Jumat, 10 Oktober 2014

Tas Hermes Dibuat dengan Alat Mirip Perkakas Neanderthal

Tas Hermes Dibuat dengan Alat Mirip Perkakas Neanderthal

Rabu, 21 Agustus 2013 | 14:12 WIB
The Abri Peyrony and Pech-de-l’Azé I Projects Lissoir

KOMPAS.com — Percayakah Anda tas kulit semahal Hermes dibuat dengan alat yang telah dipakai sejak zaman Neanderthal? Neanderthal adalah salah satu jenis manusia purba yang diduga hidup berdampingan dengan manusia modern di masa lampau sebelum akhirnya punah.

Fakta tersebut terungkap lewat penggalian yang dilakukan arkeolog di situs Neanderthal yang berusia 40.000 tahun. Arkeolog menemukan alat tulang bernama lissoir yang digunakan untuk mengolah kulit binatang sehingga lebih berkilau dan resisten terhadap air.

Lissoir semula dianggap hanya merupakan perkakas milik manusia modern. Penemuan lissoir di situs Neanderthal ini menunjukkan bahwa kerabat manusia modern tersebut juga sudah mampu menggunakan perkakas semacam lissoir.

Diberitakan Nature, Senin (12/8/2013), pecahan lissoir pertama kali ditemukan 10 tahun di Pech-de-l’Azé di wilayah Dordogne, barat daya Perancis. Marie Soressi, arkeolog dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, adalah penemunya.

Setelah penemuan, Sorresi menghubungi pabrik Hermes di Paris dan menemukan bahwa para pekerja kulit di perusahaan tersebut menggunakan alat yang mirip lissoir. Ketika gambar perkakas tersebut ditunjukkan kepada para pekerja, mereka langsung mengenalinya.

Shannon McPherron yang juga rekan Soressi melakukan penelitian lanjutan di Pech-de-l’Azé dan wilayah lain di dekat Abri Peyrony. Mereka kembali menemukan lissoir. Hal ini memberi kepastian bahwa manusia Neanderthal memang telah menggunakan perkakas ini.

Lissoir bukanlah perkakas tulang Neanderthal yang ditemukan pertama kali. Namun, alat ini istimewa karena berbeda dengan perkakas tulang lain. Kebanyakan perkakas tulang dibuat berdasarkan salinan dari perkakas batu, tetapi lissoir tidak.

Lissoir adalah perkakas tulang yang mampu memanfaatkan sifat fisik tulang, yakni memiliki tekstur dan kemampuan untuk melengkung tanpa menghasilkan patahan. Tampaknya, Neanderthal membuat lissoir dari bahan tulang rusuk rusa yang panjang dan fleksibel.

Para peneliti tidak bisa memastikan apakah Neanderthal menggunakan perkakas tulang untuk memoles kulit. Meskipun demikian, McPherron menjumpai bahwa lissoir temuannya juga terpotong pada bagian ujungnya dan diduga dipakai untuk memoles kulit juga.

McPherron juga melakukan pengujian dengan membuat lissoir dan menggunakannya untuk menghaluskan kulit kering. Ternyata, ujung lissoir buatan para peneliti juga mengalami perubahan seperti pada lissoir milik Neanderthal.

Meski demikian, tetap ada keraguan bahwa lissoir memang dibuat oleh Neanderthal. Sebabnya, manusia tidak tinggal di Pech-de-l’Azé ataupun Abri Peyrony. Bagaimana mungkin manusia bisa belajar kalau tidak berinteraksi walaupun mungkin saja manusia dan Neanderthal membuat perkakas itu secara independen.

Untuk memastikan, McPherron akan menggali situs Neanderthal yang rentang usianya lebih tua. Situs Neanderthal yang digali untuk menemukan lissoir ini berusia antara 51.000-41.000 tahun, beririsan dengan pendudukan manusia modern di Eropa Barat 42.000 tahun lalu.

Dengan penggalian di situs arkeologi yang lebih tua, arkeolog mampu memastikan apakah memang lissoir diciptakan oleh Neanderthal. Jika terbukti, kecerdasan Neanderthal tidak bisa disepelekan. (Dyah Arum Narwastu)

Editor : Yunanto Wiji Utomo



Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2013/08/21/1412496/Tas.Hermes.Dibuat.dengan.Alat.Mirip.Perkakas.Neanderthal?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

Riset Genetik Beri Petunjuk Adanya Spesies Manusia Misterius

 Riset Genetik Beri Petunjuk Adanya Spesies Manusia Misterius
Kamis, 19 Desember 2013 | 20:17 WIB
David Liitschwager/National Geographic Tengkorak Homo neanderthalensis (kiri) dan tengkorak perempuan modern Homo sapiens.


