Sabtu, 27 Desember 2014

Genographic Project Mengkonfirmasi Manusia Modern Bermigrasi Keluar dari Afrika Melalui Arabia

Genographic Project Mengkonfirmasi Manusia Modern Bermigrasi Keluar dari Afrika Melalui Arabia


Kamis, 3 November 2011 -

Sejarah evolusi menunjukkan bahwa populasi manusia kemungkinan besar berasal dari Afrika. Genographic Project, survei data genetik populasi manusia yang paling luas hingga saat ini, menemukan bahwa manusia modernbermigrasi keluar dari Afrika melewati rute selatan melalui Arabia, bukan rute utara jalur Mesir. Temuan ini menjadi sorotan penting dalam konferensi di National Geographic Society.
Konsorsium ilmiah National Geographic dan Genographic Project IBM telah mengembangkan metode analisis baru yang melacak kekerabatan di antara urutan genetik dari pola-pola rekombinasi – proses di mana molekul-molekul DNA menjadi rusak dan bergabung kembali untuk membentuk pasangan baru. 99 persen genom manusia yang melalui proses acak ini sebagai DNA diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Wilayah-wilayah genomik ini sebagian besar belum diselidiki untuk memahami sejarah migrasi manusia.
Dengan melihat kesamaan dalam pola rekombinasi DNA yang telah diturunkan pada populasi yang berbeda, para ilmuwan Genographic mengkonfirmasi bahwa populasi Afrika adalah yang paling beragam di dunia, dan bahwa keragaman garis keturunan di luar Afrika merupakan bagian dari yang ditemukan di benua tersebut. Perbedaan sejarah genetik yang umum di antara populasi menunjukkan bahwa kelompok Eurasia lebih mirip dengan populasi dari India selatan, dibandingkan dengan mereka yang ada di Afrika. Hal ini mendukung rute selatan migrasi manusia berasal dari Afrika melalui Selat Bab-el-Mandeb di Arabia sebelum adanya pergerakan menuju utara, dan menunjukkan peran khusus bagi Asia selatan dalam model perluasan manusia modern “out of Africa“.
Ajay Royyuru, manajer senior di Pusat Biologi Komputasi IBM, mengatakan, “Selama enam tahun terakhir, kami telah berpeluang mengumpulkan dan menganalisis data genetika di seluruh dunia pada skala dan tingkat detail yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Saat kami memulai, tujuan kami adalah membawa ekspedisi ilmu pengetahuan ke dalam era modern untuk pemahaman yang lebih terhadap akar dan keberagaman manusia. Dengan bukti bahwa keragaman genetik di India bagian selatan lebih dekat ke Afrika daripada Eropa, hal ini menunjukkan bahwa bidang-bidang riset lainnya seperti arkeologi dan antropologi perlu mencari bukti tambahan pada rute migrasi manusia purba untuk lebih mengeksplorasi teori ini.”
Metode analisis terbaru ini berfokus pada rekombinasi kromosom DNA dari waktu ke waktu, yang merupakan salah satu penentu bagaimana urutan gen baru diciptakan pada generasi berikutnya. Bayangkan sebuah kromosom rekombinasi sebagai setumpuk kartu. Ketika sepasang kromosom dikocok secara bersamaan, hal ini menciptakan kombinasi-kombinasi DNA. Proses rekombinasi terjadi melalui generasi ke generasi.
