dulu sebentar disini. Setelah capeknya agak berkurang, perjalanan kami lanjutkan kembali. Dari sini puncak gunung raung sudah mulai terlihat semakin dekat. Semakin menambah semangat kami untuk mencapainya. Dari pondok tonyok ke pondok demit jalannya semakin menanjak dan lebat dengan semak belukar dan pohon-pohon tumbang. Jarak pondok tonyok ke pondok demit relatif dekat.

Hanya sekitar 1 jam, kami sampai di pondok demit sekitar jam 7. Istirahat sebentar disini sambil minum 3 sloki air. Pondok demit merupakan tanah agak lapang dengan gubuk reyot diatasnya. Setelah dirasa cukup, perjalanan kami lanjutkan kembali ke pondok mayit. Dari pondok demit jalurnya semakin menanjak dan menguras tenaga. Kami yang menghemat air menggunakan kanebo untuk meresap air embun dari dedaunan yang nantinya dapat kami minum. Keluar dari hutan hujan, kami disambut dengan hutan cemara yang tanaman disekitarnya telah terbakar (entah karena ulah manusia atau tersambar petir). Jalur di hutan cemara ini antara 30-45 derajat.

Perjalanan yang melelahkan sehingga mengharuskan kami untuk sering beristirahat. Seperti kata ibu penjaga pos pendaftaran di bawah, dimana jalur ke pondok mayit tertutup pohon tumbang karena badai maka kami harus berjalan memutar dan tidak mampir ke pondok mayit, langsung ke pondok angin. Kabut yang turun membuat kami terbuai dan mengantuk. Setelah berjalan selama 3 jam, sampailah kami di pos terakhir sebelum puncak, Pondok angin (2900 mdpl). Di pondok angin kami mendirikan tenda untuk bermalam, karena kami akan naik ke puncak besok pagi jam 4. Seperti biasa, di pondok angin kami masak nasi, mi, sarden untuk bahan makan kami. Mengembalikan stamina wajib buat kami.

Minggu 22 maret 2009
Setelah menyiapkan bawaan yang akan kami bawa ke puncak, kami mulai meninggalkan tenda dan barang lainnya di pondok angin. Sesaat setelah melewati batas vegetasi, kami berdoa di memorial saudara kami deden hidayat. Beberapa saat kemudian jalur semakin ekstrim dengan jurang puluhan di kiri dan kanan serta jalan yang sempit, menanjak dan gelap. Menjelang puncak jalur semakin sempit dan mengharuskan kami harus merangkak dengan hati-hati agar tidak terpeleset.

Akhirnya jam 5 ¼ kami telah mencapai puncak raung (3100 mdpl). Sangat mengagumkan!! Puncak raung dengan kalderanya yang seluas hampir 1 km persegi dan kedalamannya sekitar 100 m dari tempat yang kami pijak. Di tengah kaldera terdapat kawah yang mengeluarkan asap putih. Arti raung sendiri adalah suara dari dalam kawah yang terdengar seperti meraung-raung. Pagi yang cerah dan tidak panas membuat kami puas berada di puncak di atas awan ini. Setelah puas jeprat-jepret foto, kami pun bersiap untuk turun.

Beban yang telah berkurang membuat perjalanan turun ini menjadi cepat. Jam 8 kami tiba kembali di pondok angin dan memasak nasi untuk sarapan. Setelah membereskan semuanya, jam ½ 10 kami memulai perjalanan turun kembali. Gerimis mulai turun saat kami tiba di pondok tonyok dan semakin lebat saat kami melewati pondok sumur. Setelah berjalan sekitar 5 jam dari puncak, akhirnya kami sampai di pondok motor.

Dari pondok motor ke desa terakhir tempat kami menitipkan sepeda motor, kami menumpang mobil pengangkut sayur. Setelah pamit ke ibu penjaga pendaftaran, kami melanjutkan perjalanan kembali ke kota jember......PUAS SETELAH MENCAPAI PUNCAK PERTAMA SAYA!!!


Senin, 07 Desember 2009

Catper Kiriman : Camping Ceria Curug Cilember

Udah pernah ke curug Cilember..? udah..? baguuss… saya belom soalnya..
Parah ya,, masak ke curug cilember aja belom pernah..
Tapi tenang aja, teman saya, mbak Ichaelmago, udah pernah kesana, and good for us, dia rela berbagi cerita perjalanannya buat kita.