KOMPAS.com — Peta fosil genetik atau genom yang dilaporkan dari gua Denisova di Pegunungan Altai, Siberia, diperkirakan berusia lebih dari 50.000 tahun. Gua itu adalah rumah pada waktu terpisah untuk Neanderthal dan yang disebut Denisovan, dua keluarga manusia purba yang kini sudah punah.


Menambah bukti dari garis keluarga manusia, studi genom Neanderthal baru yang dirilis pada jurnal Nature juga menunjukkan bahwa spesies manusia kuno lain, yang belum diketahui, berbagi gen dengan yang lainnya. Para penulis penelitian berpendapat bahwa itu adalah Homo erectus, salah satu spesies manusia paling awal yang pertama muncul sekitar 1,8 juta tahun lalu.

Laporan yang dipimpin oleh Jerman Kay Prüfer dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig didasarkan pada hasil genetika prasejarah yang menentang teori bahwa manusia modern muncul benar-benar dari satu migrasi "di luar Afrika" lebih dari 60.000 tahun lalu, yang menyebar di seluruh dunia tanpa kawin dengan manusia lain.

Orang-orang yang bukan berasal dari Afrika memiliki 1,5 persen sampai 2,1 persen gen Neanderthal, menurut penelitian, dengan proporsi yang lebih tinggi di antara orang Asia dan penduduk asli Amerika. Demikian pula, 5 persen dari genom orang-orang keturunan Australia dan Papua Niugini terlihat layaknya Denisovan, seperti halnya 0,2 persen gen orang Asia.

Temuan menunjukkan, Neanderthal dan Denisovan memisahkan diri dari spesies manusia sebelumnya sekitar 600.000 tahun lalu. Sementara itu, Neanderthal dan Denisovan mungkin berpisah 400.000 tahun yang lalu.

Keakuratan dari genom Neanderthal sebenarnya memungkinkan para peneliti untuk menyatakan bahwa Neanderthal yang ditemukan di Gua Denisova kurang erat kaitannya dengan orang modern dibandingkan dengan Neanderthal yang ditemukan di sebuah situs di Kaukasus.

Hanya 96 gen yang bertugas untuk membuat protein dalam sel menjadi perbedaan antara manusia modern dan Neanderthal. Menariknya, beberapa perbedaan gen melibatkan respons imun dan perkembangan sel-sel otak pada manusia.

Dalam studi ini, para penulis melaporkan bukti bahwa perbandingan mendalam ada pada genom Neanderthal baru dan Denisovan. (Rangga Rahadiansyah/National Geographic Indonesia)


Editor : Yunanto Wiji Utomo


Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2013/12/19/2017530/Riset.Genetik.Beri.Petunjuk.Adanya.Spesies.Manusia.Misterius?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

Benarkah "Neanderthal" Punah Dimakan Manusia?

Benarkah "Neanderthal" Punah Dimakan Manusia?

Selasa, 4 Juni 2013 | 21:33 WIB

KOMPAS.com — Peneliti asal Soanyol memiliki teori baru tentang salah satu penyebab kepunahan neanderthal (Homo neanderthalensis). Menurut para peneliti, manusia ikut berkontribusi dalam kepunahan spesies itu, salah satunya dengan memburu dan memakannya.

Policarp Hortola dan Bienvenido Martinez-Navarro dari Universitat Rovira i Virgili di Tarragona, Spanyol, mengatakan, "Kecuali di tanah asalnya Afrika, di benua lain, Homo sapiens bisa dikatakan sebagai spesies invasif."

Saat ini, ada banyak kasus ketika spesies dalam hal invasi mengancam spesies lokal. Jadi, pada akhir masa pleistosen, mungkin saja neanderthal kalah berkompetisi dengan manusia yang terus menyebar ke Asia dan Eropa.

"Kami berpikir bahwa manusia yang mendiami relung yang sama dengan neanderthal, tetapi punya teknologi lebih maju, dalam kolonisasi di wilayah Eropa akan berkompetisi secara langsung untuk memperoleh makanan dan sumber daya alam lain," kata Martinez-Navarro seperti dikutip NBC News, 21 Mei 2013.