Rekombinasi berkontribusi bagi keanekaragaman genom pada 99% genom manusia. Namun, banyak yang meyakini bahwa untuk memetakan sejarah rekombinasi DNA merupakan pekerjaan yang mustahil karena pola-polanya yang kompleks dan tumpang tindih terbentuk pada tiap-tiap generasi. Kini, dengan menerapkan metode komputasi rinci dan algoritma yang tangguh, para ilmuwan dapat menyediakan bukti baru pada ukuran dan sejarah populasi purba.
Melalui metode analisis baru, IBM dan Genographic Project menemukan bukti baru untuk mendukung rute selatan migrasi manusia dari Afrika melalui Selat Bab-el-Mandeb di Arabia sebelum adanya pergerakan menuju utara, dan menunjukkan peran khusus Asia selatan dalam model perluasan manusia modern "out of Africa". (Kredit: Genographic Project)
Peneliti IBM Laxmi Parida, yang mendefinisikan pendekatan komputasi baru dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Molecular Biology and Evolution, mengatakan, “Hampir 99% susunan genetik dari satu individu merupakan lapisan-lapisan cetak genetik dari garis keturunan banyak individu. Tantangan kami adalah apakah layak menyusuri selain garis keturunan ini untuk memahami kesamaannya. Melalui pendekatan analisis dan pemodelan matematika, kami melakukan tugas rumit merekonstruksi sejarah genetik suatu populasi. Dengan demikian, kami sekarang memiliki alat untuk mengeksplorasi genom manusia dengan lebih banyak lagi.”
Genographic Project terus mengisi celah pengetahuan kita tentang sejarah manusia dan menyingkap informasi dari akar-akar genetik kita yang tidak hanya mempengaruhi kisah-kisah pribadi kita, namun juga dapat mengungkap dimensi baru peradaban, budaya dan masyarakat selama puluhan ribu tahun terakhir.
“Penerapan metode analisis baru ini, seperti studi terhadap keragaman rekombinasi, menyoroti kekuatan pendekatan Genographic Project. Setelah merakit sebuah sumber daya yang luar biasa dalam bentuk pengumpulan sampel global dan standardisasi database, kami dapat mulai menerapkan metode baru analisis genetik untuk menyediakan wawasan yang lebih besar tentang sejarah migrasi spesies kita,” kata Direktur Genographic Project, Spencer Wells.
Penelitian rekombinasi menyoroti upaya awal selama enam tahun oleh Genographic Project untuk membuat survei yang paling komprehensif pada variasi genetik manusia dengan menggunakan DNA yang disumbangkan oleh masyarakat pribumi dan anggota masyarakat umum, dalam rangka memetakan bagaimana bumi dipopulasi. Hampir 500.000 orang telah berpartisipasi dalam proyek ini dengan penelitian lapangan yang dilakukan oleh 11 pusat regional untuk memajukan ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang silsilah migrasi. Database ini adalah salah satu koleksi terbesar informasi genetik populasi manusia yang pernah dirancang, dan berfungsi sebagai sumber daya yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi para ahli genetika, sejarawan dan antropolog.
Genographic Project berusaha untuk memetakan pengetahuan baru tentang sejarah migrasi spesies manusia dan menjawab pertanyaan lama seputar keragaman genetik manusia. Proyek ini merupakan riset kemitraan global nirlaba multi-tahun, dari National Geographic dan IBM dengan dukungan lapangan oleh Waitt Family Foundation. Inti dari proyek ini adalah konsorsium global 11 tim ilmiah regional mengikuti kerangka etika dan ilmiah dan yang bertanggung jawab atas pengumpulan sampel dan analisis di daerah masing-masing.