So, baca – baca dulu yuk gan… Photobucket

Beberapa waktu yang lalu..saya dan beberapa teman saya memutuskan untuk berkemah di Curug Cilember. Kami kesana dengan menggunakan transportasi umum, yaitu bis dari Kampung Rambutan. Perjalanan kesana membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Sesampainya disana, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Menurut info yang kami dapat, dari jalan raya sampai ke Curug Cilember adalah sekitar 3 km. Sebenarnya tersedia ojek, tapi kami memilih untuk berjalan kaki. Selain sehat, juga hemat uang Di tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk shalat. Setelah selesai, kebetulan sekali sebuah angkot lewat. Maka kami pun menyetop angkot tersebut. Tapi sayangnya angkot tersebut tidak kuat menanjak, maka lagi-lagi kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampainya disana, kami ke loket dan melihat daftar harga. Untuk berkemah semalam hanya dikenakan tarif Rp. 12.500. Maka kami membayar, sebelumnya kami diperingatkan oleh penjaga loket agar mendirikan tenda yang terpisah antara wanita dan laki-laki, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Setelah itu, kami langsung mendirikan tenda. Ternyata, teman saya membawa tenda yang kecil! Padahal sebelumnya dia menjamin bahwa tenda yang ia bawa cukup untuk kami semua. Kami terdiri dari 3 laki-laki dan 4 perempuan. Dan nyatanya tenda yang ia bawa hanya cukup untuk 2 orang. Kami pun sepakat untuk menyewa tenda disana. Menyewa tenda yang cukup untuk 4 orang hanya dikenakan biaya sekitar Rp. 80.000. Sudah termasuk 4 sleeping bag dan 1 lampion. Sebenarnya hanya disediakan 2 sleeping bag, tapi karena penjaga-nya berbaik hati, maka kami diberikan 4.
Kami memilih lokasi tenda di dekat Curug 7. Sekedar informasi, disini terdapat 7 curug. Antara curug satu dan lainnya, ada yang berdekatan, ada pula yang harus menempuh berjam-jam perjalanan. Curug 1 sampai 3 adalah curug yang jarang dikunjungi, karena untuk menempuhnya agak sedikit sulit. Terutama bila tidak ada persiapan. Namun warga sekitar sering kesana untuk mengumpulkan kayu.
Alasan kami memilih lokasi di Curug 7 adalah karena dekat dengan mushalla, toilet, pintu masuk, warung warga, dan air terjun. Di mushalla, tersedia 2 buah mukena dan beberapa sajadah serta Al-Qur’an. Air untuk wudhu bukan dari keran, melainkan langsung terpancar dari dinding yang berupa batu-batuan. Di dekat mushalla, terdapat sekitar 7 toilet (saya agak lupa, antara 7 atau 6).
Setelah selesai mendirikan tenda, kami pun bermain ke Curug 7. Disana kami mendapati sekumpulan orang Arab yang sedang berfoto dan juga ada wanita yang berfoto untuk pre-wedding. Kami pun ikut foto-foto disana. Setelah puas berfoto, kami pulang sambil mengumpulkan kayu bakar untuk api unggun malam harinya.
Saat maghrib tiba, kami pun ke mushalla dan duduk-duduk disana sampai Isya tiba. Setelah itu kami makan-makan dan menghabiskan waktu untuk bermain UNO Langit malam itu sangat cerah sehingga kami bisa melihat bintang-bintang dengan jelas.
Tengah malam, saya terbangun sekitar jam 2 karena perut keroncongan. Ternyata ada teman saya yang terbangun juga. Jadilah kami keluar tenda dan memasak. Udara sangat dingin. Sampai-sampai saya membawa sleeping bag keluar tenda. Saya pun memasak mie rebus sambil menunggu fajar terbit. Kami merasakan sejuknya angin malam sambil sesekali diiringi suara jangkrik dan anjing.
Pagi harinya, setelah melaksanakan ibadah shalat, kami langsung berjalan-jalan sekitar tenda dan menuju ke warung terdekat untuk sekedar minum teh hangat. Kami juga sempat melihat taman kupu-kupu, dimana di dalamnya saya melihat beberapa kupu-kupu yang sedang hinggap di atapnya.
Setelah puas bermain di Curug 7, kami meneruskan perjalanan ke Curug diatasnya. Tidak lupa kami mengunci tenda, lalu membawa sarapan pagi kami. Ya, kami akan makan pagi di Curug. Setelah melalui jalan yang terjal dan licin, sampailah kami di Curug 4, yang tempatnya amat strategis untuk makan-makan. Kami pun menhabiskan sarapan pagi kami, yang walaupun hanya nasi dan secuil ayam, tapi terasa nikmat sekali.
Selesai makan, kami kembali ke tenda dengan menggunakan rute yang berbeda. Ternyata lebih enak rute yang kedua ini, karena sudah diberi batu-batuan sebagai tangga. Rute ini pula yang biasa dipakai warga setempat untuk mencari kayu sampai ke curug 3.
Kami kembali lagi ke curug 7, kali ini untuk mandi, alias basah-basahan. Kami melihat masih banyak orang Arab berseliweran. Mereka berkelompok-kelompok, sepertinya keluarga besar. Ini menunjukkan bahwa tempat wisata ini sudah terkenal dikalangan mereka. Mereka menikmati Curug 7 sambil sesekali berfoto dan bermain air.
Setelah puas bermain air, kami kembali ke tenda lalu mandi dan membereskan tenda. Kami selesai sekitar pukul 10 lalu pulang ke Jakarta. Rute pulang selalu lebih mudah dari rute berangkat. Sebelumnya kami bertanya rute terdekat menuju jalan raya, dan benar saja, rute itu memang agak lebih dekat disbanding rute yang kami ambil saat berangkat. Pemandangan di sepanjang jalannya pun tidak kalah indah. Maka sampailah kami di jalan raya, dan tidak lama kemudian bis menuju Jakarta datang. Kami naik ke dalam bus, lalu sampailah kami di Jakarta. Liburan yang menyenangkan!