Kompetisi serupa dalam hipotesis ini juga dijumpai pada hewan lain. Misalnya, harimau bergigi pedang Afrika yang menginvasi Eropa 1,8 juta tahun lalu memusnahkan kerabatnya. Kemudian, invasi African spotted hyena juga bersamaan dengan punahnya giant short faced hyena 800.000 tahun lalu.

Hortola dan Martinez-Navarro dalam artikelnya di jurnal Quatemary International edisi Mei 2013 mengatakan bahwa mereka meyakini hipotesisnya, tetapi hingga saaat ini belum memiliki bukti yang bisa mendukungnya.

"Satu-satunya cara untuk menguji kebenaran teori itu adalah menemukan bukti langsung tanda bekas manusia memakannya pada tulang neanderthal, seperti tanda kerusakan pada tulang pada artefak yang dibuat manusia," kata Martinez Navarro.

Ilmuwan ekologi purba JR Stewart dari Bournemouth University di Inggris mengungkapkan bahwa memang bukti yang mendukung teori itu belum ada. Namun, bukan berarti teori itu bisa langsung gugur. Hanya, masih banyak yang perlu diteliti untuk membuktikan kebenarannya.

"Ini menarik karena faktanya sisa-sisa neanderthal yang memiliki tanda bekas dipotong ditemukan di tempat yang penuh artefak neanderthal, bukan artefak manusia. Ini artinya bahwa mereka dimakan neanderthal sendiri," katanya.

"Gagasan bahwa manusia memburu neanderthal hingga punah seperti kepunahan megafauna termasuk baru. Bukan manusia membunuh neanderthal dengan genosida, seperti yang sebelumnya pernah diduga," imbuhnya.

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : yunan
Sumber:



Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2013/06/04/21330732/Benarkah.Neanderthal.Punah.Dimakan.Manusia?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

Kapan Manusia Modern Berpisah dengan Neanderthal?

Kapan Manusia Modern Berpisah dengan Neanderthal?

Rabu, 23 Oktober 2013 | 22:28 WIB
Alamy Neanderthal

KOMPAS.com - Dalam silsilah manusia prasejarah, Neanderthal merupakan kerabat terdekat kita. Kita sangat dekat, bahkan spesies kita saling kawin dengan mereka. Jika melacak balik ke garis keturunan, pasti setidaknya ada satu nenek moyang yang sama antara Homo sapiens dan Neanderthal dalam satu waktu di masa pra sejarah.

Tetapi, siapakah manusia misterius tersebut? Memilih siapa nenek moyang langsung di catatan fosil cukup pelik. Untuk mengetahui kapan nenek moyang bersama antara Homo sapiens dan Neanderthal, para paleoanthropolog telah melakukan pencarian pada bukti-bukti genetik dan anatomik.

Dalam lima tahun terakhir, anthropolog telah menggunakan DNA untuk merekonstruksi evolusi sejarah manusia. Peneliti telah mengindikasikan kisaran waktu saat nenek moyang bersama dari garis keturunan kita dan Neanderthal mungkin pernah hidup.

Tanggalnya berada di kisaran antara 800 ribu sampai sekitar 300 ribu tahun lalu, dengan banyak yang memperkirakan, waktunya di antara kisaran 400 ribu tahun lalu. Menurut sejumlah studi, kurun waktu ini tampaknya cocok dengan waktu punahnya spesies Homo heidelbergensis, yang ditemukan di Afrika, Eropa, dan kemungkinan juga di Asia.

Tetapi, bisa jadi tidak demikian. Sebuah studi baru berteori bahwa nenek moyang bersama Homo sapiens dan Neanderthal hidup jauh lebih dulu dibanding perkiraan, namun belum ada bukti-bukti fosil yang ditemukan.

Apa yang baru?

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Aida Gomez-Robles, anthropolog asal George Washington University dan rekan-rekannya beralih ke gigi untuk menguji apa yang diperoleh dari genetik.

Menggunakan koleksi 1.200 gigi geligi dari berbagai manusia prasejarah, peneliti berhasil memfokuskan tanda tertentu pada gigi. Tanda ini kemudian digunakan untuk merekonstruksi bentuk gigi dari nenek moyang bersama pada titik penting dalam sejarah evolusi.