Jurnal: Marta Melé, Asif Javed, Marc Pybus, Pierre Zalloua, Marc Haber, David Comas, Mihai G. Netea, Oleg Balanovsky, Elena Balanovska, Li Jin, Yajun Yang, RM. Pitchappan, G. Arunkumar, Laxmi Parida, Francesc Calafell, Jaume Bertranpetit, Genographic Consortium. Recombination gives a new insight in the effective population size and the history of the Old World human populations. Molecular Biology and Evolution (2011) DOI: 10.1093/molbev/msr213


Sumber:
http://www.faktailmiah.com/2011/11/03/genographic-project-mengkonfirmasi-manusia-modern-bermigrasi-keluar-dari-afrika-melalui-arabia.html

Suku Aborijin merupakan pelopor migrasi

Jumat, 23/09/2011 15:51 WIB

Suku Aborijin merupakan pelopor migrasi

BBCIndonesia.com - detikNews

Orang Aborigin diduga sudah mendiami Australia sejak 70.000 tahun lalu.


Setumpuk rambut berhasil membantu para ilmuwan menyusun kembali genome suku Aborijin Australia dan menelusuri penyebaran manusia di dunia.


DNA dari rambut tersebut memperlihatkan bahwa orang Aborijin merupakan yang pertama kali berpisah dari manusia modern, sekitar 70.000 tahun lalu.


Temuan yang menentang teori ini sebelumnya ditulis dalam majalah ilmu pengetahuan Science


Pemikiran awal adalah manusia modern menyebar dalam satu tahapan ke luar dari Afrika dan Timur Tengah, dan karena ada faktor jarak maka manusia Eropa modern yang pertama kali berpisah dibanding orang Asia dan Austalia.


Namun penelitian terbaru memperlihatkan warga Aborijin yang sebenarnya membuka jalan ke Asia dan Australia sementara manusia modern lainnya masih tetap tinggal di Afrika dan Timur Tengah sampai 24.000 tahun lalu.


Barulah kemudian manusia dari Afrika dan Timur Tengah menyebar dan menduduki Eropa serta Asia sementara Aborijin sudah menetap mapan di Australia selama 25.000 tahun.


Jadi warga Aborijin yang memiliki klaim yang paling lama atas tanah tempat mereka tinggal dibanding manusia modern lainnya.


Laut dangkal


Temuan ini didasarkan pada perbandingan antara fraksi yang amat kecil dari DNA suku Aborijin dengan manusia lainnya, yang memperlihatan orang Aborijin sudah hidup terisolasi 70.000 tahun lalu.


Dr Francois Balloux, salah seorang ilmuwan dari Imperial College London, menyebutkan populasi yang berkembang di sepanjang pantai karena sumber daya alam yang kaya di kawasan itu.


"Mereka bisa jalan ke mana saja karena kedalaman laut masih amat dangkal," tambahnya.


Jadi hanya sedikit saja melintas laut sudah bisa mencapai Australia walau kemungkinan peninggalan arkeologis dari perjalanan lintas laut itu menjadi hilang karena semakin dalamnya laut.


Sedangkan populasi di Timur Tengah pindah menduduki Eropa maupun Asia sekitar 24.000 tahun lalu dan pada masa itu tercatat bahwa genome Aborijin memperlihatkan terjadinya perkawinan antara nenek moyang Asia dan Aborijin.

Teknologi genome


Warga Aborijin
Orang Aborijin lebih dulu berimigrasi dibanding orang Eropa dan Asia.


Temuan dalam migrasi manusia yang didasarkan pada DNA sekarang dimungkinkan karena kemajuan teknologi dalam studi genome.


Sebelumnya, pengkajian usia genetika didasarkan pada menyusuri sejumlah mutasi yang unik di DNA dengan asumsi tingkat dari mutasi tersebut.


Namun kini tersedia model-model komputer yang bisa mensimulasi berbagai skenario untuk waktu migrasi dan juga arahnya sehingga peneliti bisa membandingan dan memilih situasi yang paling tepat dengan genome teryentu.


Dalam penelitian ini, perbandingan genome Aborijin dengan DNA individu orang Afrika, Eropa, dan suku Han di Cina memperlihatkan perkawinan dari Afrika, Eropa, dan Han terjadi setelah masa kolonialisasi awal, ketika Aborijin sudah menetap lebih dulu.

(bbc/bbc)


Sumber;
http://news.detik.com/read/2011/09/23/155147/1728729/934/suku-aborijin-merupakan-pelopor-migrasi

Darimana Asal-Usul Penduduk Asli Amerika?

Darimana Asal-Usul Penduduk Asli Amerika?

Darimana Asal-Usul Penduduk Asli Amerika?
Manusia Warisi Gen Neanderthal

TEMPO.CO, London--Asal-usul penduduk asli Amerika terungkap. Sebuah tim peneliti internasional menemukan penduduk asli Amerika terdiri dari tiga kelompok migran yang berasal dari Asia. Mereka tiba ke Amerika dalam tiga gelombang migrasi besar menyeberangi jembatan darat 15 ribu tahun lalu.


Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Nature menunjukkan semua kelompok awalnya berasal dari Siberia, lalu melewati Beringia, sebuah jembatan tanah yang menghubungkan benua Asia dan Amerika selama zaman es. Kini jembatan darat ini sudah tidak ada dan menjelma menjadi Selat Bering.


Kelompok migran pertama yang dikenal sebagai "First Americans" menghuni sebagian besar wilayah Amerika utara dan selatan. Disusul dua kelompok berikutnya yang menghuni wilayah yang sama. DNA dari kelompok kedua dan ketiga masih dapat ditemukan pada penduduk asli Amerika saat ini.


Dengan mempelajari variasi urutan DNA penduduk asli Amerika, tim peneliti menemukan sebagian besar mereka berasal dari kelompok migran pertama. Sementara dua migrasi berikutnya berperan penting menambah variasi genetik.


"Penduduk asli Amerika tidak berasal dari migrasi tunggal," kata Profesor Andres Ruiz-Linares, pemimpin penelitian dari University College London, Selasa 17 Juli 2012. "Penelitian ini sekaligus menguak pola penyebaran manusia di Amerika."


Hasil analisis menunjukkan kedua populasi mewarisi materi genetik dari kelompok migran pertama alias "First Americans". 


Ini mencerminkan fakta bahwa kelompok migran kedua dan ketiga bercampur dengan kelompok pertama yang mereka temui setelah mereka tiba di Amerika utara. "Setidaknya ada tiga garis keturunan yang mendalam pada populasi asli Amerika," kata Profesor David Reich, peneliti lain yang juga ahli genetika di Harvard Medical School.


Tim juga menemukan populasi penduduk asli Amerika menyebar dan membelah dari utara ke selatan sepanjang rute yang memeluk pantai. Divergensi ini diketahui dari aliran gen yang ada di antara kelompok-kelompok penduduk asli Amerika, terutama yang tinggal di Amerika selatan.


Analisis tim sempat diperumit dengan masuknya materi genetik dari populasi imigran Eropa dan Afrika sejak 1492 dan 500 tahun pencampuran genetik yang terjadi sesudahnya. Untungnya tim peneliti mengembangkan metode untuk mengupas campuran ini dan melacak genom penduduk asli Amerika sebelum kedatangan penduduk Eropa dan Afrika.


"Penelitian tentang penduduk asli Amerika secara teknis sangat menantang karena terjadi percampuran yang luas dengan penduduk Eropa dan Afrika," kata Profesor Ruiz-Linares.
DAILYMAIL | MAHARDIKA SATRIA HADI


Sumber:
http://www.tempo.co/read/news/2012/07/19/061417908/Darimana-Asal-Usul-Penduduk-Asli-Amerika

Harun kromosom-Y

Harun kromosom-Y

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Harun kromosom-Y (bahasa Inggris: Y-chromosomal Aaron) adalah nama yang diberikan untuk hipotesis bahwa most recent common ancestor ("nenek moyang umum paling baru") dari golongan imam Yahudi yang diturunkan dari garis ayah, dikenal sebagai Kohanim (singular "Kohen", "Cohen", atau Kohane). Dalam Taurat, nenek moyang ini diidentifikasi sebagai Harun, abang Musa. Jadi, most recent common ancestor mereka disebut "Harun kromosom-Y", menurut analogi dengan Adam kromosom-Y.

Principal components analysisscatterplot Y-STR haplotypes dari Haplogroup J, dihitung menggunakan 6 STR. Dengan hanya 6 penanda Y-STR, tidak mungkin untuk membedakan berbagai subgrup Hg J.