Dan ini foto - fotonya
Spoiler:


Istirahat sejenak di perjalanan


Papan selamat datangnya



Mencari kayu untuk api unggun


Bebatuan disekitar curug 7


Wanita arab sedang berkumpul


Uno adalah permainan favorite kami


Curug


Ada kupu lho didalam


Iseng mengumpulkan biji - bijian


sarapan pagi di curug 4





Gimana,,, asik kan.?

Oh ya, kalo mau kenalan sama mbak yang punya catper, maen - maen aja ke blognya..
klik disini

Selasa, 24 November 2009

Gambar Gunung Via Google Earth

Salah seorang temen saya, sebut saja ngguh, jangan mawar atau melati , membuat sebuah thread di subforum pendakian gunung di Kaskus. isinya menarik, screenshot dari gambar2 gunung di Indonesia yang di ambil dari google Earth. Lalu, terinspirasi dari keisengan temen saya itu, saya juga iseng2 pasang gambarnya disini . Lumayan lah, buat yang gak bisa melakukan pendakian Gunung karena cuaca yang kurang bersahabat akhir2 ini, anda masih bisa menghibur diri melihat image gunung favorite anda berkat keisengan temen saya, saudara ngguh.

Ya udah lah, daripada malah kebablasan basa basinya. Mending langsung liat aja deh..
Kalo suka ya comment, kalo gak suka ya………………….
Tak bilangin om ngguh nanti, dia agak2 maho lho…
Piss…

Monggo dilihat

Spoiler:
Rinjani - NTB



Spoiler:
Gede Pangrango



Spoiler:
Krakatau



Spoiler:
Lawu



Spoiler:
Mahameru



Spoiler:
Slamet



Spoiler:
Kerinci



Spoiler:
Cikuray



Spoiler:
Arjuno



Spoiler:
Agung




Spoiler:
Argopuro



bagus kan.?
Emang gak terlalu jernih sih, maklum, kata yang bersangkutan, itu diambil dari googlemap yang gratisan. Mungkin kalo pake yang pro, alias yang gak gratis, bisa lebih bagus ya gambarnya..
gak semua gambar saya copy kesini. kalo mau lihat lebih lengkapnya, silahkan klik disini