Logika di balik metode ini, kata Gomez-Robles, adalah bahwa "bentuk gigi yang paling memungkinkan dari spesies nenek moyang adalah bentuk yang diamati pada kedua spesies bersaudara." Dalam kasus Homo sapiens dan Neanderthal, garis keturunan keduanya diperkirakan memiliki gigi dengan bentuk dan anatomi yang berada di tengah-tengah kedua spesies.

Dengan mempertimbangkan bentuk hipotetis tersebut, Gomez-Robles dan peneliti lainnya membandingkan apa yang diharapkan dari temuan fosil sejauh ini."Jika sebuah spesies fosil sangat mirip dengan morfologi nenek moyang, maka artinya spesies tersebut kemungkinan merupakan nenek moyang," kata Gomez-Robles, meski ia menekankan bahwa persamaan lebih memungkinkan dibandingkan dengan bukti nyata terkait leluhur.

Mengapa penting?

Perkiraan berdasarkan DNA menunjukkan bahwa nenek moyang bersama terakhir dari H. sapiens dan Neanderthal hidup sekitar 400 ribu tahun lalu. Ini membuat H. heidelbergensis, spesies yang menyebar luas di kurun waktu tersebut, kemungkinan merupakan kandidat yang baik untuk leluhur yang dimaksud.

Namun, studi baru ini berkontradiksi dengan pemikiran tersebut. Rekonstruksi gigi dari leluhur bersama manusia dan Neanderthal yang dibuat oleh Gomez-Robles dan rekan-rekannya tidak sama dengan gigi milik H. heidelbergensis.

Bahkan, peneliti menemukan bahwa tak satupun spesies manusia yang hidup di kurun waktu yang diprediksikan oleh data genetik cocok dengan pola gigi yang dibuat oleh studi di atas. Selain itu, "Spesies Eropa yang kemungkinan menjadi kandidat menunjukkan persamaan morfologis dengan Neanderthal," sebut Gomez-Robles yang mengindikasikan bahwa manusia-manusia ini sudah berada di sisi Neanderthal saat terpisah.

Ini mengindikasikan bahwa leluhur bersama H. sapiens dan Neanderthal hidup dalam kurun waktu yang lebih awal, mungkin hingga satu juta tahun yang lalu.

Apa artinya?

Paleoantropolog belum menemukan leluhur bersama kita dengan Neanderthal. Melacak manusia yang sulit dipahami ini membutuhkan kita mengamati koleksi museum dan melanjutkan studi di lapangan.

Dari hasil studi baru ini, Gomez-Robles menyebutkan bahwa "kami berpendapat bahwa kandidat ini haris dicari di Afrika." Saat ini, fosil berusia satu juta tahun miliki manusia prasejarah H. rhodesiensis dan H. erectus tampak menjanjikan.

Titik penting dari pra sejarah manusia di Afrika masih kabur. "Tidak banyak fosil Afrika tersisa yang berasal dari satu juta tahun lalu," kata Gomez-Robles, dan fosil yang sudah ditemukan sering kali merupakan H. erectus.

Tetapi, apakah mereka benar-benar milik spesies tersebut? Mungkin ada manusia yang belum diketahui tersembunyi di antara fosil-fosil tersebut dan manusia ini mungkin menjadi kunci untuk memecahkan teka-teki kapan nenek moyang kita berpisah dari Neanderthal.

Terkait apakah spesies tersebut akan ditemukan di lapangan atau bersembunyi di balik sisa-sisa dan serpihan rusak fosil yang sudah dikumpulkan, masih merupakan misteri yang menunggu dipecahkan. 

(Brian Switek/National Geographic Indonesia)



Editor : Yunanto Wiji Utomo



Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2013/10/23/2228017/Kapan.Manusia.Modern.Berpisah.dengan.Neanderthal.?utm_campaign=related_left&utm_medium=bp&utm_source=news

Neanderthal Makhluk Cerdas, Sudah Berbahasa seperti Manusia

Neanderthal Makhluk Cerdas, Sudah Berbahasa seperti Manusia

Jumat, 12 Juli 2013 | 13:04 WIB
Alamy Neanderthal


KOMPAS.com — Ilmuwan menengarai bahwa Neanderthal, sepupu spesies manusia modern, sudah punya kemampuan berbicara dan berbahasa, bahkan bertukar kebudayaan dan bahasa dengan manusia modern. Jejak unsur bahasa Neanderthal ada pada bahasa manusia.