Principal components analysisscatterplot Y-STR haplotypes dari Haplogroup J, dihitung menggunakan 37 STR. Dengan 37 penanda Y-STR, jelas dapat membedakan kelompok-kelompok STR, cocok dengan subgrup J1, J2 dan J2b. Haplotypes sering dikaitkan dengan silsilah Cohen dalam setiap grup ditandai masing-masing dengan J1 C37 dan J2 C37.
Riset ilmiah aslinya didasarkan pada penemuan bahwa mayoritas imam (kohanim) Yahudi sekarang ini berbagi atau hanya satu langkah terpisah dari suatu pola nilai 6 penanda Y-STR, yang disebut Cohen Modal Haplotype (CMH) oleh para peneliti. Namun, jelas bahwa enam pola penanda ini tersebar di berbagai komunitas di mana para pria mempunyai kromosom-Y yang tergolong Haplogroup J; enam penanda CMH tidak hanya khusus untuk golongan Cohen, maupun hanya untuk orang Yahudi.
Riset paling akhir, menggunakan lebih banyak penanda Y-STR untuk memperoleh resolusi lebih tinggi tanda-tanda genetik spesifik, mengindikasikan bahwa sekitar setengah Kohanim Yahudi saat ini, yang berbagi Y-chromosomal haplogroup J1c3 (juga disebut J-P58), nampaknya berkerabat dekat. Kira-kira 15% Kohanim termasuk grup kedua yang berbeda, berbagi garis silsilah yang erat tapi berbeda. Kelompok kedua ini tergolong haplogroup J2a (J-M410). Sejumlah grup keturunan kecil lain juga diamati.
Kelompok Cohen J1-P58 dan J2a bercampur jika yang dites berasal dari golongan Yahudi Sephardi dan Ashkenazi.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]



Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Harun_kromosom-Y

Asal usul manusia modern dari Afrika

Asal usul manusia modern dari Afrika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Salah satu model migrasi manusia berdasarkan DNAmitokondria
Asal usul manusia modern dari Afrika adalah model yang kini paling diterima dalam paleoantropologi untuk menggambarkan asal usul dan penyebaran dini manusia modern.[1] Teori ini disebut dalam pers bahasa Inggris model (Recent) Out-of-Africa ("keluar dari Afrika"), dan dalam dunia akademis model Recent single-origin hypothesisaatau RSOH ("hipotesa asal usul tunggal yang baru"), Replacement Hypothesis ("hipotesa penggantian") dan Recent African Origin atau RAO ("asal usul dari Afrika yang baru"). Hipotesa bahwa manusia memiliki asal usul yang tunggal (monogenesis) pernah dirumuskan Charles Darwin dalam Descent of Man (1871).[2] Paham ini bersifat spekulatif sampai tahun 1980-an, ketika dibenarkan oleh penelitian atas DNA mitokondria pada manusia masa kini, dipadukan dengan bukti-bukti yang didasarkan pada antropologi fisik atas spesimen kuno.
Penterjemahan genetika dan bukti fossil menunjuk bahwa perkembangan Homo sapiens purba menjadi manusiahanya terjadi diAfrika, antara 200 000 dan 150 000 lalu,[3] bahwa anggota dari satu cabang dari Homo sapiensmeninggalkan Afrika antara 125 000 dan 60 000 tahun lalu, dan bahwa dalam perjalanan waktu Homo sapienstersebut menggantikan populasi manusia yang lebih dini seperti manusia Neanderthal dan Homo erectus.[4] The date of the earliest successful "out of Africa" migration (earliest migrants with living descendents) has generally been placed at 60,000 years ago as suggested by genetics, although attempts at migration out of the continent may have taken place as early as 125,000 years ago according to Arabian archaeology finds of tools in the region.[5]
Asal usul tunggal manusia modern di Afrika Timur adalah pandangan yang dipegang mayoritas masyarakat ilmiah.[6][7][8][9][10] Ada teori yang berbeda mengenai apakah terjadi satu hijrah atau lebih. Dalam model penyebaran jamak termasuk teori Penyebaran Selatan,[11] yang akhir-akhir ini mendapat dukungan dari bukti-bukti genetika, linguistik danarkeologis. Sejumlah peneliti yang kian besar juga menduga bahwa "Afrika Utara yang lama diabaikan" adalah tempat asal awal manusia modern yang pertama berhijrah dari Afrika.[12][13][14]
Teori saingan yang paling kuat adalah asal usul multiregional manusia modern, yang melihat segelombang Homo sapiens berhijrah dari Afrika, kemudian berbaur denganpopulasi Homo erectus setempat di beberapa kawasan bumi. Kebanyakan multiregionalis tetap melihat Afrika sebagai sumber utama keanekaragaman genetik manusia, namun memperkirakan peranan yang jauh lebih besar bagi pencampuran.[15][16]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ William A. Haviland; Harald E. L. Prins; Dana Walrath; Bunny McBride (24 February 2009). The Essence of Anthropology. Cengage Learning. hlm. 90. ISBN 9780495599814. Diakses 14 June 2011.
  2. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Lafreniere2010
  3. ^ Renée Hetherington; Robert G. B. Reid (2010). The Climate Connection: Climate Change and Modern Human Evolution. Cambridge University Press. hlm. 64. ISBN 9780521147231. Diakses 14 June 2011.
  4. ^ Martin Meredith (10 May 2011). Born in Africa: The Quest for the Origins of Human Life. PublicAffairs. hlm. 148. ISBN 9781586486631. Diakses 14 June 2011.
  5. ^ , 331 (6016), 453-456 DOI: 10.1126/science.1199113
  6. ^ Liu H, Prugnolle F, Manica A, Balloux F (August 2006). "A geographically explicit genetic model of worldwide human-settlement history". Am. J. Hum. Genet. 79 (2): 230–7.doi:10.1086/505436. PMC 1559480. PMID 16826514. "Currently available genetic and archaeological evidence is generally interpreted as supportive of a recent single origin of modern humans in East Africa. However, this is where the near consensus on human settlement history ends, and considerable uncertainty clouds any more detailed aspect of human colonization history."
  7. ^ "Out of Africa Revisited – 308 (5724): 921g – Science". Sciencemag.org. 2005-05-13. doi:10.1126/science.308.5724.921g. Diakses 2009-11-23.
  8. ^ Stringer C (June 2003). "Human evolution: Out of Ethiopia". Nature 423 (6941): 692–3, 695. doi:10.1038/423692a. PMID 12802315.
  9. ^ Johanson D. "Origins of Modern Humans: Multiregional or Out of Africa?". ActionBioscience. American Institute of Biological Sciences.
  10. ^ "Modern Humans – Single Origin (Out of Africa) vs Multiregional".
  11. ^ Searching for traces of the Southern Dispersal, by Dr. Marta Mirazón Lahr, et al.
  12. ^ Was North Africa the Launch Pad for Modern Human Migrations? Michael Balter, science 7 January 2011: 331 (6013), 20–23. [DOI:10.1126/science.331.6013.20]
  13. ^ A Revised Root for the Human Y Chromosomal Phylogenetic Tree: The Origin of Patrilineal Diversity in Africa. Fulvio Cruciani, Beniamino Trombetta, Andrea Massaia, Giovanni Destro-Bisol, Daniele Sellitto, Rosaria Scozzari, The American Journal of Human Genetics – 19 May 2011
  14. ^ Earliest evidence of modern human life history in North African early Homo sapiens, Tanya M. Smith, Paul Tafforeau, Donald J. Reid, Rainer Grün, Stephen Eggins, Mohamed Boutakiout, Jean-Jacques Hublin, doi: 10.1073/pnas.0700747104 PNAS April 10, 2007 vol. 104 no. 15 6128–6133
  15. ^ Robert Jurmain; Lynn Kilgore; Wenda Trevathan (20 March 2008). Essentials of Physical Anthropology. Cengage Learning. hlm. 266–. ISBN 9780495509394. Diakses 14 June 2011.
  16. ^ . doi:10.1002/(SICI)1096-8644(200005)112:1<129::AID-AJPA11>3.0.CO;2-K. PMID 10766948. Missing or empty |title= (help)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Documentaries


Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Asal_usul_manusia_modern_dari_Afrika