Neanderthal dan manusia punya kekerabatan karena bersama spesies manusia purba lain, Denisovans, memiliki nenek moyang yang sama, yakni Homo heildelbergensis.

Dan Dediu dan Stephen Levinson dari Max Planck Institute for Psycholinguistics di Belanda mempelajari data-data palaentologi dan arkeologi, anatomi, serta genetika terkait Neanderthal.

Pandangan umum para ilmuwan menyatakan bahwa bahasa berkembang setelah spesies manusia terpisah dari H heidelbergensis sekitar 400.000 tahun lalu.

Namun, analisis mengungkap bahwa Neanderthal bisa jadi sudah memiliki pendengaran modern dengan rentang frekuensi dengar yang sama dengan manusia saat ini. Neanderthal juga sudah punya napas yang mendukung untuk bicara dan berbahasa.

Ilmuwan menduga bahwa sebenarnya kemampuan bicara dan berbahasa sudah muncul sejak masa H heidelbergensis. Jika ini terkonfirmasi, maka bahasa mulai berkembang sejak 1 juta tahun lalu. Neanderthal otomatis menjadi makhluk yang sudah berbahasa.

Spekulasi ilmuwan, unsur bahasa Neanderthal mirip dengan bahasa manusia modern di wilayah yang terisolasi saat ini. Ciri-cirinya antara adalah ketidakteraturan yang tinggi dan kosakata yang mencapai ribuan hingga puluhan ribu.

Diberitakan Popular Science, Rabu (10/7/2013), bahasa Neanderthal juga mungkin beragam seperti bahasa masyarakat adat dalam saat ini.

Lebih lanjut, ilmuwan mengatakan bahwa menurut dugaan hasil analisis, Neanderthal dan manusia modern tidak hanya berinteraksi dan berkawinan seperti yang diprediksikan saat ini, tetapi juga bertukar kebudayaan dan bahasa.

Berdasarkan penelitian genetika, manusia modern yang berada di luar Afrika lebih memiliki kemiripan dengan Neanderthal. Dengan demikian, interaksi manusia modern yang berada di luar Afrika dengan Neanderthal mungkin lebih tinggi.

Perbandingan antara bahasa manusia modern Afrika dan non-Afrika disarankan. Ilmuwan mengatakan, jika ada interaksi dan pertukaran, maka pasti ada jejak unsur bahasa Neanderthal pada bahasa manusia modern non-Afrika.

Meski demikian, dikutip Daily Mail, Rabu, ilmuwan mengatakan bahwa sangat sulit jika harus mengidentifikasi kosakata pada bahasa manusia modern yang berasal dari Neanderthal. (Dyah Arum Narwastu)


Editor : Yunanto Wiji Utomo



Sumber:

Selasa, 02 September 2014

Travelling Gratis Bali Lombok (Part 3)

Selamat Datang di Gili Trawangan


Kesampaian juga di tempat yang diimpikan banyak orang ini, alhamdulillah gratisan pula. Bukan rombongan piknik namanya jika tidak dibatasi waktu. Bayangkan, bagaimana mungkin bisa puas di lokasi yang indah ini hanya dengan alokasi waktu 2 jam saja. Tapi tak apalah, maksimalkan saja waktu yang ada. 

Niatnya kemari saya pingin hunting foto sebanyak mungkin, pengin buat foto HDR Landscape Gili Trawangan, semua gagal sudah gara-gara kepincut snorkeling. Di kompori "Pak Benk" untuk ikut snorkeling, gubrakk snorkeling darimana wong renang gak bisa. Entah kenapa saya pingin juga, kapan lagi snorkeling di tempat yang diimpikan banyak orang baik lokal maupun mancanegara. Dengan biaya sewa peralatan (google, pelampung, dan sepatu katak) sejumlah 60 ribu kami mulailah petualangan ini. Awalnya sih ingin sekalian nyewa kamera underwater, tapi harganya diluar perkiraan, 300 ribu hanya untuk pinjem kamera, oh tidak. Lebih baik langsung nyebur saja.


Pengalaman pertama snorkeling? ya memang, bahkan pertama kalinya nyebur laut di kedalaman yang bisa menenggelamkan saya. Perasaan takut tenggelam ada sih, tapi di awal saja dan begitu merasakan bahwa dengan pelampung kita gak bisa tenggelam ya saya makin PD walaupun tidak mau jauh dari instruktur saya "Pak Benk". Ntar kalo ada apa-apa ya tinggal tangkep aja instrukturnya biar diselamatin.hahaha. Harusnya jika mau dapet view yang bagus nyewa boat lagi lalu pindah ke area yang sepi dan airnya tenang, bukan snorkeling diantara kapal perahu bermesin tempel yang pada parkir. Namun kami tidak punya cukup banyak waktu dan dana, akhirnya nekat snorkeling disini saja. Yang paling penting untuk bisa mendapatkan view cukup bagus adalah jangan hanya berenang di tepi, tapi harus agak ke tengah laut yang airnya cukup biru. Artinya kedalamannya agak lumayan, sudah tidak banyak pasir pantainya dan artinya kita bisa melihat kehidupan bawah air dengan lebih jelas. Inilah pengalaman pertama snorkeling, indah ternyata, ikan-ikan mirip yang ada di film "Nemo" berkeliaran bebas, apalagi bisa diving di tempat-tempat memukau lainnya...hmmm

Puas gak puas harus "mentas" (keluar dari air), 2 jam kurang dikit saya keluar dan mendapati semua orang sudah hampir selesai makan. Apa-apaan ini - gerutu saya dalam hati, saya belom mandi, belom ganti, belom makan juga. Ah bodo amat, selanjutnya saya mengembalikan peralatan yang saya sewa lalu beranjak mencari Masjid terdekat. Ya memang saya cari Masjid, karena kebetulan tempat kamar mandi untuk bilas di sekitar persewaan alat snorkeling tadi airnya habis, cari-cari yang lain belum ketemu adanya tempat penginapan semua, masak iya mau kesana untuk numpang mandi..Belum lagi urusan pakaian ganti, saya memang tidak mengatakan "disini mahalnya gak ketulungan" tapi saya bilang saya akan sangat eman-eman untuk beli barang yang masih bisa ditunda. Bayangkan, saya ingin beli celana pendek untuk ganti saja disini harganya 75rb.hahaha saya tidak jadi beli lebih baik berbasah-basah sampe menyeberang ke bus dan saya bisa ganti dengan pakaian yang saya bawa di tas.

Gili Trawangan, akan menjadi kenangan indah yang tak akan saya lupakan. Ini adalah daerah tanpa polusi, di daratan hanya ada "cidomo", pejalan kaki dan sepeda. Lautan yang indah, bawah laut yang tak kalah indah, dan semuanya. Pantas jika daerah ini sangat faforit dan menjadi tempat impian bagi banyak orang.

Selepas dari Gili Trawangan, rombongan hanya singgah di tempat oleh-oleh dan showroom kerajinan mutiara asli Lombok. Setelah itu menyeberang kembali ke arah Bali. Sudah terbayang, perjalanan 4-5 jam diatas laut yang membosankan, tak apa, semoga lekas mendarat dan sampe di hotel untuk bersantai.

Yang menjadikan perjalanan ini agak berbeda dengan ketika berangkat adalah bahwa kami mendapatkan kapal yang lebih besar, lebih luas, ada ruangan ber-AC dan sebenarnya ini tidak penting bagi saya. Yang cukup membuat saya senang adalah tempatnya lebih bersih dan luas, sehingga bisa memilih tempat yang nyaman untuk menggelar matras dan tiduran menatap langit. Oh iya, satu hal lagi keuntungan mendapatkan kapal yang besar perjalanan jadi lebih stabil dan minim goyangan, jadi tidak terlalu bikin mabuk.


Yang saya impikan dari perjalanan ini sebenarnya adalah, saya bisa mendapatkan view sunrise atau sunset yang bagus di laut, tapi nyatanya hanya cuaca yang selalu semburat mendung yang saya dapatkan. Tapi alhamdulillah, masih bisa mendapatkan beberapa view yang lumayan bagus dan berkesan, tidak sia-sia membawa kamera dan tripod besar kali ini.

Jumat, 04 Juli 2014

Travelling Gratis Bali Lombok (Part 2)

persiapan untuk penyeberangan 5 jam
Penyeberangan Ketapang-Gilimanuk memakan waktu sekitar 1 jam kurang dkit. Kapal ferry memang.menyediakan ruangan duduk di dalam kapal tapi kebanyakan memilih diluar untuk merasakan terpaan angin laut dan melihat pemandangan karena kebetulan matahari sudah bersinar dengan cerahnya, lebih tepatnya panas.. Tiba di Gilimanuk lanjut perjalan darat menuju pelabuhan Padang Bai untuk menyeberang ke Lombok. 

Sebelumnya mampir di salah satu rumah makan dan resort untuk istirahat makan siang, sholat dan mandi bagi yang mau, tetep..jangan lupa bayar ya. Rata-rata disini ke kamar mandi bayar 2.000. Kira-kira enakan sholat dulu apa makan dulu? Kami memilih untuk makan dulu baru sholat dan istirahat. Urusan makanan kita ngambil komplit namun porsinya dikit-dikit. Karena pejalanan jauh perut terlampau kenyang sama sekali gak nyaman, dan juga sudah pasti dapet makan sehari 3 kali. Lapar pun masih bisa di toleransi. Di Bali, memang umat Islam minoritas. Yang banyak memang Pura, kalau ada Masjid atau Mushola memang sedikit jumlahnya, itupun kecil. Kebayang gimana ngantri sholat 6 bis di 1 Mushola kecil, sehingga sengaja ketika berangkat keponakan saya bawa matras gunung. Gelar di taman, sholat disini. Selesai..simpel 


Selanjutnya perjalan darat membelah pulau dewata untuk menuju pelabuhan Padang Bai dan bersiap menyeberang ke pulau Lombok, pulau seribu Masjid. Dan penyeberangan kali ini lebih panjang waktunya dari penyeberangan Ketapang-Gilimanuk. Perkiraan 4-5 jam, oke selamat datang di lautan.. Sore itu di pelabuhan tidak ada yang istimewa kecuali hanya menikmati langit senja yang tertutup mendung. Kami melihat serombongan manusia ber carrier besar turun dari kapal. Nampaknya mereka selesai menaklukkan Rinjani, haduh jadi kepingin..kapan bisa kesana, semoga lain kesempatan bisa. 

malam diatas kapal
Diatas kapal banyak penumpang yang berebut tempat duduk di kursi-kursi yang disediakan di tepi pagar kapal. Tempat ini memang lebih seru daripada harus duduk di dalam, setidaknya untuk setengah jam pertama. Berhubung penyeberangan Bali-Lombok memakan waktu 4-5 jam lama kelamaan mereka yang duduk di kursi yang ada di tepi pagar habis, masuk ruangan dalam semua karena tidak tahan dengan terpaan angin laut dalam waktu lama apalagi waktu malam. Hanya kami bertiga, satu tentara dan seorang bule yang masih bertahan. Bukan kami hebat, bukan, karena sejujurnya gak kuat kalo terombang ambing dan tidak menghirup angin, bentar aja mau muntah. Hadeh, terpaksa ngadem diluar. Pengalaman pertama naik kapal laut agak lama, tapi ya ini masih belum apa-apa jka dibandingkan dengan penyeberangan Jawa ke Papua yang kabarnya harus berada 1 minggu di kapal.

lumayan nyamannn
Perjalanan 5 jam nyampe Lombok sudah tengah malam, meluncur ke rumah makan dan hotel dengan sambil terkantuk-kantuk. Tiba di hotel ngantuknya mulai hilang, karena bagi kami yang jarang tidur di hotel "eman-eman" dengan fasilitas sebegini banyak kok ditinggal tidur saja, besok jam 7 pagi harus keluar dari hotel. Kalo hanya numpang tidur kami sudah biasa tidur di hutan, dijalan, pom bensin. Jadi malam ini kami manfaatkan dengan mandi air panas, charger kamera dan hp, bikin kopi nonton national geographic chanel di tv besar sambil tiduran nyaman. Untuk tidur yang lebih lama besok aja pas di bus.

Paginya benar, check out hotel jam 7.30an dan langsung menuju ke Gili Trawangan, ya ini satu-satunya obyek wisata di Lombok yang dikunjungi. Setelah selesai dari lokasi ini hanya mampir di toko oleh-oleh dan balik lagi ke Bali. Gimana sodara-sodara? saya yakin kalo yang bikin program mahasiswa gak akan kayak begini jadinya.

Oke kita nikmati saja apa yang ada dulu. Perjalanan menuju Gili Trawangan.

tongsis merajalela
gak punya tongsis pake tripod besar